
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘
I LOVE YOU READERS😙💕
...🥀MHKOT2🥀...
Keesokan Harinya.
Daffin tersenyum melihat wajah Nala yang penuh dengan keringat. Daffin menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Nala. Dia tau Nala masih sakit, tapi akan menyakitkan jika dirinya menahannya bukan??
Cup.
Daffin mengecup singkat kening Nala kemudian menyelimuti istrinya membiarkannya beristirahat. Dia mengambil handuk kimononya kemudian masuk kedalam kamar mandi membersihkan dirinya.
"Emh..." Rintih Nala saat ponsel milik Daffin berbunyi.
"Sayang matikan HP mu!" Ucap Nala. Tidak ada respon membuat Nala mendengus kesal. Dia memegangi selimutnya yang membarut tubuhnya.
"Laura??" Lirih Nala.
Mungkin sahabatnya, aku angkat saja. Batin Nala berpikir positive.
📞
“Hal—”
“Hiks!!! Hiks!!! Daf.... Daffin, lo harus tanggung jawab!!! Gua hamil anak lo!!!”
“Ma... Maaf, aku istrinya... Apa maksudmu??” Tanya Nala.
“Hah?!! Istri?!! Bisa bisanya dia nikah di saat gua hamil dan hampir lahiran!”
Deg.
Detak jantung Nala seolah berhenti. Tak mau mendengar apapun lagi, Nala mematikan sambungan telefonnya. Yang benar saja, mereka baru menikah kemarin lusa dan sudah ada pihak ketiga?? Hey ingat, p*lakor ada dimana mana😏 Okelah skip😂
Wanita ini hamil, dan sebentar lagi akan melahirkan... Lalu, kenapa menikahiku dengan alasan itu?? Batin Nala. Dia bahkan tidak sadar jika Daffin sudah selesai mandi. Melihat Nala terdiam, Daffin memeluknya dari belakang.
"Kenapa bangun?? Istirahatlah lagi." Ucap Daffin.
"Tadi ada yang menelefonmu, jadi aku mengangkatnya." Jawab Nala.
"Benarkah?? Dari siapa??" Tanya Daffin sembari menciumi punggung istrinya.
"Laura... (Daffin tersentak kaget.) Dia bilang hamil anakmu dan akan segera lahir." Jawab Nala tanpa ekspresi.
"Sa.. Sayang, aku bisa jelaskan... Sumpah demi apapun aku tidak pernah menyentuhnya... Ya, aku pernah menciumnya tapi—"
"Jadi, ciuman pertamamu bukan untukku ya??" Lirih Nala.
"Aku khilaf sayang, itu dulu... Lama sekali saat aku masih SMA... Sekarang—"
"Dia hamil, kamu harus bertanggung jawab... Dia mengandung anakmu." Ucap Nala. Dia tidak tau pasti mengenai perasaannya tapi entah mengapa, dia merasakan sakit didadanya. Nala menutupi tubuhnya dengan selimut, membiarkan Daffin yang membeku ditempat.
Kapan gua nyentuh Laura?? Sial! Gua harus temuin dia! Umpat Daffin kemudian bergegas pergi.
"Kakak mau kemana??" Tanya Mia melihat Daffin yang tampak buru buru.
"Ada kepentingan." Jawab Daffin singkat kemudian pergi.
Kakak kenapa?? Batin Mia. Karena ini masih sangat pagi, bahkan matahari belum memunculkan sinarnya.
Sesampainya di rumah Laura. Daffin menggedur pintu rumah Laura keras. Beruntung jarak rumah Laura dengan warga sekitar cukup jauh jadi tidak mendengar geduran pintu Daffin.
Cklekk!
__ADS_1
"Laura lo gak...—" Ucap Daffin terjeda saat melihat perut Laura sedikit membesar. Dia benar benar hamil.
"Hiks!! Hiks!! Lo jahat banget sama gua, gua korban lo pas prom night tapi lo justru nikah sama cewek lain?!! Tega lo Daffin!!!" Ucap Laura sembari memukuli dada Daffin.
"Laura, tapi bukannya lo bilang kalo pas itu nggak—"
"Itu gua tutupin biar lo gak benci sama gua... Gua sakit pas lo putusin gua dan hampir gua gugurin anak ini." Ucap Laura memotong.
Ada sedikit kejanggalan namun Daffin tidak bisa mengelak karena saat prom night beberapa bulan lalu, dia tidak ingat apapun setelah meminum wine pemberian Laura.
"Terus sekarang lo mau apa??" Tanya Daffin.
"Ceraiin istri lo dan nikahin gua!" Jawab Laura tanpa dosa.
"Gak... Maaf, gua gak bisa... Yang bener aja, gua baru 2 hari nikah Ra... Dan langsung cerai?? Lo mau bikin keluarga gua malu??" Tolak Daffin mentah mentah. Tampak Laura terdiam.
"Oke, 3 bulan... 3 bulan lo harus ceraiin dia dan nikahin gua... Gua gak mau dimadu... Dan iya, bawa gua ke rumah lo... Gua juga mau dimanja sama lo lagi." Ucap Laura yang mana membuat Daffin terdiam.
"Baiklah... Kemasi barang barangmu." Ucap Daffin hendak pergi.
"Lo tega sama gua?" Tanya Laura. Daffin menghela napas dan masuk kedalam rumah Laura membantu Laura mengemasi barang barangnya.
Di Kediaman Azura
Pagi ini, Kenzie dan si kembar berniat jogging. Karena kebetulan si kembar masih libur dan Kenzie juga tidak ada mapel hari ini. Banyak yang memperhatikannya lantaran 3 bersaudara itu terlihat tampan dan tubuh ideal.
"Oh iya, anak hacker itu bakalan masuk ke sekolah yang sama kayak kalian??" Tanya Kenzie sembari berlari kecil.
"Hooh, lumayan dapet kenalan hacker." Jawab Raka.
"Terus gimana?? Aku lupa semalam dia lacak orang yang naruh penyadap ditanaman." Ucap Kenzie yang mana membuat Raka terdiam sesaat. Dia memberikan ponselnya.
"Mereka ada disitu... Abang tenang aja, temen aku yang deket daerah itu udah aku suruh buat ngamatin." Ucap Raka dan direspon anggukan oleh Kenzie.
"Kasih kabar kalau udah tau siapa pelakunya." Ucap Kenzie.
"Lo kenapa?? Mikirin Fatimah hmm??" Tanya Raka.
"Emang ada alasan lain buat aku sedih selain Fatimah??" Ucap Arka tanpa mengalihkan pandangannya yang tengah menatap taman.
"Udahlah gak usah sedih, lain kali kalau udah ketemu langsung aja ajak nikah!" Ucap Kenzie sembari merangkul kedua leher adiknya.
"Berarti aku boleh dong bang nikahin si Mia." Ucap Raka.
"Emang kamu punya apa??" Tanya Kenzie dengan kening berkerut.
"Punya bibit unggul biar nanti anak aku seganteng dan secantik Mia." Jawab Raka yang mana mendapatkan jitakan dari Kenzie.
"Ya kalo itu aku juga punya bege! Udah jangan sedih, besok kan aku tunangan kita party." Ucap Kenzie menghibur.
"Okelah!!" Ucap keduanya bersamaan. Mereka pun bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pulang.
"Bang 6 hari lagi kan kita ultah, beliin ps baru ya." Ucap Raka.
"Setuju bang, ntar kita mabar bareng." Timpal Arka.
"Iya deh, iya... Gua beliin ps tapi inget gak usah cengeng... Keinget Fatimah langsung mewek." Ucap Kenzie sembari merangkul leher Arka.
"Hehehe, oke bang." Jawab Arka sembari tersenyum.
Baguslah, seenggaknya Arka gak sedih lagi... Asli gua gak tega liat dia sedih mulu gegara ini. Batin Raka sembari tersenyum melihat Arka yang tertawa kecil dengan Kenzie.
"Abang yok balapan, yang sampe di rumah duluan dapet pudding!!" Ucap Arka.
"Ayo siapa takut... Abang jadi wasitnya." Ucap Raka.
"Satu.... Dua.... Tiga!!! Ayo lari yang kenceng." Ucap Kenzie. Dia tersenyum melihat kedua adiknya yang kini sudah tumbuh besar.
__ADS_1
"Hore Arka menang abang menangis!!!" Ucap Arka bersemangat. Dia berbalik menatap Raka yang mengelap darah.
"Abang lukanya kebuka!!! Mommy!! Mommy!!!" Panggil Arka yang mana membuat Raka menyentil kening Arka.
"Cuman kebuka dikit bege!! Napa heboh amat." Kesal Raka.
"Kenap... Luka kamu kebuka lagi??! Mommy kan udah bilang jangan lari dulu, bandel banget sih!! Arka ambilin P3Knya ya." Ucap Alina sembari menenteng Raka masuk. Beberapa saat kemudian Arka kembali dengan membawa kotak P3K.
"Abang kok diem aja... Emang nggak sakit ya??" Tanya Arka meringis melihat luka Raka.
"Nggak— Aduh mommy sakit." Rintih Raka saat Alina menjewer telinganya.
"Mommy udah bilang diem dulu, jadi anak rewel banget." Omel Alina. Setelah selesai, Raka pun duduk dengan kondisi masih tidak mengenakan kaos.
"Mommy baju aku mana??" Tanya Raka.
"Tunggu obatnya kering dulu baru pake baju." Jawab Alina.
"Tapi kan mo—Daddy!! Daddy makan apel aku ya?!!" Tanya Raka.
"Apel yang di kotak itu?? Iya daddy makan tadi." Jawab Kenzo dengan santainya.
"Huwaaa!!! Daddy nyebelin banget sih... Itukan buah cinta dari my future jodoh." Ucap Raka dengan wajah sedihnya.
"Loh dari Mia toh... Daddy nggak tau makanya daddy makan." Ucap Kenzo kemudian meninggalkan ketiga anaknya dan berangkat kerja.
"Wih... Abang punya six pack juga... Keren!!!" Puji Arka sembari mengacungkan jempolnya.
"Udahlah bungsu, si Zaiman lagi sad gegara apel." Ucap Kenzie kemudian pergi ke kamarnya.
"Oh iya bang."
"Apa lagi???!" Tanya Raka kesal.
"Abang janji mo cerita kenapa abang suka sama Mia... Ceritalah bang, mumpung berdua." Ucap Arka dengan mata berbinar. Yang mana membuat Raka tersenyum mengingat kejadian saat kemah.
"Lo si pake sakit segala waktu itu... Jadi gak liat pas gua ditampar—"
"Ditampar bang?? Wow!!! Terus terus???" Tanya Arka penasaran.
"Dia minta maaf pas selesai upacara, dia salah paham ke gua dikira gua yang bikin gapura regunya jatuh padahal si Amal yang lakuin itu... Habis itu, gua luka nih terus diobatin sama dia... Pas dipegang tangan gua, rasanya jantung gua mo copot... Makanya gua suka dan cinta sama dia." Jawab Raka.
"Oh gitu ya bang, tapi kalo misal perasaan abang gak dibales??"
"Sepulang dari Amerika, gua hamilin dia." Ucap Raka.
"Heh sembarangan abang!!" Ucap Arka dengan mata membulat.
"Toh dia gak ada pilihan lain selain nikah sama gua." Ucap Raka dengan santainya. Yang mana membuat Arka menggelengkan kepalanya pelan dan meninggalkan Raka.
"Dah abang sendirian, Arka mo mandi!!" Ucap Arka kemudian pergi. Raka hanya menggelengkan kepalanya pelan dan tetap pada posisinya menunggu sampai obatnya benar benar kering.
...🥀🥀🥀...
Plakk!
Tamparan kuat mendarat pada pipi kanan Daffin.
"Bagaimana bisa kamu seperti ini Daffin?!! Kamu tidak tau bagaimana perasaan Nala saat dia tau—"
"Nala udah tau kok ma... Nala juga yang minta Daffin buat tanggung jawab... Anak itu butuh ayahnya." Ucap Nala sembari menggegam tangan Nia yang hendak menapar Daffin lagi.
Kakak ipar.... Batin Mia. Nia menghela napas panjang, dia menatap Nala dan memegang kedua bahunya.
"Maafin Daffin ya sayang... Maaf karena—"
"Nggak usah ma, Daffin nikahin Nala juga cuman mau anak... Habis itu kita cerai." Ucap Nala dengan polosnya memberitaukan kebenarannya. Nia terdiam. Dia menatap tajam Daffin.
__ADS_1