
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
👩💻I Love You Readers❤❤❤❤❤
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
2 Bulan Kemudian
Sinar mentari pagi masuk melalui sela sela korden. Membuat seorang pria muda itu terusik dan perlahan membuka matanya. Pria muda itu tak lain Kenzo yang masih setia dengan tidurnya dan terbangun begitu mendapat sapaan dari mentari pagi. Dengan malas, Kenzo menuju ke kamar mandinya untuk mencuci mukanya.
"Gak heran gua jadi cassanova di kampus, ternyata gua ganteng juga ya." Puji Kenzo menatap wajahnya dari pantulan cermin.
Dia pun keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya. Tampak seorang wanita yang berstatus sebagai istrinya itu tengah menata buku bukunya yang akan dibawa ke kampus. Wanita itu tak lain Alina yang sangat sabar menghadapi suami narsisnya.
"Cupu keringin rambut gua." Ucap Kenzo sembari duduk didepan meja rias. Tanpa menjawab Alina langsung mengeringkan rambut Kenzo dengan handuk kecil.
"Lo ada jadwal pagi??" Tanya Kenzo sembari menatap istrinya dari pantulan cermin.
"Iya." Jawab Alina singkat.
"Jalan kaki??" Tanya Kenzo.
"Iya... Lagi pula jarak kampus sangat dekat." Jawab Alina.
2 bulan sudah paska pernikahan tapi Alina masih saja merasa canggung dan takut. Berbeda dengan Kenzo yang terbuka dan suka menjaili istrinya. Meskipun sikap manja dan kekanak kanakannya masih ada dalam dirinya. Dan sampai detik ini, Kenzo yang gengsi tidak meminta haknya.
Padahal hampir beberapa kali dia melakukannya. Tapi dengan sekuat tenaga Kenzo menahannya untuk tidak menyentuh Alina. Ya, meskipun hampir setiap malam Kenzo diam diam memberikan tanda pada leher jenjang istrinya. Dan enggan mengakuinya meskipun Madira sudah menangkap basah dirinya.
"Sudah kering, aku dan oma menunggumu di meja makan." Ucap Alina sembari memakai kacamatanya dan menggendong tasnya kemudian pergi keluar.
"Yah udah kabur, baru mau gua jailin." Lirih Kenzo sembari terkekeh. Dia pun memakai pakaiannya dan keluar dari dalam kamar. Dilihatnya Madira dan Alina tengah duduk di meja makan.
"Pagi oma." Sapa Kenzo sembari menarik kursi untuknya duduk.
"Pagi Kenken... Kamu ada jadwal pagi juga??" Tanya Madira.
"Ya oma... Hampir setiap hari ada jadwal pagi, belum lagi aku harus melatih tim basketku... Benar benar membosankan." Jawab Kenzo kemudian meminum susunya.
"Setidaknya ada kegiatan... Tidak hanya terus menggoda istrimu." Ucap Madira.
"Oma..." Rengek Kenzo membuat Madira terkekeh.
"Hahaha, sudah lah lambat laun cucu ku pasti mengakuinya... Habis kan sarapannya jangan lupa berdoa sebelum berangkat." Ucap Madira.
"Ya oma." Jawab sepasang suami istri muda itu bersamaan.
Dengan pengawasan Madira, Kenzo kini sedikit berubah. Ya meskipun membuat onar di kampus dan kabur ke club masih ada dalam dirinya. Setidaknya dengan pengawasan Madira, Kenzo berubah menjadi sedikit dewasa dan memperlakukan Alina dengan baik.
"Aku berangkat dulu oma." Pamit Kenzo sembari mencium pipi kanan Madira yang sudah mengeriput.
"Hati hati Kenken." Jawab Madira. Kenzo hanya menganggukan kepalanya kemudian memakai sarung tangannya.
__ADS_1
"Alina berangkat dulu oma, Assalamualaikum." Pamit Alina sembari mencium punggung tangan Madira. Dan Madira membalasnya dengan mencium kening Alina.
"Walaikumsalam, hati hati dijalan sayang." Ucap Madira. Alina menganggukan kepalanya pelan kemudian pergi.
"Shitt!! Cupu!!" Panggil Kenzo dengan nada lirih. Alina pun menoleh menatap suaminya yang sudah menaiki motornya.
"Inget... Jaga jarak, jangan sampai ada yang tau kalau lo itu istri gua." Ucap Kenzo mengingatkan.
"Aku mengerti." Jawab Alina. Inilah penderitaan bagi Alina yang belum diakui istri oleh Kenzo. Di kampus Kenzo berpura pura tidak mengenal Alina dan dekat dengan wanita lain.
"Istri berbakti gitu dong." Ucap Kenzo kemudian menjalankan motornya.
Sesampainya di Kampus
Tampak Gavin dan Raefal menunggu Kenzo diparkiran. Kenzo turun dari motornya dan menghampiri kedua sahabatnya itu. Gavin dan Raefal pun menatap ke arah pria yang dia tunggu.
"Dateng juga lo, lama kita tunggu." Ucap Gavin.
"Ya maap, gua kan biasa berangkat jam segini... Si Al belum nyampe???" Tanya Kenzo.
"Biasa dia lagi jemput si Lala, bucin berat dia... Eh lo gak lupa kan kalau besok si Al ultah." Jawab Gavin.
"Bapak kita ultah masa lupa... Masalahnya nih ya, kita mau kado apa?? Si Al tinggal telefon Rio buat beli yang dia mau 15 menit dah nyampe." Ucap Kenzo.
"Nah itu masalahnya... Dia terlalu holkay, bikin iri aja." Sahut Raefal.
"Hooh, sebenarnya dia itu siapa sih??" Ucap Gavin. Suasana hening sampai Alina melewati mereka.
"Eh Ken bini lo lewat tuh." Ucap Gavin.
"Lah gua harus ngapain b*go!" Sewot Kenzo.
"Ya elah ni anak gak ada romantis romantisnya sama bini, berangkat bareng kek... Dic*um gitu keningnya kek si Al sama Lala." Ucap Gavin membuat Kenzo memutar bola matanya.
"Halah, waktu itu kita pergokin lo yang ganas banget sama Alina... Dan gua yakin, Alina pake syal itu pasti karena lo kan yang tiap malem ganasin si Alina." Ucap Gavin.
"Ya gua ngelakuin itu kan normal, n*fsu seorang cowok... Gua ngelakuin hal itu ke dia cuman karena n*fsu bukan cinta... Sampe sekarang gua belum tuh nyentuh si cupu." Ucap Kenzo santai.
"Ntar lo bucin baru tau." Ucap Gavin lirih.
"Apa lo bilang?!!"
"Nggak, tadi ada janda lewat." Elak Gavin dan mendapatkan pukulan kecil dari Kenzo.
"Janda palalu! Bohongnya keliatan banget." Ucap Kenzo. Gavin hanya mendengus kesal begitu mendapatkan pukulan dari Kenzo. Saat itu tampak Alzero menghampiri mereka.
"Lah lo sendirian Al, Lala mana??" Tanya Raefal.
"Dia masuk dengan Alina dan Nia." Jawab Alzero.
"Lo gak takut ada cowok yang deketin dia." Ucap Gavin sengaja memanas manasi Alzero.
"Cepat atau lambat dia menjadi istriku... Dia tau apa yang harus diperbuat." Ucap Alzero membuat Gavin membeku.
"Ya udah yok masuk kelas." Ajak Raefal. Ketiganya menganggukan kepalanya setuju dan menuju ke kelas. Dan sesuai dugaan, baru mereka duduk dosen masuk ke kelas.
"Kayaknya kita gak denger bel lagi nih." Ucap Gavin.
"Hooh," Sahut Raefal dan Kenzo.
"Pagi semuanya." Sapa sang dosen. Panggil saja pak Hasan.
__ADS_1
"Pagi pak." Jawab mereka serentak. Tampak pak Hasan duduk di kursinya.
"Sebelum pelajaran di mulai, bapak akan memperkenalkan mahasiswi baru... Silahkan masuk." Ucap Pak Hasan.
Tak, tak, tak
Suara langkah kaki mendekat. Tampak seorang wanita dengan rambut panjang bergelombang itu masuk. Dia pun berdiri didepan para mahasiswa/i kelas tersebut.
Cewek itu??? Batin Raefal.
"Dia mahasiswi baru di kelas ini... Namanya Mita Permata Dewi, saya harap kalian bisa berinteraksi dengan baik... Mita, silahkan duduk dibangku yang kosong." Ucap pak Hasan.
"Baik pak." Jawabnya. Dia duduk dibangku belakang yang kebetulan kosong.
"Baik saya mulai pembelajarannya." Ucap Pak Hasan. Para siswa pun memperhatikan setiap pembelajaran yang pak Hasan berikan. Kecuali untuk Gavin yang hobi tidur di kelas tak hilang sejak dulu.
Mapel pertama pun berakhir. Tampak Mita langsung menceghat Raefal yang hendak pergi dengan ketiga sahabatnya. Tentu hal itu membuat Raefal kesal pada sahabat masa kecilnya itu.
"Ciky, kamu kuliah disini juga?? Wah kebetulan banget... Kamu udah lebih tinggi sekarang, dan sangat tampan." Ucap Mita.
"Mita jangan manggil gua pake nama itu, ini di kampus." Ucap Raefal. Tampak Mita hanya tertawa kecil menanggapi Raefal.
"Ciky, udah 6 tahun loh nggak ketemu... Kamu nggak kangen aku??" Tanya Mita cemberut dengan mata berkaca kaca.
"Bu... Bukan gitu maksud gua, kaget aja gitu lo tiba tiba di kampus ini... Kalau dirumah boleh manggil gua gitu, di kampus jangan paham lo??" Jawab Raefal.
"Oke Ci... Maksud ku Raefal." Ucap Mita tersenyum.
"Gua tinggal dulu mau ke kantin sama temen temen gua." Ucap Raefal.
"Aku ikut.... Aku siswa baru disini, aku tidak kenal siapa siapa selain kamu." Ucap Mita membuat Raefal menghela napas panjang.
Gua ajak aja kali yah, siapa tau ada Lala sama Alina dikantin. Batin Raefal.
"Ya udah ayo ikut gua... Tapi jangan ngomong sembarangan oke??" Tanya Raefal.
"Oke!" Jawab Mita bersemangat. Raefal pun mengajaknya ke kantin. Di kantin, sungguh kebetulan Raefal bertemu dengan Lala Alina dan Nia.
"Alina!" Panggil Raefal membuat ketiganya menoleh.
"Raefal, ada apa memanggilku??" Tanya Alina. Tampak Alina menatap Mita yang dibelakang Raefal.
"Gua minta tolong ya, kenalin ini Mita... Dia temen masa kecil gua dan siswa baru disini... Kalian bisa kan temen in dia??" Jawab Raefal.
"Tentu saja... Halo Mita." Sapa Alina.
"Gua tinggal ya... Mereka cewek baik kok, jadi lo bareng mereka aja paham??" Ucap Raefal. Tampak Mita menganggukan kepalanya mengerti. Raefal pun pergi dan ikut bergabung dengan ketiga sahabatnya.
"Oh iya Mita kenal kan ini Lala... Dan dia Nia." Ucap Alina memperkenalkan.
"Hallo, aku Mita salam kenal." Ucap Mita sembari tersenyum. Mita termasuk katagori wanita ceria dan mudah bergaul. Jadi tidak heran jika dia gampang berteman dengan Alina lainnya.
"Iya... Ayo kita duduk." Ajak Lala. Mereka pun duduk dibangku kantin.
"Kamu teman lamanya Raefal??" Tanya Alina.
"Iya... Aku mengenal nya sejak kami masih 4 tahun... Tapi kami terpisah saat lulus sekolah dasar." Jawab Mita menjelaskan.
"Lalu bagaimana kamu bisa berakhir disini??" Tanya Lala.
"Soal itu... Ibuku sakit jadi dirawat di rumah sakit yang ada dikota ini... Jadi ayah pindah ke kota ini begitu juga denganku." Jawab Mita. Tampak ketiganya menganggukan kepalanya mengerti.
__ADS_1
"Astaga, aku tidak menyangka Ciky begitu tampan sekarang." Ucap Mita sembari menatap Raefal.
"Ciky??" Lirih Nia.