My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
BAB 75


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


👩‍💻I Love You Readers❤❤❤❤❤


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Di Rumah Sakit


Ashel tengah berlatih melemaskan kedua otot kakinya. Mengingat dia sudah cukup lama koma membuat kakinya sedikit kaku. Tampak Alzero dan Zaina memberikan semangat pada Ashel yang baru saja melangkah.


"Ah sudah selesai sus??" Tanya Ashel.


"Sudah, sepertinya 3 kali melakukan terapi kaki anda akan kembali normal." Jawab sang suster kemudian membantu Ashel duduk dibibir ranjang.


"Baguslah, aku benar benar bosan disini." Ucap Ashel membuat Zaina menghusap puncak kepala putranya.


"Sabar dong sayang, kan perlu waktu." Ucap Zaina dan direspon anggukan oleh Ashel.


"Oh iya Al, besok kamu sama Lala dateng ke acara Anniversary ayah dan ibunya Raefal... Bunda udah nyiapin gaun kok buat calon menantu bunda." Ucap Zaina dan direspon anggukan oleh Alzero.


"Dan iya awasin ayah kamu juga disana... Kalau dia deket sama wanita lain, calling bunda oke??" Bisik Zaina.


"Aku mengerti bunda... Aku berangkat ke kampus dulu, Ashel kakak berangkat. Assalamualaikum." Pamit Alzero. Tak lupa mencium punggung tangan ibundanya.


"Walaikumsalam, hati hati kak." Jawab Ashel. Alzero pun pergi karena memang hari ini ada jadwal pagi. Tak lupa dia menjemput kekasih hatinya itu. Sesampainya di rumah Roni, tampak Lala tengah mengecek kembali buku yang dia bawa.


"Bagaimana?? Ada yang tertinggal??" Tanya Alzero.


"Tidak, kita berangkat sekarang." Jawab Lala dan tanpa bicara lagi Alzero melajukan mobilnya.


"Om Roni tidak ada?? Kemana dia??" Tanya Alzero.


"Ayah pagi tadi pergi, katanya Nana hamil jadi ayah ingin bertemu dengannya." Jawab Lala sembari tersenyum. Dia bahagia karena akhirnya sahabatnya akan mendapatkan seorang anak.


"Kenzo pasti bahagia karena tujuannya tercapai, Ro lakukan sesuatu... Kasihan Nana dan bayinya." Ucap Lala sembari menatap Alzero.


"Jangan lakukan apapun Lala... Yang terpenting sekarang adalah jangan sampai Alina tau mengenai tujuan Kenzo." Jawab Alzero.


"Memangnya kenapa Ro??" Tanya Lala.


"Tidak apa jika memberitau pada Alina saat dia belum mengandung... Tapi saat ini dia tengah mengandung, jika dia tau tujuan Kenzo itu bisa saja Alina akan pergi meninggalkan Kenzo... Kau mengerti maksud ku kan sayang??" Jelas Alzero.


"Kau benar, tapi kasihan Nana." Jawab Lala. Dan Alzero juga paham dengan yang Lala rasakan.


Ku harap tidak ada yang memberitau hal ini pada Alina. Batin Alzero. Sesampainya di kampus, mereka pun keluar dari dalam mobilnya. Dan seperti biasa Lala menghampiri Nia dan Mita yang terlihat lama menunggu.

__ADS_1


"Maaf membuat kalian menunggu." Ucap Lala.


"Ah tidak masalah, ayo kita kumpulkan skripsinya pada dosen." Ajak Mita.


"Iya ayo." Jawab Lala. Ketiganya pun pergi menuju ke ruang dosen mereka. Sedangkan dengan Alzero dia menghampiri Gavin yang tampak duduk di motornya.


"Ah lo udah dateng Al." Ucap Gavin kemudian turun dari motornya.


"Pas banget gua butuh banget bantuan lo." Lanjut Gavin membuat kening Alzero berkerut.


"Bantuan apa??" Tanya Alzero. Tampak Gavin membisikan sesuatu pada Alzero.


"Kau benar benar akan menikah??" Tanya Alzero.


"Iya Al, potensi gua bisa nerusin perusahaan papa udah diatas rata rata... Jadi, gua yakin sama keputusan gua... Soal nikah kayaknya masih agak jauh deh, tapi seenggaknya gua ngelamar dia dulu... Lo bisa kan bantuin gua?? Please... Daddy kan baik." Ucap Gavin memohon membuat Alzero menghela napas panjang.


"Akan ku suruh Rio nanti." Jawab Alzero membuat Gavin memeluk sahabatnya itu.


"Daddy is the best!" Ucap Gavin.


"Berhenti memelukku! Itu menjijikan!!" Ucap Alzero sembari mendorong tubuh Gavin. Namun, Gavin yang bahagia hanya meresponnya dengan senyuman. Saat itu tampak Raefal datang dengan motornya.


"Eh bungsu, berangkat juga lo... Gua kira bolos." Ucap Gavin dan Raefal mengabaikannya.


"Lo kok badmood gitu?? Bahagia lah, lo tau nggak kalo si Kenzo bentar lagi bakalan jadi daddy." Ucap Gavin sontak membuat Raefal menatapnya.


"Hah?!! Maksud lo, Alina hamil??" Tanya Raefal dan direspon anggukan oleh Gavin.


"Tapi lo tenang aja... Kayaknya si Ken udah bucin ke Alina... Asal jangan ada yang kasih tau tujuan Ken ke Alina... Semuanya pasti oke oke aja." Jawab Gavin seolah tau apa yang Raefal khawatirkan.


"Syukurlah kalau begitu." Ucap Raefal.


Di Kediaman Azura


Kenzo kembali dengan membawa satu kilo mangga muda. Dan malangnya pakaiannya kotor karena tadi dia tercebur ke dalam lumpur. Sungguh apes nasib Kenzo saat ini. Dan alangkah terkejutnya, dia melihat Alina tengah menikmati kelapa muda yang dia petik.


"Sayang—"


"Kamu bau, menjauhlah aku ingin sendiri." Ucap Alina.


"Tapi sayang mangganya??" Tanya Kenzo. Tampak Alina menatap sekilas mangga muda yang Kenzo bawa.


"Aku udah gak mau... Udah sana mandi, bau." Jawab Alina.


Kenzo pun menghela napas panjang dan meletakan mangga muda yang dia bawa diatas meja. Dan dia sendiri menuju ke kamar untuk membersihkan diri. Setelahnya, dia pun duduk disamping istrinya yang masih menikmati kelapa muda.


"Ada ayah Roni di ruang tamu, kenapa tidak ikut bergabung?" Tanya Kenzo. Tampak Alina menyandarkan kepalanya manja pada dada bidang Kenzo. Membuat Kenzo tersenyum dan membelai puncak kepala Alina.


"Aku sudah menemuinya... Dia sangat bahagia karena kehamilanku." Jawab Alina.


"Memang seharusnya begitu." Ucap Kenzo.


"Lalu kenapa kamu disini?? Tidak dengan oma ayah dan lainnya diruang tamu??" Tanya Alina.


"Karena gua pengen berduaan sama lo." Jawab Kenzo membuat Alina menunduk menutupi wajah ronanya.

__ADS_1


Gua gak bisa tidur semalaman gegara hal itu, apa gua kasih tau cupu sekarang ya?? Batin Kenzo.


"Sayang."


"Hmm??"


"Ad... Ada yang pengen gua kasih tau ke lo." Ucap Kenzo membuat Alina mendongak menatap suaminya.


"Kasih tau apa??" Tanya Alina. Seketika Kenzo bungkam. Melihat tatapan Alina yang sangat hangat itu membuat Kenzo takut. Iya, kali ini Kenzo benar benar takut jika Alina akan meninggalkannya setelah mengetahui kebenarannya.


"Ken?? Kamu kenapa?? Apa pinggangmu masih sakit??" Tanya Alina khawatir. Dan itu membuat Kenzo 2000% takut Alina akan pergi meninggalkannya.


"Bukan itu, itu... Emm... Besok apa lo mau ikut ke pesta Anniversary tante Saras sama Om Bima??" Tanya Kenzo.


"Pesta?? Aku mau ikut jika kamu juga ikut." Jawab Alina membuat Kenzo menc*um bibir Alina sekilas.


"Ken..."


"Hmm??"


"Aku... Aku mau itu." Ucap Alina tampak dengan rona di wajahnya.


"Mau apa lagi?? Katakan." Jawab Kenzo.


"Aku... Aku mau... (Berbisik sesuatu pada Kenzo.) Tapi di kamar mandi, kau mau??" Tanya Alina. Wajahnya benar benar sudah semerah tomat. Tanpa ragu dia menggendong tubuh Alina ala bridal style.


"Mau lah sayang, siapa sih yang mau nolak kalau diajak gituan." Ucap Kenzo membuat Alina benar benar malu.


Dia sendiri heran, entah dapat keberanian darimana membuat Alina berinisiatif terlebih dahulu. Karena biasanya Kenzo lebih dulu menggempur istrinya. Kenzo mengunci pintu kamar dan membiarkan pintu kamar mandi terbuka. Kenzo pun memojokan Alina ke tembok. Dengan lembut dia menc*um bibir Alina dan tangannya melepaskan semua pakaian Alina perlahan. Mereka berdua pun menghabiskan waktu bersama.


3 jam kemudian keduanya selesai dari kegiatannya. Tampak Alina terkulai lemas dan dengan hati hati Kenzo menidurkan istrinya diatas ranjang. Kenzo menc*um kening, bibir, dan terakhir perut rata istrinya. Setelahnya, dia pun membiarkan Alina beristirahat dan pergi bergabung dengan orang tuanya.


"Kenken, dimana Alina??" Tanya Madira.


"Lagi tidur oma." Jawab Kenzo santai kemudian duduk disofa.


"Gak usah tanya alasannya bunda, sudah pasti Kenzo membuatnya lelah." Ucap Dicko.


"Mas!" Ucap Lina memeringati. Dicko hanya terkekeh saat mendapatkan tatapan tajam dari istrinya. Saat itu tampak Dicko meletakan sebuah barkas dimeja. Tepatnya dihadapan Kenzo.


"Apa ini Dad??" Tanya Kenzo.


"Bacalah." Jawab Dicko.


Kenzo pun mengambil barkas tersebut dan membacanya. Begitu membukanya, Kenzo terkejut saat tulisan *Pengalihan Pemimpin Perusahaan Azura Group.* tercetak tebal. Kenzo menatap Dicko dan dari mimiknya Dicko meminta Kenzo untuk menandatangani pengalihan perusahaan. Dengan wajah bahagia Kenzo menandatangani barkas tersebut.


"Daddy menepati janjinya padamu... Jadi, mulai sekarang kamu harus berlatih mengendalikan perusahaan." Ucap Dicko.


"Daddy yakin memberikannya padaku sekarang??" Tanya Kenzo tak percaya.


"Tentu saja... Mungkin kamu pembiang onar disekolah, tapi daddy harap hal itu tidak berlaku untuk lingkungan bisnis." Jawab Dicko.


"Semangat Ken, jadilah Pemimpin yang perfeksionis." Ucap Roni.


"Terima kasih Ayah... Akan aku lakukan semaksimal mungkin." Jawab Kenzo sembari tersenyum.

__ADS_1


Gua harus tunjukin ke cupu kalo gua cocok jadi daddy. Batin Kenzo dengan semangat membara. Kenzo yang sebelumnya berniat menceraikannya justru kini dengan semangat berniat menujukan keseriusannya menjadi seorang suami dan calon ayah.


Crazy Update!!!!!!


__ADS_2