
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Di Rumah Alina
Alina dan Lala tampak memasuki area rumah. Mereka juga membawa kantong plastik berisi beberapa bahan makanan bulanan. Dengan wajah bahagianya Alina menghampiri sang ayah.
"Assalamualaikum, kami pulang." Ucap keduanya. Mereka menjabat dan mencium punggung tangan Roni secara bergantian.
"Walaikumsalam... Tumben pulang agak larut, ayah mencemaskan kalian." Ucap Roni.
"Tadi cafe begitu ramai ayah... Bukan begitu Lala?" Ucap Alina sembari menatap Lala. Tampak Lala mengangguk sebagai respon.
"Na, aku tata ini di kulkas yah." Ucap Lala.
"Biar ku bantu." Ucap Alina.
"Tidak perlu, lagipula ini sedikit kok... Ya." Ucap Lala. Dengan wajah terpaksa Alina pun mengangguk. Lala pun pergi sembari membawa kantong plastik tersebut.
"Alina duduk disamping ayah, ayah mau bicara." Ucap Roni sembari menepuk sofa kosong sebelahnya. Alina pun duduk disamping Roni.
"Bicara apa ayah, sepertinya sangat serius." Ucap Alina. Tampak Roni menggegam tangan Alina.
"Alina kau sudah besar sekarang... Bahkan, ayah sampai lupa dimana putri kecil ayah yang selalu menangis meminta permen." Ucap Roni membuat Alina tersenyum.
"Ayah, jangan ungkit hal itu... Alina malu." Ucap Alina tersenyum malu. Roni tersenyum dan menghusap puncak kepala Alina.
"Baiklah, tapi Alina... Boleh ayah meminta sesuatu padamu??" Tanya Roni.
"Tentu saja ayah, kenapa tidak?" Jawab Alina bersemangat.
"Ayah minta, nikahlah sekali seumur hidup... Jangan pernah berbisah karena cerai sangat dibenci oleh Allah." Ucap Roni.
"Seperti ayah dengan bunda kan??" Ucap Alina. Tampak Roni tersenyum sembari menganggukan kepalanya pelan.
"Ayah, apa ayah sangat mencintai bunda??"
Tanya Alina.
"Tentu saja sangat mencintainya, bundamu adalah orang yang membuat ayah bahagia... Dia sabar, penyayang, dan tulus... Itu membuat ayah sangat mencintainya." Jawab Roni sembari mengingat kenangan indahnya dengan Alexa.
"Ayah jangan sedih, Alina ikut sedih jika ayah sedih." Ucap Alina. Tampak Roni tersenyum.
__ADS_1
"Selama putri ayah bahagia... Ayah tidak akan sedih." Jawab Roni. Tampak Alina tersenyum dan memeluknya.
Lala melihat dari kejauhan dan tersenyum. Ingin sekali dia merasakan kasih sayang orang tuanya. Namun, sebuah kejadian membuat Lala sebatang kara. Lala pun menuju ke kamarnya menbiarkan waktu luang untuk Alina dan Roni.
“Cklekk!”
Perlahan Lala membuka pintu kamarnya. Dia pun menyambar handuknya dan langsung menuju ke kamar mandi. Hari yang panjang membuat Lala merasa lengket oleh keringat. Lala mengunci pintu kamar mandinya dan hendak berbalik.
"Hmmmppphhhhh!!" Teriak Lala tertahan saat seseorang memojokan Lala dan membungkam mulutnya dengan tangannya.
"Stttt... Tenang ini aku... (Membuka maskernya.) Jangan berteriak." Ucapnya. Tampak Lala menganggukan kepala dan perlahan orang itu menurunkan tangannya.
"Kamu, orang yang menolongku tadi." Ucap Lala lirih.
"Iya, ini aku." Ucap orang itu yang tidak lain Alzero.
"Untuk apa kamu kemari??" Tanya Lala. Lala tersentak saat Alzero membelai wajahnya.
"Aku merindukanmu Lala." Jawab Alzero. Ingin sekali dia memeluknya tapi dia tau jika Lala sangat menjaga harga dirinya.
"Ka... Kamu tau siapa aku??" Tanya Lala dengan nada gugup.
"Tentu saja, karena kau orang yang menolongku saat terluka 3 tahun yang lalu." Jawab Alzero.
"3 tahun yang lalu??" Tanya Lala. Tampak Alzero mengangguk. Lala diam sejenak sampai akhirnya dia mengingatnya.
"Jadi kamu kakak yang dicari penjahat itu??" Ucap Lala. Tampak Alzero mengangguk sembari tersenyum.
"Bagaimana bisa kamu masuk kemari?? Itu tidak baik." Tanya Lala.
"Lewat jendela itu... (Menujuk ke arah jendela.) Maafkan aku karena lancang, tapi aku hanya... (Mendekatkan bibirnya pada daun telinga Lala.) Merindukanmu." Jawab Alzero. Hal itu membuat Lala membeku. Seketika suasana hening.
“Tok, Tok, Tok.”
"Lala, kamu bicara dengan siapa?? Apa kau baik baik saja." Ucap Alina.
"Aku baik baik saja Na, hanya ada kecoak tadi." Jawab Lala.
"Aku kira kau kenapa, baiklah cepatlah mandi aku menunggumu dibawah." Ucap Alina.
"Baiklah." Jawab Lala. Tampak Alina keluar dari kamarnya. Lala menarik tangan Alzero.
"Pergilah, aku tidak mau ada kesalah pahaman karena hal ini." Ucap Lala. Alzero tersenyum dan mencium kening Lala sebelum dia memakai maskernya kembali. Tentu hal itu membuat Lala membeku.
"Aku pergi, sampai jumpa.... Nona Caesar." Ucap Alzero dengan nada lirih dibagian akhir.
Alzero pun keluar dari jendela. Tampak Lala melihat Alzero yang turun dan menaiki tembok pembatas. Setelahnya Lala melihat Alzero masuk kedalam mobil. Lala pun menutup jendela dan menguncinya. Saat hendak menyalakan shower, sejenak Lala menyentuh keningnya.
Apa tadi benar benar nyata?? Batin Lala masih tidak percaya.
Namun Lala menggelengkan kepalanya pelan dan mengenyahkan pikiran tersebut. Dia pun membersihkan dirinya yang terasa sangat lengket.
Sedangkan dengan Alzero. Dia membuka maskernya dan sarung tangannya. Alzero menyinggung senyuman kala dia mengingat wajah cantik Lala. Tatapan dan senyumannya membuatnya enggan berpaling dan terus ingin menatapnya.
__ADS_1
"Rio." Panggil Alzero pada Rio yang tengah menyetir.
"Iya tuan?" Jawab Rio.
"Suruh beberapa orang mendekorasi kamar yang berada tepat di sebelah kamarku... Semua, harus serba biru." Ucap Alzero.
"Baik tuan, apa ini untuk nona Lala?" Tanya Rio.
"Tentu saja, dan iya tambahkan rak untuk novel dan komik... Dia suka membaca." Jawab Alzero.
"Baik tuan, akan saya laksanakan." Ucap Rio.
“Tring!! Tring!! Tring.”
Ponsel milik Alzero berbunyi. Dengan wajah malas Alzero pun mengeluarkan ponselnya. Dan matanya terbelak saat tau siapa yang menelfonnya.
Di kediaman Azura
Suasana makan malam sudah seperti sedia kala. Hanya berbeda dengan Celani yang tampak tersenyum paksa dan sedikit melamun. Melihat hal itu membuat Kenzo menepuk bahu adiknya.
"Ela kamu kenapa?? Makan yang benar." Ucap Kenzo.
"Humph, kakak mengganggu saja." Kesal Celani sembari memakan makanannya.
"Ish galak banget dah, lagi pms ya??" Ucap Kenzo membuat Celani menatap tajam.
"Kenzo, Ela sudah jangan ribut... Makan yang benar." Ucap Dicko membuat keduanya diam.
Aneh banget nih bocah?? Sensian amat. Umpat Kenzo dalam hati. Karena memang tidak biasanya Celani yang ceria telihat sangat sensitive.
Setelah makan malam, seperti biasa mereka berkumpul bersama diruang keluarga.
"Kenzo bagaimana menurutmu??" Tanya Lina sembari menyondorkan tabletnya. Kenzo melihat beberapa gambar gaun pernikahan yang super mewah.
"Mom, Ken belum pengen ngungumin pernikahan Ken... Ken malu masih muda udah nikah." Ucap Kenzo sembari menyenderkan punggungnya di sofa yang empuk.
"Baiklah, mommy rasa sementara waktu pernikahan kalian sembunyi sembunyi... Asal sah dimata agama dan hukum... Gimana menurut daddy?" Ucap Lina sembari menatap suaminya.
"Iya daddy setuju... Setuju saja." Ucap Dicko.
Tampak keduanya tertawa kecil.
"Aku ke atas dulu ya." Pamit Celani. Tampak ketiganya merespon dengan anggukan kepala.
"Oh iya Ken, lusa calon istri kamu datang... Jadi, kamu tidak boleh kemana mana... Kalau tidak..." Ucap Lina mengancam.
"Iya, iya mom... Terserah mommy." Jawab Kenzo pasrah.
"Nanti pas kamu wisuda, jangan lupa foto bareng." Ucap Lina dan hanya direspon anggukan oleh Kenzo.
"Jangan cemberut gitu dong... Gavin aja yang dipaksa nikah biasa biasa aja... Masa kamu nggak?" Ucap Lina.
"Lah mom kayak nggak tau Gavin gimana, dia itu rajanya playboy... Udahlah, aku keatas dulu." Ucap Kenzo sembari pergi. Tampak Lina tersenyum sembari menatap punggung kekar putranya.
__ADS_1