My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
BAB 32


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Tampak Alina menghela napas kesal. Dia pun membawa paper bagnya dan membuntuti Kenzo. Kenzo membuka kan bagasi mobil guna meletakan paper bag tersebut. Setelah itu mereka pun masuk kedalam mobil.


Capek juga... Kira kira Lala sedang apa yah?? Batin Alina sembari melihat pemandangan luar dari kaca jendela.


Tanpa terasa, Alina sudah terlelap. Mungkin karena lelah membuatnya tertidur dengan kepala bersandar pada pintu mobil. Sedangkan Kenzo masih belum menyadari jika Alina sudah tertidur. Dia hampir tidak percaya jika wanita Alina sangat cantik dengan balutan gaun merah.


Gak terlalu nyesel deh... Lumayan juga dia, bodynya juga oke. Batin Kenzo mulai berpikiran kotor.


Beberapa saat kemudian mobil Kenzo pun terparkir di garasi rumahnya. Saat Kenzo membuka seat beltnya dia baru sadar jika Alina tertidur. Dikiranya Alina berpura pura tidur.


"Cupu bangun... Kita udah nyampe." Ucap Kenzo.


Namun tidak ada jawaban dari Alina. Hal itu membuat Kenzo mendekat hendak membangunkannya. Namun, Kenzo terhenti saat harum vanilla dari tubuh Alina tercium oleh hidungnya. Hal itu membuat Kenzo mendekat dan tanpa sadar ujung hidungnya menyentuh leher Alina.


Wangi banget sih... Bikin candu kalo kayak gini. Batin Kenzo.


Tampak dia menatap wajah Alina yang masih terlelap. Tatapan Kenzo berhenti pada bibir tipis dan merah alami milik Alina. Entah mengapa Kenzo merasa terdorong seolah ada magnet dalam Alina. Kenzo mulai mendekatkan wajahnya hingga bibir keduanya hampir menyatu.


"Ken Ken cucuku." Panggil Madira membuat Kenzo gugup dan membenarkan posisi duduknya. Dia pun keluar dari dalam mobilnya.


"Oma ngapain keluar?? Suara oma jangan kenceng kenceng dia udah tidur." Ucap Kenzo sembari membuka pintu mobil untuk Alina.


"Oma tidak tau... Maya bawa belanjaan mereka dan Ken Ken... Gendong calon istrimu bawa dia ke kamarmu, tapi jangan diapa apain." Ucap Madira.


"Hah? Kenapa nggak dibangunin aja Oma... Kenzo bangunin ajalah." Ucap Kenzo.


"Alina pasti capek lah, kasihan dia baru tidur... Gendong atau Oma tidak mau minum obat." Ancam Madira.


"Iya... Iya." Jawab Kenzo dengan wajah kesalnya.


Lagian Oma kenapa muncul sih... Bisa nggak sampe bibirnya... Akh gua kenapa sih kesel gini. Batin Kenzo.


"Kenapa diam... Ayo." Ucap Madira.


Tampak Kenzo mendekat ke arah Alina dan menggendongnya ala bridal style. Madira tampak tersenyum melihat cucunya menurut. Saat di ruang utama, tampak Lina Dicko dan Roni mendekat. Lina menutup mulutnya dengan kedua tangannya tak percaya.


"Kau apakan Alina sayang??" Tanya Lina.


"Sutttt." Jawab Kenzo kemudian menaiki tangga menuju ke kamarnya.


"Kalian lihat... Dia cucu ku pasti akan patuh padaku." Ucap Madira.


"Bunda memang is the best." Ucap Dicko Lina dan Roni sembari mengacungkan kedua jempolnya.


Sesampainya didalam kamar. Dengan sangat perlahan Kenzo merebahkan tubuh Alina. Hingga Alina kini berada dibawah kungkungannya. Dan hal itu membuat Kenzo berangan angan yang tidak tidak. Dia pun bangkit dan langsung membenarkan posisinya.


Tahan Ken... Inget masih calon... Oke, calon... Kenapa tiba tiba gua gak sabaran sih. Apa iya gua n*fsu sama si cupu?? Dahlah mending mandi. Batin Kenzo.


Beberapa saat kemudian, Alina tampak membuka matanya perlahan. Dia pun bakit dari posisinya dengan posisi duduk. Alina menatap sekeliling kagum dengan design kamar Kenzo yang tampak mewah dan elegan.



(Visual Kamar Kenzo.)

__ADS_1


Bukannya tadi aku dimobil... Terus siapa yang gendong aku kesini?? Apa mungkin.. Batin Alina.


Cklekk!


"Udah bangun lo?" Ucap Kenzo keluar dari kamar mandi.


"Aaaaaaaaaaa!" Teriak Alina sembari menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Humph!!!" Teriak Alina terbungkam oleh tangan Kenzo.


"Diem... Lo kenapa sih teriak teriak nanti—" Ucap Kenzo terpotong.


Cklekk!


Tampak pintu kamar terbuka. Sedetik sebelumnya, Kenzo mengubah posisi membuat Alina berada diatas tubuhnya. Tampak Lina Dicko dan Roni masuk kedalam kamar Kenzo dengan wajah panik.


"Ada apa—(Menatap Kenzo dan Alina canggung.) Eh dad, Roni kayaknya kita ganggu." Ucap Lina.


"Iya... Kalian lanjutkan saja." Ucap Dicko kemudian ketiganya pergi.


Bamm!


"Ayah... (Alina bangun dari posisinya.) Mereka pasti salah paham." Ucap Alina. Tampak Kenzo memiringkan tubuhnya menyangga kepalanya dengan tangan kanannya.


"Lagian lo pake acara teriak teriak, kenapa sih?? (Bangkit dari posisinya dan mendekat ke arah Alina.) Atau lo baru pertama ya lihat tubuh cowok seganteng dan sesempurna gua?" Ucap Kenzo dengan narsisnya. Alina hanya memalingkan wajahnya saat Kenzo mendekat.


"Bu.... Bukan begitu.... Tapi—"


"Tapi apa hmm??" Ucap Kenzo tersenyum devil.


"Kenzo siap siap... Sebentar lagi berangkat." Ucap Lina dari luar.


"Iya mom." Jawab Kenzo.


"Lo ngapain masih disini?? Sana siap siap." Ucap Kenzo. Dengan terburu buru Alina pun keluar dari dalam kamar Kenzo.


Beberapa saat kemudian, Kenzo terlihat sangat tampan dengan balutan jas hitam dan kemeja putih.



(Style Kenzo sekaligus visualnya.)


"Ganteng juga gua." Ucap Kenzo percaya diri. Dia pun keluar dari dalam kamar dan menghampiri Lina yang tampak menunggunya di ruang tengah. Tampak mereka kagum dengan ketampanan seorang Kenzo.


"Cucuku memang yang paling tampan." Ucap Madira.


"Kakak, so good." Ucap Celani sembari mengacungkan kedua jempolnya.


"Baru sadar kalau aku ini tampan." Ucap Kenzo dengan percaya dirinya.


"Terserah kamu nak... Mommy minta jaga sikap dan jaga Alina." Ucap Lina.


"Iya mom iya... Terus si cupu mana??" Tanya Kenzo. Lina hanya menggeleng kepala pelan mendengar panggilan Kenzo untuk Alina. Saat itulah Alina datang dengan balutan gaun merah. Membuat Kenzo tak berkedip.


"Masyallah menantu ku cantik sekali... (Memberikan ciuman pada kening Alina.) Hati hati ya sayang, kalau Kenzo apa apain kamu telefon mommy." Ucap Lina.


"Iya mom... Kami berangkat dulu, (Mencium punggung tangan Lina Dicko Roni dan Madira bergantian.) Assalamualaikum." Pamit Alina.


"Walaikumsalam,hati hati dijalan." Jawab keempatnya bersamaan. Alina dan Kenzo pun masuk kedalam mobil lamborghini hitam milik Kenzo. Perlahan mobil itu pun menjauh.


Di Pesta


Alina pun keluar dari dalam mobil Kenzo, dia tampak kagum dengan suasana pesta disana. Terlebih banyak hiasan bunga lily kesukaan Alina. Saat itu Kenzo berdiri disampingnya.


"Ekhem." Dehem Kenzo membuat Alina menoleh. Tampak Kenzo menyondorkan lengannya membuat Alina bingung.


"Lama banget sih." Ucap Kenzo sembari menarik tangan Alina ke lengannya.

__ADS_1


"Selamat datang tuan muda Azura." Ucap pelayan menyambutnya. Tampak Kenzo menganggukan kepalanya dan masuk kedalam. Kenzo memberhentikan pelayan yang membawa minuman berupa bir.


"Lo mau??" Tanya Kenzo.


"Memang itu apa?? Teh??" Ucap Alina dan kembali bertanya.


Masih polos banget ni cewek... Bir aja nggak tau. Batin Kenzo.


"Mending lo ambli jus aja." Ucap Kenzo. Alina hanya menganggukan kepalanya dan mengambil jus strawberry.


"Kenzo." Panggil Raefal. Dia tampak dewasa dengan balutan jas putih.



(Style Raefal sekaligus visulanya.)


"Eh ini siapa ya?" Tanya Kenzo.


"Pura pura id*ot lo, gua Raefal lah." Jawab Raefal. Tampak Kenzo memukul bahu Raefal.


"Hahaha... Bercanda bungsu, lo kelihatan kek CEO... Kirain bukan si bungsu gua." Ucap Kenzo sembari tertawa kecil dan Raefal hanya tersenyum. Saat itulah Raefal memandang Alina.


"Eh dia cewek lo?? Cakep juga." Tanya Raefal berbisik.


"Ya dia si cupu." Jawab Kenzo.


"Maksud lo Alina... Gil*." Ucap Raefal sembari tertawa kecil. Raefal pun mengulurkan tangannya.


"Kenalin gua Raefal sahabatnya Kenzo." Ucap Raefal. Saat Alina akan menjabat tangan Raefal, Kenzo menapisnya.


"Kalian udah kenal kok." Ucap Kenzo.


Ekhem, kayaknya si Kenzo cemburu nih... Benih benih cinta akan segera muncul. Batin Raefal.


"Selamat datang tuan muda Saputra." Ucap pelayan membuat Raefal Kenzo dan Alina menoleh. Tampak Gavin terlihat tampan dengan balutan jas biru. Sedangkan Nia dengan gaun berwarna biru muda sehingga tampak cocok dengan jas yang digunakan Gavin.



(Hanya style jas Gavin ya.)


"Gil*, Gavin ganteng banget deh jadi makin sayang." Ucap Raefal.


"Palal* sayang... Lo gak lihat apa dia ada pasangannya? Lagian lo cowok juga kan, jangan jangan—"


"Gua bercanda k*mpr*t! Gua masih normal lah... Eh ngomong ngomong dia si Dita?" Ucap Raefal.


"Bukan... Dia pelayannya, Dita itu kek tante tante." Ucap Kenzo berbisik.


"Hahaha... Tipe Gavin kan emang tante tante." Ucap Raefal tertawa kecil. Saat itulah Gavin mendekat.


"Eh bungsu, kapan lo udah gede??" Ejek Gavin.


"Ngejek nih ceritanya." Ucap Raefal.


"Canda bungsu." Ucap Gavin merangkul leher Raefal.


"Kenalin dong dia siapa??" Ucap Kenzo.


"Eh iya, dia pacar gua Nia." Ucap Gavin.


"Tuan—" Ucap Nia terpotong saat Gavin merangkul pinggang Nia.


"Sayang yuk duduk, pasti kamu capek kan??" Ucap Gavin. Tampak Nia hanya tersenyum paksa.


"Mesraannya nanti aja, yuk duduk gua udah milih bangku." Ucap Raefal. Mereka pun menuju ke bangku yang Raefal tunjukan.


"Eh ken, dia—" Ucap Gavin begitu duduk sembari menatap Alina. Tampak Kenzo menatap Alina sekilas.

__ADS_1


__ADS_2