My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
BAB 52


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


👩‍💻I Love You Readers❤❤❤❤❤


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


"Tuan." Panggil Rio membuat Alzero menoleh. Alzero pun mengajak Rio untuk bicara di ruang bacanya.



(Visual Ruang bacanya.)


"Bagaimana??" Tanya Alzero.


"Ini hasil tes DNA antara nyonya dan tuan muda Ashel tuan... Dan hasilnya tuan muda Ashel memiliki DNA nyonya dan tuan besar." Jelas Rio membuat Alzero bahagia.


"Bagus kau memang bisa diandalkan Rio... Lalu kejadian 17 tahun yang lalu??" Tanya Alzero.


"Saya sudah menyelidikinya tuan... Tapi perawat yang membantu persalinan nyonya muda dulu mengatakan ada seorang dokter yang mencurigakan... Beruntung nyonya Azura mempermudah penyelidikan kami... Dan ini datanya." Jawab Rio sembari memberikan sebuah map. Tampak Alzero membuka isi mapnya.


"Irvan Mahesa?? Jadi dia dulu seorang dokter... Batalkan kerjasama dengan Mahesa Group... Dia akan menemui ku karena kerugian besar yang dia alami jika aku membatalkan kerjasama ini." Ucap Alzero.


"Baik tuan muda." Jawab Rio.


"Dan Rio... Kapan ayah akan datang??" Tanya Alzero.


"Tuan besar bilang dia akan kembali saat malam ulang tahun anda tuan... Sekitar 2 bulan lagi." Jawab Rio.


"Ayah ini... Waktu kita hanya 2 bulan Rio, kumpulkan semua bukti bukti mengenai Ashel dan kejadian 17 tahun yang lalu dengan detail." Ucap Alzero.


"Saya mengerti tuan." Jawab Rio. Saat itu, Lala yang ingin memanggil Alzero hendak mengetuk pintu.


"Dan ini data yang kita cari selama ini tuan... Mengenai identitas orang tua nona Lala." Ucap Rio membuat Lala tersentak.


Alzero mengenal orang tua ku??? Batin Lala.


Cklekkk!


"Lala??" Ucap Alzero terkejut namun dia bersikap biasa. Alzero pun menyuruh Rio untuk pergi dari ruang bacanya.


"Ro, kamu tau mengenai orang tua ku??" Tanya Lala dengan mata berkaca kaca.


"Biar aku jelaskan... Duduklah." Jawab Alzero mendudukan Lala dibibir ranjang.


"Jelaskan??" Ucap Lala menatap Alzero yang duduk disampingnya.


"Berjanjilah untuk tidak menangis Lala... Aku tidak mau melihatmu menangis." Pinta Alzero.


"Jelaskan Ro!" Ucap Lala sedikit meninggi.


Perasaannya benar benar kacau saat ini. Saat kecil Lala tinggal di panti asuhan, kemudian saat berumur 10 seorang wanita tua membelinya dan begitu berumur 17 tahun Lala dipaksa untuk bekerja di club. Dan di club dia trauma berat karena dia hampir dil*cehkan. Beruntung ada seorang pria yang menolongnya.


"Ayah dan ibumu masih hidup Lala... Ibumu adalah orang yang ku kenal selama ini... Dan ayahmu adalah mantan rekan bisnisku." Ucap Alzero.

__ADS_1


"Lalu kenapa mereka membuang ku di panti asuhan??" Tanya Lala dengan air mata menetes. Melihat hal itu membuat Alzero merasakan sesak di dadanya. Dia pun menghapus air mata Lala.


"Jangan menangis... Ada aku disini." Ucap Alzero menenangkan.


"Kenapa kamu baru memberitauku sekarang Ro??? Kenapa orang tua ku tega pada ku?? Apa kelahiran ku didunia adalah pembawa sial?? Kenapa Ro??? Kenapa??? Hiks.... Hiks..." Ucap Lala sembari menangis.


Hal itu membuat Alzero tidak mau memberitau Lala jika ibunya terpaksa menitipkan dia di panti asuhan lantaran ayahnya tidak mau bertanggung jawab untuk mengakui Lala.


"Apa aku harus mati terlebih dahulu dan baru diakui oleh orang tua ku???" Ucap Lala seketika Alzero menariknya kedalam dekapannya. Lala menangis dipelukan Alzero.


"Aku mengakuimu Lala, jika kau mati maka aku akan ikut denganmu... Masih ada aku Lala, jangan bersedih." Ucap Alzero membuat Lala semakin menangis.


"Sejak kapan kamu menyelidikinya Ro??" Tanya Lala dengan isakan tangis.


"Sejak bertemu denganmu... Sejak saat itu aku menyelidiki apa pun yang berkaitan denganmu." Jawab Alzero membuat Lala tersentuh.


Jika Alzero tidak menyelidikinya mungkin sampai kapan pun Lala tidak mengetahui siapa orang tuanya. Lala mengangkat pandangannya menatap Alzero dengan air mata terus mengalir.


"Terima kasih, Alzero." Ucap Lala dengan tulus meskipun matanya terus mengeluarkan airmata.


Cup.


Di Vila Kenzo


Alina tengah menata piring kotor dan memasukannya kedalam westafel. Sedangkan Kenzo tampak mengantar Gavin dan Raefal sampai teras. Tidak mengantar, lebih tepatnya mengusir. Kenzo merasa jengah karena kedua temannya terus menggoda istrinya.


"Udah sana pulang, udah gua kasih cemilan... Kasih buah.... Kurang baik apa lagi coba." Usir Kenzo.


"Kurang, bini lo gua bawa pulang ya." Ucap Gavin membuat Kenzo melotot.


"Cieee cemburu, yuk Vin kabur.... Aku takut harimau ngamuk." Ucap Raefal dan keduanya buru buru masuk kedalam mobil.


Melihat tingkah laku kedua sahabatnya membuat Kenzo menggelengkan kepalanya pelan. Dia pun masuk kedalam Vila. Tak lupa dia menutup pintu. Setelahnya, Kenzo menghampiri Alina yang tengah mencuci piring.


Ternyata kedua teman Kenzo sangat baik... Tidak heran persahabatan mereka berempat begitu erat... Aku sangat iri. Batin Alina sembari tersenyum. Dan Kenzo yang melihatnya itu menyalah artikan senyuman Alina.


Alina menjatuhkan sendok yang tengah dia cuci. Dia terkejut saat Kenzo tiba tiba memeluknya dari belakang.


"Lo kayaknya lagi bahagia ya?? (Menc*umi curuk leher Alina.) Pasti karena lo digodain sama kedua temen gua lo jadi happy... Bener bener istri yang berbakti." Ucap Kenzo cemburu tapi tidak mengakuinya.


"Ke... Ken, kamu salah paham... Ak... Aku— Aw!" Pekik Alina saat Kenzo menggigit kecil lehernya dan membekas.


"Kenapa?? Sakit, hmmm??" Tanya Kenzo sembari membalikan tubuh Alina.


Cup.


Kenzo langsung menc*um bibir mungil istrinya dengan rakus. Tangan kanannya menekan tengkuk Alina agar memperdalam c*umannya. Sedangkan tangan kirinya melingkar pada pinggang istrinya.


Kenzo kenapa tiba tiba begini?? Batin Alina bingung.


Nah kan tunduk juga lo cupu, baru gua c*um aja udah kayak gini gimana ntar?? Batin Kenzo tersenyum kemenangan.


"Astghafirullahalazim, Kenken." Ucap Madira tiba tiba membuat Alina terkejut dan menggigit bibir Kenzo.


"Aw!!" Pekik Kenzo sembari memegangi bibirnya yang berdarah.


"Ma... Maafkan aku, (Mengambil tissue dan membersihkan darah Kenzo.) Aku tidak sengaja." Ucap Alina.


"Udah gak apa apa, lo lanjut nyuci aja." Ucap Kenzo sembari membersihkan bibirnya. Dan dengan patuh Alina melanjutkan mencuci piringnya. Kenzo membalikan badannya dan menghampiri Madira. Dilihatnya Madira membelakanginya. Begitu juga dengan Dicko Lina dan Roni.


Mampus lo Ken, kok serasa ketauan gituan yak?? Kenapa ada ayah Roni juga sih, ntar di kira gua yang tergila gila sama tuh cewek. Batin Kenzo.


"Cucu ku, jika ingin membuat cicit cari tempat yang bagus." Ucap Madira masih membelakanginya.

__ADS_1


"Nggak ada yang lagi bikin cucu, oma." Jawab Kenzo membuat keempat orang itu membalikan badannya.


"Tidak jadi??" Tanya mereka bersamaan.


"Nggak." Jawab Kenzo santai membuat keempat orang yang lanjut usia itu kecewa.


"Ah ini salah bunda, kan nggak jadi." Ucap Dicko menyalahkan ibunya.


"Eh ini salahnya Roni, kenapa kamu suruh bunda bicara??" Ucap Madira menyalahkan Roni.


"Kenapa saya bunda?? Lina yang salah." Ucap Roni dan kini menyalahkan Lina.


"Kenapa jadi aku?? Yang salah itu—"


"Oma, mommy, Daddy, dan Ayah.... Kalian kayak anak kecil tau nggak?? Aku pusing liatinnya." Ucap Kenzo membuat keempatnya terdiam.


Loh kok gua serasa ngomelin anak tk ya?? Batin Kenzo.


"Ayah!" Panggil Alina membuat Roni tersenyum. Tampak Alina memeluknya erat.


"Aku kangen sama ayah." Ucap Alina di pelukan sang ayah.


"Hahaha... Masih inget ayah rupanya." Ucap Roni terkekeh sembari menghusap puncak kepala putrinya.


"Sayang, Kenzo nggak kasar sama kamu kan??" Tanya Lina sembari menatap tajam Kenzo.


"Tidak mom, Kenzo baik sama aku." Jawab Alina tanpa menujukan wajah kebohongan.


"Oma seneng dengernya." Ucap Madira sembari tersenyum. Sedangkan Kenzo sendiri bernapas lega karena Alina tidak memberitaukan sikapnya. Mereka pun duduk bersama di ruang keluarga.


"Ayah, dimana Lala?? Dia tidak ikut??" Tanya Alina.


"Ayah sudah mengajaknya, tapi tadi Alzero menjemputnya... Ayah tidak bisa mencegahnya karena Lala sendiri yang memintanya, toh Alzero pria yang baik." Jawab Roni membuat Alina menganggukan kepalanya pelan. Jujur dia merindukan Lala dan ingin bertemu dengannya.


"Zaina memang hebat, memiliki suami tampan dan kedua anak berbakat... Hiks aku iri." Ucap Lina membuat Dicko cemburu.


"Hey ayolah bunda, anakmu juga tampan." Ucap Kenzo.


"Tampan tapi suka bikin onar." Ucap Lina membuat Kenzo terdiam.


"Oma..." Rengek Kenzo dan mendapatkan jeweran dari Madira.


"Merengek terus, lihat istrimu... Dia tidak banyak tingkah seperti kamu." Ucap Madira.


"Ah iya Oma, Ken minta maaf." Ucap Kenzo sembari memegangi telinganya yang baru dilepas jewerannya.


"Ela nggak ikut mom??" Tanya Kenzo.


"Dia ada kemping sama temennya, paling pulang entar sore." Jawab Lina.


"Ada si Ashel kan mom??" Tanya Kenzo lagi.


"Ada... Ela bilang kemarin dia diajak makan siang di Vila barunya.... Katanya Ashel baru pindah." Jawab Lina.


Ashel pindah?? Kok Al gak ngasih tau gua??Kebiasaan si Al, pasti dia nyembunyiin masalahnya. Batin Kenzo.


"Baguslah, Ashel bisa diandalkan menjaga Ela yang bar bar." Ucap Kenzo sembari menyandarkan punggungnya di sofa.


"Itu sebabnya daddy izinin Ela pergi... Ya, nggak dad??" Ucap Lina dan direspon anggukan oleh Dicko.


"Kalian akan menetap disini atau ikut ke rumah mommy??" Tanya Lina pada Alina.


"Menetap aja, ya nggak cupu??" Ucap Kenzo.

__ADS_1


"Mommy tanya Alina, bukan kamu... (Kenzo cemberut.) Bagaimana??" Tanya Lina.


"Alina ngikut keputusan Ken, mom." Jawab Alina membuat Kenzo tersenyum kemenangan.


__ADS_2