
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
👩💻I Love You Readers❤❤❤❤❤
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
"Yah kalau pun diacak acak juga Ashel gak bakalan marah... Tau nggak si Ashel ini dari dulu hidupnya kayak bahagia banget, gua aja nih gak pernah liat dia nangis apa lagi marah marah." Ucap Calvin sembari merangkul leher sahabatnya.
"Itu sebabnya kita panggil dia daddy, iya nggak Cal." Timpal Devan.
"Hooh, daddy cute." Ucap Calvin sembari mencubit pipi Ashel.
"Kalau gua pukul lo marah nggak Shel??" Ucap Celani.
"Hahaha, lo masih nanya?? Dia gak bakalan marah kok, padahal dia itu kek kak Al... Sabuk hitam taekwondo." Belum Ashel menjawab Devan menyela.
"Hahaha, bisa gitu ya?? Eh Ren, mana si Fanya??" Tanya Celani.
"Tuh dia lagi dipinggir kolam... Dia pengen banget renang padahal dia sendiri gak bawa pakaian ganti." Jawab Renasya.
"Gua jailin lah." Ucap Calvin diam diam mendekat Fanya dari belakang.
"Hiks... Kalau aja gua bawa ganti udah pasti gua renang disini... Si Ashel anaknya siapa sih?? Punya Vila segede dosa gua, kan pengen gua diajak nikah sama dia." Gerutu Fanya sampai tidak sadar Calvin dibelakangnya.
"Dorrrr!!" Kejut Calvin.
"Huwaaaa!!" Teriak Fanya sembari pegangan kaki Calvin.
"Hahaha!!!" Tampak Calvin tertawa keras.
"Bangs*t lo ya!!!" Ucap Fanya membuat Ashel agak tidak nyaman. Baginya seorang wanita tidak baik untuk mengucapkan hal hal kasar.
"Kenapa kagak nyemplung ke kolam aja? Hahaha!!" Ejek Calvin. Fanya pun geram dan bangkit hendak mengejar Calvin. Dan dengan tidak sengaja Fanya menyenggol tubuh Celani membuat Celani terjebur ke kolam.
Byurrr!!!
"Ela!!" Teriak Renasya kaget. Dan Ashel yang tau Celani tidak bisa berenang pun ikut mencebur ke kolam.
Byurrr!!!
Begitu Ashel mendekat, Celani langsung merangkul kan kedua tangannya pada leher Ashel. Ashel pun membawa Celani ke tepi kolam. Dan dengan dibantu Calvin, Ashel naik ke tepi kolam. Saat Ashel hendak mendekat, tampak Farrel lebih dulu mendekati Celani dan membalutkan jaketnya pada tubuh Celani.
"Lo nggak apa apa Cel??" Tanya Farrel.
"Gua gak apa apa, makasih ya." Jawab Celani sembari tersenyum.
"Ela gua minta maaf yah... Gua gak sengaja beneran sumpah." Ucap Fanya sembari mangacungkan kedua jarinya.
"Iya nggak apa apa." Jawab Celani sembari tersenyum.
"Shel lo mau kemana???" Tanya Calvin.
__ADS_1
"Aku mau mengambil handuk untuk Celani, dia sepertinya kedinginan." Jawab Ashel kemudian pergi. Tampak Calvin menatap ke arah Farrel yang sedang berbincang dengan Celani dan lainnya.
Masa iya love triangle lagi?? Dan yang jadi korban pasti Ashel, dia terlalu baik bahkan jika dia disakiti nantinya pasti dia meresponnya dengan senyuman. Batin Calvin. Saat itu tampak Renasya mendekat.
"Cal, mana Ashel??" Tanya Renasya.
"Lagi ambil handuk buat Celani, sekalian ganti baju dia." Jawab Calvin. Tampak Renasya menganggukan kepalanya pelan.
"Lo pasti ngerasa apa yang gua rasain." Ucap Calvin membuat Renasya yang hendak pergi mengundurkan niatnya.
"Maksud lo??" Tanya Renasya bingung.
"Lo ngerasa aneh kan, kenapa Ashel gak langsung ngehampirin Celani padahal tadi dia super khawatir pas nolongin Celani?" Jawab Calvin membuat Renasya mengerti.
"Gua pikir cuman gua yang ngerasain, ternyata lo juga." Ucap Renasya.
"Yah, gua dah lama ngerasainnya sejak Celani dateng.... Gua harap kali ini jangan Ashel yang tersakiti lagi." Jawab Calvin.
"Kali ini?? Maksud lo???" Tanya Renasya ingin tau. Tampak Calvin menatapnya.
"Intinya Ashel udah 2 kali ditolak sama cewek yang dia suka.... Lo tau alasannya?? Karena mereka deketin Ashel cuman manfaatin dia, dan gua benci itu." Jawab Calvin membuat Renasya terkejut.
"Terus reaksinya Ashel gimana??" Tanya Renasya.
"Cuman senyum dan itu bikin gua enek.... Dia itu manusia atau bukan sih kenapa dia gak marah, gak nangis gitu... Kalo gua diposisinya udah gua tampar tuh cewek." Jawab Calvin tampak marah.
Kayaknya Calvin paling deket sama Ashel ketimbang Farrel, kira kira gimana reaksinya saat tau kalo Ela manfaatin Ashel. Batin Renasya. Saat itu tampak Ashel membawa handuk kimono dan secangkir susu jahe.
"Pakailah ini dan jangan lupa diminum biar kamu nggak kedinginan." Ucap Ashel.
"Oke thanks Shel, maaf ngerepotin." Jawab Celani.
"Tidak apa apa, kalian lanjut saja berceritanya aku tinggal sebentar." Ucap Ashel sembari tersenyum kemudian pergi. Tampak Celani dan lainnya menganggukan kepalanya pelan.
"Ngarep jadi orang, yang ada kalo lo ncebur bakalan di tinggal sama kita kita." Jawab Alfa kemudian tertawa kecil.
"Eh kalian ninggalin gua tapi masih ada Ashel, dia kan baik gak jahat kayak kalian." Ucap Fanya menatap Alfa sinis. Dan keduanya akhirnya bertengkar hanya karena hal sepele.
"Ashel." Panggil Renasya membuat Ashel menoleh.
"Iya ada apa Rena??" Tanya Ashel. Tampak Renasya dan Calvin mendekat.
"Gak apa apa sih... Hehehe, sebenarnya gua pengen liat bagian dalem Vila lo tapi gua takut tersesat." Jawab Renasya membuat Ashel tertawa kecil.
"Ayo aku ajak kamu berkeliling.... Sekalian ajak—"
"Gak usah mereka lagi sibuk cerita, mending kita bertiga aja... Gak apa apa kan Shel??" Sela Renasya. Tampak Ashel menatap ke arah Celani sekilas kemudian menganggukan kepalanya.
"Baiklah ayo." Ajak Ashel. Dengan senang hati Calvin dan Renasya mengikuti.
Nih cewek emang beda, dia kayaknya sengaja ngehibur Ashel dengan cara gini. Batin Calvin sembari menatap Renasya yang berjalan didepannya.
Mereka bertiga tampak berhenti di ruang musik pribadi. Tampak ada tiga buah gitar, empat buah biola yang berbeda ukuran, dan sebuah piano dipojok ruangan.
"Shel lo suka musik yah??" Tanya Renasya.
"Iya, sejak kakak ku mengajariku bermain biola." Jawab Ashel.
"Keren tuh, bisa main piano??" Tanya Renasya lagi.
"Sedikit... Kau ingin mendengarnya??" Tawar Ashel sembari tersenyum kaku.
__ADS_1
"Boleh." Jawab Renasya bersemangat. Tampak Ashel berjalan mendekat ke arah piano.
"Lo mau main in lagu apa??" Tanya Calvin.
Tampak Ashel tersenyum sembari menyentuh piano didepannya.
"My Love, lagu kesukaan ku." Jawab Ashel.
"Oke kita bakalan dengerin kok." Ucap Renasya.
Tampak Ashel mulai memainkannya. Terlihat jelas Ashel menghayati setiap nada dari lagu itu. Dan setiap Ashel memejamkan matanya terlintas dalam pikirannya bertanya tanya kapan dia akan bahagia. Hingga lagu berakhir dengan sangat indah.
*Lo itu gak pantes dicintai, lo itu pantesnya dimanfaatin doang sama cewek Ashel.*
Seketika Ashel membelakan matanya mengingat beberapa tahun lalu ada yang mengatakan hal itu.
Prokk. Prokk. Prokk.
Tepukan dari teman temannya membuat Ashel tersadar. Dilihatnya semua teman temannya tengah melihat ke arahnya. Ashel pun bangkit dari duduknya dan menghampiri teman temannya.
"Keren lo Shel salut gua." Puji Renasya.
"Iya Shel, love buat lo." Timpal Fanya. Dan hanya direspon senyuman oleh Ashel.
"Terima kasih." Jawab Ashel.
"Eh udah sore, kita pamit pulang ya Shel... Makasih makan siangnya." Ucap Celani.
"Sama gua juga mo pulang, kangen sama kasur gua yang empuk." Timpal Alfa.
"Hooh gua juga, pokoknya thanks ya Shel... Jangan lupa siap siap buat kemping besok." Ucap Farrel.
"Sama sama, kapan pun kalian mampir aku pasti akan menyambutnya... Besok kumpul di cafe Joy kan??" Jawab Ashel.
"Yup, kita balik dulu ya... Bay Ashel." Pamit Celani.
Ashel pun mengantar mereka sampai keteras dan setelah mereka benar benar pergi Ashel menutup pintu Vila. Dia pun menuju ke kamarnya. Tampak Ashel duduk dibibir ranjang sembari menatap ponselnya yang retak dan mati.
Aku terlalu khawatir pada Ela sampai lupa ada ponsel disaku... Jika tidak terbentur tadi pasti ponsel ini masih berfungsi, besok aku minta Rio memperbaikinya... Ada banyak kenangan disini, semoga saja bisa diperbaiki. Batin Ashel. Dia pun meletakan ponselnya dan membereskan Vila yang agak berantakan.
Di Vila Kenzo
Hari mulai gelap. Tampak Alina mengecek suhu tubuh Kenzo. Sudah cukup lama Alina mengompresnya tapi panas tubuh Kenzo hanya turun sedikit. Alina membuatkan bubur untuk Kenzo. Mengingat ini sudah jam makan malam. Padahal Alina sendiri belum makan malam.
"Ken makan dulu ya... Biar aku suapi." Ucap Alina lembut. Kenzo hanya menganggukan kepalanya pelan. Alina membantu Kenzo untuk duduk bersandar di ranjang. Alina pun menyuapi Kenzo dengan sangat baik.
"Lo udah makan???" Tanya Kenzo dengan suara lemah.
"Belum, aku bisa makan nanti setelah kamu makan." Jawab Alina sembari menyuapi Kenzo lagi.
Biasanya kalo gua kumat gini, cuman tidur di kamar seharian dan gak ada yang peduli... Tapi sekarang, ada yang peduli sama gua padahal tadi gua udah kasar ke dia... Beruntung juga gua nikah sama dia, ya walaupun dia jelek. Batin Kenzo sembari menatap Alina.
Beberapa saat kemudian bubur itu habis tanpa sisa. Alina pun meletakan mangkuk kotornya dan mencucinya setelah dia makan malam. Setelahnya, Alina pun kembali ke kamar. Dan Kenzo tampak gelisah tidak bisa tidur. Alina pun membenarkan selimut Kenzo yang hampir jatuh.
Pasti Kenzo merasa tidak nyaman, apalagi tadi dia meminum bir. Batin Alina khawatir.
Alina pergi ke kamar sebelah untuk menunaikan sholat.
Setelah sholat isya, Alina kembali mengecek suhu tubuh Kenzo. Rupanya sudah sedikit turun dan Kenzo terlihat tertidur nyenyak. Alina menarik sofa dan duduk disamping Kenzo yang terlelap.
"Panasnya sedikit turun, syukurlah." Batin Alina bernapas lega.
__ADS_1
Karena terlalu lelah seharian berkeliling mall dan mengurus Kenzo membuat Alina tertidur dengan kepalanya menyangga di bibir ranjang. Sedangkan tangan kirinya menggegam tangan Kenzo.