
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
👩💻I Love You Readers❤❤❤❤❤
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Sedangkan dengan Ravin
Dia tengah menunggu Arina keluar di depan sekolahnya. Sesekali Ravin memandang arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Dilihatnya waktu menujukan pukul 3 sore.
Sepertinya sebentar lagi keluar. Batin Ravin. Tiba tiba ucapan Gavin muncul dipikirannya.
Namun, Ravin segera menapisnya. Bagaimana bisa dia akan menyukai wanita yang dulu dia gendong?? Ayah dan ibu Arina adalah sahabat masa kecil ayahnya. Tidak heran jika Ravin mengenal Arina karena memang saat Arina lahir, Ravin sudah berumur 11 tahun sedangkan Gavin masih 6 tahun.
"Om Ravin!" Panggil gadis berusia 17 tahun yang tak lain Arina. Tampak Arina mendekat ke arah Ravin.
"Kita pulang yuk." Ucap Ravin.
"Kok om yang jemput, papa kemana om??" Tanya Arina.
"Papa sama mama kamu di luar kota, jadi sementara waktu nginep dirumah om... Baju kamu juga udah dibawa kesana." Jawab Ravin.
"Oh iya... Ya udah yuk pulang." Ajak Arina. Ravin tersenyum dan mengajak Arina masuk kedalam mobilnya.
"Om udah lama nunggu??" Tanya Arina saat Ravin memasangkan seatbelt padanya.
"Lumayan, kamu ikut eskul atau les??" Jawab Ravin kembali bertanya.
"Les om, persiapan buat ujian kenaikan kelas." Jawab Arina membuat Ravin meresponnya dengan anggukan.
"Om gak kerja??" Tanya Arina sembari menatap Ravin yang mulai melajukan mobilnya.
"Gantian sama papa... Nanti kamu langsung ke kamar mandi dan ganti baju... Hati hati sama si Gavin." Jawab Ravin kemudian memeringati Arina.
"Siap om." Ucap Arina sembari tersenyum.
Malam Harinya
Ashel yang merasa bosan tampak membaca buku. Araka dan Zaina sudah pulang untuk menghabiskan waktu bersama sedangkan Alzero menjemput Lala yang ingin bertemu dengan Ashel. Saat fokus membaca, Calvin dan Renasya datang. Membuat Rio yang duduk di sofa memilih berjaga di luar.
"Hai kutu buku." Sapa Renasya membuat perhatian Ashel teralih.
"Kalian, kenapa kemari?? Apa kalian tidak lelah??" Tanya Ashel sembari meletakan bukunya diatas nakas.
"Enta." Jawab keduanya.
"Kalian sangat serasi." Ucap Ashel membuat keduanya menatapnya tajam.
"Maksud lo apa??" Lagi lagi mereka mengucapkannya bersamaan.
"Tidak, tidak." Ucap Ashel tak ingin berdebat.
"Oh iya, bagaimana kabar Celani dan Farrel?? Alfa?? Devan??" Tanya Ashel.
"Masih sama, hubungan Ela sama Farrel juga oke oke aja... Cuman akhir akhir ini mereka ditegur sama bu Amel." Jawab Renasya.
__ADS_1
"Ditegur?? Kenapa??" Tanya Ashel.
"Yah kinerja osis tahun ini menurun derastis, rapat juga cuman diadain empat kali doang... Bu Amel juga nanya kenapa lo tiba tiba mundur dari ketos." Jelas Renasya.
"Begitu ya... Aku hanya ingin tahun depan fokus dengan ujian." Jawab Ashel.
"Bukan karena lo pengen Celani jadi ketos??" Tanya Renasya membuat Ashel menegang. Seketika Renasya meraih tangan Ashel dan menggeggamnya.
"Lo gak usah bohong ke kita Shel... Jujur aja." Ucap Renasya.
"Tentu saja bukan... Aku mundur karena memang ingin memberikan kesempatan pada siswa lain, bukan hanya Celani tapi semuanya." Jawab Ashel sembari tersenyum.
"Udahlah Ren, entar juga jujur sendiri." Ucap Calvin sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Tampak Renasya melepaskan gegaman tangannya.
"Huh! Okelah, awas aja boong." Ancam Renasya membuat Ashel tersenyum. Ashel memang berbohong karena dia tidak ingin Renasya dan Calvin menyalahkan Celani.
"Wah, kalian sudah datang... Bagaimana kabarmu Ashel??" Tanya Lala begitu datang.
"Seperti yang kakak ipar lihat." Jawab Ashel membuat Alzero tersenyum.
"Kau dengar itu?? Bagaimana kalau kita menikah besok??" Bisik Alzero dan mendapatkan pukulan kecil dari Lala.
"Jangan bercanda." Ucap Lala membuat Alzero terkekeh.
"Woi, woi, woi... Kak Al, awas saja jika kau menikah tidak mengundangku... Aku culik kak Lala baru tau." Ancam Calvin membuat Alzero dan Lala tersenyum. Seperti biasa, Alzero mengacak acak rambut Calvin.
"Coba saja, akan aku arahkan 100 bodyguard." Ucap Alzero.
"Hey kak Al, aku ini mantan tangan kanan mafia Italia... Kau seharusnya takut padaku... Bukan begitu Rena??" Ucap Calvin sembari menatap Renasya.
"Enggak!" Jawab Renasya membuat Calvin membeku.
"Ayolah Rena, jawab iya... Kenapa lo bikin gua malu??" Kesal Calvin.
"Karena itu lucu."
"Karena itu bikin lo kesal."
"Kenapa lo suka bikin gua kesel??"
"Karena gua suka sama lo—" Ucap Renasya menggantung dimana membuat Calvin terkejut. Begitu juga Lala Alzero dan Ashel. Sadar dengan yang diucapkan, seketika wajah Renasya memerah.
"Gua keluar dulu." Ucap Renasya buru buru pergi.
"Eh, Rena bilang apa tadi?? (Seperkian detik sadar.) Eh, eh, Rena tunggu!!" Ucap Calvin sembari mengejar Renasya.
"Lihat mereka, bukankah mereka berdua sangat serasi??" Ucap Ashel dan diangguki oleh Alzero juga Lala.
"Kau tau Ashel, selama 3 bulan kamu koma... Mereka berdua setiap saat menjengukmu... Bukan begitu Ro??" Ucap Lala dan Alzero meresponnya dengan anggukan.
"Kau sadar bukan Ashel, jika mereka berdua setia padamu... Pertahankanlah persahabatan seperti itu, jangan yang mereka memanfaatkan mu." Ucap Alzero.
"Ternyata selama aku koma, banyak yang berubah." Ucap Ashel sembari menatap tangannya yang masih terpasang jarum infus.
"Kakak ipar tidak lagi canggung dengan kakak, ayah dan bunda akhirnya mengakui ku, dan terakhir memberitauku siapa sahabat yang ada disaat senang maupun susah... Jika tau begitu, kenapa tidak dari dulu aku koma—"
"Ashel!" Ucap Alzero memotong membuat Ashel menatapnya.
"Ini sudah takdirnya Ashel, kau tidak bisa bilang begitu... Itu tidak baik." Ucap Lala membuat Ashel tersenyum.
"Terima kasih kakak ipar." Ucap Ashel. Lala hanya memalingkan kepalanya karena memang dia masih canggung dengan panggilan itu.
Di Kediaman Azura
Tampak Lina dengan semangat menyiapkan makan malam. Dibantu kepala pelayan Maya dan beberapa pelayan lainnya. Dicko tengah sibuk menonton berita sedangkan Celani sibuk berpacaran dengan Farrel melalui chat. Alina dan Kenzo?? Jangan ditanya, Kenzo tengah sibuk menggempur Alina.
__ADS_1
"Ela, kamu itu harusnya latihan memasak... Bagaimana kamu bisa melayani suami kamu nantinya kalau yang dipegang HP mulu." Omel Lina sembari mengaduk nasi goreng buatannya.
"Kan bisa nanti mom, lagian bukan cuman aku kok... Rena sama Fanya juga." Elak Celani. Tampak Lina hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Nggak anak, nggak bapak sama aja." Ucap Lina.
"Sayang aku denger loh." Ucap Dicko sembari mengganti ganti chanel televisinya. Lina hanya mendengus kesal melihat tingkah suami dan putrinya.
Sedangkan dengan Kenzo dan Alina. Selesai menghabiskan waktu bersama, tampak Kenzo mengeringkan rambut Alina dengan handuk kecil. Dilihat dari raut mukanya, terlihat jelas jika Kenzo kesal. Alina yang menyadari wajah kesal suaminya membuatnya merasa bersalah.
"Ken."
"Hmm?!"
"Aku minta maaf, aku tadi benar benar merasa sangat mual."
"Hmm, gua tau kok... Seharusnya gua yang minta maaf bikin lo lelah." Ucap Kenzo sembari meletakan handuk kecilnya dan menyisir rambut panjang Alina.
"Tidak, itu sudah menjadi tugas ku melayanimu." Ucap Alina membuat Kenzo tersenyum kemenangan.
"Ini baru istri berbakti." Ucap Kenzo membuat Alina tersenyum. Kenzo memang sedikit kesal karena Alina menghentikannya di tengah jalan dengan alasan mual. Dengan sangat terpaksa Kenzo memberhentikannya. Padahal sudah 3 jam namun Kenzo masih belum puas.
"Udah yuk makan malam, mommy daddy sama Celani pasti udah nungguin." Ucap Kenzo dan diangguki oleh Alina. Meskipun merasa sedikit pusing, Alina berusaha bangun dan menuju ke ruang makan bersama sang suami.
"Ela panggil kakak kamu sana." Ucap Lina sembari menata makanannya diatas meja makan.
"Lah itu kakak ipar sama kak Ken mom." Ucap Celani menujuk ke arah Kenzo dan Alina yang tengah menuruni tangga.
"Eh iya itu mereka." Ucap Lina tampak tersenyum bahagia.
Ya Allah, kenapa kepala ku pusing sekali?? Batin Alina sembari memijit pelipisnya. Dia menatap anak tangga yang dilaluinya. Dan terlihat buram. Sampai akhirnya dia tidak bisa bergerak dan jatuh pinsan. Beruntung Kenzo menyangga tubuh Alina.
"Cupu!"
"Alina!"
"Kakak ipar!"
Begitu teriak mereka bersamaan saat Alina tiba tiba pinsan. Tampak Kenzo menepuk pelan pipi Alina.
"Cupu bangun, lo kenapa?? Cupu?!!" Ucap Kenzo dan tidak direspon Kenzo. Kenzo pun menggendongnya ala bridal style.
"Ken bawa Alina ke kamar, Ela panggil dokter Morgan." Ucap Lina.
Celani menganggukan kepalanya pelan dan segera menghubungi Morgan dokter pribadi keluarga Azura. Meskipun Lina seorang dokter, tapi dia dokter bedah. Tidak seperti Morgan yang bisa segalanya.
Kenzo membaringkan tubuh Alina perlahan diatas ranjang. Terlihat jelas jika Kenzo sangat khawatir. Dia kali ini benar benar takut kehilangan Alina. Sangat takut.
"Mom, dokter Morgan mana sih?!!" Kesal Kenzo kemudian menghusap kening istrinya.
"Sabar sayang, sebentar lagi juga kemari." Ucap Lina.
Cupu, lo kenapa?? Sadar lah cupu, jangan bikin gua khawatir. Batin Kenzo. Beberapa saat kemudian, tampak Morgan datang bersama Celani dibelakangnya.
"Maaf terlambat, biar ku periksa." Ucap Morgan kemudian memeriksa Alina. Wajah santai Morgan terlihat tegang setelah memeriksa Alina. Tentu membuat lainnya khawatir.
"Kenapa Morgan?? Menantuku baik baik saja??" Tanya Dicko khawatir.
"Tidak." Jawab Morgan tanpa ekspresi membuat Kenzo kesal dan menarik kerah baju pria paruh baya itu.
"Tidak apanya?? Jelaskan secara rinci!!" Kesal Kenzo.
"Tidak baik baik saja, karena sebentar lagi akan ada raja onar junior." Ucap Morgan membuat Kenzo melepaskannya perlahan.
"Maksudnya?? Dia—"
__ADS_1
"Istrimu hamil Ken." Ucap Morgan.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan, semangat yah Readers... I Love You😍😘❤