
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘
I LOVE YOU READERS😙💕
...🥀MHKOT2🥀...
Di parkiran, Kenzie melamun. Dia berangkat paling pagi saat ini. Bahkan hanya beberapa motor yang terparkir disana. Tadinya, Kenzie ingin singgah ke rumah Lina. Namun, dia tidak ingin melihat Rasya mengingat kejadian semalam.
"Sial! Kok gua jadi ngeres gini sih!!!" Umpat Kenzie. Dengan kasar dia merilang rambutnya.
I put my armor on, I'll show you that i am!!!!
Ponsel milik Kenzie berbunyi menandakan ada telefon masuk, dengan segera Kenzie mengangkatnya.
📞
“Halo Oma—”
“Maaf kak ini aku Rasya.”
“Kok lo?? Oma mana??” Tanya Kenzie.
“Di taman belakang... Oma minta kakak buat dateng kesini.”
"Sekarang??"
"Nanti kak sepulang kampus."
"Oh, oke... Nanti gua kesana." Jawab Kenzie.
"Kalau begitu Rasya tutup telefonnya—"
"Bentar gua cuman mau ngasih tau kalo..." Ucap Kenzie menggantung.
"Ngasih tau apa kak??"
"Lumayan juga ukuran lo." Ucap Kenzie dan dengan segera menutup telefonnya.
Tut.
"Ukuran apa hayooo!" Ucap Revan tiba tiba membuat Kenzie terkejut.
"B*ngs*t!!! Kaget beg*." Kesal Kenzie sembari menjitak kening Revan.
"Ya maap.. Ukuran apa tuh yang lumayan??" Goda Revan.
"Pengen tau?? Sini gua bisikin." Ucap Kenzie kemudian berbisik ditelinga Revan.
"Anj*r!! M*sum banget jadi orang... Kok bisa lo pegang??" Tanya Revan.
"Gua cowok bor... Biasa kebawa suasana, ah b*ngke masih kerasa aja." Jawab Kenzie sembari menggeggam erat tangannya yang mana membuat Revan begidik ngeri.
"Hih, ngeres banget dah... Jadi ngeri." Ucap Revan dan Kenzie hanya tertawa kecil menanggapinya.
"Tumben lo berangkat pagi, jangan bilang lo ribut lagi sama nyokap bokap lo??" Ucap Revan.
"Kagak... Cuman gak bisa tidur jadi bangun pagi." Jawab Kenzie dan Revan menganggukan kepalanya mengerti.
"Bulan depan gua married... Hadiahin mobil ya." Ucap Kenzie.
"B*ngke! Minta sama Veno sana... Ntar pasti dikasih, lambhorgini malah... Jadi lo beneran setuju, dan nikah pas akhir semester dong?" Tanya Revan.
"Hooh, lah lo kapan??" Jawab Kenzie kembali bertanya.
"Gua juga gak tau... Tapi tadi pagi, papa bilang ortu dia sama dia bakalan kerumah gua besok." Ucap Revan.
"Semoga kalo kita dah punya anak... Bebasin mereka buat cari pasangannya sendiri... Kalo nasib dijodohin, biar kita sama nyokap bokap kita yang ngalamin... Jangan anak kita." Ucap Revan sembari menatap pohon yang menjulang tinggi.
"Gua juga harapannya gitu." Jawab Kenzie.
"Oh iya, si Veno udah gak kuliah disini... Dia kan udah jadi presdir di perusahaannya, gila orang pinter emang beda." Ucap Revan.
"Hooh, lo bawa r*kok??" Tanya Kenzie.
__ADS_1
"Kagak, gua lupa beli... Palingan ntar si Daffin bawa." Jawab Revan.
"Ah nggak asik... Tau gitu gua yang beli tadi." Kesal Kenzie sembari menatap langit biru dan cerah itu.
"Sabarlah... Nah ntu si Daffin, panjang umur dia." Ucap Revan menatap sahabatnya yang baru sampai dan memakirkan motornya.
"Lo bawa r*kok??" Tanya Kenzie.
"Kagak. Gua kira R bawa." Jawab Daffin sembari duduk disamping Revan.
"Gua lupa beli... Soalnya di supermarket ada si Messy, bisa bisa gua dicekik sama dia." Ucap Revan.
"Pantesan... Oh iya Enzi, Zaiman bilang lo bakalan married akhir bulan... Bener??" Tanya Daffin.
"Iya... Daddy udah tua, kasihan juga kalo kerja terus... Makanya gua cepet nikah dan ambil alih perusahaan." Jawab Kenzie.
"Eh Fin lo tau gak, si Enzi udah pegang....." Ucap Revan kemudian berbisik di akhir kalimat.
"Anj*r main grepe aja! Gimana?? Enak kan??" Tanya Daffin.
"Lumayan... Baru pertama juga, emangnya lo kalo di club semuanya di grepe." Jawab Kenzie membuat Daffin terkekeh.
"Tapi cuman satu cewek yang bikin gua kecanduan." Ucap Daffin sembari membayangkan wajah Nala.
"Hah siapa?? J*lang di club itu—"
"Ya kagak lah... Dia tuh masih perawan and suci... Gua sendiri udah cek." Jawab Daffin dengan senyuman m*sumnya.
"Nj*r!!! Jadi lo udah main kuda kudaan??" Tanya Kenzie.
"Belom... Cuman pegang doang." Jawab Daffin.
"Anj*y... Salut gua sama lo." Ucap Kenzie.
"Anak daddy Gavin gitu loh.... Hahaha!!!" Ucap Daffin dan ketiganya pun tertawa. Meskipun begitu, sebenarnya mereka merasa terbebani dengan masalah masing masing.
🥀🥀🥀
Sepulang kuliah. Kenzie langsung menuju ke rumah Lina seperti yang Rasya katakan beberapa saat lalu. Dia memperlambat kecepatan saat melihat sosok wanita yang dia panggil “Anak Jelek.” itu tengah membeli siomay di depan kampusnya.
"Kak Enzi, kakak kenapa—"
"Ngapain disini??" Tanya Kenzie memotong ucapan Rasya.
"Beli siomay... Kakak mau??" Jawab Rasya kemudian kembali bertanya.
"Nggak, udah kan?? Cepetan naik." Ucap Kenzie. Rasya pun menganggukan kepalanya patuh. Baru hendak mendekat, tampak para gadis menggerombol ke arah Kenzie yang mana mereka tau jika Kenzie salah satu Cassanova di Kampus Royal Utama. Kampus terbesar 1 di Indonesia.
"Napa diem!! Cepetan naik!! Gini amat sih jadi cogan." Ucap Kenzie sembari memakai helmnya. Rasya pun naik dan dengan segera Kenzie menjalankan motornya.
"Yah udah pergi."
"Beruntung banget sih jadi Rasya... Diboncengin cogan."
"Hooh, mana Cassanova lagi... Besok kita minta nomornya ke Rasya aja yuk??"
"Yoklah gass!!"
Begitu para gadis yang kagum dengan ketampanan Kenzie dan tidak mengerti sebejat apa dia. Dirasa sudah jauh dari kampus Rasya, Kenzie mengurangi kecepatannya.
"Ntu cewek pada kenapa??" Tanya Kenzie sembari bergidik ngeri.
"Yang mana??"
"Yang tadi lari ke arah gua lah." Ucap Kenzie agak ngegas.
"Oh itu... Mereka suka sama kakak." Jawab Rasya dengan polosnya.
"Nasib orang ganteng ya gini... Oma manggil gua, ada apa emangnya??" Tanya Kenzie.
"Kata Oma Chika dan orang tuanya datang... Jadi, Oma menyuruhku memanggilmu dan si kembar." Jawab Rasya.
Ntu anak lagi, siap siap telinga gua tutupin deh. Batin Kenzie mengingat saudara sepupunya itu sangat cerewet dan ceroboh.
Sesampainya di vila Lina. Terdengar suara teriakan dari Raka. Tampak Raka berlari mendekat dan bersembunyi dibelakang Kenzie.
__ADS_1
"Abang... Pipi Raka sakit banget gegara kak Chika." Ucap Raka.
"Saudara ku.... Huwaaa!! Kak Enzi ganteng banget... Chika kangen sama kakak much." Ucap Chika sembari memeluk Kenzie yang mana membuat Kenzie menepuk keningnya.
"Hih, jijik... Udah gede juga." Ucap Kenzie sembari melepaskan pelukan adik sepupunya itu.
"Ih kakak mah gitu... Halo kak Rasya, kakak cantik banget yah sekarang... Wah kakak bawa apa nih??" Tanya Chika.
"Siomay, kamu mau??"
"Tidak... Aku alergi kacang, sambal itu akan membuat ku gatal gatal." Jawab Chika.
"Enzi kamu sudah pulang." Ucap Lina. Kenzie pun menghampiri Lina dan mencium punggung tangannya. Disusul Dicko Celani dan Ashel.
"Halo uncle... Aunty." Sapa Kenzie.
"Halo Enzi... Semakin dewasa kamu agak mirip kak Ken yah." Ucap Ashel.
"Dia kan anaknya... Mas gimana sih." Ucap Celani dan Ashel hanya tertawa kecil.
"Hehe... Arka gak datang??" Tanya Kenzie.
"Tuh didepan... Biasa lah lagi sama Hawanya." Jawab Raka.
"Terus kamu kapan dapet gebetan?? Ganteng doang tapi nggak punya gebetan." Goda Chika.
"Kakak apaan sih, Raka punyalah." Ucap Raka.
"Kenal adeknya Daffin kan Chik?? Raka bucin parah sama si Mia itu." Ucap Kenzie dan berlalu pergi.
"Oh Mia... Cie.... Suka tapi nggak mau ungkapin, ntar ditikung temen baru tau." Goda Chika.
"Chika... Sudah jangan goda Raka, kau membelikannya oleh oleh bukan??" Ucap Ashel. Tampak Chika bersemangat dan menarik tangan Raka.
"Eh... Mau kemana kak??!"
"Kakak beliin kamu oleh oleh... Udah ayok!!" Ucap Chika sembari menarik Raka masuk.
Ashel dan Celani hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah laku putri tunggalnya. Entah sifat dia menurun dari siapa, mengingat Ashel kalem dan Celani ceroboh. Ashel dan Celani pun masuk kedalam Vila.
"Hawa."
"Hmm??"
"Kamu beneran mau kerja??" Tanya Arka sembari menatap Fatimah.
"Iya... Fatimah nggak mau jadi beban bibi sama paman." Jawab Fatimah. Dia terpaska berhenti dari sekolahnya karena kekurangan biaya.
"Tapi Hawa kamu—"
"Kakak percaya kan sama Fatimah?? (Arka menganggukan kepalanya.) Jadi, biarin Fatimah ambil jalan Fatimah sendiri." Ucap Fatimah membuat Arka terdiam. Dia sudah memaksa Fatimah agar menerima bantuannya namun Fatimah menolaknya.
"Mulai besok kamu kerja... Dan aku sibuk buat siapin ujian kenaikan kelas... Kalo aku ada waktu pun, kamu nggak ada waktu... Tapi, hari kelulusan SMA nanti kamu dateng yah." Ucap Arka sembari menatap mata lentik Fatimah. Terlihat jelas jika dia sangat sedih.
"Hmm... Insyallah kak, Fatimah usahain yah." Jawab Fatimah sembari tersenyum.
"Harus bisa Hawa... Karena nanti aku gak kuliah disini." Ucap Arka yang mana membuat Fatimah menatapnya.
"Aku kuliah di Amerika... Bareng sama abang." Timpal Arka.
"Jadi... Kakak kapan pulang??" Tanya Fatimah menahan rasa sedihnya.
"Mungkin 2 atau 3 tahun lagi." Jawab Arka. Fatimah terdiam dan susana menjadi hening.
"Hawa."
"Hmm??"
"Kenapa setiap kita baru ketemu selalu ada aja alesan bikin kita pisah... Dulu, pas lulus sekolah dasar kamu pergi ke rumah bibi kamu dan baru ketemu sekarang... Dan sekarang... Aku nggak tau harus gimana lagi, harus sesabar apa lagi." Ucap Arka dengan air mata menetes.
"Eh, kakak kenapa nangis?? Kita pasti bakalan ketemu lagi kok." Ucap Fatimah.
"Aku takut kamu kenapa napa selama aku pergi, aku takut kamu lupain aku, aku takut cuman aku yang inget kamu.... Aku takut itu Hawa... Takut banget." Jawab Arka. Yang mana membuat Fatimah berkaca kaca melihatnya.
"Gimana Fatimah kenapa napa kalau Fatimah selalu inget Allah disaat pergi... Gimana Fatimah lupain kakak kalau nama kakak yang selalu Fatimah sebut di sepertiga malam... Justru Fatimah yang takut... Takut kakak lupain Fatimah." Ucap Fatimah dengan air mata menetes.
__ADS_1