My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
Season 2 Episode 16


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MHKOT2🥀...


Sepulang Dari Nongkrong


Alveno langsung masuk kedalam Vila besar dan megahnya itu. Dilihatnya Dona tengah melihat lihat gambar bersama dengan Liasya. Sadar Alveno datang, Dona menghampirinya.


"Veno kamu darimana aja??" Tanya Dona. Alveno hanya menghusap puncak kepala Dona seperti biasanya yang mana membuat Dona menatap Liasya penuh kemenangan.


"Kumpul bersama teman teman... Dimana bunda??" Tanya Alveno.


"Tante lagi dikamar sama Om... Kayaknya nggak bisa diganggu." Jawab Dona. Alveno menganggukan kepalanya mengerti.


"Kamu lanjutkan saja kegiatan tadi... Aku mandi dulu." Ucap Alveno kemudian pergi. Sekilas dia menatap Liasya yang sedari tadi fokus pada kegiatannya.


"Baiklah." Jawab Dona. Dia menyembunyikan rasa kesalnya saat Alveno menatap Liasya sesaat.


Nyebelin banget sih! Umpat Dona. Dia pun duduk berhadapan dengan Liasya dan memainkan ponselnya.


Sepertinya warna merah sangat indah... Ibu juga memakai gaun berwarna merah. Batin Liasya sembari tersenyum. Dia pun memilih gaun berwarna merah.


Setelah mandi, Alveno turun dan duduk berhadapan dengan Liasya. Ternyata Dona sudah kembali lebih dulu yang mana kini hanya ada Alveno Liasya dan beberapa pelayan diruang keluarga.


"Sayang, hanya kalian berdua?? Dona kemana??" Tanya Lala sembari menuruni tangga mendekati mereka.


"Sudah pulang." Jawab Alveno tanpa mengalihkan fokusnya pada buku.


"Begitu ya... Jadi sayang, sudah menemukan gaun pilihanmu??" Tanya Lala. Tampak Liasya tersenyum dan memperlihatkan gambar yang dia pilih.


"Bagaimana menurut ibu??" Tanya Liasya.


"Ini sangat bagus... Tidak terlalu mewah, warna merah ini juga tidak terlalu mencolok." Jawab Lala.


"Benarkah??" Tanya Liasya memastikan. Lala menganggukan kepalanya pelan dan tersenyum. Membuat Liasya senang dengan pilihannya.


"Dan Veno... Dona yang memilihkan jas untukmu." Ucap Lala. Yang mana membuat Alveno mengerutkan keningnya dan meletakan bukunya.


"Kenapa Dona?? Bukankah aku meminta—"


"Dia yang minta... Bunda tidak mempermasalahkannya, toh dia lama denganmu." Jawab Lala. Yang mana membuat Alveno terdiam.


"Dan sayang... (Duduk disamping Alveno.) Apakah kamu punya rasa pada Dona?? Wah, apa anak kesayangan bunda sudah—"


"Bunda kau terlalu banyak berpikir... Dona hanya sahabat tidak lebih, ayah sudah keluar lebih baik bunda bersama dengan ayah." Ucap Alveno. Yang mana membuat Lala mengecurutkan bibirnya dan mendekat kemudian merangkul lengan suaminya.


"Kau lihat itu suamiku... Sepertinya putra kita tidak ingin kita bahagia." Ucap Lala berpura pura sedih. Tampak Alzero menatap tajam Alveno yang fokus membaca.


Anak itu membuat istri kesayanganku bersedih! Batin Alzero.


"Itu salahmu... Dia anakmu!" Ucap Lala.


"Bunda..." Rengek Alveno.


"Tidak dia anakmu!" Ucap Lala.

__ADS_1


"Iya dia anak kita." Jawab Alzero. Melihat pertengkaran kecil itu, Liasya tertawa kecil membuat ketiganya menoleh bingung.


"Sayang apa ada yang lucu??" Tanya Lala.


"Hehe, ibu sangat lucu saat merengek pada ayah." Jawab Liasya yang mana membuat Lala ikutan tertawa kecil.


"Iya kau tau sayang... Anak suamiku—"


"Anak kita." Potong Alzero.


"Ya itu maksudku... Dia lebih mencintai buku daripada mencari gadis seperti lainnya... Lihatlah, dia tidak peduli." Ucap Lala.


"Bukankah mencintai buku mendapatkan banyak ilmu??? Jadi tidak salahkan??" Tanya Liasya polos.


"Ya... Bisa dibilang begitu... Bagaimana kalau kita pergi berbelanja untuk pesta?? Ayo bersiap siap." Ucap Lala menarik Liasya pergi.


"Ayah tidak ikut??" Tanya Alveno.


"Tentu saja ayah ikut... Kau juga, ayo bersiap siap!" Titah Alzero. Dengan malas Alveno pun menuruti kemauan sang ayah.


Di Mall


Dua pasangan itu keluar dari dalam mobil dan masuk ke sebuah Mall terbesar dikota. Para pengunjung teralihkan perhatiannya saat keluarga Caesar itu masuk kedalam Mall. Ada yang mengira kakak beradik yang sudah bersuami istri. Mengingat kecantikan Lala dan ketampanan Alzero tidak luntur meskipun dimakan usia.


"Disini lebih ramai daripada dipasar." Ucap Liasya membuat Lala tersenyum dan menghusap puncak kepala Liasya.


"Beginilah suasana Mall sayang, nah ayo ke sana." Ucap Lala sembari menarik Liasya ke bagian pakaian dan aksesoris.


"Mas, Veno kenapa kalian diem?!! Ayo ikut!" Ucap Lala.


"Ya Allah, bunda terlalu berlebihan." Lirih Alveno kemudian menyusul Alzero Lala dan Liasya. Tanpa mereka sadari, sepasang mata melihatnya tak suka.


Nyebelin banget sih!! Dulu gua ajak Veno buat ke Mall gak pernah mau... Sekarang, dia justru pergi sama anak kampungan itu??!! Gak bisa, Veno punya gua. Umpatnya. Tak lain atau tak bukan dia adalah Dona yang kebetulan berbelanja disana. Dia tersenyum miring saat ide jahat muncul dipikirannya.


"Tidak bu, Lili cuman pengen liat liat aja." Jawab Liasya. Karena memang dia tidak menginginkan apapun. Semua kebutuhannya sudah tercukupi. Apalagi pakaiannya yang sangat banyak membuat Liasya bingung.


Apa ayah memborong isi satu butik ke lemari ku?? Atau satu mall?? Batin Liasya dengan polosnya.


"Liki ke sana dulu ya bu." Ucap Liasya.


"Baiklah, mas coba kamu pake ini." Ucap Lala sembari menujuk bando kelinci yang sangat imut.


"Jangan kekanak kanakkan—"


"Jangan meminta jatah dariku!" Ancaman ampuh untuk melumpuhkan seorang Alzero.


"Baiklah sayang." Jawab Alzero. Dia pun membungkukan badannya membiarkan istrinya mengenakan bando kelinci itu pada kepalanya.


Mereka kekanak kanakkan. Batin Alveno sembari menggelengkan kepalanya pelan.


Sedangkan dengan Liasya, dia tampak melihat lihat gelang dan aksesoris lainnya yang terlihat sangat indah.


Sangat indah. Batin Liasya sembari tersenyum.


Tanpa dia sadari, Dona berdiri di belakang Liasya. Dia tersenyum miring dan menatap rak sepatu yang tingginya 2 meter itu.


Setidaknya rak ini bisa membuatmu terluka... Rasakan ini anak kampungan! Batin Dona.


Krakkk!!

__ADS_1


Suara rak sepatu itu saat perlahan didorong oleh Dona. Yang mana membuat senyuman Liasya memudar. Dia pun membalikan tubuhnya dan terkejut saat rak tersebut hendak mengenainya.


"Aaaaaaaaa!!!!"


Brukhhhh!!!!!


Mendengar suara itu pun membuat Lala dan Alzero berlari menuju ke sumber suara. Begitu juga staff pelayan yang ada disana. Perlahan Liasya membuka matanya saat dirinya tidak merasa sakit sedikit pun. Dia membelakan matanya saat tepat didepannya adalah wajah Alveno. Alveno menahan rak itu dengan memojokan tubuh Liasya pada tembok dan kedua tangannya berada disamping kanan kiri tubuh Liasya.


"Ka... Kakak nggak apa apa??" Tanya Liasya penuh kecemasan.


"Jangan tinggalkan aku." Jawab Alveno dengan wajah memerah sekuat tenaga menahan berat rak sepatu itu.


Sial!! Umpat Alveno.


"Sayang kalian berdua jangan bergerak, mereka akan mengangkat ranya." Ucap Lala penuh kecemasan.


"Aneh, rak sepatu sebesar itu tidak mungkin jatuh begitu saja—"


"Udah jadi polisinya ntaran aja! Mas gimana sih, orang anaknya lagi celaka malah mikir gitu!!" Kesal Lala pada suaminya.


"Sayang... Aku hanya—"


"Udah diem!" Ucap Lala. Yang mana membuat Alzero terdiam merasa selalu disalahkan.


Sial!! Kok Veno sih yang kena!!! Umpat Dona sembari mengepalkan tangannya erat. Dia pun pergi sebelum ada orang yang melihatnya. Setelah diangkat tampak Liasya bernapas lega. Namun, dia dikejutkan oleh Alveno yang menjatuhkan kepalanya pada curuk lehernya.


"Veno!" Panggil Lala sembari mendekati putranya.


"Kak... Kak Veno!!" Panggil Liasya sembari menepuk pelan punggung Alveno. Namun Alveno tak kunjung sadar membuat Liasya cemas.


"Kita ke rumah sakit sekarang... Soal ganti rugi, Rio yang akan mengurusnya." Ucap Alzero sembari menggendong Alveno. Dia pun membawanya ke mobil. Alveno direbahkan dijok belakang. Lala pun menatap putranya yang tak sadarkan diri di pangkuannya.


"Mas kenapa nggak panggil ambulance aja?!! Kan cepet!" Kesal Lala pada suaminya.


"Aku tau sayang, tapi disana banyak wartawan... Dan aku tidak mau menjadi pelik saat mereka tau kita keluarga Caesar." Jawab Alzero. Lala terdiam. Yang Alzero katakan memang benar adanya. Terlebih lusa Alveno menjadi ahli waris keluarga Caesar, tentu banyak orang yang berniat mencelakannya.


Sesampainya di rumah sakit. Alveno langsung dibawa ke ICU dan mendapatkan penanganan khusus disana. Bertepatan dengan itu, Rasya tengah jalan jalan bersama dengan Lina yang mendorong tempat infusnya. Melihat seseorang yang dia kenal, Rasya pun berhenti.


"Kenapa berhenti sayang?? Ingin kembali ke kamar??" Tanya Lina.


"Oma, bukannya itu teman kak Enzi??" Ucap Rasya menujuk ke arah Alveno sesaat sebelum masuk kedalam ruangan.


"Astghafirullah." Pekik Lina. Lina dan Rasya pun mendekat ke arah Lala Alzero dan Liasya yang tengah menunggu diluar.


"Al." Panggil Lina membuat Alzero menoleh.


"Tante... Tante kenapa bisa disini??" Tanya Alzero terkejut.


"Kebetulan cucuku dirawat disini... Dan saat kami jalan jalan, kami melihat Alveno... Dia tidak apa apa?? Apa yang terjadi??" Tanya Lina.


"Hanya kecelakaan kecil... Veno pria kuat, dia tidak akan apa apa." Jawab Alzero.


"Ibu... Maafin Lili... Ini semua salah—"


"Sssttt... Jangan menangis, ini bukan salahmu... Alveno akan baik baik saja, ya??" Ucap Lala menenangkan, padahal dalam hatinya sangat cemas. Beberapa saat kemudian, dokter keluar. Tentu dengan segera Alzero dan Lala mendekat.


"Anak ku tidak apa apakan dokter??" Tanya Lala.


"Dia hanya pinsan, sepertinya putra anda mengalami trauma akan kehilangan seseorang yang dia sayangi.... Dan luka kecil dipunggungnya akan sembuh dalam kurun waktu 2 atau 4 hari... Saya sarankan agar putra anda tidak melakukan pekerjaan berat." Jelas sang dokter.

__ADS_1


"Jadi dia bisa kembali setelah sadar??" Tanya Lala.


"Tentu nyonya... Saya permisi." Pamit sang dokter. Lala Alzero dan Lina pun bernapas lega. Sesaat Lala menatap Liasya yang duduk bersampingan dengan Rasya.


__ADS_2