My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
BAB 65


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


👩‍💻I Love You Readers❤❤❤❤❤


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Di Vila Alzero


Zaina enggan untuk mempercayai jika Ashel adalah anaknya yang dia kira meninggal. Namun, Araka Abaskra Caesar yang tak lain suaminya itu meminta untuk Zaina mendengar kan penjelasan dari Irvan Mahesa. Tampak Lala dan Alzero datang dengan Rio dibelakangnya bersama dengan Irvan Mahesa.


"Anda???" Tanya Araka seraya menujuk Irvan.


"Iya tuan... Saya dokter yang menyarankan anda membesarkan Ashel." Jawab Irvan.


"Jelaskan! Kau bilang Ashel anak dari wanita yang hamil tanpa suami dan memberikannya untuk ku?? Lalu sekarang—"


"Biarkan Irvan Mahesa menjelaskannya ayah." Ucap Alzero menyela membuat Araka terdiam.


"Jelaskan!" Titah Zaina.


"Sebenarnya 17 tahun yang lalu•••"


•Flashback 17 Tahun Lalu


Araka dan putra sulungnya tak lain Alzero yang baru berumur 3 tahun itu tengah menunggu di ruang tunggu. Araka tampak gelisah mendengar teriakan kesakitan dari Zaina yang dalam proses persalinan.


"Ayah, bunda baik baik saja??" Tanya Alzero kecil.


"Bunda baik baik saja... Kamu jangan khawatir." Jawab Araka menenangkan. Saat itu tampak Justin dan Ratna yang tak lain ayah dan ibu dari Zaina itu datang.


"Abas, gimana Zaina??" Tanya Ratna.


"Masih dalam persalinan bu... (Terdengar suara tangisan bayi.) Alhamdulilah... Alhamdulilah, terima kasih Ya Allah." Ucap Araka tampak bersyukur. Dia memeluk Alzero erat membuat Alzero bingung.


"Abas, jangan cengeng... Ada putramu didepanmu." Ucap Justin membuat Araka menghapus air mata kebahagiaannya.


"Ayah jangan membuatku malu." Ucap Araka membuat Justin dan Ratna tertawa kecil. Saat itulah tampak Irvan Mahesa keluar dengan dokter wanita disampingnya.


"Dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya??" Tanya Araka.


"Istri anda masih dalam keadaan lemah dan untuk putra anda dalam keadaan sehat... Sekarang dia tengah dibersihkan dan anda bisa menemuinya di ruang sebelahnya." Jawab Irvan Mahesa.


"Saya mengerti dokter." Ucap Araka kemudian masuk kedalam ruangan.


"Dokter, ada satu lagi pasien yang harus dibantu persalinannya." Ucap salah satu suster.

__ADS_1


"Baik, kami permisi tuan... Nyonya." Pamit Irvan Mahesa pada Ratna dan Justin.


Irvan dan beberapa dokter itu pun pergi untuk melanjutkan tugasnya. Irvan Mahesa membantu persalinan salah satu pasien dan sialnya pasien tersebut tidak ada banyak waktu. Sepertinya dalam keadaan hamil dia mengonsumsi obat obatan dan keadaan fisiknya yang kurang stabil.


"Dokter, (Irvan menoleh.) Ku dengar anda dokter yang hebat dan membantu anak yatim piatu... Waktu ku tidak lama lagi... Bisakah saya menitipkan putraku padamu?? Ayahnya meninggal dan aku sebatang kara... Aku memohon padamu dokter." Ucap wanita itu dengan keadaan lemah. Tampak Irvan menatap bayi mungil itu. Dia benar benar iba pada anak yatim piatu. Tak heran jika dia mendirikan panti asuhan.


"Saya akan menjaga putra anda nyonya... Akan menjaganya." Ucap Irvan Mahesa membuat wanita itu tersenyum sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.


"Dia sudah meninggal dok." Ucap suster.


"Inalillahiwainalilahirojingun.... Mandikan dia dan kubur dia dengan layak." Titah Irvan.


"Baik dokter." Jawab suster tersebut. Tampak Irvan menggendong bayi mungil yang baru lahir itu.


"Aku akan menjagamu nak... Seperti janjiku pada ibumu." Ucap Irvan Mahesa kemudian membawa bayi itu bersamanya.


Saat diluar, tiba tiba bayi tersebut tidak bergerak dan bernapas. Tentu hal itu membuat Irvan cemas. Saat hendak memeriksa, tiba tiba terdengar tangisan bayi berasal dari ruangan sebelah Zaina. Suara tangisan itu tentu tak lain bayi Zaina yang baru lahir tadi. Tampak irvan menatap bayi yang ada digendongannya.


Kamu tidak akan bahagia dengan saya, mungkin jika aku menukarnya dengan anak dari tuan Caesar... Kamu bisa bahagia dan saya bisa menepati janjiku pada ibumu. Batin Irvan.


Dengan nekat, Irvan menenangkan bayi Zaina sebelum akhirnya menukarnya dengan bayi yang ada digendongannya. Buru buru Irvan pergi dan tidak sadar jika bayi yang dia tukar sudah meninggal saat masih digendongannya.


Bayi ini memiliki paras yang tampan... Aku akan mengurusmu seperti putraku sendiri. Batin Irvan. Dia pun menidurkan bayi tersebut pada ranjang kecil di sebuah ruangan.


"Ayah, dimana adikku?? Boleh kah aku melihatnya??" Tanya Alzero sembari mendongak menatap ayahnya yang menjulang tinggi.


"Tentu nak, ikutlah dengan ayah." Jawab Araka. Tampak wajah Alzero berbinar begitu melihat bayi mungil di dalam box. Alzero menggenggam tangan mungil bayi tersebut, namun tidak ada pergerakan membuat Alzero menatapnya bingung.


"Ayah... Apa adikku baik baik saja?? Kenapa dia tidak bergerak??" Tanya Alzero membuat Araka mengeceknya. Sontak dia terkejut dan memanggil dokter.


"Ada apa tuan??" Tanya Irvan Mahesa begitu datang.


Tidak... Aku baru berdoa agar dia bahagia, tapi kenapa dia justru... Batin Irvan.


"Anak anda... Baru saja meninggal." Ucap Irvan membuat Araka terkejut.


"Dokter anda jangan bercanda!!! Tadi dia sehat saja kenapa tiba tiba.... Bagaimana aku menjelaskannya pada istri ku dokter??!! Bagaimana?!!" Ucap Araka sembari menggoyangkan tubuh Irvan.


"Tapi ini kenyataannya tuan." Jawab Irvan membuat Araka terduduk.


"Ayah." Ucap Alzero sembari menenangkan ayahnya.


"Ayah jangan sedih." Ucap Alzero membuat Araka memeluk putra sulungnya itu.


Setelah dimakamkan, Araka kembali ke rumah sakit guna memeriksa keadaan Zaina. Saat hendak masuk, tampak Alzero keluar dengan wajah berbinar.


"Ayah, bunda sudah sadar." Ucap Alzero.


"Baiklah, ayah masuk dulu... Ibu, aku titip Al ya." Ucap Araka pada Ratna.


"Iya, nak yuk ikut nenek ke rumah... Kamu mandi habis mandi kita kesini lagi buat main sama adik kamu ya." Ucap Ratna membuat Araka merasa bersalah.


Dia memang belum memberitau kan kebenaran mengenai kejadian tersebut. Araka pun masuk dan menghampiri istrinya. Hatinya merasa tersayat melihat Zaina tersenyum menatapnya.


"Mas... (Memeluk Araka.) Al bilang anak kita laki laki, apa itu benar??" Tanya Zaina dengan wajah bahagianya.

__ADS_1


"Iya sayang... Itu benar." Jawab Araka membuat Zaina tersenyum bahagia.


"Mas dimana putra kita?? Aaron bukan?? Kau menyiapkan nama itu... Dimana dia??" Tanya Zaina antusias.


"Dia..."


"Bayi anda sehat nyonya... Ini dia." Ucap Irvan masuk begitu saja dengan bayi digendongannya. Yang memang bayi itu adalah anak Zaina sendiri.


"Mas putra kita... (Menggendong dan menc*um pipinya.) Lihat dia sangat tampan." Ucap Zaina. Araka hanya tersenyum dan menatap Irvan. Dia pun keluar hendak berbicara dengan Irvan.


"Kenapa kamu membohongi istri ku??? Dan siapa anak yang kau bawa itu??" Tanya Araka.


"Ayah dan ibunya meninggal... Dia sebatang kara, besarkanlah dia dan jangan sampai istrimu tau kebenarannya... Itu hanya akan menyakitinya." Jawab Irvan membuat Araka terdiam sejenak.


"Baiklah... Hal ini hanya aku dan kamu yang tau, jangan beritau siapa pun atau keluargamu akan hancur." Ancam Araka. Irvan pun menganggukan kepalanya pelan kemudian pergi meninggalkan Araka.


•Flashback Off


"Jadi... Selama ini... Aku, mencaci dan menghina anak ku sendiri??" Lirih Zaina sembari mengingat beberapa kali dia mencaci maki Ashel.


"Saya benar benar minta maaf tuan... Nyonya... Karena saat itu saya benar benar bingung dengan janji yang saya janjikan." Ucap Irvan Mahesa dengan meneteskan air mata.


"Tidak perlu... Semua itu sudah terjadi, Rio antar Irvan Mahesa pulang." Ucap Alzero.


"Baik tuan." Jawab Rio kemudian membawa Irvan Mahesa pergi bersamanya.


"Ro, aku takut." Lirih Lala yang merasakan suasana canggung.


"Ada aku... Jangan takut Lala." Jawab Alzero sembari menc*um punggung tangan Lala.


"Tidak... Aaron!!! Mas kita ke rumah sakit sekarang!!! Aaron mas!!! Aaron!!!" Ucap Zaina sembari menangis membuat Araka menenangkannya dengan memeluk istrinya. Zaina benar benar menyesal karena telah membuat Ashel menderita dengan ucapan dan perilakunya.


"Jangan menangis sayang... Kita ke rumah sakit sekarang." Ucap Araka. Mereka pun bergegas ke rumah sakit.


Di Rumah Sakit


Zaina berlari menuju ke ruang dimana Ashel dirawat. Bahkan beberapa perawat menjadi sasaran karena Zaina berlari tanpa memperdulikan sekitarnya. Sampai Zaina mengejutkan dokter yang sedang memeriksa Ashel.


"Aaron... (Membelai wajah Ashel dengan air mata menetes.) Kau... Aaron.... Apa kamu memaafkan bunda nak?? Sekarang aku memintamu panggil aku bunda... Aaron... Sadar lah.... Aaron." Ucap Zaina perlahan melemah dan kesadarannya menghilang.


"Sayang..." Ucap Araka sembari menyangga tubuh Zaina dan menggendongnya. Araka membaringkan tubuh Zaina di ranjang tempat Alzero istirahat.


"Sepertinya bunda hanya pinsan, ayah jangan khawatir." Ucap Alzero menenangkan ayahnya.


"Dia pasti menyesal telah memperlakukan Ashel begitu... Jika kamu belum menemukan buktinya, Ashel akan tersiksa dengan kata katanya... Terima kasih Al." Ucap Araka sembari menepuk bahu putranya.


"Tidak perlu ayah." Ucap Alzero membuat Araka tersenyum.


"Jadi, kapan kamu akan memberikan cucu pada ayah... Ayah tak sabar menggendong bayi lagi." Bisik Araka.


"Ayah... Lebih baik ayah jaga bunda, jangan buat dia menyesal berlebihan... Lagi pula itu sudah terjadi." Ucap Alzero. Alzero menatap Lala yang berdiri disampingnya dengan wajah bingung.


"Aku mengantarmu pulang... Istirahat dan bersiap siap berangkat ke kampus." Ucap Alzero.


"Kamu belum istirahat... Istirahatlah, nanti sakit." Ucap Lala membuat Alzero tersenyum. Dia memberikan kecupan di kening Lala.

__ADS_1


"Ayah, aku pamit mengantar—"


"Ayah mengerti... Kalian hati hati." Ucap Araka.


__ADS_2