
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
👩💻I Love You Readers❤❤❤❤❤
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Sepulang dari kampus
Kenzo pulang dengan membawakan sesuatu untuk Alina. Tidak lain gaun untuk dikenakan Alina nanti malam. Kenzo membuka paper bagnya dan sesekali dia tersenyum membayangkan saat Alina mengenakan gaun tersebut.
"Aku pulang, Oma dimana cupu??" Tanya Kenzo menatap Madira yang tengah merajut.
"Di taman belakang... (Kenzo hendak menyusul.) Tunggu Kenken, kamu harus mandi dulu baru menemui Alina... Oma tidak mau cucu Oma terkena virus." Jawab Madira.
"Ayolah Oma, Aku masih tampan... Lihat aku juga masih bugar." Ucap Kenzo.
"Mandi dulu!" Ucap Madira sembari melempari Kenzo dengan gulungan benang wol. Kenzo pun buru buru ke kamarnya sebelum dia dilempar semua benda oleh Madira.
Sedangkan dengan Alina. Dia tengah duduk dipinggir kolam dengan kedua kakinya masuk kedalam kolam. Dengan diawasi oleh dua pelayan. Padahal, Alina menolak karena dirasa terlalu ketat. Namun dia tidak bisa menolak keinginan Madira.
"Ken, pasti sudah pulang." Lirih Alina. Tangan kanannya setia menghusap perutnya yang masih rata. Dia terkejut saat tiba tiba sebuah tangan melingkar di perutnya.
"Ken!—"
"Jangan tegang begitu sayang... Kenapa disini?? Tidak ditaman??" Tanya Kenzo sembari mencium curuk leher istrinya.
"Tadi sudah kesana, hanya menanam bunga matahari." Jawab Alina.
"Nanti malam kita datang ke pesta." Ucap Kenzo.
"Benarkah??" Tanya Alina antusias.
"Hmm, gua juga udah siapin gaun buat lo pake." Jawab Kenzo masih enggan beralih dari kegiatannya menciumi curuk leher istrinya.
"Terima kasih." Ucap Alina kemudian menghusap tangan Kenzo yang menghusap perutnya.
"Biar gua tebak anak kita perempuan." Ucap Kenzo penuh keyakinan.
"Kenapa kamu sangat yakin Ken??" Tanya Alina.
"Ini failing seorang daddy sayang, dia pasti akan sangat cantik... Dan akan aku beri nama dia Syakila." Jawab Kenzo.
"Bagaimana jika dia laki laki Ken??" Tanya Alina.
"Gua bakalan kecewa." Jawab Kenzo santai.
"Tapi gua gak peduli, asal dia sehat sampe lahir dan tetep jadi penerus Azura group." Timpal Kenzo.
Kenapa Ken tiba tiba membahas soal penerus?? Batin Alina.
Gawat! Kok gua bahas itu sih... Gua harus ngalihin pembicaraan. Batin Kenzo.
"Oh iya sayang, lo tau gak kalo si Gavin bakalan ngelamar Nia ntar malem." Ucap Kenzo.
"Benarkah?? Jadi itu sebabnya Gavin menjauhi Nia, karena dia ingin memberikan kejutan ini." Tebak Alina.
__ADS_1
"Benar sekali sayang." Jawab Kenzo kemudian mencium pipi kanan Alina. Membuat Alina merona.
"Oh iya, yuk nyobain gaun yang udah gua siapin." Ucap Kenzo dan tanpa aba aba Kenzo menggendong Alina ala bridal style.
"Ken!" Pekik Alina terkejut membuat Kenzo tertawa kecil melihat reaksi istrinya. Mereka berdua pun menuju ke kamar.
"Oma, tumben ngerajut... Oma ngerajut apa??" Tanya Kenzo masih menggendong Alina.
"Baju untuk cicit Oma... Agar dia tidak kedinginan nantinya." Jawab Madira tanpa mengalihkan pandangannya.
"Oke Oma, bikin yang banyak ya... Soalnya Ken mau buat cicit 9 lagi biar sekalian jadi pemain sepak bola." Ucap Kenzo membuat Alina memukul pelan dada suaminya.
"Asiyaappp!" Ucap Madira sembari mengacungkan jempolnya. Kenzo hanya terkekeh dan melanjutkan niatnya untuk ke kamar.
Sesampainya di kamar
Kenzo menurunkan Alina dan mendudukannya di ranjang. Setelahnya, tampak Kenzo menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Kenzo mengambil paper bag yang dia simpan di lemari.
"Nih." Ucap Kenzo seraya memberikan paper bagnya.
"Ini sangat indah Ken, boleh aku mencobanya??" Tanya Alina.
"Tentu saja." Jawab Kenzo. Dengan wajah bahagia, Alina mengenakan gaun pemberian suaminya di walk in closet. Sedangkan Kenzo menunggu sembari duduk dibibir ranjang. Lama menunggu, akhirnya pintu walk in closet terbuka.
(Style Alina.)
"Ken, bagaimana menurutmu?" Tanya Alina membuat Kenzo menoleh. Dia membelakan matanya kagum melihat kecantikan alami sang istri dengan balutan gaun yang dia pilih. Kenzo bangkit dari duduknya dan membelai pipi Alina.
"Sangat cantik." Jawab Kenzo membuat Alina merona.
Kenzo menarik dagu Alina agar menatapnya. Perlahan tapi pasti, kedua bibir mereka saling menyatu. Namun itu hanya sekilas, karena Kenzo menahan dirinya untuk tidak menggempur Alina. Mengingat dikehamilannya ini membuat Alina mudah lelah.
"Gua kira bagian perutnya gak muat, ternyata muat." Ucap Kenzo. Mendengar hal itu, membuat Alina mengecurutkan bibirnya.
"Bukan begitu sayang, itu gua mesennya pake ukuran lo yang dulu sebelum hamil... Ya gua kira gak sama ternyata masih sama." Ucap Kenzo dan Alina meresponnya hanya dengan anggukan.
"Ya udah ganti baju sana, kita makan siang." Ucap Kenzo. Dan dengan patuh, Alina masuk kedalam walk in closet dan mengganti pakaiannya dengan yang dia pakai tadi. Setelahnya, mereka berdua pun menuju ke meja makan dan menikmati makan siang bersama.
Di Rumah Sakit
Ashel tampak membujuk sang kakak agar membiarkannya ikut hadir di pesta. Dan Alzero khawatir, meskipun Ashel sudah bisa berjalan. Namun dia khawatir akan terjadi sesuatu padanya.
"Kak ayolah, dokter juga memperbolehkanku keluar dari rumah sakit." Bujuk Ashel.
"Al sayang, biar kan saja Ashel ikut... Mungkin dia bosan di rumah sakit, bukan begitu sayang??" Timpal Zaina membujuk.
"Tidak bisa Ashel, kau belum sembuh total... Bagaimana jika terjadi sesuatu?? Pokoknya tidak aku izinkan Ashel pergi!" Tolak Alzero kemudian pergi.
Tidak ada cara lain, harus kakak ipar yang membujuknya. Batin Ashel.
"Kakak ipar, bujuk kakakku ya... Aku mohon." Ucap Ashel dengan memamerkan wajah imutnya.
"Akan aku coba... Aku menyusulnya dulu." Ucap Lala kemudian menyusul Alzero.
"Wah sayang, sepertinya kakakmu sangat mencintai Lala... Sama seperti ayahmu yang sangat mencintai bunda." Ucap Zaina membuat Araka terkejut.
"Hey sayang, kamu yang mencintai ku lebih dulu... Buktinya kamu menggunakan banyak cara agar aku terpesona olehmu." Elak Araka.
"Itu karena dulu kamu seperti balok es mas, dingin banget tau gak?! Bicara aja 5 6 kalimat sehari... Untung Ashel tidak menurunimu, lihat Al yang menurunimu." Ucap Zaina tak mau kalah.
"Tapi sayang—"
"Jangan menyentuhku!" Kesal Zaina.
__ADS_1
"Selama 1 minggu ini kamu jangan meminta jatah dariku mas." Bisik Zaina mengancam.
"Sayang ayolah, kenapa kamu marah?? Aku hanya—"
"Ashel sayang, ayo bunda ajak kamu ke taman... Biar kamu lebih fresh." Ajak Zaina. Ashel tidak bisa menolak melihat Zaina tampak kesal dengan Araka.
"Lalu aku disini sendiri an??" Ucap Araka.
"Suamiku Tersayang! Bukan kah kamu sangat mencintai pekerjaanmu?? Maka biar pekerjaanmu lah yang menemanimu." Ucap Zaina kemudian mengajak Ashel pergi.
Sedangkan dengan Alzero. Dia duduk ditaman rumah sakit. Dia bisa melihat para perawat yang tengah mengajak pasiennya untuk refreshing di taman tersebut.
Dokter bilang Ashel dinyatakan sembuh total pekan depan... Kenapa Ashel sama seperti bunda yang keras kepala! Umpat Alzero.
"Ro." Panggil Lala sembari menepuk bahu Alzero. Alzero pun menoleh dan melihat Lala yang duduk disampingnya.
"Jangan bujuk aku, aku tidak mengizinkannya!" Ucap Alzero seolah tau apa yang membawa Lala menemuinya.
"Ro, aku tidak membujukmu... Aku tau kekhawatiranmu, tapi... Apa kamu tidak kasihan pada Ashel?? (Alzero menatapnya.) Setelah 3 bulan koma, akhirnya dia mendapatkan kebahagiannya... Biarkan dia ikut, aku yakin Ashel pasti sangat bosan dirumah sakit... Dulu juga aku begitu—"
"Maksudmu?? Kamu pernah dirawat di rumah sakit?? Kapan?? Kenapa??" Tanya Alzero.
"Umm... Itu, aku akan ceritakan jika kamu mengizinkan Ashel pergi... Bagaimana??" Tawar Lala dan melempar senyuman manisnya pada Alzero.
"Baiklah... Baiklah, aku mengizinkannya... Katakan!" Ucap Alzero pasrah.
"Janji dulu." Ucap Lala sembari menujukan jari kelingkingnya.
"Perlu ku cium agar menepati janji??" Goda Alzero membuat Lala menurunkan tangannya.
"Tidak perlu, baiklah... Itu karena kakiku patah jadi selama 1 bulan dirawat di rumah sakit." Ucap Lala.
"Apa?? Kenapa kakimu bisa patah??!" Tanya Alzero.
Jika aku memberitaukannya, apa Alzero akan marah?? Tapi jika aku berbohong, Alzero pasti akan menyelidikinya. Batin Lala.
"Lala..." Ucap Alzero.
"Umm, itu... Itu karena aku hampir dil*c*hkan saat hari pertama kerja di club." Jawab Lala lirih dan tentu didengar oleh Alzero.
"Apa?!! Siapa yang melakukannya Lala?!! Katakan!!" Ucap Alzero sembari memegang kedua bahu Lala.
"Itu sudah lama Ro, jangan diungkit lagi... Itu sebabnya aku berterima kasih pada Zicko, karena dia yang membiayai rumah sakit untuk ku dan menyelamatkanku." Jawab Lala. Namun bukan Alzero namanya jika dia mudah percaya.
Aku harus menyelidikinya, meskipun itu sudah lama... Tapi akan aku buat dia mendapatkan pelajaran yang seharusnya! Batin Alzero.
"Kakak izinkan aku pergi yah!!" Ucap Ashel tiba tiba membuat Alzero terkejut.
"Ashel kau mengejutkan kami." Ucap Lala membuat Ashel cengengesan.
"Maaf kakak ipar, boleh yah kak?? Kakakku kan tampan... Yah, yah." Bujuk Ashel.
"Iya, berhenti mengatakan hal itu." Jawab Alzero.
"Wah kakak ipar the best—" Ucap Ashel hendak memeluk Lala namun diceghat oleh Alzero.
"Jangan menyentuhnya!" Peringat Alzero.
"Ro, kamu berlebihan... Dia adikmu." Ucap Lala.
"Aku tidak peduli, kau mengerti Ashel." Ucap Alzero.
"Baiklah, kakak ipar hanya milikmu... Apa boleh buat." Ucap Ashel sembari mengangkat kedua bahunya.
"Ashel, kau kemari sendirian??" Tanya Alzero.
__ADS_1
"Tidak, aku bersama bund—... Sepertinya aku akan mendapatkan adik lagi." Jawab Ashel.