
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
👩💻I Love You Readers❤❤❤❤❤
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Huweekk!!! Huweekk!!!
Alina memuntahkan isi perutnya membuat Kenzo memijit tengkuk istrinya. Dia sedikit bingung saat istrinya hanya memuntahkan cairan. Beruntung keduanya sudah kembali ke vila. Jika tidak, pasti Lina akan berceramah dan memarahi Kenzo tanpa alasan. Itu sebabnya Kenzo memilih untuk pulang. Padahal Lina sudah menceghatnya, namun Kenzo merasa lebih leluasa di vilanya.
"Udah mendingan??" Tanya Kenzo.
"Sedikit." Jawab Alina.
"Ya udah lo istirahat aja, besok gak perlu dateng ke pesta... Di vila aja sama gua." Ucap Kenzo.
"Aku ikut... Aku—"
"Patuh sama suami!" Bentak Kenzo membuat Alina menundukan pandangannya. Seketika, Kenzo menghela napas panjang dan menarik Alina kedalam pelukannya.
"Gua cuman khawatir sama anak kita... Jadi, nurut ya??? Oke??" Ucap Kenzo. Alina hanya menganggukan kepalanya.
"Udah lo tidur aja... Udah malem juga." Timpal Kenzo lagi.
"Kau juga tidur... Besok ada jam pagi bukan??" Jawab Alina. Kenzo tersenyum dan memposisikan Alina agar tidur dengan lengannya sebagai bantalan.
"Kita tidur bareng, gua tau lo suka kan tidur dipelukan gua?" Ucap Kenzo. Dia gemas saat sadar jika Alina sudah tidur.
"Good night cupu." Bisik Kenzo kemudian menc*um kening Alina. Setelahnya, dia pun ikut memejamkan matanya sampai akhirnya di alam mimpi.
Keesokan Harinya
Pagi pagi Kenzo sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Sedangkan Alina masih terlelap dalam tidurnya. Mengingat dia libur panjang sampai melahirkan membuatnya malas untuk bangun.
"Sayang."
"Hmm??"
"Gua berangkat dulu ya, baik baik dirumah."
"Hmm."
Kenzo mencium kening Alina sebelum akhirnya pergi. Setelah sarapan dan berpamitan pada Madira, Kenzo pun berangkat ke kampus.
"Jihan, siapkan susu untuk Alina... Aku akan melihat keadaannya." Ucap Madira kemudian menuju ke kamar cucunya.
Cklekk!
Perlahan pintu terbuka. Tampak Alina masih setia dengan tidurnya. Hal itu membuat Madira menyinggung senyuman. Dia pun duduk dibibir ranjang kemudian menghusap pipi Alina pelan. Merasa ada sentuhan Alina membuka matanya perlahan.
__ADS_1
"Oma." Lirih Alina kemudian bangkit dari tidurnya.
"Maaf Oma membangunkan mu." Ucap Madira.
"Tidak apa apa oma, maaf bangun siang." Jawab Alina.
"Tidak mengapa, mungkin ini bawaan dari cicit oma." Ucap Madira sembari tersenyum. Meskipun sudah lanjut usia, aura kecantikan Madira masih terlihat. Saat itu tampak Jihan datang dengan membawa segelas susu.
"Minum ini, biar kamu sama bayi kamu sehat." Ucap Madira.
"Alina cuci muka dulu oma... Biar fresh." Ucap Alina sembari mengucir kuda rambut panjangnya.
"Baiklah, baiklah... Oma tunggu." Ucap Madira. Alina pun menuju ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian tampak Alina keluar. Dia duduk disamping Madira kemudian meminum susunya. Madira menyelipkan anak rambut Alina kesela telinga.
"Kau tau nak?? Rasanya baru kemarin Kenzo lahir dan sekarang... Dia akan menjadi seorang ayah... Ternyata Oma sudah cukup tua." Ucap Madira. Alina meletakan gelasnya diatas nakas kemudian menatap Madira.
"Emm, Oma... Apa benar Ken sejak kecil nakal?? Aku ingin mendengarnya darimu oma." Ucap Alina.
"Sangat nakal nak... Oma harap cicit Oma tidak senakal dia... Kau tau nak, dulu saat Almarum Opa masih hidup... Kenken selalu membuatnya marah apapun caranya•••" Akhirnya Madira menceritakan semuanya tentang kenakalan Kenzo sejak kecil remaja dan sebelum menikah.
"Nak... (Menggegam tangan Alina.) Oma tau jika Kenken tidak memperlakukanmu dengan baik saat awal pernikahan, tapi Oma minta... Jika nanti akan ada masalah sebesar apapun, Oma minta jangan bercerai... Oma sangat tidak menyukai perceraian." Ucap Madira. Entah mengapa dia merasa gelisah seolah olah akan ada hal besar yang terjadi.
"Aku mengerti Oma, Oma jangan khawatir... Lebih baik Oma berbahagia menyambut cicit Oma." Ucap Alina menghibur.
"Roni beruntung memiliki anak secantik dan sebaik kamu." Ucap Madira. Alina hanya meresponnya dengan senyuman.
Ya Allah, kenapa aku gelisah?? Apa akan ada yang terjadi?? Batin Madira.
Di Kampus Royal
"Cie... Cie... Yang bentar lagi mau jadi Daddy." Goda Gavin pada Kenzo.
"Halah, bilang aja lo iri." Ucap Kenzo dengan santainya.
"Siapa yang iri?? Gua juga bisa bikin." Ucap Gavin.
"Sama siapa lo?? Si Nia??" Tanya Kenzo.
"Eh lo belum tau Ken?? Kalo si Gavin kan bakalan ngelamar si Nia pas pesta ntar malam." Ucap Raefal.
"Hah?? Seorang Gavin mo ngelamar?? hahaha!!" Ucap Kenzo mengejek. Pasalnya, Gavin memainkan wanita layaknya memainkan boneka.
"Diem lo!" Ucap Gavin sembari menyumpal mulut Kenzo dengan roti yang dia hendak makan.
"Lo dateng kan ke pesta?? Atau mau memadu kasih sama your wife??" Goda Gavin. Kenzo menelan rotinya.
"Kayaknya nggak, si cupu muntah muntah... Ntar malah repotin pas di pesta." Ucap Kenzo.
"Namanya bumil Ken, datenglah... Masa iya lo gak dateng pas gua ngelamar Nia." Ucap Gavin memohon.
"Gak usah!" Ucap Raefal membuat Gavin dan Kenzo menatapnya bingung. Begitu juga Alzero.
"Ma... Maksud gua, gak usah kalo nggak bisa... Gitu." Ucap Raefal. Tampak Kenzo mendekat dan merangkul leher sahabatnya.
"Lo kayaknya khawatirin sesuatu, ada apa emangnya?? Lo gak nyembunyiin sesuatu dari kita kan??" Tanya Kenzo penuh selidik.
"Awas, berat tau... Emang gua nyembunyiin apa?? Makanan??" Jawab Raefal mengelak.
__ADS_1
"Ya kali lo nyembunyiin janda." Ucap Gavin.
"Janda mulu lo, nikah aja sana sama si janda." Ucap Kenzo.
"No... Beb Nia is number one." Ucap Gavin membuat Kenzo bergidik ngeri.
"Kek anak sd bucin lo... Udah yuk masuk kelas." Ucap Kenzo. Mereka berempat pun menuju ke kelasnya.
"Al, si Lala kenapa kayak gak mood gitu??" Tanya Gavin sembari menujuk Lala yang duduk sendirian. Sedangkan tampak dari kejauhan, Nia dan Mita memperhatikannya.
"Dia hanya ingin sendiri, bahkan Nia dan Mita tidak bersamanya." Jawab Alzero.
"Ya udah gua samperin." Ucap Gavin seketika mendapatkan tatapan tajam dari Alzero.
"Menyingkir! Aku yang akan menghampirinya." Ceghat Alzero kemudian dia mendekat ke arah Lala.
"Ya elah posesif amat... Ini nih kalo pas kecil gak pernah ketawa." Ucap Gavin.
"Apa sangkut pautnya b*doh!" Ucap Kenzo sembari menjitak Gavin.
"Sakit bege, lo kira beton apa?!" Kesal Gavin dan Kenzo hanya meresponnya dengan tertawa.
Kalo ntar malem Alina datang, gua takut Aurel bakalan nekat. Batin Raefal khawatir.
"Ro, kamu kenapa kesini??" Tanya Lala saat Alzero berada dihadapannya.
"Menemanimu, kamu masih memikirkan soal kemarin??" Jawab Alzero dan kembali bertanya.
"Sedikit, aku pikir ibu tidak akan menerimaku... Ternyata dia sangat merindukanku." Ucap Lala dengan mata berkaca kaca.
"Jangan bersedih, ya?? Kau mau ikut dalam pesta nanti malam??" Tanya Alzero menghibur Lala.
"Pesta?? Apa Nana juga ikut?? Aku ingin mengucapkan selamat padanya." Jawab Lala kembali bertanya.
"Kenzo akan datang, tentu dia datang... Aku akan menyiapkan gaun untukmu." Ucap Alzero.
"Tidak perlu Ro itu—"
"Bukan aku yang menyiapkannya.... Tapi bunda... Dia sudah menyiapkannya sejak kemarin." Ucap Alzero memotong.
"Begitu ya??" Lirih Lala.
"Nah Lala! Datang saja, ku rasa kalian berdua sangat cocok untuk menikah." Ucap Mita tiba tiba.
"Mita apa yang kamu katakan??" Ucap Lala dengan wajah merona.
"Mita, jangan membuat sepasang calon pasturi ini malu... Lebih baik kita masuk kelas." Ucap Nia dan mengajak Mita pergi.
"Hey tunggu—"
"Aku akan mengantarmu." Ucap Alzero hendak menggegam tangan Lala namun Lala menolak.
"Itu... Aku akan ke kelas sendiri." Ucap Lala. Belum Alzero menjawab, Lala buru buru pergi.
Calon istriku memang menggemaskan. Batin Alzero sembari tersenyum menatap punggung Lala yang menjauh.
(Yahoo, ini dia bapaknya Alzero dan Ashel... Araka👆🏻)
__ADS_1