
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
👩💻I Love You Readers❤❤❤❤❤
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Lala. Lala yang menampar Kenzo. Karena kebetulan, Lala dan Alzero tengah mengunjungi cafe tersebut setelah seharian menjaga Ashel. Tampak Kenzo bangkit dari duduknya dan menatap Lala.
"Lala??" Ucap Kenzo terkejut.
"Iya, aku nggak nyangka kamu memanfaatkan Nana sebagai keuntunganmu sendiri!! (Menatap Aurel.) Meskipun kamu menikahi Nana untuk memanfaatkannya, setidaknya hargai dia sebagai istri kamu Ken!" Ucap Lala dengan nada tinggi membuat Kenzo terdiam. Tampak Lala menatap Aurel yang masih duduk diam.
"Dan kamu—"
"Jangan omelin dia Lala, gua yang salah dia gak tau apa apa." Ucap Kenzo membuat Lala tersenyum hambar.
"Iya kamu yang salah Ken... Kamu salah karena niat kamu menikahi Nana hanya untuk memanfaatkannya... Kamu salah karena tidak menganggap Nana sebagai istri kamu meskipun dia sudah dengan baik melakukan kewajibannya sebagai seorang istri... Kamu salah telah mempermainkan ikatan pernikahan Ken!! (Kenzo terdiam mencerna.) Dan kesalahan terbesar kamu adalah membuat Nana seolah olah pemuas n*fsu kamu!" Ucap Lala dengan penuh ketegasan.
Siapa sangka wanita berhati lembut itu bisa dengan tegas mengatakan hal itu. Bahkan Alzero sendiri tidak berkutik. Aurel memutar bola matanya bosan dan meraih tas tangannya. Tentu hal itu membuat Kenzo menceghatnya.
"Rel lo mau kemana??" Tanya Kenzo. Tampak Aurel menghempaskan tangan Kenzo.
"Pergi, udah gua bilang kalo gua... Gak mau disebut perusak rumah tangga orang." Jawab Aurel kemudian pergi.
"Arghh!!! Ini semua salah lo!!! (Menujuk Lala.) Lo ikut campur urusan rumah tangga gua." Ucap Kenzo membentak.
"Jangan membentak dia Kenzo!!" Bentak Alzero.
"Kenapa ha?!!! Gua gak bakalan bentak dia kalo dia gak ikut campur urusan gua... Lo itu cuman anak pungut dari ayah Roni—"
"KENZO!!!" Bentak Alzero membuat Kenzo tersadar atas yang dia ucapkan. Dia menatap Lala yang berkaca kaca.
"Benar, aku hanya anak pungut Ken... Tapi setidaknya aku bisa menghargai orang yang melindungi dan menyayangi ku dengan tulus." Ucap Lala kemudian pergi.
Bugh!!
Alzero memukul Kenzo keras lantaran dia membuat Lala menangis. Tampak Kenzo menatap Alzero.
"Ini pertama dan aku harap terakhir kali aku memukulmu Kenzo." Ucap Alzero.
"Lo udah berubah Al." Ucap Kenzo sembari menyeka darah yang keluar disudut bibirnya.
"Aku tidak berubah Ken... Tapi kamu menyakiti wanitaku dan itu membuat ku seperti tertusuk belati... Ingat hal ini baik baik Ken, suatu saat... Saat Alina benar benar pergi... Kamu akan sadar jika niat yang diawali tidak baik akan menghancurkan mu." Ucap Alzero kemudian menyusul Lala.
"Arghh!!!" Teriak Kenzo kesal. Dia pun pergi setelah membayar. Saat masuk kedalam mobil, Kenzo melihat Lala menangis di depan cafe. Lebih tepatnya berdiri dibawah pohon rindang.
__ADS_1
Sorry Lala... Gua tadi emosi, gua minta maaf. Batin Kenzo kemudian pergi.
"Lala." Ucap Alzero menepuk bahu Lala.
"Ah iya... Aku tidak apa apa." Ucap Lala tersenyum padahal matanya terus mengeluarkan air matanya. Hal itu membuat Alzero sakit.
"Dia sedang emosi... Jangan menangis, itu membuat ku sakit." Ucap Alzero memeluk Lala. Lala memeluk erat Alzero dan menangis. Alzero pun menenangkannya dengan menghusap puncak kepala Lala dan berkali kali menc*umnya.
"Ro... (Menatap Alzero.) Aku mohon beritau siapa ibu ku... Aku mohon Ro." Ucap Lala memohon. Hal itu membuat Alzero terdiam sesaat.
"Sepulang kampus besok, Aku akan mengajakmu menemui ibumu." Ucap Alzero. Lala menganggukan kepalanya pelan. Alzero menghapus air mata Lala dengan kedua jempolnya.
"Jadi, berhenti menangis... Aku sakit melihat mu menangis." Ucap Alzero.
Di Vila Kenzo
Kenzo memakirkan mobilnya di garasi dan keluar menuju ke dalam Vila. Dia menatap arlojinya dimana waktu menujukan pukul 1 pagi. Kenzo menyeka sudut bibirnya yang terasa sakit.
Kayaknya oma, Jihan sama si cupu udah tidur... Gampang lah buat gak ngejelasin kondisi gua. Batin Kenzo. Dia pun mengeluarkan kunci cadangannya dan masuk kedalam Vila.
Sesuai dugaan Jihan sudah tidur. Bisa dilihat dari lampu ruang tengah yang sudah dimatikan. Dia pun melangkah menuju ke kamarnya.
Cklekk!
Perlahan Kenzo membuka pintu kamarnya. Pikirnya Alina sudah tidur, namun nyatanya Alina masih terjaga. Dia duduk di sofa sembari membaca novel. Sadar Kenzo datang, Alina menutup novelnya dan menghampiri Kenzo.
"Lo kenapa belum—"
"Ken, apa kamu baru berkelahi?? Kenapa ibirmu terluka?? Sebentar biar ku obati." Ucap Alina khawatir yang mana membuat Kenzo terkejut. Menunggunya pulang padahal dia bertemu dengan wanita lain dan sangat teliti dengan lukanya entah mengapa membuat Kenzo tersentuh.
"Ssshhh!" Rintih Kenzo merasakan perih.
"Ma... Maaf, itu pasti sakit." Ucap Alina sembari lebih hati hati mengobatinya. Setelahnya, Alina meletakan kotak P3Knya ke tempat semula.
"Lo kenapa belum tidur??" Tanya Kenzo sembari membuka jacketnya.
"Aku khawatir padamu... Jadi aku menunggumu pulang." Jawab Alina jujur. Hal itu membuat detak janung Kenzo berpicu sangat cepat.
"Ken!" Pekik Alina terkejut saat Kenzo tiba tiba memeluknya dari belakang.
"Thanks, udah khawatirin gua... Cupu." Bisik Kenzo. Alina hanya menganggukan kepalanya pelan. Dia merasa geli saat Kenzo menc*um curuk lehernya.
Yang Lala omongin ada benernya... Kenapa gua gak sadar sadar kalo selama ini si cupu perhatian ke gua?? Apa gua emang harus nerimanya?? Batin Kenzo.
"Cupu."
"Hmm??"
"Gimana kalau kita umumin pernikahan kita ke publik?" Ucap Kenzo membuat Alina terkejut.
"Ta... Tapi, bukankah—"
"Iya itu dulu gua yang minta... Udah hampir setengah tahun kita married, apa lo gak pengen gua akuin bini??" Ucap Kenzo.
"Ken kamu tidak mabuk kan??" Tanya Alina. Karena memang dia sangat terkejut akan mendengar kata itu dari Kenzo. Kenzo hanya tertawa kecil dan menc*um pipi kanan Alina sekilas. Dan kembali menyandarkan kepalanya pada curuk leher istrinya.
__ADS_1
"Emang gua bau wine?? Atau whisky?? Nggak kan... Berarti gua gak mabuk cupu." Jelas Kenzo.
"Tapi ini tiba tiba... Apa ada maksud tertentu??" Tanya Alina masih tak percaya.
"Iya kayaknya gua... Udah mulai suka sama lo." Jawab Kenzo dan berbisik dibagian terakhir kalimatnya.
Deg, deg, deg.
Begitu suara dan yang dirasakan Alina saat Kenzo mengucapkan hal itu. Kenzo tersenyum dan meletakan tangannya pada dada Alina.
"Detak jantung lo terasa banget." Ucap Kenzo. Alina membalikan badannya dan memeluk Kenzo. Karena memang sejujurnya, Alina sudah lama mencintai Kenzo. Kenzo hanya tersenyum dan menggendong Alina ala bridal style kemudian menidurkannya di atas ranjang.
"Gimana kalo kita ngelakuin lagi?? Lo mau kan??" Ucap Kenzo sembari membelai wajah cantik natural istrinya. Alina menganggukan kepalanya pelan menandakan jika dia setuju. Padahal sebenarnya dia masih merasa lelah karena baru beberapa saat lalu Kenzo menggempurnya.
"Istri yang berbakti." Ucap Kenzo kemudian menc*um bibir Alina dan menuntun kedua tangan Alina agar merangkul pada tengkuknya. Kini keduanya pun menghabiskan waktu bersama.
Di Rumah Sakit
Alzero baru kembali ke rumah sakit setelah Lala benar benar tenang. Kini mereka berdua tengah duduk di sofa. Alzero menatap adiknya yang tidak ada perubahan sama sekali. Matanya terus terpejam entah apa yang membuatnya tidak mau terbuka.
"Sepertinya bunda dan ayah sudah pergi... Kau mau pulang atau—"
"Aku ingin tetap disini menemanimu." Ucap Lala memotong. Alzero hanya tersenyum dan menghusap puncak kepala Lala.
"Seharusnya tadi kamu tidak perlu memukul Ken... Kasihan dia." Ucap Lala sembari menatap Alzero.
"Itu perlu, dan jika dia benar benar manusia... Saat ini dia pasti akan jujur soal perasaannya pada Alina." Jawab Alzero. Hal itu membuat Lala terdiam. Sampai akhirnya matanya terbelak melihat sesuatu.
"Ro, jari Ashel bergerak." Ucap Lala membuat Alzero bangkit dari duduknya dan menghampiri Ashel.
"Benar... Ashel, kamu mendengar ku?? Ashel... Ashel!!" Ucap Alzero. Dia pun menekan tombol darurat. Beberapa saat kemudian, tampak dokter datang dengan beberapa perawat. Dia tampak memeriksa keadaan Ashel.
"Bagaimana keadaan adikku??" Tanya Alzero.
"Kabar bagus tuan... Adik anda telah melewati masa kritisnya." Jawab sang dokter sembari tersenyum. Tampak Alzero menghusap wajahnya penuh rasa syukur.
"Terima kasih, Ya Allah... Jadi, kapan adikku sadar??" Tanya Alzero.
"Tidak perlu sampai 3 hari tuan, adik anda akan tersadar... Jika lewat dari 3 hari mungkin akan sampai pekan depan." Jelas sang dokter.
"Terima kasih dok... Aku berhutang nyawa padamu." Ucap Alzero sembari memeluk tubuh dokter tersebut.
"Ini sudah menjadi tugas kami tuan... Kami permisi, panggil kami jika ada sesuatu." Pamit sang dokter kemudian pergi.
"Lala kau dengar itu?? Ashel akan sadar... Dia tidak meninggalkan aku." Ucap Alzero bahagia. Lala hanya tersenyum melihat wajah bahagia Alzero.
"Dia akan selalu bersama kami... Adik ipar." Ucap Lala dengan nada lirih dibagian akhir. Dan sialnya terdengar oleh Alzero.
"Kamu memanggilnya siapa?? Adik ipar?? Apa itu artinya... Kamu mau menikah dengan ku??" Ucap Alzero membuat Lala merona.
"Bukan begitu... It... Itu karena dulu Ashel memanggilku kakak ipar... Jadi, aku memanggilnya begitu." Jawab Lala mengelak. Alzero tidak memperdulikan jawaban Lala, dia justru mengangkat tubuh Lala membuat Lala terkejut.
"Aku sangat bahagia Lala." Ucap Alzero.
"Turunkan aku Ro, bagaimana kalau kita jatuh??" Pekik Lala terkejut. Alzero pun menurunkan tubuh Lala.
__ADS_1