
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Keesokan Harinya
Lala tampak membantu Alina yang tengah mempersiapkan diri untuk ke rumah calon suaminya. Lala sebenarnya tidak ingin jauh dari Alina lebih lama. Terlebih setelah Alina menikah nanti maka Lala akan jarang bertemu dengan Alina.
"Kau lihat Nana, kau sangat cantik." Ucap Lala sembari memegangi kedua bahu Alina setelah melepaskan kacamata yang biasa Alina pakai. Tampak Alina tersenyum.
"Aku merasa sangat gugup, aku takut..." Ucap Alina dengan wajah khawatir.
"Nana dengarkan aku... Berpikirlah positive, anggap saja kamu akan bertemu dengan pria yang kamu cintai." Ucap Lala mencoba membuat Alina tenang. Tampak Alina menghela napas panjang dan menganggukan kepalanya.
"Ayo turun, ayah menunggu." Ajak Lala. Mereka pun keluar dan menuju ke ruang tamu. Tampak Roni Dicko dan Lina menunggu disana.
"Calon menantu mommy cantik banget." Puji Lina.
"Terima kasih mom." Ucap Alina lirih. Hal itu membuat Lina dan Dicko tersenyum. Lina beralih menatap Lala yang berdiri disamping Alina.
"Sayang dia sahabatmu itu??" Tanya Lina.
"Iya mom, dia baik namanya Lala." Jawab Alina sembari tersenyum.
"Nama yang cocok untuk wajah cantikmu." Ucap Lina.
"Terima kasih tante." Ucap Lala. Tampak Lina menganggukan kepalanya.
"Kau tidak mau ikut Lala??" Tanya Lina.
"Tidak terima kasih tante... Tapi, Saya udah ada janji." Jawab Lala sopan.
"Begitu ya... Roni, Alina ayo berangkat sekarang." Ucap Lina.
"Lala jaga diri kamu baik baik yah." Ucap Alina. Lala tersenyum dan memeluk Alina.
"Tentu saja." Jawab Lala. Roni Dicko dan Lina pun hanya tersenyum melihat keakraban mereka yang seperti saudara.
"Lala kami berangkat ya... Jaga diri kamu baik baik." Ucap Lina sembari melambaikan tangannya.
"Iya, kalian juga hati hati." Ucap Lala. Setelah mobil yang mereka kendarai benar benar pergi, Lala pun hendak masuk ke dalam rumah. Namun sebuah tangan kekar menceghatnya membuat Lala menoleh.
"Ka... Kamu??" Ucap Lala terbata. Dan pemilik tangan tersebut tidak lain Alzero.
"Kau sudah bersiap siap??" Tanya Alzero.
"Tapi ini masih pagi, kau bilang nanti sore." Jawab Lala sembari melihat sekeliling. Alzero tersenyum dan mencubit pipi Lala.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian... Cepat bersiap siap, Aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Ucap Alzero. Cubitan dipipi itu membuat wajah Lala merona dan Alzero sangat menyukainya.
__ADS_1
"Cepat bersiap atau perlu ku bantu??" Ucap Alzero tepat di daun telinga Lala. Lala pun mendorong tubuh Alzero.
"Aku akan bersiap." Jawab Lala kemudian masuk kedalam rumah. Alzero tersenyum dan menunggu Lala sembari duduk di kursi teras. Beberapa saat menunggu akhirnya Lala keluar dengan pakaian tertutup. Dan Alzero sangat menyukai hal itu.
"Ayo berangkat." Ucap Alzero sembari menggegam tangan Lala. Mereka berdua pun memasuki mobil mewah milik Alzero.
"Kau sudah sarapan??" Tanya Alzero.
"Emm... Aku tidak lapar." Jawab Lala.
“Kruyukkk!”
Suara perut Lala terdengar sangat nyaring. Alzero menahan tawa sedangkan Lala menahan malu. Wajahnya sudah semerah tomat.
"Tidak lapar tapi perutmu berbunyi." Ucap Alzero.
Lala hanya memalingkan wajahnya menyembunyikan wajah malunya. Alzero tersenyum dan menyelipkan rambut Lala pada telinga. Hal itu tentu membuat Lala terkejut dan menatap Alzero.
"Kau tau berapa lama aku terus mencarimu??? Sejak kau menolongku." Ucap Alzero membuat Lala tertenggun. Namun Lala memalingkan wajahnya.
"Aku hanya menolongmu sekali.... Kenapa kau banyak membantuku?" Ucap Lala dengan nada Lirih.
"Kenapa?? Karena jika bukan bantuan darimu... Saat itu juga aku—" Ucap Alzero terpotong saat Lala meletakan jari telunjuknya pada bibir Alzero.
"Jangan katakan yang tidak tidak... Itu tidak baik." Ucap Lala memotong ucapan Alzero. Alzero hanya menatap Lala dalam. Sadar dengan apa yang dilakukan, Lala menarik jarinya.
"Maaf." Cicit Lala. Melihat wajah Lala yang terlihat sangat imut membuat Alzero tersenyum saat menatapnya.
"Tidak perlu meminta maaf, lagipula jika kau melakukannya lagi aku tidak masalah." Ucap Alzero membuat Lala mengerutkan keningnya bingung.
Apa maksudnya?? Batin Lala.
Kenzo menghela napas panjang berkali kali. Jujur dia masih belum siap bertemu dengan calon istrinya nanti. Terlebih dia masih ingin bebas mengingat umurnya masih sangat muda.
"Tuan muda, oma memanggil anda untuk ke ruang tengah." Ucap Maya didepan pintu kamar Kenzo.
"Aku akan datang." Jawab Kenzo membuat Maya pergi.
Kenzo pun keluar kamarnya dan menuruni tangga menuju ke ruang tengah. Disana dia melihat Madira yang tampak bahagia dan Celani yang sibuk dengan ponselnya. Sadar Kenzo datang, Madira mendekat.
"Cucuku kau terlihat sangat tampan... Apa kau siap bertemu dengan calon istri mu??" Ucap Madira.
"Iya oma, Kenzo siap." Jawab Kenzo sembari tersenyum. Melihat Celani yang sibuk dengan ponselnya, membuat Kenzo mendekat dan merebut ponsel Celani secara tiba tiba.
"Kak Ken, balikin ih... Kakak!" Kesal Celani sembari berupaya mengambil ponselnya. Belum Kenzo melihat apa yang membuat Celani terlihat sibuk, bunyi klakson mobil membuat Kenzo terdiam. Dan saat itulah Celani berhasil mengambil ponselnya. Kemudian diam diam pergi.
"Mereka datang... Maya bagaimana penampilanku??" Ucap Madira tampak bersemangat.
"Sangat cantik oma." Jawab Maya sembari tersenyum.
"Tentu saja, hari ini adalah hari dimana cucuku melihat calon istrinya." Ucap Madira dengan girangnya. Saat itu tampak Dicko Lina dan Roni datang.
"Roni anak onarku, lama tidak bertemu." Ucap Madira. Tampak Roni memeluk wanita tua itu.
Roni mengenal Madira karena dulu Roni dan Dicko sahabat yang sangat dekat. Mereka berdua dulu dijuluki biang onar karena kesehariannya membuat onar baik disekolah maupun dilingkungan perumahan. Tidak heran jika Kenzo menuruni sifat sang ayah.
"Bunda apa kabar?? Sepertinya terlihat sangat gembira." Ucap Roni sembari tersenyum.
"Hahaha... Tentu saja, hari ini cucuku akan melihat kecantikan calon istrinya." Jawab Madira sembari tertawa kecil.
__ADS_1
Saat itu tampak Roni menatap Kenzo. Dan entah mengapa Kenzo merasa sangat gugup saat ditatap. Madira menyenggol lengan Kenzo memberikan kode padanya. Kenzo yang mengerti pun langsung menjabat tangan Roni dan mencium punggung tangannya.
"Halo om." Sapa Kenzo.
"Dicko, apa ini putra mu??? Tidak kusangka dia sudah dewasa dan sangat tampan." Puji Roni.
"Terima kasih om, om juga sangat tampan hari ini." Ucap Kenzo sopan.
"Hahaha, sudah tua begini dibilang tampan." Ucap Roni sembari menggeleng kepala.
"Sudah dulu berbincangnya, kita lanjutkan sembari duduk." Ucap Dicko merangkul Roni layaknya saat dia masih muda dulu. Mereka pun duduk di ruang keluarga sembari ditemani teh hangat dan beberapa cemilan yang sudah disiapkan oleh para pelayan.
"Roni apa kau masih suka berkelahi seperti dulu??" Sindir Madira.
"Hahaha, tentu saja tidak bunda... Aku sudah tidak muda lagi." Jawab Roni. Saat itulah Madira lagi lagi menyenggol lengan Kenzo.
"Kau tau Kenken, mereka berdua dulu sangat hobi membuat onar seperti dirimu." Ucap Madira.
Pantesan Daddy gak marah kalau gua bikin onar, orang dia dulu juga bikin onar. Eh tapi... Dimana si ceweknya? Batin Kenzo sembari melihat sekeliling. Sadar Kenzo mencari sesuatu membuat Lina tersenyum.
"Apa kau mencari calon istrimu Ken??" Tanya Lina menggoda.
"Ah nggak kok mom... Cuman—" Jawab Kenzo terpotong.
"Tadi begitu kami sampai, Ela langsung menghampiri... Mommy kira dia menungguku rupanya dia menunggu calon istrimu." Potong Lina sengaja bertele tele.
Ayolah mom, apa kau ingin membuat ku mati penasaran karena calon istriku sendiri?? Batin Kenzo menatap Lina.
"Sepertinya Kenzo tidak sabar bertemu dengannya, Ela membawanya ke taman belakang untuk bermain kelinci... Lihat saja sendiri." Ucap Dicko. Kenzo hanya menghela napas panjang kemudian pergi.
Ini sangat membosankan, ngapain juga harus gua dulu yang nemuin? Batin Kenzo kesal.
"Kakak ipar lihat... Bukankah kelinci ku sangat lucu?" Ucap Celani pada Alina yang sibuk menghusap bulu kelinci yang sangat lembut.
"Iya, dan sangat menggemaskan." Jawab Alina masih sibuk menghusap bulu kelinci tersebut.
"Tentu saja, kelinciku memang yang paling menggemaskan... Hanya saja aneh, kelinci yang kakak ipar gendong itu sangat galak padaku... Tapi dia sangat penurut pada kakakku." Ucap Celani tampak heran.
Alina hanya terdiam dan masih menghusap kepala kelinci tersebut. Namun tiba tiba kelinci itu melompat dari pangkuan Alina dan menghampiri Kenzo yang baru datang. Kenzo pun menggendong kelincinya itu.
"Ela apa yang kau lakukan disini??" Tanya Kenzo.
Suara ini?? Tidak mungkin. Batin Alina.
"Bermain kelinci, bukan begitu kakak ipar?" Ucap Celani sembari menatap Alina. Alina hanya menganggukan kepalanya tidak berani menatap Kenzo.
Gadis ini sangat aneh. Batin Kenzo sembari menurunkan kelincinya.
“Grepp!”
"Kak Ken! Apa yang kakak lakukan??!" Tanya Celani dengan nada tinggi. Bagaimana tidak? Kenzo tiba tiba menarik lengan Alina cukup kasar.
"Lo??! Jadi lo calon istri gua?? Gadis mata empat." Ucap Kenzo menatap tajam.
"Sa...sakit." Rintih Alina sembari berusaha melepaskan cengkraman Kenzo. Melihat hal itu, Celani pun pergi memanggil lainnya.
"Ada apa ini Ken??" Tanya Dicko begitu datang. Seketika Kenzo melepaskan cengkramannya dan menatap Dicko.
"Dad, jangan bilang cewek mata empat ini calon istri ku?!" Ucap Kenzo sembari menujuk Alina. Sedangkan Alina hanya menundukan kepalanya sembari memegangi lengannya. Roni yang melihatnya hanya menatapnya diam. Hal itu mengingatkan padanya saat dijodohkan dengan almarhumah istrinya, Alexa.
__ADS_1