
⭐Perhatian. Jangan lupa like, vote, and komentarnya ya🤗 Dan selamat membaca semua⭐
"Terserah." Jawab Alzero singkat.
"Good... Ken lo punya botol anggur kan??" Tanya Gavin.
"Punya dong... Bentar gua ambil." Ucap Kenzo.
Setelah itu botol anggur yang Kenzo bawa diletakan ditengah tengah diantara mereka. Kenzo duduk disamping Alzero sedangkan Gavin disamping Raefal.
"Siapa yang kalah jaga... Lo Vin yang muterin." Ucap Kenzo.
"Oke... Siap yaa." Ucap Gavin. “Swsh!!” botol anggur itu pun berputar dan sampai akhirnya berhenti menujuk ke arah.
"Al... Lo kena pilih truth or dare??" Ucap Gavin penuh semangat.
"Dare." Jawab Alzero. Tampak Kenzo membisikan sesuatu pada Gavin.
"Tantangannya, keluarin dompet lo. Kita mau liat isinya." Ucap Gavin.
"Tidak ada hal lain??" Tanya Alzero.
"Tidak... Cepetan mana??" Ucap Gavin sembari mengulurkan tangannya.
Alzero pun memutar bola matanya malas dan mengambil dompetnya dari dalam saku. Dengan semangat Gavin dan Kenzo membuka isi dompet Alzero. Mata mereka hampir keluar begitu melihat beberapa kartu kredit, black card dan kartu VIP didalamnya.
"Isinya kartu semua nggak ada uang receh apa??" Bisik Gavin.
"Ini kartu kredit apa kartu mainan milik adik gua waktu kecil... Banyak banget dah, ini buat beli jet 50 nggak bakalan habis." Sahut Kenzo.
"Sudah??" Tanya Alzero. Dengan tersenyum paksa Gavin pun mengembalikan dompetnya.
"Sekarang lo puter Al." Ucap Gavin. Putaran ini menujuk pada Gavin.
Lah kok gua?? Botol sialan. Batin Gavin mengumpat.
"Truth or dare??" Tanya Alzero malas.
"Turth." Jawab Gavin.
"Jujur apa yang baru kalian tonton sebelum aku datang kemari??" Tanya Alzero membuat Kenzo dan Raefal menepuk keningnya. Sedangkan Gavin membeku dan menatap Alzero canggung.
"Hehe... Anu... Itu... Drakor, iya kita baru nonton drakor iya kan Fal, Ken??" Jawab Gavin. Tampak Raefal dan Kenzo mengagguk dengan senyuman canggungnya.
"Kalian nggak suka drakor... Bukankah kalian sendiri bilang itu sampah plastik??" Ucap Alzero.
Mati gua?? Kok kayak gua ketangkep sama papa pas pertama kali minum. Batin Gavin.
"Iya... Kita nonton video adegan dewasa." Ucap Gavin dengan cepat.
"Pltak!!!pltak!!!pltak!!!" Alzero menyentil kening ketiga sahabatnya secara bergantian. Membuat ketiganya memegangi keningnya yang terasa sedikit sakit.
"Ya elah ini kepala orang Al... Bukan beton, lagian itu tangan apa baja sih keras banget." Ucap Kenzo sembari menghusap keningnya.
"Dasar m*sum." Lirih Alzero.
"Iya kita memang m*sum karena kita normal tidak sepertimu." Ucap Raefal polos membuat Alzero menatapnya tajam.
"Ah... Lupakan saja, aku merasa lapar... Bagaimana jika kita memakan sesuatu??" Ucap Gavin mencairkan suasana.
__ADS_1
"Setuju." Ucap Kenzo membuat Alzero menghela napas panjang.
Beberapa saat kemudian cemilan yang Alzero berikan habis dan hanya tersisa sampahnya saja. Alzero dengan rajin menata sampahnya dan memasukannya kedalam keranjang sampah. Setelah itu tampak Gavin tertidur di karpet sembari memeluk bantal sedangkan Raefal dan Kenzo tidur berpelukan diatas ranjang.
Alzero menggeleng kepala pelan dan tanpa dia sadar menyingung senyuman di bibirnya yang selalu datar. Alzero mengambil satu selimut lagi untuk menyelimuti Gavin. Setelah itu dia sendiri tiduran di sofa dan pada akhirnya menyusul ketiga sahabatnya yang terlelap kedalam alam mimpi.
Sedangkan dengan Alina
Dia tampak tersenyum bahagia saat menanam bibit bunga mawar kesukaannya. Setiap hari libur, adalah hari yang paling membahagiakan bagi Alina karena dia bisa merasakan sehari tanpa dibully oleh Kify dan teman temannya.
"Besok ujian akhir semester... Aku harus bisa mendapat nilai yang bagus agar ayah bangga padaku. Setelah ujian itu tinggal menunggu hari kelulusan, dan aku berharap tidak bertemu Kify lagi." Lirih Alina.
"Alina sayang, tante Lin sudah datang... Ayo dilanjut nanti saja menanamnya." Ucap Ayah Alina, Roni Varezo.
"Baik ayah, Alina cuci tangan dulu ya." Jawab Alina.
"Baiklah kalau begitu... Ayah tunggu di dalam ya." Ucap Roni kemudian di jawab anggukan oleh Alina.
Alina pun mencuci tangannya yang kotor. Setelah itu, Alina pun menyusul ayahnya di ruang tamu. Sesampainya disana tampak Lina dan Dicko yang duduk menunggunya. Alina menjabat tangan mereka secara bergantian kemudian mencium punggung tangannya.
"Bagaimana kabarmu sayang??" Tanya Lina sembari membelai wajah Alina.
"Alhamdulilah Baik, tante dan om sendiri gimana kabarnya??" Jawab Alina kemudian kembali bertanya.
"Kami juga baik." Ucap Lina sembari tersenyum. Alina pun duduk disamping Roni dan berhadapan dengan Lina dan Dicko.
Mereka pun hanyut dalam perbincangan hangat mereka. Alina sangat bahagia begitu beruntungnya ibunya yang mempunyai sahabat seperti Lina. Meskipun dia dari keluarga yang mampu, tapi dia tidak pernah melupakan persahabatannya. Dan itu membuat Alina iri dimana dia tidak pernah mendapatkan sahabat satu pun karena selalu dibully hingga tidak ada yang mau dekat dengannya.
Pukul 3 sore Lina dan Dicko memutuskan untuk pulang. Lina sangat puas berbincang dengan Alina. Membuat Lina ingat pada sahabatnya begitu melihat sikap Alina yang ramah dan sopan. Sesampainya di rumah tampak Lina melihat Celani yang duduk disofa sembari menonton televisi. Melihat Lina dan Dicko datang, Celani pun bengkit dari duduknya dan memeluk Lina.
"Mommy, Daddy... Kenapa lama sekali??" Tanya Celani sembari memeluk Lina.
"Kak Kenzo sama temen temennya didalam kamar... Mom aku ikut mommy ya, kalo ke rumah temen mommy lagi daripada aku sendirian lagi." Ucap Celani.
"Iya sayang, mommy keatas dulu mau lihat mereka." Ucap Lina sembari menghusap puncak kepala Celani.
Celani pun mengagguk dan membiarkan Lina pergi. Sesampainya di depan pintu kamar Kenzo, Lina membuka pintu namun pintunya terkunci.
"Sepertinya dikunci... Maya!" Panggil Lina pada salah satu pelayannya.
"Iya nyonya." Jawab Maya begitu datang.
"Dimana kunci cadangannya??" Tanya Lina.
"Sebentar nyonya saya ambilkan." Jawab Maya. Tampak Maya pergi dan beberapa saat kembali dengan kunci yang Lina minta.
"Terima kasih... Kamu bisa kembali bekerja." Ucap Lina.
"Sama sama nyonya... Saya permisi." Pamit Maya sopan.
Setelah Maya pergi, Lina pun membuka pintunya perlahan. “Cklekkk...” pintu terbuka dan tampak Lina menyinggung senyumannya. Lina menatap Kenzo yang tertidur diatas ranjang dengan memeluk Raefal layaknya anak dengan bapaknya.
Lina menggeleng kepala pelan melihat Gavin tertidur terlentang diatas karpet dengan selimut yang menggulungnya. Saat menatap Alzero, Lina lebih melebarkan senyumannya. Alzero tertidur disofa tanpa selimut atau bantal membuat Lina tau jika Alzero yang menyelimuti ketiga sahabatnya.
Saat seperti ini kalian membuat ku tersentuh... Tapi kenapa saat bangun kalian suka membuat onar?? Kapan kalian berubah?? Batin Lina. Perlahan Lina pun menutup pintunya. Saat hendak tertutup rapat tampak Celani datang.
"Mommy ad—"
"Stt... Lirihkan suaramu, lihat kakakmu dan temen temennya." Ucap Lina lirih. Celani pun menatapnya dan tampak menahan tawa.
__ADS_1
"Kak Ken kayak daddy kalo kak Raefal kayak kak Ken waktu tidur." Ucap Celani sembari tertawa kecil.
"Sudah ayo turun... Biarkan mereka istirahat." Ucap Lina kemudian diangguki setuju oleh Celani.
Lina dan Celani pun menuruni tangga dan ikut duduk bersama Dicko.
"Mereka lagi apa?? Lagi minum minum??" Tanya Dicko.
"Nggak kok Dad... Kak Ken sama temen temennya lagi tidur... Kak Ken sama kak Raefal tidurnya berpelukan loh kayak Daddy sama kak Ken waktu kecil." Jawab Celani sembari merangkul lengan Dicko.
"Haha.... Mungkin Ken terbiasa seperti itu, oh iya mom tadi pak Satya telefon dan katanya Kenzo nggak bikin onar saat prom night." Ucap Dicko.
"Baguslah Mas... Ini tumben tumbennya Ken nggak bikin onar." Ucap Lina.
"Tapi dia membuat kelas sebelahnya berantakan... Kapan Kenzo berubah dewasa??" Ucap Dicko sembari memijit kepalanya pelan.
"Iya makannya aku nggak mau satu sekolah sama kakak, aku nggak mau malu punya kakak biang onar kayak dia." Ucap Celani sembari cemberut.
"Sebejat bejatnya kakak kamu dia tetep kakak kamu Ela... Mommy perasaan nggak ngidam apa apa, iya nggak mom." Ucap Dicko. Tampak Lina mengagguk.
"Waktu sekolah dasar berantem sama hampir satu sekolah... Waktu SMP bully temen temen aku sampai trauma... Lah sekarang minum minum dan suka berantem sama anak sekolah lain... Mommy sama daddy nggak pusing punya anak kayak kakak??" Tanya Celani.
"Ya mau bagaimana lagi Ela... Dia titipan dari Allah mana mungkin kita tolak... Sebentar lagi kakak kamu juga berubah, tinggal tunggu waktunya aja." Jawab Dicko sembari menghusap puncak kepala putrinya.
Tepat pukul 7 malam, Alzero membuka matanya perlahan. Alzero duduk disofa tempat dia tidur. Alzero menatap ketiga sahabatnya yang masih terlelap. Alzero menatap ke arah arlojinya dan menujukan pukul 7 malam membuat Alzero menggeleng kepala pelan.
"Kebiasaan jika sudah tidur lupa waktu... Ashel sudah makan atau belum ya??" Lirih Alzero. Dia pun memutuskan mengirim pesan pada sekertaris kepercayaannya.
💬
Me: Rio, apa Ashel sudah makan??
Beberapa saat kemudian tampak Rio sedang mengetik balasan.
💬
Rio: Sudah tuan, saat ini tuan muda Ashel sedang makan malam
Melihat balasan Rio membuat Alzero bernapas lega. Saat itu tampak Gavin menggeliat dan tampak terkejut melihat dirinya sudah tergulung selimut dan terlentang di karpet bulu. Gavin bangkit dari posisinya dan menatap Alzero.
"Udah bangun??" Tanya Alzero.
"Hemm... Sudah pukul 7 rupanya gua pikir masih— Bhahaha." Ucap Gavin sembari tertawa kecil melihat Kenzo memeluk Raefal layaknya anaknya.
Gavin mengambil gelas yang berisi air dan mencipratkannya pada Kenzo dan Raefal. Perlahan mereka pun membuka matanya dan...
"Huwaaa!!" Teriak Kenzo dan Raefal sembari saling dorong. Melihat hal itu membuat Gavin tertawa terbahak bahak sedangkan Alzero menggeleng kepalanya pelan.
"Gua pikir bantal guling... Kok lo sih??" Kesal Kenzo.
"Ya mana gua tau... Lagi enak enaknya tidur juga." Ucap Raefal sembari mengucek matanya. Saat itu tampak Lina membuka pintu.
"Kalian sudah bangun?? Cuci muka dulu sana, habis itu makan malam bareng." Ucap Lina.
"Iya tante maaf ya repotin." Ucap Gavin dengan senyum canggung.
Bilang aja lo mau, sok drama banget. Batin Kenzo dan Raefal.
"Nggak ngerepotin sama sekali... Tante tunggu dibawah ya." Ucap Lina kemudian pergi.
__ADS_1