My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
Season 2 Episode 4


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


🥀MHKOT2🥀


Di Kediaman Caesar


Lala tampak bersemangat menyiapkan segala sesuatu tentang pesta ulang tahun Alveno yang tinggal hitungan hari. Lala melihat dekorasi dari ipetnya.


"Veno sayang, bagaimana menurutmu??" Tanya Lala.


"Terserah bunda." Jawab Alveno singkat.


"Anak ini.... (Merebut buku Alveno.) Anak kecil jangan terlalu sering membaca, nanti juling... Tontonlah kartun atau bermain dengan teman temanmu." Omel Lala.


"Bunda... (Kembali mengambil bukunya.) Membaca buku lebih menyenangkan, tidak ada yang mengganggu... Bunda urus saja pestanya, aku kembali ke kamar." Ucap Alveno kemudian pergi meninggalkan Lala.


"Anak itu.... Mas!!! Mas!!!" Panggil Lala membuat Alzero menghampiri.


"Sayang ada apa?? Sudah memilih dekornya???" Tanya Alzero.


"Pilih dekor gimana mas?!! Anakmu itu sulit sekali bicara, dia hanya membaca buku saja... Ini semua salahmu, kamu menyebalkan." Cecer Lala.


"Iya ini salahku." Ucap Alzero sembari mencium kening istrinya.


"Memang begitu." Ketus Lala.


"Tapi dia tampan kan??" Tanya Alzero.


"Dia tampan, kamu yang jelek... Udah lepasin!" Jawab Lala sembari berusaha melepaskan diri. Bukannya melepas, Alzero justru lebih mengeratkan pelukannya.


"Kalau aku jelek kenapa kamu selalu memanggil namaku saat tengah malam." Bisik Alzero membuat Lala merona. Para pelayan yang melihat ikut tersenyum melihat keromantisan tersebut.


"Mas ada pelayan... Mas!!" Pekik Lala.


"Mereka sudah biasa melihat kita seperti ini bukan??" Goda Alzero.


"Mas—"


"Maaf mengganggu tuan... (Alzero dan Lala menjauh.) Sekertaris Rio ingin bertemu dengan anda." Ucap salah satu pelayan.


"Dia ini... Suruh ke ruang kerjaku." Ucap Alzero.


Aman. Batin Lala bernapas lega.


"Nanti malam aku tidak akan melepaskanmu." Bisik Alzero sebelum dia pergi.


"Huh tidak anak, tidak ayah sama saja... (Menghusap perutnya yang masih rata.) Sayang semoga kamu tidak mirip mereka ya." Ucap Lala. Dia pun tersenyum kemudian menuju ke kamarnya.


Di Kediaman Azura


Lina menjadi penengah saat Kenzie terus ingin memukul seseorang yang dia lindungi. Kenzo memanggul putranya layaknya karung beras. Yang mana membuat Kenzie terus memberontak.


"Daddy turunin Enzi!!" Berontak Kenzie.


"Enzi nggak boleh mukul perempuan! Laki laki itu harus melindungi perempuan." Omel Kenzo.


"Melindungi buat apa dad!! Anak jelek ini nyentuh Lucy!!" Kesal Kenzie yang mana membuat gadis cilik itu menangis dibalik Lina.


"Rasya cuman kasih makan kelinci." Cicit gadis cilik itu. Dan gadis itu menunduk kala Kenzie menatapnya tajam.


"Diem kamu!!!" Bentak Kenzie membuat gadis itu menunduk sembari terus menangis.


"Mas kamu bawa Rasya ke kamar ya... Aku mau nenangin Enzi dulu." Ucap Lina. Dicko pun menganggukan kepalanya dan menggendong Rasya.


"Enzi jangan marah lagi ya, maafin oma." Ucap Lina sembari menatap cucunya.


"Oma nggak salah, yang salah anak jelek itu." Ketus Kenzie.


"Enzi—"


"Mas... (Kenzo menghela napas panjang.) Enzi, lain kali jangan mukul ya... Apalagi sama perempuan... Nanti kamu minta maaf ya sama Rasya." Ucap Alina.


"Tapi mom.... (Alina menatapnya dingin.) Baik mommy." Jawab Kenzie sembari menunduk. Alina mencium pipi putranya dan menghusap puncak kepala Kenzie.


"Ini baru anak mommy." Ucap Alina.


"Enzi mau cek Lucy!" Ucap Kenzie kemudian pergi.


"Sayang kok kamu biarin?? Enzi—"


"Aku tau mas." Potong Alina membuat Kenzo terdiam.


"Mommy jelasin, sejak kapan mommy sembunyiin ini semua dari aku mom??" Tanya Kenzo. Lina menghela napas panjang dan menatap anak menantunya.

__ADS_1


"Ingat om Demon Ken??" Tanya Lina.


"Mantan sekertaris daddy kan mom." Jawab Kenzo.


"Kamu benar... Dia sudah banyak membantu keluarga Azura... Dan Rasya itu cucunya... Ayah dan ibunya meninggal sejak Rasya masih lahir... Hanya Demon yang mengurusnya... Tapi, Demon meninggal 2 tahun yang lalu karena sakit yang dideritanya... Dan mommy sudah berjanji akan mengurus Rasya, mommy tidak terima jika Rasya di panti asuhan... Kasihan dia." Jelas Lina membuat Alina iba.


"Jadi begitu... Bukankah om Demon memiliki beberapa harta?? Setidaknya untuk Rasya besar." Ucap Kenzo.


"Hartanya dibawa oleh anak keduanya... Dia bahkan tidak mau menganggap Rasya." Jawab Lina.


"Kasihan sekali Rasya, padahal dia masih sangat kecil." Ucap Alina iba.


Tanpa diduga, Kenzie mendengarnya. Bocah berumur 5 tahun itu mengerti apa yang Lina dan kedua orang tuanya jelaskan. Seketika, Kenzie merasa bersalah telah bicara kasar dan memukul Rasya. Melihat Dicko keluar dari kamar Rasya, Kenzie masuk kedalam kamar Rasya diam diam.


"Mommy besarkan dan bahagiakan dia sebelum aku... Menjemputnya sebagai menantuku." Ucap Kenzo.


"Mas maksud kamu??"


"Aku tau Enzi masih kecil... Masih sangat jauh memikirkan hal itu... Tapi, aku merasa ini memang takdir Enzi... Tiba tiba saja Tisya yang diprediksi tidak akan mendapatkan keturunan tapi Rasya terlahir... Geo, Tisya dan om Demon meninggalkan Rasya seolah Rasya... Memang untuk Enzi." Jelas Kenzo. Dan Alina menganggukan kepalanya setuju.


"Kamu yakin dengan ucapanmu Ken??" Tanya Dicko.


"Semua akan berlalu seiring berjalannya waktu dad, dan aku sangat yakin dengan ucapanku." Jawab Kenzo.


"Syukurlah kalau begitu, mommy lega dengan masa depan Rasya." Ucap Lina sembari tersenyum.


Beralih pada Kenzie, perlahan dia membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Dia tidak menutupnya agar lebih mudah keluar. Dilihatnya, Rasya tertidur meringkuk dengan mata yang masih menggenang air mata. Kenzie memang seperti Kenzo dulu, yang mana dia sangat posesif saat benda atau hewan favoritenya disentuh orang lain. Lama menatap, Kenzie membenarkan selimut Rasya yang hampir jatuh.


"Enzi minta maaf." Lirih bocah itu sembari menatap betapa lelapnya Rasya. Kenzie pun menutup pintunya lagi dan pergi mengecek kelincinya yang sudah beranak itu.


"Lucy!" Ucap Kenzie tampak bahagia saat kelinci itu melompat mendekat.


"Lucy apa anak jelek itu—" Ucap Kenzie terjeda saat melihat kaki kelincinya baru saja diplaster. Membuat Kenzie terdiam sesaat dan dia tau alasan mengapa kelincinya merintih saat dipegang Rasya. Ternyata Rasya mengobati kakinya.


"Enzi, kamu disini Rasya mana??" Tanya Alina.


"Mana Enzi tau." Ketus Kenzie.


"Jangan marah begitu, bagaimana kalau kita membeli hadiah untuk Veno... Lusa dia kan ulang tahun." Ucap Alina menghibur Kenzie.


"Ayo mom, kita ke toko buku sekarang." Jawab Kenzie.


"Toko buku?? Sejak kapan kamu hobi membaca??" Tanya Alina bingung.


"Mommy... Veno hobi membaca, jadi aku berniat menghadiahkannya beberapa buku... Mungkin tentang.... Emm.... (Berpose berpikir.) Mommy, daddy kerja jadi apa??"


"Nah, Veno suka yang seperti itu... Mungkin dia akan lebih cepat tua." Ucap Kenzie.


"Tapi dia pintar, tidak seperti kamu yang pintar menjaili temanmu." Ucap Alina.


"Menjaili teman itu menyenangkan mom... Ayo ke toko buku, kita juga ke toko obat." Ucap Kenzie sembari menarik tangan ibunya.


"Toko obat?? Buat apa??" Tanya Alina.


"Mommy, sepertinya perut mommy semakin parah... Mommy juga lebih gemuk sekarang, maka dari itu kita beli obat pelangsing." Jawab Kenzie.


"Ini karena ada 2 adikmu Enzi." Ucap Alina.


"Saat mereka lahir nanti aku akan memarahinya, dia membuat mommy kesusahan." Jawab Kenzie membuat Alina tersenyum.


"Daah oma!!! Opa!!" Ucap Kenzie sembari melambaikan tangannya.


"Hati hati cucu oma." Jawab Lina. Perlahan mobil itu pun menjauh. Dari kejauhan, Kenzie melihat Rasya yang mengintip dan kembali bersembunyi saat sadar ditatap olehnya.


Dasar penakut! Umpat Kenzie.


"Mas kita ke toko buku dulu." Ucap Alina.


"Buat apa?? Bocah nakal itu tidak mungkin membaca kan??" Tanya Kenzo.


"Daddy itu untuk Veno, lusa kan dia berulang tahun." Jawab Kenzie sembari menatap ke belakang dimana ayah dan ibunya duduk.


Anak holkay buat apa di kasih hadiah. Batin Kenzo.


"Teo kita ke toko buku dulu." Ucap Kenzo.


"Baik tuan." Jawab Teo kemudian fokus menyetir.


Di Toko Buku


Perhatian para pengunjung itu teralihkan pada keluarga kecil Azura. Dimana mereka terlihat sangat cocok dengan Kenzie yang tampan.


"Mommy kita mau kemana?? Ini seperti labirin." Ucap Kenzie.


"Mencari buku sayang... Ayo ikut mommy." Jawab Alina. Kenzie pun menatap wajah ayahnya yang tengah menggendongnya.


"Mommy dulu kutu buku??" Tanya Kenzie.

__ADS_1


"Bukan, tapi harimau buku... Lihat saja di kamar daddy banyak buku bukan??" Jawab Kenzo.


"Enzi males ke kamar daddy, sangat berantakan... Baju mommy juga berserakan." Ucap Kenzie yang mana membuat Kenzo terdiam.


"Daddy Enzi mau turun." Ucap Kenzie.


"Jangan keluyuran!" Ucap Kenzo. Kenzie pun menganggukan kepalanya kemudian menuju ke sebuah rak buku.


"T-i-p-s... Tips, m-e-m-u-t-i-h-k-a-n... Memutihkan, w-a-j-a-h... Wajah, Tips memutihkan wajah.... Bukan yang itu." Lirih Kenzie yang tampak mengeja judul bukunya.


"C-a-r-a... Cara—"


"Enzi!!" Panggil Revan.


"R?? Kamu menggangguku membaca, kenapa kamu kesini??" Tanya Kenzie tak teralihkan dari fokusnya mengeja.


"Membeli buku, untuk hadiah Veno." Jawab Revan.


"Kita sama, temani aku memilih sebuah buku." Ucap Kenzie.


"Buku sepelti apa??" Tanya Revan.


"Ikut saja ayo." Jawab Kenzie mengajak Revan ke lantai 2. Dimana disana buku novel komik dan untuk orang dewasa.


"T-i-p-s... Tips, m-e-m-b-u-a-t... Membuat, s-u-a-m-i... Suami, b-a-h-a-g-i-a... Bahagia... Tips membuat suami bahagia, wah sepertinya ini yang mommy dan ibumu butuhkan." Ucap Kenzie.


"Benalkah?? Tapi lak bukunya tinggi, bagaimana kita mengambilnya??" Tanya Revan. Kenzie pun melihat sekeliling hingga dia tersenyum miring.


"Aku akan memanggulmu, dan kamu ambil dua buku oke??" Tanya Kenzie.


"Oke." Jawab Revan.


"Sudah belum R?? Kamu berat!!" Keluh Kenzie.


"Sebental lagi." Jawab Revan. Dan.... Hup, 2 buku Revan dapatkan.


Brukh!!!


"Hiks, sakit." Ucap Revan merintih kesakitan.


"Jangan cengeng, kamu temui ibumu dan aku akan menemui mommyku." Ucap Kenzie.


Kedua bocah cilik itu pun mencari keberadaan ayah mereka. Sedangkan Kenzo dan Raefal tengah sama sama bingung. Dia tidak mungkin memberitau istrinya mengingat tidur terpisah ancamannya.


"Ken pasti anak ku bertemu anakmu... Dia pasti berkeliaran disini." Ucap Raefal khawatir.


"Udah diem, aku juga pusing... Semalam aku tidur terpisah dan sekarang aku tidak mau hal itu terjadi gara gara anak nakal itu—"


"Tapi dia anakmu." Kesal Raefal.


"Ken itu mereka... Mereka membawa buku, bisa kau baca??" Tanya Raefal.


"Mana bisa, Ayo kita hampiri mereka." Usul Kenzo. Kedua bapak muda itu pun menghampiri Kenzie dan Raefal.


"Mommy!!"


"Mama!!"


Panggil kedua bocah itu. Membuat Alina dan Mita menoleh menatap putranya.


"Iya sayang?? Wah kamu sudah menemukan buku??" Tanya Alina.


"Sudah, ini untuk mommy." Jawab Kenzie.


"Ini untuk mama." Ucap Revan. Alina pun menerima buku tersebut dan seketika wajahnya merona.


"Revan dari mana kamu dapat buku ini??" Tanya Mita.


"Buku apa??" Tanya Raefal. Sontak Mita dan Alina menyembunyikan buku tersebut. Namun Alina terlambat, Kenzo lebih dulu merebut bukunya. Dan sesuai dugaan dia tersenyum miring.


"Wah kamu memang istri berbakti, darimana kamu dapat buku ini??" Tanya Kenzo.


"Enzi yang memberikannya." Jawab Alina dengan wajah semerah tomat.


"Kamu baca buku itu... Enzi besok daddy tambah uang jajan kamu." Ucap Kenzo.


"Thanks daddy." Ucap Kenzie sembari berhamburan memeluk Kenzo.


"Aku tidak mau membelinya." Ucap Alina dan Mita bersamaan.


"Biar aku yang membelinya." Jawab Kenzo dan Raefal bersamaan pula. Revan mengedipkan matanya pada Kenzie begitu juga sebaliknya.


Aku menjadi anak berbakti. Batin Kenzie.


Aku menjadi anak belbakti. Batin Revan.


Setelah membeli beberapa buku, mereka pun kembali ke rumah masing masing. Kenzo tersenyum melihat wanita berbadan dua itu tampak kesal.

__ADS_1


__ADS_2