My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
Season 2 Episode 40


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕



...🥀MHKOT2🥀 ...


Di sebuah cafe.


Di saat si kembar sibuk melacak siapa yang ingin mengusik keluarga Azura. Kenzie justru enak enakan berduaan dengan Rasya. Dia ingin menikmati masa pacarannya sebelum menikah.


"Habis ini kita kemana kak??" Tanya Rasya.


"Kemana aja asal berdua." Jawab Kenzie yang mana membuat Rasya tersipu malu.


"Astaga, lo masih aja malu malu... Gemes deh." Ucap Kenzie sembari mencubit pipi Rasya.


"Kakak ih!" Kesal Rasya yang mana membuat Kenzie tertawa kecil. Hingga mata Rasya tak sengaja menatap seseorang.


"Kak, itu bukannya temen kakak ya??" Tanya Rasya. Kenzie pun menoleh menatap arah yang Rasya tunjukan.


"Papih Veno!! Come here!!" Panggil Kenzie. Yang mana membuat Alveno dan Liasya mendekat.


"Halo Lili." Sapa Rasya.


"Halo Rasya." Jawab Liasya kemudian duduk disamping Rasya.


"Kalian sudah memesan??" Tanya Alveno sembari melihat lihat buku menu.


"Belum... Baru duduk juga, kita samaan aja." Jawab Kenzie. Dan mereka pun memesan menu yang sama.


"Habis ini kalian mau kemana??" Tanya Kenzie.

__ADS_1


"Taman kota, kak kita pergi bareng ya." Jawab Liasya kemudian memohon pada Alveno.


"Bravo Lili... Kita menjadi dua pasang kekasih yang sedang berkencan." Ucap Kenzie.


"Kencan??" Tanya Liasya.


"Bukan apa apa, baiklah kita pergi bersama." Jawab Alveno sembari menghusap puncak kepala Liasya.


Gua baru liat si Veno kek gini... Baguslah, gua seneng liatnya. Batin Kenzie.


Setelah menikmati menu pesanannya, mereka pun menuju ke taman kota bersama. Taman kota tempat favorite khususnya para anak muda yang sudah memiliki kekasih.


"Rasya ada bunga tulip, ayo kita lihat." Ajak Liasya sembari menggandeng tangan Rasya pergi. Sesaat Alveno tersenyum melihat wajah bahagia Liasya.


"Lo udah ungkapin perasaan lo ke Lili??" Tanya Kenzie yang mana membuat Alveno menatapnya. Dari tatapannya seolah Alveno bertanya bagaimana dia bisa tau jika Alveno menyukai Liasya.


"Sante ae Ven, dari cara lo perhatian ke Lili udah keliatan kok... Secara lo tipe orang yang gak gampang peduli ke orang kecuali orang itu yang lo sayang atau sahabat lo." Jelas Kenzie. Alveno terdiam menatap Liasya yang sedang bermain kupu kupu dengan Rasya.


"Dia perlu waktu." Jawab Alveno singkat.


"Baiklah, lepaskan!" Ucap Alveno sembari menapis tangan Kenzie.


Tuh kan, papih dah dapet calon mamih jadi pilih kasih. Batin Kenzie.


"Kak kita ke taman mawar... Ayo kak." Rengek Liasya sembari menarik Alveno pergi. Dia kesal saat Alveno menceghatnya untuk tidak memetik bunga tulip itu.


"Kak kita—"


"Jangan, biarkan Veno dan Lili berdua... Kita juga berdua." Goda Kenzie dan mendapatkan cubitan dari Rasya. Rasya tersenyum jail dan berlari pergi.


"Oh, mau main tangkap tangkapan rupanya." Ucap Kenzie kemudian mengejar Rasya. Dan Kenzie menarik tangan Rasya kemudian memeluknya dari belakang.


"Kena lo! Mau coba kabur hmm??" Ucap Kenzie sembari menghujani pipi Rasya dengan ciuman.


"Hehehe, nggak berani lagi kak... Lepasin ih, Rasya malu." Ucap Rasya.

__ADS_1


"Cium bibir dulu."


"Nggak mau."


"Oh nggak mau?? Mumpung sepi, ayo cium." Ucap Kenzie. Rasya membalikan tubuhnya dan mencium bibir Kenzie sekilas. Kenzie tidak menyianyiakan hal ini. Dia menarik tengkuk Rasya dan memperdalam ciumannya.


"Kakak malu ih, diliatin banyak orang." Ucap Rasya sembari menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Kenzie.


"Biar semua tau kalo lo punya gua." Ucap Kenzie dengan bangganya. Rasya hanya memukul kecil dada Kenzie membuat Kenzie terkekeh.


Sedangkan dengan Alveno. Dia melihat wajah cantik Liasya yang sangat menyukai harum bunga mawar itu. Dia pun memetik salah satu bunga mawar.


"Lili." Panggil Alveno. Liasya menoleh yang mana membuat Alveno membuka ikatan rambut Liasya. Terurai sudah rambut panjang Liasya, Alveno menyelipkan bunga mawar itu ke sela telinga Liasya. Cantik. Alveno menyukainya.


"Tuh kan, kakak juga petik... Katanya diomelin pemerintah... Kakak bohongin Lili... Kakak boh—Humpphh!" Ucapan Liasya terjeda lantaran Alveno mencium bibirnya. Cukup lama, dan Alveno baru melepaskan ciumannya saat Liasya kehabisan napas.


"Kakak ih!" Kesal Liasya yang mana membuat Alveno tersenyum.


"Maaf, maaf... Ayo pulang... Bunda dan ayah pasti mencari kita." Ucap Alveno.


"Gak mau, Lili malu." Ucap Liasya sembari memanyunkan bibirnya. Alveno gemas dan memanggul tubuh Liasya layaknya karung beras.


"Aaaa!! Turunin kak!!! Kakak!!!" Ucap Liasya sembari berusaha memberontak. Namun tetap saja, kekuatan Alveno lebih besar tentu pukulan kecil Liasya tidak mempan untuk Alveno.


...🥀🥀🥀...


Seharian ini Revan tidak keluar kemana mana karena permintaan Elina. Seperti saat ini, Elina bermanja meminta Revan membacakan dongeng sembari menghusap kening Elina. Revan menurutinya, sampai akhirnya Elina tertidur.


"Akhirnya Cinderella pun hidup bahagia dengan pangeran... Tamat... Loh udah tidur." Ucap Revan. Dia menarik selimut, menyelimuti Elina yang sudah tertidur.


Kalau dilihat lebih dekat, Eli memang cantik. Batin Revan tanpa sadar membelai wajah Elina dan turun ke bibir merah alami Elina.


"Gua pernah ngerasain bibir merah ini... Manis." Ucap Revan sembari tersenyum.


Apa gua bisa nerima lo?? Tapi liat lo gini, gua pokoknya berusaha nerima lo. Batin Revan.

__ADS_1


__ADS_2