
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
👩💻I Love You Readers❤❤❤❤❤
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Di Mall
Alina tampak lelah setelah berkeliling di Mall. Dia juga merasa sangat lapar mengingat ini jam makan siang. Melihat Alina yang tampak lesu, membuat Kenzo mendekat menghampiri sang istri.
"Lo capek??? (Alina menganggukan kepalanya dan Kenzo menatap arlojinya.) Oh iya udah jam makan siang, kita makan siang ke resto itu." Ucap Kenzo dan Alina hanya setuju dengan apa yang Kenzo katakan. Lantaran saat ini dia memang benar benar sangat lapar.
(Visual Restorannya.)
"Kita samaan aja ya." Ucap Kenzo dan Alina menganggukan kepalanya patuh.
"Silahkan dipilih menunya tuan." Ucap salah satu pelayan sembari memberikan buku menu.
"Pasta udang, Steak... Dua porsi... Dan minumannya bir dan jus mangga." Ucap Kenzo.
"Baik tuan, saya permisi mari." Pamit pelayan kemudian pergi.
"Kamu minum bir??" Tanya Alina.
"Iya, kenapa emangnya??" Jawab Kenzo kembali bertanya.
"Itu tidak baik untuk kesehatan." Ucap Alina.
"Hahaha, lo jadi cewek kuno banget sih... Zaman apa sekarang neng??? Nih gua baik baik aja sampai sekarang." Jawab Kenzo sembari tertawa. Dan itu membuat Alina kesal dalam diam.
"Asal lo tau ya... Cowok sebaik Al aja sering minum minum sama gua dan temen temen gua... Bedanya dia gak hangover kayak gua sama temen temen gua, gua iri sama dia." Timpal Kenzo dan tak direspon Alina. Hal itu membuat Kenzo kesal karena merasa diabaikan.
Beberapa saat kemudian akhirnya pesanan mereka datang. Dan Alina yang lapar itu fokus makan tanpa mengingatkan Kenzo yang alergi udang. Kenzo menyinggung senyuman saat melihat Alina yang tampak menggemaskan dengan cara makannya.
Entahlah, mungkin itu efek dari Alina yang kelaparan. Tampak makanan yang mereka pesan habis tanpa sisa. Hanya tinggal jus mangga milik Alina dan sebotol bir milik Kenzo. Tampak Kenzo menunangkan bir kedalam gelas mini.
"Alina." Panggil seorang pria membuat Kenzo dan Alina menoleh. Tampak Alina tersenyum saat tau siapa pria itu.
"Kak Zicko." Ucap Alina menyebut nama pria itu. Zicko Irawan.
Kakak senior Alina saat SMP dan memperlakukan Alina dengan baik. Zicko bahkan sering membela Alina saat dia dibully. Namun, begitu Zicko lulus mereka kehilangan kontak lantaran kabarnya Zicko melanjutkan sekolah di Singapura. Dan Alina akui dulu dia pernah kagum pada Zicko. Tidak tau sekarang atau kedepannya karena Alina saat ini sudah menyandang gelar istri.
"Kamu cantik banget Alina, kan udah aku bilang copot aja kacamata kamu." Ucap Zicko sembari ikut duduk. Tampak Alina tersenyum mendengar pujian dari Zicko.
"Kakak kapan pulang dari Singapura??" Tanya Alina.
"Udah hampir seminggu, gak nyangka bisa ketemu kamu disini." Jawab Zicko.
Apaan sih cupu, serasa dunia milik kalian berdua... Dasar! Umpat Kenzo sembari terus meminum birnya.
__ADS_1
"Dan Alina siapa cowok ini??" Tanya Zicko membuat Alina menegang.
"Dia...—"
"Gua temennya." Sela Kenzo membuat Alina menunduk.
Kenapa aku merasa sesak?? Apa aku sakit?? Batin Alina.
"Oh kenalin gua Zicko... Seniornya Alina." Ucap Zicko sembari mengulurkan tangannya.
"Kenzo." Jawab Kenzo sembari meminum birnya dan enggan menerima uluran tangan Zicko.
Seperti yang gua denger, tuan muda Azura memang sulit didekati... Tapi, kenapa Alina bisa deket sama dia?? Batin Zicko.
Dih, sok akrab... Kalau gak di resto, udah gua pukul nih orang. Batin Kenzo kemudian meminum birnya lagi.
"Oh iya Na, gimana kabar om Roni??" Tanya Zicko.
"Alhamdulilah baik, kabar nenek kamu gimana??" Jawab Alina dan kembali bertanya.
"Dia juga baik." Ucap Zicko sembari tersenyum.
"Oh iya aku ada sesuatu." Ucap Zicko tampak mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Seketika mata Kenzo terbelak saat melihat benda yang dipegang Zicko.
"Alina Putri Alexasari.... Menikahlah denganku." Ucap Zicko tampak serius sembari membuka kotak cincin. Astaga masalah bagi Alina.
"Kita pulang sekarang." Ucap Kenzo tak tahan dengan sikap Zicko. Dia pun menarik tangan Alina dan hendak membawanya pergi. Namun, Zicko menceghatnya dengan menarik tangan kiri Alina.
"Eh kamu kenapa kasar?? Kalau kamu mau pulang, pulang saja aku bisa mengantar Alina pulang." Ucap Zicko.
"Banyak bac*t lo!!!" Ucap Kenzo hendak memukul Zicko namun Alina menceghatnya.
"Tapi Alina apa jawabanmu???"
"Ditolak!!" Sewot Kenzo. Dia pun menarik Alina untuk ikut pergi bersamanya.
"Meja nomor 12." Ucap Kenzo sembari memberikan black card pada kasir. Setelahnya dia pun pergi bersama sang istri.
"Kenzo.... Kenzo pelan pelan." Ucap Alina.
Brukh!!
Kenzo mendorong Alina masuk kedalam mobil. Dia pun memojokan tubuh Alina mengungkung tubuh istrinya itu.
"Kenzo ada... Ada apa denganmu???" Tanya Alina takut takut.
"Ada apa??!! Lo harusnya tau lah, masa lo diam aja pas dia ngelamar lo?!!! Gak sekalian terima aja ha?!!" Jawab Kenzo dengan emosi meluap.
"Kenapa diem?? Lo suka kan sama Kak Zicko." Ucap Kenzo mengikuti logot Alina saat memanggil Zicko.
"Jawab! Jangan diem aja!" Bentak Kenzo membuat Alina ketakutan.
"Ak... Aku nggak suka.... Sama kak Zicko." Jawab Alina menahan tangis.
"Terus kenapa lo ceghat gua pas gua mau mukul dia?? Lo kasihan sama dia ketimbang suami lo sendiri?? Zicko juga gak tau diri, bini orang dilamar... Kenapa diem lo?!! Seneng kan dilamar kekasih pujaan lo?!!" Ucap Kenzo menatap Alina tajam.
"Ta... Tapi kak Zicko kan nggak tau kalau aku sudah menikah... Kenapa kamu marah???" Akhirnya Kenzo bungkam. Tampak Kenzo menjauhkan tubuhnya dan melepaskan cengkraman tangannya.
Kalau saja kamu mengakui ku, aku yakin kak Zicko tidak melamarku Ken... Jika saja aku belum menikah denganmu pasti aku sudah menerima kak Zicko... Tapi rupanya ini memang sudah takdirku yang sejak kecil tidak pernah bahagia. Batin Alina menunduk sembari memegangi pergelangan tangannya yang memerah.
Sial!!! Kenapa gua emosi gini sih?!!! Yang cupu bilang emang bener, tapi masa iya gua ngakuin dia jadi istri gua?? Ogah banget gua! Kesal Kenzo dalam hati.
__ADS_1
"Lo duduk disini aja, gak usah deket deket!" Ucap Kenzo.
Bamm!!!
Kenzo membanting pintu mobilnya. Dia sendiri pindah ke bangku depan sedangkan Alina masih duduk di bangku belakang sembari memegangi pergelangan tangannya yang masih memerah.
Sesampainya di Vila
Alina membawa barang belanjaannya. Sedikit kesusahan tapi Alina takut meminta bantuan Kenzo. Saat keluar dari mobil, wajah Kenzo tampak memerah. Hal itu pun membuat Alina khawatir.
"Kamu nggak apa apa Ken??" Tanya Alina hati hati.
"Gak usah sok peduli lo." Jawab Kenzo kemudian masuk kedalam Vila. Hal itu membuat Alina menghela napas panjang. Dia pun menutup pintu Vila dan menuju ke dapur menata bahan makanannya di dalam kulkas. Setelahnya dia pun menyusul Kenzo ke kamar.
"Sial, gua kok bisa lupa sih kalau gua alergi udang?!!" Gerutu Kenzo sembari menggaruk bagian tubuhnya yang terasa gatal. Dia baru saja mandi dan bukannya panas tubuhnya turun justru semakin bertambah. Dan Kenzo mulai merasakan gatal yang luar biasa.
Tok. Tok. Tok.
"Ken, kamu nggak apa apa??" Tanya Alina terdengar khawatir.
Cklekk!
Kenzo membuka pintu kamarnya. Belum Alina berucap, Kenzo menyandarkan kepalanya pada bahu istrinya. Saat itu lah Alina merasakan tubuh Kenzo yang panas.
"Ken, kamu demam??!" Ucap Alina. Dia pun menuntun Kenzo dan merebahkan tubuh Kenzo diatas ranjang. Alina pun menyelimuti tubuh Kenzo dan menyentuh kening Kenzo yang terasa panas.
"Panas sekali, aku kompres dulu habis itu minta pak satpam panggil dokter ke sini." Ucap Alina. Dan saat pergi, Kenzo menceghatnya.
"Jangan panggil dokter... Gua cuman kambuh gegara makan udang." Lirih Kenzo dengan mata terpejam.
Astghafirullahalazim, kenapa aku lupa?? Batin Alina.
"Baiklah, aku ambil air dingin sama kain buat kompres kamu." Ucap Alina kemudian pergi. Tampak Kenzo melepaskan tangannya.
Sial, gua bisa keliatan lemah didepan cupu... Awas lo udang, bakalan gua musnahin lo... Bakalan gua aspal samudra pasifik biar makhluk kayak lo musnah. Batin Kenzo sempat sempatnya mengumpat yang tidak penting.
Beberapa saat kemudian tampak Alina datang membawa satu baskom kecil berisi air dingin dan kain untuk mengompres. Alina dengan sabar merawat Kenzo. Dia sudah terbiasa merawat ayahnya yang sakit jadi tidak heran jika Alina bisa mengurus Kenzo dengan baik.
Di Vila Ashel
Seusai makan siang tampak Ashel mengajak teman temannya berkeliling Vila. Lebih tepatnya, Renasya dan Celani memaksa untuk berkeliling Vila. Sampai akhirnya mereka kagum dengan balkon Vila Ashel yang terdapat kolam renang.
"Huwaaa Ashel, boleh nggak gua renang??!!" Ucap Fanya hendak mencebur ke kolam.
"Eh bocah, ntar lo kelelep kita kita yang repot tau nggak?" Ucap Alfa.
"Bocah palalu?!! Gua udah gede gini di bilang bocah." Ucap Fanya tak terima.
"Sorry Fanya temen gua si Alfa emang agak miring.... Dia kebanyakan makan micin soalnya." Ucap Farrel membuat lainnya tertawa.
"Nah kan lo mempermaluin gua lagi?!! Gua bunuh lo ya!!!" Ucap Alfa.
"Coba aja kalau bisa!!" Jawab Farrel kemudian dia berlari.
"Farrel!!!" Panggil Alfa sembari mengejar sahabatnya itu.
"Hahaha, kejar terus si Farrel biar tau rasa dia." Ucap Celani sembari tertawa kecil.
"Ela lo apaan sih?!! Gimana kalo mereka ngacak ngacakin seisi Vila, kasihan Ashel." Ucap Renasya.
"Tidak apa apa Rena, mereka hanya berlarian diluar vila... Mereka biasa begitu." Ucap Ashel menyela.
__ADS_1