
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA๐ ๐๐
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA๐๐
I LOVE YOU READERS๐๐
...๐ฅMHKOT2๐ฅ...
โข16 Tahun Kemudian
Pagi ini tengah ribut oleh si kembar yang berebutan kamar mandi. Kamar mandi Raka tengah direnofasi, itu sebabnya dia nebeng mandi di kamar mandi saudaranya. Sebenarnya, mereka tidak ribut hanya saja Raka menggedur pintu kamar mandi yang mana membuat keributan.
"Heh ngapain aja sih lo?!! Lama banget dah!!" Omel Raka saat Arka keluar dari kamar mandi.
Bammm!!
"Lah bukanya bilang makasih, malah ngegas." Lirih Arka kemudian menuju ke walk in closet, memakai seragamnya.
Setelah rapi, Arka keluar dari kamarnya menghampiri orang tuanya yang tengah menunggunya di ruang makan. Arka menarik kursinya dan duduk berhadapan dengan Alina.
"Sayang kok cemberut gitu??" Tanya Alina saat menaruh nasi pada piring putra bungsunya.
"Tau tuh si abang! Udah Arka kasih nebeng malah ngegas." Jawab Arka sembari mengecurutkan bibirnya.
"Toh kayak gak tau sifat abang kamu aja... Besok udah mulai kepake kok kamar mandinya... Jadi kalian nggak usah ribut lagi." Ucap Alina. Arka tak meresponnya lantaran dia tengah menikmati sarapannya.
"Enzi belum bangun??" Tanya Alina.
"Enta... Palingan lagi telefonan sama kak Kila." Jawab Arka kemudian kembali memasukan sesuap nasi kedalam mulutnya.
"Good morning semua... (Menghampiri Alina dan mencium pipi kanannya.) Morning mom, dad... Morning adik kesayangan 2." Ucap pria berumur 21 tahun itu sembari mengacak acak rambut adiknya.
Iya, orang itu tak lain Kenzie yang kini sudah tumbuh menjadi pria tampan. Disaat ayahnya yang dulu berumur 21 tahun sudah menikah dan memiliki anak, Kenzie justru lebih hobi membuat masalah di kampus dan berpacaran dengan banyak wanita dalam seharinya.
"Bang apaan sih!!! Jadi berantakan kan rambut aku!!" Kesal Arka sembari membenarkan rambutnya.
"Halah berantakan nggaknya juga tetep sama... Si sulung mana??" Tanya Kenzie.
"Cie abang nyariin... Mau di kasih duit bang??" Ucap Raka tiba tiba membuat Kenzie terkejut.
"Lo ya kerjaannya bikin jantung senam lantai." Kesal Kenzie sembari menjitak kening adiknya.
"Duh sakit bang, emang jantung bisa senam ya??" Tanya Raka sembari menghusap keningnya.
"Bisalah." Jawab Kenzie kemudian memakan sarapannya.
"Udah, udah kalian sarapan... Enzi sebelum berangkat ke kampus, jangan lupa ke rumah Oma... Mommy baru bikinin rendang kesukaan Oma jadi kamu yang anter." Ucap Alina.
"Iya mom." Jawab Kenzie singkat. Mereka pun menghabiskan sarapannya masing masing.
"Mommy daddy kita berangkat dulu, Assalamualaikum." Ucap si kembar bersamaan.
"Walaikumsalam, Toni bawa mereka hati hati ya." Ucap Alina pada supir pribadi si kembar.
"Baik nyonya, saya permisi." Jawabnya kemudian pergi. Bertepatan dengan itu, Kenzo keluar dengan stelan kantornya.
"Dasinya miring mas... Bentar." Ucap Alina sembari membenarkan dasi suaminya.
Cup.
Kecupan singkat mendarat pada bibir Alina. Yang mana membuat Alina tersipu malu. Meskipun sering melakukan hal itu atau bahkan lebih, Alina masih saja seperti gadis pemalu saat pertama kali menikah dengan Kenzo.
__ADS_1
"Mas berangkat dulu, kamu baik baik di rumah." Ucap Kenzo.
"Iya mas, hati hati dijalan." Jawab Alina. Kenzo menganggukan kepalanya dan pergi setelah berpamitan dengan sang istri.
"Mommy!!! Mommy!! Enzi berangkat dulu, (Mencium pipi kanan Alina.) Sayang mommy... Assalamualaikum." Ucap Kenzie tampak buru buru pergi.
"Walaikumsalam, jangan ngebut sayang!" Ucap Alina. Kenzie menganggukan kepalanya mengerti dan menaiki motor hitamnya.
"Jangan lupa kasih rendangnya ke Oma!!"
"Iya mommy!!!" Jawab Kenzie kemudian melajukan motornya menjauhi Vila.
Alina tersenyum melihat keluarga kecilnya. Beginilah keseharian Alina bersama sang suami dan ketiga anaknya. Kenzie yang selalu menjaili Raka ketika di rumah, dan Raka kembali menjaili saudara kembarnya karena merasa tak terima. Namun, ada rasa sedih dihatinya. Sahabat yang sudah menjadi saudaranya sampai detik ini belum ditemukan.
Dan Alina kasihan pada Alveno yang sejak kecil ditinggal oleh Lala. Alina merasa ada kejanggalan, jika Lala sudah tiada setidaknya mayat Lala ditemukan. Tapi, sampai sekarang tidak ada satu pun orang yang menemukan Lala. Hanya ponselnya saja, itu pun ditemukan sekitar 17 meter dari lokasi kecelakaan.
Lala, kembalilah.... Kau akan sangat bangga pada putramu yang sudah tumbuh menjadi pria tampan dan cerdas seperti Alzero. Batin Alina.
Di Vila Dicko
Kenzie memakirkan motornya dan menghampiri wanita tua yang tengah menyirami tanaman dihalamannya. Wanita tua itu tak lain Lina. Alasan Kenzie berangkat lebih cepat agar dia bisa menghabiskan waktu dengan neneknya itu. Karena jika dia tetap di rumah, Alina pasti menceramahinya.
"Oma!!!" Panggil Kenzie sembari mendekat ke arah Lina dan seperti biasa mencium pipi kanan Lina yang mulai mengeriput.
"Uh cucu kesayangan Oma, tumben kesini... Nggak bikin onar di kampus??" Tanya Lina membuat Kenzie terkekeh.
"Ayolah Oma, apa aku terkenal hanya dengan keonaranku?? Bukankah aku tampan Oma??" Ucap Kenzie membuat Lina tersenyum dan mencubit pipi Kenzie.
"Jangan nakal, kasihan mommy sama daddy kamu." Ucap Lina.
"Siap Oma, oh iya Oma... Ini rendang kesukaan Oma, mommy yang bikin buat Oma dan titipin ke Enzi." Ucap Kenzie sembari memberikan kotak makanannya pada Lina.
"Wah enak nih, ayo masuk... Masih pagi, kamu pasti berangkat lebih siang lagi kan berangkatnya?? Hanya orang rajin yang berangkat jam segini." Ucap Lina.
"Oma, aku berangkat dulu... Assalamualaikum." Pamitnya sembari mencium punggung tangan Lina.
"Walaikumsalam, hati hati sayang." Ucap Lina sembari menatap punggung gadis itu menjauh.
"Oma... Dia siapa??" Tanya Kenzie sembari menatap ke arah dimana gadis itu pergi.
"Loh kamu lupa?? Pasti karena sekarang jadi lebih cantik kan??" Ucap Lina terkekeh melihat wajah Kenzie yang tampak terkejut.
"Ayolah Oma, hanya Kila wanita tercantik didunia ini." Ucap Kenzie merengek.
"Hahaha, terserah kamu saja... Dia Rasya, anak yang kamu bully sejak kecil." Jawab Lina. Dan sesuai dugaan wajah Kenzie memacarkan wajah keterkejutan.
Hah?? Hahaha, nggak mungkin dia si anak jelek itu. Batin Kenzie tersenyum sinis.
"Kalau nggak percaya, tanya aja sama Opa... Toh pas Rasya pulang dari Bandung, kamu nggak pernah kesini... Pantesan aja pangling." Ucap Lina mengejek.
"Apaan sih, siapa yang pangling?? Orang dari mukanya aja keliatan dia anak jelek itu." Ucap Kenzie kemudian masuk mendahului Lina.
Inilah alasan Oma minta Rasya sekolah di Bandung... Karena Oma ingin membuatmu kagum padanya dan melupakan Kila... Bagaimana pun, Kila hanya fokus pada karirnya menjadi designer dan sudah pasti tidak bisa mengurus Kenzie kedepannya. Batin Lina sembari menatap punggung kekar Kenzie.
Di Kampus
Daffin tampak menatap arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Dia berdecak kesal saat Kenzie maupun Revan belum juga datang. Yang mana membuat Daffin canggung pada Alveno yang fokus membaca itu.
Serasa duduk sama mayat sumpah... Astghafirullahalazim. Batin Daffin.
"Mau r*kok Ven??" Tawar Daffin.
__ADS_1
"Tidak." Jawabnya singkat tanpa teralihkan perhatiannya.
Daffin memasukan kembali kotak r*koknya kedalam saku celananya kemudian menyalakan r*kok tersebut dan mulai menyesepnya. Saat ini Daffin dan Alveno berada diparkiran belakang kampus yang sudah pasti aman untuk mer*kok.
"Sorry gua telat, mama minta dianter ke butik soalnya." Ucap Revan sembari mengatur napasnya.
"Nah dateng juga lo R, tumben nyokap lo dianter lo... Your daddy kemana??" Tanya Daffin.
"Papa keluar kota, jadi gua yang nganter... Si Enzi belum dateng??" Tanya Revan.
"Belom, lagi sayang sayangan kali sama si Kila." Jawab Daffin dan keduanya pun tertawa kecil.
"Akhir pekan kita ke puncak yok... Mumpung libur." Usul Daffin.
"Ya gua si setuju setuju aja... Si Enzi gimana?? Dia kan anak mami." Ucap Revan.
"Lah emang lo anak bapak??" Ucap Daffin sembari mengerutkan keningnya.
"Ish lo mah." Kesal Revan membuat Daffin tertawa dan merangkul leher sahabatnya.
"Jangan marah dong, lo kan bontot harus hormat dikitlah sama yang tua." Ucap Daffin sembari mengacak acak rambut Revan.
"Berat bege!! Berapa ton sih bobot lo??" Kesal Revan.
"Cie... Cie si bontot ngambek." Ucap Kenzie begitu datang.
"Nah dateng juga lo Enzi... Darimana aja lo??" Tanya Daffin. Tampak Kenzie merogoh saku Daffin dan mengambil r*koknya.
"Ke rumah Oma, nganterin rendang." Jawab Kenzie.
"Wih enak tuh... Napa gak bawa dikit buat gua??" Ucap Daffin.
"Ogah, kagak peduli gua... Udah kalian diem gua mo nenangin diri." Ucap Kenzie.
"Lo kenapa emang?? Kagak biasanya lo badmood gini... Adek l*knat lo bikin onar lagi?? Atau uang jajan lo dipotong lagi ama nyokap??" Tanya Daffin bertubi tubi.
"Bukan itu... Udahlah lo mana paham." Ucap Kenzie sembari menatap langit biru nan cerah itu.
"Keknya ada masalah sama si Kila." Ucap Revan berbisik pada Daffin.
"Hooh, mending kita diem aja... Daripada kena marah." Ucap Daffin dan diangguki setuju oleh Revan.
Gua gak nyangka kalo si Rasya secantik itu sekarang. Batin Kenzie.
Yahooo Penasaran gak nih ama visualnya??? Okelah adek kasih๐๐๐
(Kenzie Azura Zaryana๐๐๐ป)
(Si kembar, sebelah kiri yang lagi berdiri Arka... Yang lagi duduk Raka ya๐๐๐ป.)
(Daffindra Farez Saputra๐๐๐ป.)
(Revan Putra Faresta๐๐๐ป.)
__ADS_1
(Alveno Zixyarnazo Caesar๐๐๐ป.)