
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘
I LOVE YOU READERS😙💕
...🥀MHKOT2🥀...
"Sayang... Kasus itu sudah lama... Sangat lama, itu hanya akan menggali luka lama untuk Veno." Ucap Kenzie sembari menatap Rasya.
"Tapi kak... Apa kakak pikir adik kak Veno tenang dialam sana?? Mau yah... Kita cari sama sama." Ucap Rasya. Kenzie terdiam sejenak.
"Yah... Mau yah kak." Ucap Rasya memohon.
"Cium dulu." Ucap Kenzie sembari mendekatkan wajahnya.
"Kak ih." Ucap Rasya dengan rona di wajahnya.
"Ya udah aku cium kamu." Jawab Kenzie kemudian mencium bibir Rasya dalam.
"Baiklah kita selidiki kasus ini bersama." Ucap Kenzie setelah melepaskan ciumannya.
"Kita akan menjadi... Detektif Rasya dan Enzi." Ucap Rasya sembari tersenyum. Yang mana membuat Kenzie gemas dan mencubit pipi Rasya.
"Gemesin banget sih tunangan aku." Ucap Kenzie membuat Rasya merona.
...🥀🥀🥀...
Prankkkkkk!!!!
"Sial!!! Sial!!! Sial!!! Raka, Arka dan Kenzie... Kenapa anak dari Kenzo Azura sulit sekali dimusnahkan!" Ucap Syakila berteriak. Yang mana membuat Rayhan semakin kesal. Tidak hanya keluarga Azura, tapi karena rencana ini gagal dia harus berurusan dengan 4 keluarga sekaligus. Caesar, Azura, Saputra dan Faresta.
"Kita akan langsung menggunakan cara terampuh kita... Laura mengatakan jika Raka menyelamatkan Mia... Dia masih hidup... Baiklah, kita rehat sebentar." Ucap Rayhan dengan santainya.
"Apa maksudmu?!! Kenapa kita—"
"Tenang Syakila! Kita akan berikan mereka waktu untuk bahagia sebelum akhirnya menangis darah karena penderitaan... Satu per satu, kita akan membalas mereka dengan perlahan lahan." Ucap Rayhan sembari tersenyum simark.
"Perlu kita beritau Laura—"
"Tidak... Wanita itu sama sekali tidak kita butuhkan, biarkan saja kalau perlu hapus saja nomornya." Ucap Rayhan. Entah apa yang mereka berdua rencanakan tapi mungkin ini akan menjadi bencana yang besar bagi keempat keluarga tersebut.
Di Rumah Sakit
Mia baru tersadar tadi pagi sekitar jam 4. Dan dia terkejut saat Darren, berada disana. Tentu membuat Mia mengira jika Darren lah yang menolongnya dan bukan Raka. Gavin hendak menjelaskan kebenarannya tapi dia tidak ingin Mia bertambah pikiran terlebih dia baru sadar.
__ADS_1
"Ini mapel ujian terakhir Mia... Please yah ma, Mia mau selesaiin." Ucap Mia memohon.
"Baiklah... Baiklah, nanti papa telefon pak Ardi untuk kirim soal ujian kamu... Sekalian sama guru pengawas kamu kesini." Jawab Gavin akhirnya menyerah dengan bujukan putrinya. Kok bisa ya?? Biasalah horkay mah bebas wkwkwk😂
"Udah selesai kan urusannya, makan sarapan kamu habis itu minum obat biar cepet sembuh." Ucap Nia. Mia menganggukan kepalanya patuh dan menerima setiap suapan dari Nia.
"Oh iya, nak Darren sarapan disini aja sekalian... Toh makanan yang papanya Mia beli banyak." Ucap Nia.
"Iya Ren... Kita sarapan bareng." Timpal Mia. Tatapan Darren beralih pada Gavin, dilihatnya Gavin menganggukan kepalanya.
"Baik tante... Makasih." Ucap Darren. Dan alangkah terkejutnya saat Mia menggenggam tangan Darren.
"Justru Mia yang berterima kasih... Makasih Darren udah nolongin Mia." Ucap Mia. Darren tersenyum.
"Sama sama." Jawab Darren dan keduanya saling tatap.
"Ekhem, jadi nggak nih makannya??" Ucap Nia membuat Darren duduk disamping Gavin dengan wajah canggungnya. Tanpa mereka sadari, seseorang telah melihat dan mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia tidak lain Raka. Raka menunduk menatap parsel buah yang dia bawa.
Gua baru pertama kali liat Mia senyum gitu apalagi sampe megang tangan... Padahal gua yang nolongin dia dan semalaman gak tidur nungguin kabarnya. Batin Raka tersenyum nanar.
"Suster." Panggil Raka membuat suster yang hendak ke kamar Mia menoleh.
Ganteng banget. Batinnya.
"Tolong kasih ini ke pasien itu ya... Kalo nanya dari siapa, bilang aja dari Daffin." Jawab Raka sembari menyerahkan parsel buahnya.
"Oh baiklah." Ucapnya menerima parsel buah yang Raka berikan.
"Terima kasih sus." Ucap Raka kemudian pergi. Setelah Raka pergi, suster pun masuk kedalam ruangan Mia mengecek keadaan Mia.
"Sebentar ya bu, biar saya periksa." Ucapnya.
"Oh iya, silahkan sus." Jawab Nia sembari menyingkir. Suster pun memeriksa cairan infus dan kecepatan tetesannya.
"Keadaannya sudah membaik, racun dalam tubuhnya juga sudah sepenuhnya hilang... Mungkin nanti siang, sudah bisa pulang." Ucapnya.
"Syukurlah... Tapi sus, nanti anak ku akan mengerjakan ujian... Apa tidak apa apa jika tangannya bergerak untuk menulis??" Tanya Nia khawatir.
"Tidak mengapa nyonya... Karena ini hanya tinggal menghabiskan cairan infusnya." Jawabnya. Nia pun bernapas lega mendengar penjelasannya.
"Oh iya... Ini untukmu adik, dari Daffin." Ucapnya.
"Kakak ini." Lirih Mia sembari menerima parsel buah tersebut.
"Kalau begitu saya permisi... Cepat sembuh ya." Ucapnya sembari menghusap puncak kepala Mia kemudian pergi.
__ADS_1
"Terima kasih sus." Ucap Nia dan diangguki oleh suster tersebut kemudian pergi.
"Tumben Daffin gak langsung masuk." Lirih Nia.
"Kakak tau aja kalo Mia suka melon." Lirih Mia bahagia dengan perhatian Daffin. Padahal itu dari pengagum rahasianya.
"Sini biar mama kupasin." Ucap Nia kemudian mengupas melonnya. Setelahnya dia pun membiarkan Mia memakannya.
"Darren pulang dulu ya om... Tante, mami suruh Darren pulang... Mia cepet sembuh ya... Permisi." Pamit Darren.
"Iya, hati hati dijalan Darren." Ucap Mia sembari melambaikan tangannya. Dia pun kembali memakan melonnya.
"Assalamualaikum." Ucap Nala dan Daffin.
"Walaikumsalam, halo kakak ipar." Ucap Mia. Nala pun mendekat dan duduk disebelah kiri Mia.
"Halo, bagaimana keadaanmu??" Tanya Nala sembari menghusap puncak kepala Mia.
"Alhamdulilah baik kak." Jawab Mia sembari tersenyum. Dia pun beralih menatap Daffin yang tengah melepaskan jaketnya.
"Makasih kak parsel buahnya." Ucap Mia.
"Parsel buah?? Loh aku aja baru nyampe, kapan aku kasih?" Tanya Daffin dengan kening berkerut.
"Loh, tadi suster bilang dari Daffin." Ucap Nia.
"Gak ma, aku baru nyampe sama Nala... Iya nggak sayang??" Ucap Daffin sembari menatap Nala. Nala hanya menganggukan kepalanya pelan tanpa menatap suaminya.
"Terus ini dari siapa??" Tanya Mia. Daffin menatap parsel buahnya.
"Pasti dari Zaiman... Iya pasti dari Zaiman, tadi aku aja pas pasan sama dia... Sempet aku panggil tapi dia kan pake helm jadi gak denger." Jawab Daffin.
"Terus kenapa kak Raka gak masuk??" Lirih Mia sembari menatap buah melon yang berada dipiringnya.
"Entahlah, Enzi bilang semalaman Raka gak tidur katanya sih gak bisa tidur padahal mikiran Mia." Ucap Daffin sembari duduk di sofa.
"Iya, papa juga harus paksa dia pulang kalo gak Kenzo pasti marahin dia... Pulang jam 11 dia, astaga." Timpal Gavin sembari memijit pelipisnya.
"Tadi papa bilang Darren yang nolongin Mia sama nungguin Mia." Ucap Mia membuat Gavin membeku. Dia keceplosan.
"Darren apanya?!! Dia gak ada tuh semalam, yang gendong kamu dan bawa kamu ke rumah sakit itu Zaiman bukan si anak sialan itu... Kenapa papa bohongin Mia?? Kasihan si Zaiman, papa gimana sih?!" Kesal Daffin. Yah meskipun dia bilang tidak setuju, tapi dalam hatinya dia memang menjodohkan Mia dengan Raka. Daffin menghela napas panjang dan tiduran di sofa.
"Udah Daffin, ini rumah sakit ingat itu." Ucap Nia mengendalikan situasi.
"Iya ma... Palingan entar si Zaiman ngehindarin Mia, mampus." Ucap Daffin dengan nada lirih di akhir.
__ADS_1