
⭐Perhatian. Jangan lupa like, vote, and komentarnya ya🤗 Dan selamat membaca semua⭐
Keesokan Harinya
Kenzo membuka matanya perlahan. Sinar matahari pagi mengusiknya membuatnya bangun. Kenzo pun duduk dibibir ranjang sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing.
Sial, kebanyakan minum nih... Kepala gua serasa mo pecah. Batin Kenzo.
Kenzo menatap kesampingnya dan melihat Gavin tertidur di sofa sedangkan Raefal disampingnya. Dan itu membuat Kenzo ingat jika kini dia di apartemen Gavin. Mendengar suara dari luar, Kenzo pun bangkit dari duduknya dan menuju ke sumber suara. Suara tersebut berasal dari dapur. Tampak Alzero dengan cekatan sedang memasak disana. Tampak tampan dengan wajah seriusnya.
"Sudah bangun... Minum ini." Ucap Alzero sembari menyondorkan secangkir susu jahe.
"Thanks... Lo nggak hangover??" Tanya Kenzo sembari menengguk susu jahenya.
"Aku tidak lemah sepertimu." Jawab Alzero membuat Kenzo mengecurutkan bibirnya. Kenzo pun menarik kursi untuknya duduk.
"Al lo sempurna banget sih... Udah pinter, ganteng, pinter masak lagi... Suami idaman banget sih lo." Puji Kenzo dan tidak direspon Alzero.
Saat itu tampak Gavin dan Raefal menuruni tangga dengan langkah sempoyongan. Kenzo pun membantu keduanya untuk duduk di ruang makan.
"Minum ini, biar lo nggak pusing." Ucap Kenzo sembari menyondorkan secangkir susu jahe pada Gavin dan Raefal.
"Udah mendingan?" Tanya Alzero sembari menata makanannya diatas meja.
"Lumayan... Wah enak nih." Jawab Gavin.
Keempat serangkai itu pun menikmati sarapan tanpa ada percakapan sedikit pun. Selesai sarapan mereka berempat pun membersihkan dirinya dan rapi dengan kaos oblong yang Gavin punya di apartemen. “Tring!!” Ponsel milik Alzero berbunyi. Segera Alzero melihat pesan masuk.
💬
Rio: Tuan, dia telah kabur dari club semalam setelah anda pergi darisana.
Tampak Alzero menghela napas panjang dan memijit pelipisnya.
💬
Me: Kau bayar ke menejer club agar dia tidak mencari dia.
💬
Rio: Baik tuan.
💬
Me: Satu lagi, cari dia sampai ketemu... Kali ini langsung bawa dia kehadapanku.
Alzero pun mematikan ponselnya dan menyusul Kenzo Gavin dan Raefal yang sedang menonton televisi. Wajah cemasnya dia tutupi sempurna dengan wajah dinginnya.
"Jadi nggak nih di kampus Royal Utama???" Tanya Raefal.
"Gua si penasaran, cuman masa kita di asrama sih... Keluar aja kalo ada acara keluarga atau libur kuliah males banget gua." Kesal Kenzo.
"Kalo gua sih kayaknya bisa bujuk mama buat bantu gua bilang ke papa." Ucap Raefal.
"Gua juga, secara kan ibu yang paling sayang sama gua... Jadi, gua bujuk dia aja biar bisa bebas." Timpal Gavin.
"Lah kok tinggal gua??? Jangan bilang gua sendirian yang di asrama... Eh solidaritasnya mana b*ngs*t." Kesal Kenzo sembari memukul kecil lengan Raefal.
"Eh sakit k*mpr*t... Lo kenapa nggak bujuk bokap lo aja, dia kan yang manjain lo." Ucap Raefal. Tampak Kenzo menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"Kalo daddy sih pasti bisa dibujuk, cuman kalo dua singa betina marah bisa bisa daddy yang ngalah." Jawab Kenzo.
__ADS_1
"Sekarang tergantung lo Ken, kalo lo nggak bisa bujuk ya... Nasib lo." Ucap Gavin.
"Sialan lo... Udahlah nanti gua coba bujuk daddy... Oh iya Al, kemarin lo dipanggil ke kantor buat ngapain??" Tanya Kenzo.
"Cuman beberapa tawaran dari beberapa kampus." Jawab Alzero.
"Jadi orang pinter emang beda ya... Lo terima tawarannya??" Tanya Gavin.
"Tidak." Jawab Alzero. Mendengar hal itu Kenzo dan Raefal memeluk Alzero membuat Alzero risih.
"Hey apa yang kalian lakukan?? Lepaskan!" Kesal Alzero. Bukannya lepas, mereka berdua semakin erat memeluk.
"Gua tau lo nggak bakalan nerima tawaran... Karena lo mau bareng sama kita kan?? Sayang deh sama Alzero." Ucap Kenzo.
"Diam!" Kesal Alzero dan membuat ketiga sahabatnya tertawa terbahak bahak.
Di Kediaman Azura
Tampak Dicko Lina dan Roni membicarakan sesuatu yang terlihat sangat serius. Dicko dan Lina menatap Roni meminta jawaban.
"Tidak ****, aku takut hubungan mereka tidak bertahan lama... Mereka masih sangat muda." Ucap Roni.
"Kita dulu begitu Ron, putrimu sangat baik dan sopan berbeda dengan putraku yang suka membuat onar dan kepribadiannya buruk... Mungkin dengan ini, putraku bisa berubah." Jelas Dicko.
"Iya Ron, aku ingin putraku berubah... Dulu kau dan Alexa juga begitu kan?? Kita percayakan saja pada waktu." Timpal Lina membuat Roni terdiam sejenak.
"Baiklah... Tapi keputusan ada pada mereka yang akan melaksanakannya." Ucap Roni.
"Tentu... Aku pastikan Kenzo pasti akan menyetujuinya." Jawab Lina.
"Menyetujui apa??" Tanya Kenzo yang baru saja pulang.
Di Sebuah Cafe
"Em bu, saya keluar sebentar ya." Pamit Alina pada bu Sinta.
"Sebentar ya, pelanggannya semakin banyak." Ucap bu Sinta.
"Baik bu." Jawab Alina kemudian menghampiri wanita tersebut. Alina menyondorkan air mineral pada wanita tersebut membuat wanita itu menatap Alina heran.
"Ah maaf... Kamu pasti haus?? Hari ini lumayan panas... Ambilah." Ucap Alina.
"Terima kasih." Jawabnya sembari tersenyum. Setelah meminum beberapa tenggukan, Alina memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu orang baru ya?? Saya tidak pernah melihatmu sebelumnya?? Kamu tinggal didaerah mana??" Tanya Alina.
"Aku, aku tidak tau harus tinggal dimana... Aku juga tidak tau daerah ini." Jawabnya sembari menangis membuat Alina iba.
"Jangan menangis, kamu bisa tinggal denganku... Tenang aku tinggal berdua dengan ayahku, ayahku orang baik kok... Oh iya siapa namamu??" Tanya Alina.
"Ranadiacella... Kamu bisa memanggilku Lala." Jawabnya yang tidak lain bernama Lala.
"Baiklah Lala, sekarang kamu ikut aku ditempat istirahat cafe... Sebentar lagi aku pulang, jadi tunggu aku sebentar ya... Ah iya, namaku Alina kita sahabat sekarang." Ucap Alina sembari tersenyum.
"Jika aku memanggilmu Nana bagaimana?? Sebagai panggilan sahabat." Ucap Lala. Tampak Alina mengangguk sembari tersenyum.
"Tentu saja... Ayo, aku bantu kamu membawa barang barangmu." Jawab Alina. Mereka berdua pun menuju ke arah cafe.
Sepertinya dia memang wanita yang baik, kelak aku pasti akan membayar jasanya. Batin Lala.
"Em Lala... Kamu mau bekerja disini??" Tanya Alina.
__ADS_1
"Apa boleh??" Jawab Lala kembali bertanya.
"Tentu saja boleh... Kebetulan cafe bu Sinta kekurangan pelayan karena akhir akhir ini ramai." Ucap Alina.
"Benarkah??? Aku mau, Nana aku mau." Jawab Lala.
"Sebentar ya, aku bicara pada bu Sinta dulu." Ucap Alina. Lala pun mengangguk dan duduk dikursi. Tampak Alina mendekat ke arah bu Sinta.
"Alina, kamu ngapain keluar... Ini antarkan pesanan ke meja 22." Ucap bu Sinta.
"Sebentar bu, bu sahabat Alina ingin bekerja disini juga... Sama sepertiku, apa boleh??" Tanya Alina.
"Tentu saja boleh... Katakan padanya mulai besok boleh langsung bekerja." Jawab bu Sinta membuat Alina senang dan memeluknya.
"Terima kasih bu." Ucap Alina.
"Sama sama... Sana antar pesanan ini dulu." Ucap bu Sinta.
"Baik bu menejer." Ucap Alina kemudian membawa bakinya ke meja yang ditunjukan. Sinta tersenyum melihat wajah Alina yang tampak senang.
Sore Harinya
Alina berkemas untuk pulang. Dia juga mengganti pakaiannya dengan pakaian saat dia berangkat ke Cafe. Alina tampak bahagia karena ini pertama kalinya berteman dan temannya pun rama juga baik. Mereka pun berjalan menuju ke rumah Alina karena memang jaraknya lumayan dekat.
"Assalamualaikum... Ayah, Alina pulang." Ucap Alina namun tidak ada respon.
"Ayah kamu yakin mau nerima aku tinggal sementara disini??" Tanya Lala takut.
"Kamu tidak perlu takut Lala... Ayahku orang yang baik, sudah ayo masuk. Ayahku pasti sedang pergi." Jawab Alina.
Mereka berdua pun masuk kedalam rumah Alina yang sederhana. Hanya ada tiga kamar disana itu pun kamar satunya sebagai gudang. Alina pun mengajak Lala ke kamarnya. Kamarnya yang tidak cukup luas tapi cukup untuk dua orang.
"Maaf ya kalau kamarku kecil, setidaknya bisa untuk kita berdua." Ucap Alina.
"Tidak Na, ini lebih besar dari kontrakanku dulu. Aku justru berterima kasih karena kamu mengizinkan aku untuk tinggal bersamamu." Ucap Lala.
"Tidak masalah, kita sahabat sekarang... Kamu ambilah handuk yang baru didalam lemari dan bersihkan dirimu... Aku akan menata pakaianmu." Ucap Alina.
"Baiklah, terima kasih." Ucap Lala kemudian mengambil handuk dan membersihkan dirinya.
Di Vila Alzero
Alzero merasa marah karena Rio tidak kunjung menemukan seseorang yang dia perintahkan. “Prankkk!!!!” Vas bunga antik menjadi sasaran amarahnya.
"Aku tidak peduli, cari dia... Cari dia sampai dapat." Ucap Alzero dengan nada tinggi.
"Baik tuan... Tuan tangan anda—" Ucap Rio terpotong.
"Keluar!!! Biarkan aku sendiri." Ucap Alzero.
Karena tau seperti apa Alzero saat marah, Rio pun memilih untuk pergi dan mencari kembali seseorang yang Alzero minta. Mendengar suara dentuman, membuat Ashel terbangun dari tidurnya. Buru buru dia keluar dan melihat Rio yang keluar dari ruang baca Alzero.
"Rio ada apa??" Tanya Ashel.
"Tuan muda sepertinya marah tuan, mungkin anda bisa menenangkannya." Jawab Rio.
"Marah soal kamu tidak menemukan dia??" Tanya Ashel dan diangguki oleh Rio.
"Saya permisi tuan." Pamit Rio kemudian pergi.
“Cklekk!!!” Perlahan Ashel membuka pintu dan tampak Alzero tengah duduk dengan tangan terluka. Ashel pun mengambil kotak P3K dan mengeluarkan obat merah beserta perban. Dia pun duduk disamping kakaknya dan perlahan mengobati tangan Alzero yang terluka.
__ADS_1
"Kakak boleh marah, tapi tidak melukai diri sendiri." Ucap Ashel membuat Alzero menatapnya.