My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
BAB 37


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Di Perjalanan


Gavin sesekali menatap Nia yang terdiam dan hanya menatap keluar jendela. Dan entah mengapa Gavin membenci suasana itu. Untuk menghilangkan kekesalannya, Gavin memakai eraphone dan memutar lagu favoritnya EXO—Love Shot.


(Btw, adek suka kpop jadi jangan heran ya wkwkwk.)


Jika nyonya Saras tidak memaksaku... Lebih baik aku naik taxi online. Batin Nia masih kesal dengan tidakan Gavin yang sembrono.


Beberapa saat kemudian keduanya tampak keluar dari mobil. Dan Gavin enggan melepaskan eraphonenya. Dia pun mengekori Nia yang berjalan mendahului. Nia merasa aneh saat para perawat dan wanita di rumah sakit menatap kearahnya.


Dipikirnya ada yang salah dengan dirinya. Dan saat berbalik dia baru sadar jika mereka memperhatikan Gavin yang berjalan dibelakangnya. Gavin tidak menyadari itu karena fokus pada ponselnya.


Brukh!!!


"Napa berhenti mendadak?? Bensin habis??" Tanya Gavin saat dia menabrak Nia yang berhenti tiba tiba.


"Dimana ruang resepsionis??" Tanya Nia ketus.


"Apa??" Tanya Gavin sembari menundukan kepalanya menyamai tinggi pembantu mudanya itu.


"Dimana ruang resepsionis?!" Tanya Nia dengan nada kesal.


"Gua kira lo b*su." Jawab Gavin berjalan mendahului.


"Apa?!" Kesal Nia. Dia pun membuntuti Gavin. Sesampainya di ruang resepsionis.


"Halo tante... Pasien atas nama..." Ucap Gavin genit pada perawat muda yang bertugas di bagian itu.


"Maria Safari." Timpal Nia.


"Ada di ruang rawat VIP nomor 3." Jawabnya.


"Ok, thanks tante." Jawab Gavin sembari mengedipkan mata kanannya membuat ketiga perawat itu salah tingkah.


Penggila wanita. Batin Nia.


"Astaga, ganteng banget sih... Mau dong diajak kawin lari." Ucap perawat A.


"Eh astghafirullahalazim... Pacar lu mau dikemanain??" Ucap perawat B.


"Buang ke kali." Jawab perawat A seenaknya.


"Sepertinya dia halu... Sudah lanjutkan bekerja." Ucap perawat C.


Hahaha... Udah tante tante juga masih aja naksir sama cogan kek gua... Kawin lari, yang ada gua buang ke kali mampus lu. Batin Gavin.


Brukh!!


Lagi lagi Gavin menabrak tubuh Nia yang berhenti mendadak.

__ADS_1


"Astghafirullahalazim, neng bensin abis apa gimana sih?? Berhenti mendadak, oh jangan jangan lo modus ya biar bisa deket deket sama gua... Secara gua ganteng, berkarisma, dan kaya." Ucap Gavin dengan mode narsis tingkat angkut stadium akhir.


"VIP nomor 3 dimana???" Tanya Nia. Nia sangat bingung dengan rumah sakit sebesar itu. Karena biasanya jika ibunya sakit hanya dirawat di puskesmas terdekat.


"Makanya jangan ngambek... Gua cium lagi baru tau." Ucap Gavin menuju ke lift. Sedangkan Nia, ingin sekali rasanya memukul Gavin. Jika saja dia bukan anak dari orang yang menyelamatkan ibunya sudah pasti Nia berani memukulnya.


"Sayang sini masuk.... Mau berdiri disitu sampai kapan?? Sampai jadi j*nda??" Goda Gavin.


"Diam!" Kesal Nia kemudian ikut masuk kedalam lift. Didalam lift ternyata ada sepasang suami istri yang sudah berumur.


"Pacarnya ya dek??" Tanya wanita paruh baya itu.


"Buk—" Ucap Nia terpotong lantaran Gavin merangkulkan tangannya pada pinggangnya.


"Bukan bu, tapi tunangan." Jawab Gavin.


"Wah... Semoga langgeng ya... Kapan nikahnya??" Tanya wanita paruh baya itu.


"Kalau upin ipin sarjanah bu." Jawab Gavin membuat sepasang suami istri itu tertawa kecil.


Ting!


Pintu lift pun terbuka.


"Dasar anak muda zaman sekarang." Ucap wanita paruh baya itu masih tertawa kecil.


"Biarin... Namanya juga lagi kasmaran." Jawab pria paruh baya itu.


Brukh!!


"Akh, sakit sayang." Ucap Gavin saat Nia memukul lengannya.


"Gak usah manggil saya gitu... Jijik tau nggak." Kesal Nia kemudian meninggalkan Gavin.


"Iya bu, gara gara tadi pagi nggak aku kasih jatah jadi ngambek." Jawab Gavin membuat Nia terhenti dan mengepalkan tangannya erat.


Sabar Nia, sabar... Batin Nia kemudian menyeret paksa Gavin. Gavin pun tersenyum menatap Nia yang menariknya. Hingga didepan ruangan Nia melepaskan genggamannya.


"Tuan saya menghormati anda karena anda anak majikan saya... Jadi, saya sangat memohon berhentilah berbicara yang tidak penting... Itu bisa menjadi kesalahpahaman." Ucap Nia.


"Lagian daritadi diem mulu, ya udah gua kerjain lah." Ucap Gavin tak mau kalah. Nia hanya menghela napasnya tidak mau berdebat dengan tuan mudanya itu.


Cklek!


Perlahan Nia membuka pun membuka pintu ruangan. Tampak wanita paruh baya yang tidak lain ibunya duduk diatas ranjang. Tampak Maria menatap putrinya dan tersenyum. Nia pun berjalan mendekat dan memeluk ibunya.


"Ibu, Nia kangen sama ibu... Jangan tinggalin Nia ya bu, ibu harus tetep sehat dan nemenin Nia." Ucap Nia sembari menangis di pelukan sang ibu. Maria pun melepaskan pelukannya perlahan dan menghapus air mata Nia.


"Ibu udah sehat kok sayang... Jangan nangis ya, nanti jelek loh." Ucap Maria. Tatapan Maria beralih pada Gavin yang berdiri dibelakang Nia.


"Sayang siapa ini??" Tanya Maria.


"Tuan Gavin bu... Dia anaknya nyonya Saras." Belum Gavin menjawab, Nia sudah lebih dulu menjawabnya.


"Gavin?"


"Iya tante." Jawab Gavin sopan.


"Ganteng banget kamu nak... Umur berapa??" Tanya Maria.


"Hehehe, tante bisa aja... Baru 20 tahun tan." Jawab Gavin.


"Masih muda ya... Tolong sampaikan ke mama kamu ya... Tante ucapin terima kasih banyak untuk semua ini." Ucap Maria.

__ADS_1


"Pasti tante." Jawab Gavin. Sifat Gavin yang mudah bergaul pun membuatnya semakin dekat dengan Maria walaupun baru bertemu.


Sedangkan dengan Kenzo


Kenzo merasa kesal karena masih dikurung dirumah. Tadinya dia berniat ke rumah Raefal setelah Alina pergi. Namun, sampai saat ini Alina masih dirumah dan tengah bermain air bersama Celani di tepi kolam. Dan itu membuat Kenzo kesal. Namun penasaran akan yang di lakukan Alina, diam diam Kenzo memperhatikannya dari jauh.


"Kakak ipar tau nggak?? Baru kali ini loh kak Ken mau tetep dirumah... Biasanya tuh ya, keluyuran kemana mana." Ucap Celani.


"Begitu ya?? Mungkin karena besok wisuda jadi dia—"


"Bukan itu kak, kak Ken itu ya... Bodoamatan sama tugas wisuda pokoknya yang menyangkut sekolah deh, dia itu hobinya bikin onar... Kakak taulah ya, kan kakak satu sekolah sama kak Ken." Ucap Celani memotong. Dan Alina hanya menganggukan kepalanya pelan sembari mengayunkan kakinya yang terendam air kolam.


Mereka ngomongin apaan sih?? Awas aja kalo Ela ngomong yang nggak nggak. Batin Kenzo. Celani pun menatap Kenzo dan tersenyum.


"Eh kak Ken... Cieee kakak ngawasin." Goda Celani.


"Ogah, kurang kerjaan amat." Ucap Kenzo kemudian hendak pergi.


"Kakak tumben gak keluar, pasti karena kakak ipar kan?? Hayo ngaku." Goda Celani.


"Huh! Kalau aja bukan mommy yang minta, gak bakalan gua mau sama cewek cupu dan kuper kek dia." Ucap Kenzo kemudian pergi tanpa memikirkan perasaan Alina.


"Kak Ken!" Kesal Celani. Dia pun menatap Alina.


"Kakak ipar nggak usah dengerin ya... Dia—"


"Gak apa apa... Toh, yang dia bilang juga ada benarnya." Ucap Alina sembari tersenyum.


"Gak bener... Kakak nggak cupu apalagi kuper... Kakak cantik banget, kak Ken aja yang but—"


"Sttt... Pandangan setiap orang berbeda." Ucap Alina membuat Celani terdiam.


Huh!! dasar kak Ken, aku sumpahin kakak bucin ke kakak ipar dan takluk ditangan kakak ipar... Lihat aja nanti. Batin Celani mengumpat.


"Ela, pacar kamu njemput tuh." Ucap Kenzo berteriak.


"Siapa emang??" Tanya Celani sembari berdiri.


"Si Ashel lah... Siapa lagi." Jawab Kenzo tanpa dosa.


"Sembarangan kalau ngomong... Kakak ipar aku pergi dulu ya... Sampai jumpa." Ucap Celani sembari melambai. Alina pun meresponnya dengan tersenyum. Alina pun menatap kakinya yang terayun ayun didalam air.


"Alzero kayaknya udah kenal lama sama Lala, tapi kenapa Lala kayak nggak kenal ya... Nanti aku tanya Lala apa hubungan mereka... Tapi, mungkin itu privasinya akan lebih baik aku tidak ikut campur." Lirih Alina.


Sedangkan dengan Celani, dia tampak memasuki mobil Ashel setelah bersiap. Celani sempat kagum dengan Ashel yang menepati janjinya. Berbeda dengan dirinya yang mengingkari janji.


"Ashel, nanti jemput temen gua ya." Ucap Celani.


"Ah iya." Jawab Ashel kemudian mengemudikan mobilnya.


"Lo nggak apa apa?? Kok melamun??" Tanya Celani.


"Gak apa apa kok." Jawab Ashel sembari tersenyum. Celani pun meresponnya dengan anggukan kepala.


"Ela, lusa jangan lupa berangkat ke sekolah... Komite guru dan kepala sekolah akan melakukan penilaian kinerja osis sebelumnya... Jadi, kamu datang dan langsung mencalonkan dirimu." Ucap Ashel.


"Benarkah?? Tapi gua gugup Shel... Gimana kalo gua gak keterima lagi??" Tanya Celani.


"Aku yakin kamu akan diterima... Saat aku merekomendasikan kamu sebagai anggota inti, hampir semua guru dan anggota lain menyetujuinya." Jawab Ashel.


Yes, yes, akhirnya... Gua gak nyangka baru deket berapa minggu sama si Ashel, bisa secepet ini capai tujuan gua... Tau gitu kenapa nggak dari dulu gua manfaatin si Ashel ya. Batin Celani.


Besok kakak wisuda, apakah aku boleh datang disana?? Tidak... Tidak... Aku pasti hanya akan membuat kekacauan dengan membuat nyonya marah dan akhirnya bertengkar dengan kakak seperti tadi... Tapi, itu acara penting buat kakak... Apa yang harus ku lakukan... Apa aku meminta saran dari Ela?? Tapi, dia sedang bahagia dengan kabar tadi... Akan lebih baik aku diam dan menyelsaikan masalah ini sendiri. Batin Ashel sembari menatap Celani sekilas.

__ADS_1


__ADS_2