My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
Season 2 Episode 19


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MHKOT2🥀...


Di Kampus


Entah mengapa Kenzie dalam suasana hati yang baik. Melihat hal itu pun membuat Daffin dan Revan menatapnya heran. Pasalnya, Kenzie tidak pernah berangkat sepagi ini sebelumnya.


"Keknya lo lagi happy nih." Ucap Revan. Tampak Kenzie duduk disamping Revan dan menatapnya sekilas.


"Gak juga... Gua mo putus sama Kila." Jawab Kenzie.


"Hah?? Kenapa??" Tanya Daffin dan Revan bersamaan.


"Dia selingkuh sama artis... Dikira gua gak sabar apa?! Selama ini di kasih harapan palsu." Jawab Kenzie.


"Yah sabar aja... Toh dia penggila karir... Cari aja yang laen." Ucap Daffin menghibur.


"Setuju." Jawab Revan.


"Nah berhubung lo cari yang lain... Rasya buat gua aja." Ucap Daffin membuat Kenzie menatapnya tajam. Daffin memang sengaja menguji sahabatnya itu.


"Loh kok ngamok... Bukannya lo benci mati ya sama dia." Goda Daffin sembari merangkul leher sahabatnya.


"Apaan sih! Cewek jelek kayak dia gak cocok buat lo." Ucap Kenzie. Membuat Revan dan Daffin terkekeh.


"Tenang aja, Rasya bukan tipe gua kok." Jawab Daffin.


"Emang tipe lo gimana??" Tanya Kenzie.


"Janda." Jawab Daffin santai.


"@njir!!" Ucap Kenzie sembari menepuk bahu Daffin kasar.


"Bercanda bege... Tipe gua tuh yang penting nurut sama gua dan masih perawan tentunya." Jawab Daffin.


"Sialan! Kalo si bontot??" Tanya Kenzie sembari menatap Revan.


"Hah?? Gua?? Gua belum mikir soal itu." Jawab Revan polos. Yang mana membuat Kenzie merangkul leher sahabatnya dan menjitak kening Revan.


"Lucu deh, jadi pengen bunuh." Ucap Kenzie.


"Sakit bege!! Dikira beton apa?!!" Kesal Revan.


"Uwu jangan marah dong... Oh iya, Veno belum berangkat??" Tanya Kenzie.


"Belom... Eh, besok kan Veno jadi Presdir tuh... Kayaknya gak bakalan berangkat kuliah." Jawab Daffin.


"Dia bakalan tetep berangkat... Gua paham betul sifatnya." Ucap Kenzie.


"Ya gitu deh... Ntar malam gua ke club, ikut kagak??" Tawar Daffin.


"Ikut." Jawab Kenzie dan Revan bersamaan.


"Good, tapi bawa motor sendiri... Biar gampang kaburnya." Ucap Daffin dan diangguki oleh kedua sahabatnya.


"Eh Enzi, si kembar bentar lagi ultah... Mereka suka apa??" Tanya Revan.


"Bawa aja Mia sama Fatimah." Jawab Kenzie santai.


"Napa bawa adek gua bangs*t!" Ucap Daffin.


"Ya Raka kan sukanya ama adek lo... Bucin parah dia... Kalo Arka apalagi, dia bisa ngelupain Opa koreanya kalo udah ketemu sama Fatimah." Jawab Kenzie.


"Heran... Adek gua kan kek batu, ada gitu yang suka??" Ucap Daffin sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Lah daripada adek gua... Cerewetnya minta ampun, keturunan mama banget sih apalagi kalo gua mo pergi... Bah!! Ribet urusannya." Ucap Raefal mengingat Messy selalu ingin ikut kemana pun dia pergi.


"Kan Messy sama Chika satu server." Ucap Kenzie menyebut nama sepupunya yang tak lain anak dari Celani dan Ashel.


"Yah semua cewek sama aja... Cuman adek gua yang beda... Meskipun dia kek batu, dia tetep adek gua... Jadi kalo ada yang macam macam bakalan gua bunuh dia." Ucap Daffin.


"Menurut kalian gimana rasanya kalo married gegara dijodohin??" Tanya Revan tiba tiba.


"Mommy sama Daddy gua dijodohin... Yah kata Oma, Daddy sok jual mahal... Eh pas ditinggal mommy pergi nangis nangis." Jawab Kenzie santai.


"Kalo lo tiba tiba dijodohin, lo bakalan kayak daddy lo??" Tanya Revan.


"Kagak lah... Habis nikah gua grepe dia ya nggak Fin??" Ucap Kenzie sembari melirik Daffin.


"Hooh, lumayan dapet kesenengan sama dapet pahala pula... Tumben lo nanya gitu??" Tanya Daffin. Membuat Revan menghela napas panjang dan menundukan pandangannya.

__ADS_1


"Gua dijodohin."


"Apa?!!!" Teriak keduanya bersamaan membuat mahasiswa yang diparkiran menoleh.


"Nj*r... Zaman apa sekarang masih dijodohin?? Tapi nggak apa apa sih... Grepe aja dulu." Ucap Daffin membuat Revan memutar bola matanya malas.


"Tergantung."


"Kenapa lo bisa dijodohin??" Tanya Kenzie.


"Mama dulu punya temen di Bandung... Karena deket, pas gua sama anak temen mama lahir... Mama rencana jodohin gua... Tapi Papa belum setuju... Terus suami temen mama meninggal dan minta biar Papa gua setuju... Yah, wasiat dari orang meninggal Papa nggak bisa nolak." Jawab Revan seakan pasrah.


"Sabar ya bontot... Jodoh kagak ada yang tau... Jadi... (Merangkul leher Kenzie dan Revan.) Mari kita party di club... Menikmati hidup selagi masih muda." Ucap Daffin.


"Let's go!!!" Ucap ketiganya bersemangat.


"Kemana??" Tanya Alveno tiba tiba membuat ketiganya terkejut.


"Ya Allah Ven... Jantung gua senam zumba gegara lo." Ucap Daffin sembari menghusap dadanya. Ketiganya terdiam saat melihat sosok gadis yang bersembunyi dibelakang Alveno.


"Ven dia siapa??" Tanya Daffin.


"Lili... Lili, dia Daffin... Revan... Dan Kenzie.... Mereka bertiga sahabat ku." Jawab Alveno memperkenalkan.


"Halo kak." Ucap Liasya lembut.


Papa!!! gua pengen nikah sama Lili. Batin Daffin.


Fiks, dia jodoh gua yang ketuker di perempatan gang. Batin Kenzie.


Gua mau kawin lari sama Lili. Batin Revan. Melihat ketiga sahabatnya terdiam, Alveno menendang kaki Daffin membuat Daffin tersadar.


"Hehehe... Salam kenal cantik, gua Daffin... Pangeran piano di kampus ini." Ucap Daffin. Dia kesal saat Kenzie mendorongnya menjauh.


"Gua Kenzie, Pangeran basket di kampus ini." Ucap Kenzie. Dan dia di buat kesal saat Revan mendorongnya pergi.


"Gua Revan... Pangeran seribu hati." Ucap Revan.


"Minggir bontot gua duluan—" Ucap Daffin hendak menjabat tangan Liasya.


"Gua duluan—" Ucap Kenzie.


"Gua duluan—" Ucap Revan.


"Tapi mereka bertengkar kak—"


"Biarkan saja." Ucap Alveno kemudian membawa Liasya pergi.


"Eh... Eh, Veno jodoh gua mau dibawa kemana?!! Woy!!" Panggil Daffin.


"Fiks, dia jodoh gua." Ucap Kenzie.


"Dia calon bini gua." Ucap Revan. Ketiga pria muda itu pun pergi menyusul Alveno.


"Kak kenapa Lili ikut??" Tanya Liasya. Pasalnya, Lala tidak mengatakan mengenai kuliahnya.


"Hari ini kamu kuliah disini... Jangan khawatir, jika ada yang macam macam padamu temui aku." Jawab Alveno.


"Tapi ibu bilang aku di SMA, kenapa tiba tiba di kampus??" Tanya Liasya bingung. Yang mana membuat Alveno terdiam. Pasalnya, Alveno sendiri yang meminta pada Lala agar Liasya bersama dengannya.


"Entahlah." Jawab Alveno membuat Liasya menganggukan kepalanya pelan.


Sedangkan dengan Rasya


Rasya tengah duduk bersama dengan Lina ditaman belakang. Senang rasanya bisa kembali dikebiasaan biasa. Rasya menatap Lina yang mendekat ke arahnya dengan membawa buah pear yang sudah dikupas dan dipotong potong.


"Terima kasih Oma... Oma yang membelinya??" Tanya Rasya.


"Tidak, tadi tetangga depan rumah yang kasih... Toh kebetulan kamu suka pear, jadi Oma ambil." Jawab Lina. Rasya menganggukan kepalanya mengerti dan memakan buah pear favoritenya.


"Oh iya Oma, Arka bilang mau kesini habis sekolah... Katanya mau nginep disini." Ucap Rasya.


"Hehe, dia cuman ada maunya... Toh dia paling nggak suka di rumah Oma." Jawab Lina sembari tersenyum.


"Maksud Oma??" Tanya Rasya bingung.


"Arka dari dulu suka sama Fatimah... Itu gadis yang pake jilbab, tapi yah... Sifatnya mirip sama ayahnya, gengsi." Jawab Lina membuat Rasya menggelengkan kepalanya pelan.


"Rasya, Oma mau bilang sesuatu ke kamu." Ucap Lina dengan wajah serius.


"Kenapa Oma?? Sepertinya sangat serius." Jawab Rasya sembari menatap Lina.


"Kamu tau permintaan terakhir kakek kamu?? (Rasya menggelengkan kepalanya.) Oma nggak akan berbelit... Kakek kamu minta agar kamu nikah sama Kenzie... Apa kamu setuju nak??" Tanya Lina yang mana membuat Rasya terdiam.


"Tapi kak Enzi benci sama Rasya... Kak Enzi juga—"

__ADS_1


"Dia akan setuju... Percaya pada Oma, Opa dan keputusan almarhum kakek kamu." Ucap Lina meyakinkan Rasya.


"Mau kan sayang?? Toh bulan depan akhir semester." Ucap Lina lagi. Yang mana membuat Rasya menundukan pandangannya dan menganggukan kepalanya pelan.


"Rasya mau Oma." Jawab Rasya membuat Lina tersenyum dan memeluk Rasya.


"Oma seneng dengernya... Percaya sama Oma, Enzi nggak akan lukai kamu." Ucap Lina dan Rasya hanya menganggukan kepalanya mengerti.


Kakek, apa ini takdir Rasya?? Batin Rasya.


"Oma!!!" Panggil Arka begitu datang. Yang mana membuat Rasya dan Lina menoleh.


"Ada apa??" Tanya Lina.


"Sarung sama peci Arka mana Oma?? Cepetan, keburu adzan dzuhur." Jawab Arka.


"Tumben kamu mau sholat di masjid?? Toh biasanya sholat di rumah aja susah." Ucap Lina.


"Ya kan si Hawanya Arka ada di masjid Oma." Jawab Raka membuat Arka mendengus kesal.


"Tanya Opa sana." Ucap Lina dan secepat kilat Arka masuk kedalam Vila.


"Loh kamu nggak ikut Arka?? Sekalian sholat??" Tanya Lina saat Raka dengan santainya duduk disampingnya.


"Lagi halangan." Jawab Raka santai.


"Hah??"


"Halangan males Oma... Ntaran ajalah... Kak korea juga nggak siap siap, pasti halangan kan??" Tanya Raka yang mana mendapatkan jeweran dari Lina.


"Gak sopan bilang gitu... Oma masuk dulu, nggak sholat nggak Oma kasih uang jajan." Ancam Lina.


"Iya Oma..." Jawab Raka. Lina pun pergi meninggalkan Rasya dan Raka.


"Kakak sakit karena ulah abang kan??" Ucap Raka tiba tiba. Yang mana membuat Rasya menoleh.


"Maksud kamu??" Tanya Rasya. Yang mana membuat Raka menghela napas panjang dan mengambil buah pear kemudian memakannya.


"Cuman tebak aja, toh sejak kakak kecil abang yang selalu bikin kakak sakit." Jawab Raka. Yang mana membuat Rasya terdiam. Dibalik sifat Raka yang jail dan petakilan, dia juga paham memahami dan memerhatikan seseorang.


"Tapi kakak jangan nganggep abang itu benci sama kakak... Yah, ini cuman pandangan Raka... Mungkin aja abang suka dan takut kalo pas dia ungkapin kakak tolak... Jadi buat nutupin itu, abang pura pura benci deh sama kakak." Ucap Raka.


"Abang ikut sholat gak??" Teriak Arka.


"Kagak, udah sana berangkat." Jawab Raka. Arka pun pergi sebelum sang pujaan hati pergi.


"Kenapa kamu berpikir begitu??" Tanya Rasya.


Yang mana membuat Raka tersenyum dan menyandarkan punggungnya pada kursi. Dia melipat kedua tangannya didepan dada dan menatap langit biru yang cerah.


"Karena Raka ngalemin itu sekarang kak." Jawab Raka.


"Jadi kamu berpikir begitu?? (Raka menganggukan kepalanya.) Tidak semua orang begitu Raka, mungkin itu terjadi padamu... Tapi belum tentu pada abang kamu." Ucap Rasya sembari mencubit hidung mancung Raka.


"Hehehe, iya juga yak." Ucap Raka sembari tersenyum canggung. Sejak dulu Raka dan Arka selalu ingin memiliki kakak dan adik perempuan. Jadi, jangan heran jika Raka maupun Arka terbuka pada Rasya.


"Kamu mengalami itu?? Kamu menyukai seseorang??" Tanya Rasya.


"Iya... Dia adik temennya abang... Dia cantik, pinter tapi pendiam... Susah diajak bicara, tapi dia nggak sombong kok." Jawab Raka. Rasya meletakan piringnya dan menatap Raka.


"Siapa memangnya??" Tanya Rasya.


"Mia." Jawab Raka sembari tersipu malu. Pasalnya ini pertama kalinya Raka mengakuinya. Toh, biasanya Raka memutar balikan fakta dan bilang jika Mia yang menyukainya.


"Baguslah... Sudah mengatakan perasaanmu padanya??" Tanya Rasya.


"Belum kak, Raka malu dan takut... Soalnya kakaknya Mia itu ngelindungi banget... Ntar Raka ditonjok ama dia." Jawab Raka membuat Rasya menganggukan kepalanya pelan. Saat itu terdengar suara motor memasuki halaman. Dan Raka mengumpat begitu tau jika itu Kenzie.


"Raka daddy nyuruh kamu pulang... Ayo pulang." Ucap Kenzie.


"Raka pulang sama Arka aja ntar." Jawab Raka.


"Sekarang!! Ntar mampir ke supermarket beli cemilan." Ucap Kenzie sembari menarik turunkan alisnya. Dia sengaja meminta Raka pulang agar nanti malam dia mudah untuk pergi ke club.


"Beneran bang?? Yoklah gass!!" Ucap Raka bersemangat. Kedua kakak beradik itu pun pergi.


"Kalian mau kemana??" Tanya Lina yang masih memakai mukna.


"Pulang Oma, Assalamualaikum." Jawab keduanya kemudian pergi. Lina hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap kedua cucunya.


"Walaikumsalam... Mereka ini... Rasya ayo pilih gaun buat pernikahan kamu." Ajak Lina dengan wajah berbinar.


"Secepat itu Oma??—"


"Iya dong sayang... Sekalian pilih gaun buat besok malam." Ucap Lina kemudian menarik tangan Rasya untuk duduk bersamanya dan memilih gaunnya.

__ADS_1


__ADS_2