
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Di Sweet Resto
Lala tampak menatap sekeliling restoran yang sangat mewah baginya. Dia melihat para pengunjung restoran tampak bebusana elegan dan berkarisma. Melihat hal itu membuat Alzero tersenyum. Lala pun menatap Alzero.
(Visual Restoran.)
"Ro, disini terlalu mewah... Apa kita bisa pindah ke resto lain??" Ucap Lala jujur. Alzero tersenyum mendengar panggilan khusus dari Lala. Karena biasanya dia sering dipanggil “Al”.
"Kamu merasa terganggu karena mereka?? Kita pindah ke ruang khusus saja." Ucap Alzero.
Ruang khusus?? Disini saja sudah semewah ini apalagi... Batin Lala.
"Eh tidak perlu kalau begitu." Ucap Lala tersenyum canggung. Saat itulah pelayan membawakan pesanan yang sudah ditunggu tunggu. Pelayan itu pergi dengan menunduk hormat.
"Kamu sangat menyukai kepiting pedas kan? Makanlah." Ucap Alzero kemudian meminum es capuchino pesanannya.
"Yup... Emm, darimana kamu tau??" Tanya Lala bingung.
"Tentu saja aku tau banyak hal tentangmu." Jawab Alzero. Lala hanya menganggukan kepalanya kemudian memakan makanan favoritnya.
Alzero tersenyum melihat tingkah Lala yang sangat menggemaskan baginya. Hingga bibir Lala terkena saus membuat tangan Alzero terangkat dan menghusap noda saus dibibir Lala. Lala yang terkejut pun hanya diam menatap Alzero.
"Jangan terburu buru Lala." Ucap Alzero. Dan tanpa Lala duga, Alzero justru memakan noda saus di tangannya. Tentu bekas dari bibirnya.
Di... Dia memakannya?? Batin Lala. Wajahnya merona membuat Alzero lagi lagi tersenyum.
Selesai makan siang. Mereka berdua pun menuju ke sebuah butik mewah. Rio membukakan pintu mobil mempersilahkan tuan dan calon nona mudanya keluar. Tampak Alzero lebih dulu keluar disusul Lala.
Lala tampak kagum melihat butik semegah itu untuk pertama kalinya. Saat Alzero hendak mengajaknya masuk, Lala menceghat. Membuat Alzero menatap Lala bingung.
"Kita cari tempat lain saja Ro... Ini terlalu... Mewah." Ucap Lala jujur. Alzero tersenyum karena mendengar nama panggilan itu lagi dari Lala .
“Ctakk”
Alzero menyentil kecil kening Lala. Sedangkan Lala menghusapnya sembari menatap Alzero bingung.
"Tidak apa, tugasmu hanyalah memilih gaun tidak untuk penolakan." Ucap Alzero.
"Tap—" Ucap Lala terpotong saat Alzero meletakan jari telunjuknya pada bibir mungil Lala.
"Sttttt.... Jangan menolak, Ayo masuk." Ucap Alzero dan tanpa ragu menggandeng tangan Lala untuk masuk bersamanya.
"Selamat datang tuan muda." Sapa beberapa pelayan.
"15 menit... Aku ingin gaun terbaru disini ada dihadapanku." Ucap Alzero. Tampak pera pelayan bergegas sedangkan Alzero dan Lala duduk di sofa. Dan 15 menit kemudian, berbagai macam gaun tertata rapi dihadapannya.
"Pilihlah... Dan coba kenakan, aku ingin melihatnya." Ucap Alzero.
__ADS_1
"Emmm." Lirih Lala yang tampak bingung dengan gaun serba mewah itu. Tampak Alzero menghusap puncak kepala Lala lembut.
"Ada pelayan yang membantumu.... Tidak perlu terburu buru, kita coba satu per satu." Ucap Alzero. Alzero mengarahkan salah satu pelayan untuk mendekat. Lala menatap Alzero dan dia mengikuti pelayan yang mengantarnya ke ruang ganti. Alzero pun menunggu sembari memainkan ponselnya. Beberapa saat kemudian.
"Tuan bagaimana menurut anda." Ucap pelayan. Mata Alzero terbelak saat melihat model gaunnya yang terbuka dibagian punggung, membuat punggung mulus Lala terlihat.
"Jangan yang itu... Aku tidak suka." Ucap Alzero. Dan membuat Lala salah paham jika Lala tidak pantas memakai pakaian mewah itu.
"Bagian punggungnya terlihat... Ganti dengan yang lebih tertutup." Timpal Alzero. Hal itu membuat Lala tersenyum diam diam mengetahui jika Alzero sangat melindunginya.
"Baik tuan... Ayo nona." Ucap pelayan kemudian mengajak Lala kembali masuk. Beberapa saat kemudian, Lala tampak keluar dari ruang ganti.
"Apa seperti ini??" Tanya Lala.
Alzero menatap Lala tanpa berkedip sedikit pun. Bagaimana wanita pujaannya terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna putih. Alzero bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Lala. Saat berada tepat dihadapannya, Lala mendongak karena tinggi Alzero lebih darinya.
"Kau sangat cantik." Ucap Alzero sembari membelai wajah Lala.
“Cup.”
Ciuman tulus mendarat pada kening Lala. Para pelayan yang melihat pun tersenyum malu malu. Dan Lala, tidak perlu ditanya. Wajahnya kini sudah seperti udang rebus.
"Bungkus gaun beserta aksesorisnya." Titah Alzero.
"Baik tuan." Ucap pelayan bersemangat.
"Rio." Panggil Alzero.
"Tuan?"
"Nanti hubungi Jiva... Suruh dia Jevi Vila untuk merias Lala... Satu hal, jangan sampai dia memberi tau bunda kalau aku memintanya ke Vila... Kau mengerti?" Ucap Alzero.
"Tentu tuan muda." Jawab Rio. Setelah membeli gaun, mereka berdua pun kembali kedalam mobil.
"Kita ke Vila ku... Kau bisa mandi dan beristirahat disana." Ucap Alzero memotong.
"Tidak, bagaimana jika saat Nana dan om Roni pulang—"
"Ingat tidak boleh menolak." Ucap Alzero. Lala pun memajukan bibirnya dan menatap keluar jendela. Alzero menatap Lala tersenyum.
“Duk!”
Baru beberapa saat Lala tertidur dan menyandarkan kepalanya pada bahu kekar Alzero. Alzero tersenyum dan memindahkan kepala Lala pada dada bidangnya. Alzero menghusap puncak kepala Lala kemudian mencium keningnya.
"Saat kau tidur, kau terlihat seperti bayi yang baru lahir... Sangat menyenangkan untuk dipandang." Lirih Alzero. Rio yang melihat tuannya itu ikut tersenyum bahagia.
Sesampainya di Vila
Alzero mencoba membangunkan Lala. Namun, Lala terlihat sangat lelap dalam tidurnya. Mungkin Lala lelah karena seharian ini dia diajak keliling oleh Alzero. Perlahan Alzero mengangkat tubuh Lala.
"Rio kamar yang kuminta sudah siap??" Tanya Alzero lirih.
"Sudah tuan." Jawab Rio dengan nada lirih pula. Alzero pun masuk kedalam Vila mewahnya. Saat itu tampak Ashel tangah menonton televisi. Melihat Alzero menaiki tangga, Ashel hanya menggeleng kepala pelan.
"Oh kakak pulang dengan wanita... (Seperkian detik kemudian.) Apa wanita???" Ucap Ashel panik kemudian hendak menyusul Alzero. Namun saat hendak menyusul, Rio menceghat.
"Tuan muda tenang... Dia nona Lala calon kakak ipar anda." Ucap Rio. Tampak Ashel terdiam.
"Yess!!!! Akhirnya... Apa dia akan tinggal disini Rio??" Tanya Ashel tampak bahagia.
"Saya kurang tau tuan." Jawab Rio.
"Ah tidak masalah... Lusa kakak akan lulus dan aku naik kelas... Yey ini sangat fantastis." Ucap Ashel tampak bahagia kemudian pergi.
__ADS_1
Sesampainya dikamar. Perlahan Alzero membaringkan Lala pada ranjang. Kamar berdesign elegan dipadukan cat putih dan biru warna kesukaan Lala. Alzero menyelimuti Lala dan mencium keningnya.
(Visual kamarnya.)
"Selamat tidur sayang." Bisik Alzero ditelinga Lala. Setelah itu Alzero pun menutup pintu pelan membiarkan Lala tidur.
"Kakak." Panggil Ashel tiba tiba membuat Alzero terkejut.
"Ashel.... Apa kau ingin kakakmu tiada?" Ucap Alzero kesal.
"Wah baru sehari bersama calon kakak ipar... Kakak sudah bisa bercanda... Ah lupakan, kakak apa kakak ipar akan tinggal disini??" Tanya Ashel.
"Untuk saat ini belum, tapi secepatnya... Tumben kamu dirumah, tidak pergi??" Jawab Alzero kemudian bertanya.
"Mau pergi dengan siapa kak? Farrel sedang bersama klub futsalnya dan Celani dia tidak boleh pergi... Ya sudah aku di rumah saja." Ucap Ashel menghela napas panjang.
Melihat hal itu sungguh Alzero ingin memberitaukan kebenarannya. Namun, dia tidak ingin melihat wajah kecewa adiknya untuk ketiga kalinya. Melihat Alzero terdiam membuat Ashel menatap.
"Kakak apa yang kau pikirkan, calon kakak ipar ada disini... Bukankah kalian berdua seharusnya.... (Bersiap untuk lari.) Memberikan ku keponakan." Ucap Ashel secepat kilat pergi.
"Ashel!!" Ucap Alzero dengan nada tinggi. Alzero menghela napas panjang kemudian menatap ke arah dimana Ashel pergi.
Ashel... Kau memang terlahir untuk memberikan kebahagiaan bagi orang lain, tapi bagaimana denganmu?? Tanpa menyimpan dendam kamu memaafkan mereka begitu saja, setelah memanfaatkanmu... Aku beruntung memilikimu sebagai adikku. Batin Alzero.
Sedangkan dengan Kenzo
Dia sesekali melirik ke arah Alina yang duduk terdiam sembari melihat pemandangan luar mobil. Setelah diperhatikan cukup lama, Kenzo baru menyadari jika Alina sangat cantik ketika membuka kaca matanya dan mengurai rambutnya yang selalu dikucir kuda saat di sekolah.
Nih cewek lumayan juga... Boleh lah cari kesenengan dulu. Batin Kenzo tersenyum sinis.
“Ckittt!!!”
"Astghfirullah, Ada apa?? Kenapa berhenti mendadak??" Tanya Alina.
"Gak apa apa... Butik kelewat tadi." Jawab Kenzo singkat. Alina hanya menggeleng kepala pelan.
Sesampainya di butik
Alina dan Kenzo keluar dari dalam mobil. Alina tampak kagum melihat butik mewah dihadapannya. Mereka pun masuk dan langsung disambut oleh beberapa pelayan. Kenzo memberikan black card pada salah satu pelayan.
"Pilihkan gaun terbaik untuk dia." Ucap Kenzo sembari menujuk Alina.
"Tentu tuan." Jawab pelayan.
"Eh lo ikut mereka... Gua tunggu disini." Ucap Kenzo sembari duduk. Alina hanya menganggukan kepalanya kemudian pergi.
Oke kita lihat si cupu berubah. Batin Kenzo.
Beberapa saat kemudian, Alina keluar dengan gaun berwarna merah dan terlihat sangat cantik. Kenzo sendiri tidak berkedip melihatnya.
"Bagaimana tuan??" Tanya pelayan.
"Bagus bungus yang itu... Dan kasih gua jas hitam." Jawab Kenzo sembari bangkit dari duduknya.
Secepat ini?? Batin Alina. Dia pikir Kenzo akan meminta berganti gaun tersebut. Tanpa berlikir lagi Alina mengganti dengan pakaiannya lagi.
"Kita pulang sekarang kan?" Tanya Alina sembari mendekat pada Kenzo.
"Ya iyalah masa kita nginep." Jawab Kenzo ketus.
"Bawa tuh." Ucap Kenzo sembari memberikan paper bagnya.
__ADS_1