My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
BAB 45


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


👩‍💻I Love You Readers❤❤❤❤❤


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


"Tidak apa apa... Maaf mengejutkanmu." Ucap Alzero.


"Tidak, aku yang harusnya minta maaf... Lebih baik jaketmu dilepas, nanti kamu masuk angin." Ucap Lala. Mendengar hal itu tampak Alzero melepaskan jaketnya. Kini dia hanya memakai kaos oblong berwarna hitam. Beruntung kaos yang Alzero pakai tidak ikut basah.


"Tumben kamu kesini?? Apa ada sesuatu??" Tanya Lala sembari duduk disamping Alzero.


"Aku merindukanmu." Jawab Alzero sembari menatap Lala.


"Apa ada hal lain?? Kau sering mengatakan hal itu." Ucap Lala dengan wajah merona.


"Karena aku memang merindukanmu Lala.... Aku ada sesuatu untukmu, tapi sebelum itu tutup lah matamu." Ucap Alzero.


"Kenapa harus menutup mataku??" Tanya Lala bingung.


"Karena ini kejutan untukmu." Jawab Alzero. Agak ragu, tapi Lala melakukannya. Dia pun menutup matanya perlahan.


"Sekarang buka matamu." Ucap Alzero. Lala pun membuka matanya perlahan.


"Ro, apa ini???" Tanya Lala bingung.


"Itu ponsel untukmu... Sudah ada nomor ku, Rio, dan telefon rumah ini... Jadi jika kamu dalam bahaya, telefon saja aku atau Rio." Jelas Alzero.


"Tapi... Ini terlalu mewah, dan pasti mahal... Aku tidak bisa menerimanya." Ucap Lala menatap Alzero.


"Soal itu tidak penting Lala, terimalah.... Kau bisa menelfon Alina jika kau merindukannya." Jawab Alzero. Tampak Lala terdiam menatap ponsel ditangannya.


"Terimalah Lala, setidaknya itu bisa membuatku bahagia setelah kepergian adikku." Lirih Alzero dan tidak sengaja didengar oleh Lala.


"Ro, adikmu kemana memangnya??" Tanya Lala.


"Dia pergi dan pindah dari Vila... Itu semua salah ku, aku tidak berguna menjadi seorang kakak." Jawab Alzero dengan raut muka sedih.


"Tidak Ro, menurutku kamu kakak yang terbaik.... Selain tampan, kau juga pandai, dan menyayangi adikmu... Adikmu pasti berpikiran sama denganku... Jadi jangan sedih lagi ya?" Ucap Lala sungguh sungguh. Mendengar pujian dari Lala membuat Alzero tersenyum.


"Aku tidak akan bersedih jika kamu menerimanya." Jawab Alzero membuat Lala terdiam. Baginya, Alzero sudah banyak membantu dan tidak mungkin Lala menerima ponsel itu. Tapi, Lala juga tidak ingin Alzero bersedih.


"Baiklah, aku akan menerimanya... Tapi...." Ucap Lala menggantung.


"Tapi apa??" Tanya Alzero


"Aku tidak tau cara memakainya." Jawab Lala membuat Alzero duduk lebih dekat.


"Biar aku ajarkan... Jadi seperti ini•••" Jelas Alzero sembari mengajarkan semuanya pada Lala. Dari chat, telefon, bahkan Lala meminta Alzero untuk mengajarkannya bermain game.


"Bagaimana mudah bukan??" Tanya Alzero.


"Iya." Jawab Lala sembari tersenyum bahagia. Dan itu membuat Alzero ikut bahagia. Dia bahkan dengan berani menc*um pipi kanan Lala. Tentu hal itu membuat Lala terdiam.

__ADS_1


"Kenapa kau menc*umku??" Tanya Lala dengan wajah merona.


"Karena aku senang melihatmu bahagia Lala." Jawab Alzero.


"Kenapa??" Tanya Lala lagi.


"Karena aku mencintaimu." Jawab Alzero membuat Lala menatapnya.


Deg, deg, deg


Detak jantung Lala berpicu sangat cepat untuk pertama kalinya. Lala sendiri masih bingung karena dia hanya menganggap Alzero sebagai teman karena sudah banyak membantu. Namun, sekarang Alzero malah mengungkapkan perasaannya dan itu membuat Lala gugup.


"Se... Sejak kapan?? Bukankah kita hanya beberapa kali bertemu??" Tanya Lala.


"Sejak kamu menolongku 3 tahun yang lalu... Sejak saat itu aku mencarimu untuk mengungkapkan hal ini dan melindungimu... Aku tidak tau sejak kapan hal itu muncul, tapi aku baru pertama kali merasakannya dan aku sangat mencintaimu... Apa kau mau menikah dengan ku??" Ucap Alzero sungguh sungguh.


"It... Itu terlalu cepat, aku tidak bisa." Jawab Lala tidak tau harus bilang apa. Yang pasti saat ini perasaannya sangat kacau.


"Aku bisa menunggumu sampai kau bisa Lala... Dan jika kau menolak, itu juga tidak masalah karena jika kau menerimanya terpaksa itu akan membuatmu menderita dan aku tidak mau melihatmu menderita... Mungkin jika kau menolak ku, akan ada pria lain yang membuatmu bahagia... Jika benar, maka aku juga bahagia melihatmu bahagia." Ucap Alzero.


Tampak Lala terdiam, baginya ini terlalu cepat. Lala bahkan tidak memikirkan untuk menikah saat ini, tapi tiba tiba Alzero menanyakan hal itu dan tentu membuat Lala bingung. Melihat Lala terdiam, Alzero menghela napasnya panjang.


"Sudah lupakan.... Ini memang terlalu cepat... Kau merindukan Alina?? Kau bisa menelfonnya." Ucap Alzero mengalihkan pembicaraan.


"Tapi Nana tidak punya ponsel... Kau punya nomor telefon Kenzo?? Boleh aku memintanya??" Tanya Lala.


"Tidak, untuk apa kau meminta nomor telefonnya??" Jawab Alzero tak suka.


"Dia suaminya Nana, dan pasti mereka selalu berdua... Aku ingin bicara dengan Nana melalui dia." Jelas Lala.


"Jika dia mengirimkan pesan yang tidak tidak kepadamu, baca saja... Jangan dibalas, kau mengerti!" Ucap Alzero. Lala menganggukan kepalanya mengerti.


Di Vila Kenzo


"Cie yang lagi ngambek." Ejek Celani.


"Apa?! Seneng liat kakaknya malu, adek kagak ada akhlak emang." Kesal Kenzo.


"Eh ngegas... Kakak itu harusnya nyadar, pas kakak nyosor emang kakak ipar bales?? Kagak kan dia malah ndorong kakak, itu keliatan banget kalo kakak dah bucin ke kakak ipar... Hahaha." Ejek Celani lagi.


Hal itu membuat Kenzo terdiam. Yang Celani katakan memang fakta. Setiap kali Kenzo menc*umnya, pasti Alina memberontak dan mendorong tubuh Kenzo. Celani pun langsung pergi takut sang kakak mengomel.


Sial! Kok keliatan gua yang ndambain tuh cewek, padahal kan dia... Gak Kenzo, lo harus punya cara supaya keliatan cewek cupu itu ndambain lo. Batin Kenzo.


Baby I'm right here....


Ponsel Kenzo berbunyi menandakan ada telefon masuk. Tampak itu dari nomor tidak dikenal.


"Ini nomor siapa?? Gua angkat aja kali yah." Lirih Kenzo kemudian mengangkatnya.


📞


“Hallo, Kenzo??” Ucap Lala di seberang sana.


Lala?? Gawat, kalo gua ketauan si Al bisa bisa di bunuh gua... Kasian si cupu jadi janda. Batin Kenzo.


“Iya, kok lo dapet nomor gua??” Jawab Kenzo kemudian bertanya.


“Alzero yang memberikannya... Maaf mengganggu, apa Nana ada bersamamu??” Jawab Lala di seberang sana dan kembali bertanya.


“Ada di kamar, bentar gua samperin dia... Jangan dimatiin dulu.” Ucap Kenzo.


“Baiklah, dan terima kasih.” Jawab Lala di seberang sana.

__ADS_1


Dengan malas, dia pun bangkit dari duduknya dan menuju ke kamarnya. Tampak Alina sedang menata ranjang bahkan bunga diatas ranjang sudah dia bersihkan.


"Cupu, nih si Lala pengen ngomong sama lo." Ucap Kenzo sembari menyondorkan ponselnya. Seketika, Alina berjalan mendekat dengan wajah semangat.


"Lala, kemari aku ingin—" Ucap Alina hendak menggapai ponsel Kenzo namun Kenzo mengangkat ponselnya.


"Tapi ada syaratnya, gak gratis loh ya." Ucap Kenzo tersenyum penuh arti.


"Aku akan memenuhinya, biar kan aku bicara dengan Lala sebentar." Jawab Alina tanpa ragu. Kenzo pun tersenyum penuh kemenangan dan memberikan ponselnya.


"Nih." Ucap Kenzo. Tampak Alina menerimanya dengan wajah bahagia. Kenzo pun menunggu sembari duduk di sofa kamarnya. Tidak menunggu, lebih tepatnya Kenzo penasaran dengan apa yang Lala dan istrinya bicarakan.


📞


“Halo Lala.” Ucap Alina.


“Halo Nana, aku sangat merindukanmu... Bagaimana kabarmu?? Kau baik baik saja kan??” Tanya Lala di seberang sana.


“Kabarku baik Lala... Dan aku baik baik saja, bagaimana kabarmu?? Dan ayah??” Jawab Alina kemudian kembali bertanya.


“Kabarku juga baik... Begitu juga dengan ayah.” Jawab Lala di seberang sana.


“Alhamdulilah, Kau menelfon menggunakan nomor rumah?? Atau kau membeli ponsel??” Tanya Alina.


“Em... Sebenarnya, Alzero yang memberikannya... Dia juga sedang bersama ku sekarang.” Jawab Lala di seberang sana.


Gil@, si Al udah bucin berat nih sama si Lala... Sampai dikasih handphone segala... Bener bener ya holkay. Batin Kenzo.


“Wah Alzero memang pria yang baik... (Kenzo menatap Alina tak suka.) Aku tutup dulu telefonnya ya, maaf kita lanjutkan lain kali.” Ucap Alina sadar ditatap Kenzo tak suka.


“Baiklah, aku tau kau sibuk... Jaga dirimu baik baik Nana... Assalamualaikum.” Ucap Lala di seberang sana.


“Walaikumsalam.” Jawab Alina.


Tut.


Alina pun memutuskan jaringan telefonnya. Dia pun memberikan ponselnya pada Kenzo. Tampak Kenzo menerimanya dan meletakan ponselnya diatas nakas.


"Apa syaratnya??" Tanya Alina menatap suaminya.


"Syaratnya gampang kok, sini... Sini." Panggil Kenzo sembari mengisyaratkan Alina mendekat dengan tangannya.


"Duduk dipangkuan gua." Ucap Kenzo tentu membuat Alina terkejut.


"Ap.... Apa??" Ucap Alina terkejut.


"Kenapa diem?? Cepetan, lama banget sih." Jawab Kenzo dengan wajah kesal.


Sedikit ragu, namun Alina duduk dipangkuan Kenzo. Sofa yang kecil membuat Alina hampir terjatuh kebelakang. Beruntungnya, kedua tangannya melingkar erat pada tengkuk Kenzo. Dan Kenzo tersenyum puas saat tubuhnya merasa nyaman dipeluk erat oleh Alina. Dia pun melingkarkan tangan kanannya pada pinggang sang istri. Menyangga tubuh Alina agar tak jatuh.


"Sekarang lo c*um gua, jangan dilepas sebelum gua bales." Ucap Kenzo.


Cup.


Alina menc*um pipi kanan Kenzo sekilas.


"Sudah." Ucap Alina.


"Dibibir cupu." Ucap Kenzo protes.


"Hah??" Tanya Alina dengan rona di wajahnya.


"Gak usah baper dulu, gua minta lo kayak gini biar lo tau cara nyenengin suami... Lo gak mau kan suami lo yang paling ganteng ini direbut cewek lain?? (Alina menggelengkan kepalanya pelan.) Nah pinter..." Ucap Kenzo.

__ADS_1


"Tapi, bisa kau menutup matamu??" Pinta Alina menatap Kenzo. Dan Kenzo pun menurutinya.


__ADS_2