
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
👩💻I Love You Readers❤❤❤❤❤
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Dia pun kembali ke kamarnya. Dilihatnya, Alina tengah duduk dibibir ranjang. Alina terkejut dengan kedatangan Kenzo tiba tiba. Kenzo menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Alina pun berdiri menatap Kenzo yang berjalan mendekat.
"Ken... Aku minta—Hummpphh!!" Belum Alina menyelsaikan ucapannya, Kenzo lebih dulu membungkamnya dengan bibirnya. Kenzo terus menuntun Alina sampai mereka berdua terjatuh diatas ranjang.
"Ke... Ken... Kamu kenapa??" Tanya Alina hati hati sembari menatap Kenzo yang berada diatas tubuhnya.
"Cepat berikanku seorang anak!" Jawab Kenzo dan langsung menggempur Alina.
Apa Ken, sudah menerimaku sebagai istrinya?? Batin Alina bahagia. Dia mengira jika Kenzo menginginkan seorang anak karena sudah menerimanya. Padahal ada tujuan tertentu dibalik itu semua.
Di Sweet Cafe
Raefal tampak menatap tajam wanita cantik didepannya tak lain Aurel. Aurel merekam semua perbincangannya dengan Kenzo dan mengirimnya pada Raefal. Segeralah Raefal mengajaknya bertemu.
Brakk!!
Raefal menggubrak meja keras membuat para pengunjung mengalihkan perhatiannya.
"Maksud lo apa Rel?!! Lo udah tau Ken suka sama lo, Ken udah nikah... Tapi kenapa lo ngelakuin hal itu ha?!!" Tanya Raefal dengan nada emosi. Siapa sangka, pria yang mendapatkan julukan si bungsu itu ternyata bisa berbicara kasar.
"Fal, harusnya lo udah tau alasan gua ngelakuin hal itu... Gua kan udah bilang, gua gak bakalan ganggu atau berhubungan sama Ken asal lo mau nerima gua." Jawab Aurel.
"Ya tapi gak gitu juga caranya!! Lo sama aja ngorbanin orang yang gak salah!" Tegas Raefal.
"Terus gua harus pake cara apalagi Fal?!! Sejak SMP gua udah cinta ke lo... Bukan ke Ken, tapi lo malah jodoh jodohin gua sama Ken... Sakit hati gua Fal, Sakit!" Ucap Aurel dengan mata berkaca kaca. Hal itu membuat Raefal terdiam sesaat. Tampak Raefal mengeluarkan sapu tangannya dan memberikannya pada Aurel.
"Sorry, gua gak bermaksud buat lo kaget." Ucap Raefal tanpa menatapnya. Aurel menerima sapu tangan Raefal dan mengelap air matanya.
"Jujur Fal... Lo sebenarnya suka kan ke gua, tapi lo relain gua buat Ken... Jawab Fal, kenapa lo diem aja??" Tanya Aurel.
"Iya... Itu dulu, sekarang gua gak lagi suka ke siapa siapa... (Bangkit dari duduknya.) Gua mau fokus buat kuliah, dan gua peringatin sekali lagi... Jangan ganggu rumah tangga Kenzo... Lo cewek kan?? Rasain saat lo di posisi Alina... Sampe detik ini dia dimanfaatin sama Ken, dia cewek paling sabar ngehadapin mantan biang onar kayak Ken... Please Rel, jangan ganggu rumah tangga Kenzo." Ucap Raefal memohon sembari mengetupkan kedua tangannya. Tampak Aurel tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Raefal.
"Dan gua udah bilang kan sayang... (Membelai wajah Raefal.) Kalo lo mau nerima gua, gua gak bakalan ganggu mereka lagi... Keputusan ada ditangan lo, sayang." Ucap Aurel kemudian menc*um pipi kanan Raefal dan pergi begitu saja.
Sial! Umpat Raefal sembari menghapus bekas c*uman Aurel. Dia pun keluar setelah membayar dan menghampiri mobilnya yang terparkir didepan Cafe.
"Ciky!!! Wah kebetulan banget kita ketemu." Ucap Mita yang kebetulan baru membeli cemilan.
"Mita... Gua udah bilang jangan manggil gua gitu." Ucap Raefal membuat Mita cemberut.
"Setidaknya diluar kampus kan?? Ciky, kamu dari mana??" Tanya Mita.
"Cafe, ketemu temen... Lo sendiri??" Jawab Raefal kembali bertanya.
__ADS_1
"Abis beli cemilan... Oh iya Ciky, aku juga membeli snack kesukaan kamu... Ini." Ucap Mita sembari menyondorkan snack berukuran jumbo.
"Lo masih inget ternyata... Thanks yah, lo pulang naik apa??" Tanya Raefal.
"Taxi." Jawab Mita.
"Gua anter gimana mumpung gua baik??" Tawar Raefal. Tampak Mita kegirangan dan memeluk Raefal.
"Terima kasih Ciky, kamu emang the best." Ucap Mita membuat Raefal tersenyum.
"Ya udah ayo masuk." Ajak Raefal. Dengan senang hati, Mita pun masuk kedalam mobil Raefal. Tanpa dia sadari, Aurel melihatnya.
Lo cuman milik gua Fal, cuman gua. Batin Aurel sembari mengepalkan tangannya erat.
"Oh iya Ciky, bagaimana luka dilenganmu?? Sudah sembuh??" Tanya Mita sembari menatap Raefal yang fokus menyetir.
"Sudah... Cuman luka kecil—"
"Luka kecil gimana??! Kalau gak aku obatin pasti kamu gak mau berobat kan??" Ucap Mita penuh kekhawatiran. Tampak Raefal tersenyum dan menatap Mita sekilas.
"Lo terlalu berlebihan Mit, udah lo tenang aja." Ucap Raefal membuat Mita cemberut.
"Oh iya, kabar tante Dewi gimana??" Tanya Raefal.
"Dokter bilang udah membaik." Jawab Mita tampak lesu.
"Kenapa nada bicara lo gitu?? Lo gak seneng kalau—"
"Bukan gitu Ciky... Kalau ibu sembuh total kemungkinan aku pindah, aku tidak mau pindah dan pisah darimu." Ucap Mita dengan wajah sedih.
"Hahaha... Mita, lo gak usah sedih oke?? Gua bakalan ngomong ke mama buat bujuk tante supaya menetap disini." Ucap Raefal membuat Mita menatapnya berbinar.
"Horeee!!! Ciky emang the best." Ucap Mita penuh kegirangan. Dan entah mengapa Raefal menyukainya.
Di Kediaman Saputra
Gavin baru saja menyelsaikan skripsi yang akan dia kumpulkan besok. Tampak dia meregangkan ototnya dan merebahkan tubuhnya di sofa kamar.
Nia nurut juga, baguslah gua dariawal gak suka sama si muka kingkong itu... Ntar malam gua ajak Nia dinner kali yah... Buat refreshing. Batin Gavin sembari tersenyum.
"Ekhem... Adikku yang paling hobi bikin onar lagi senyum senyum sendiri nih, pasti mikirin Nia kan??" Goda kakaknya tak lain Ravin.
"Halah, palingan abang cemburu kan?? Secara kan aku selalu dideketin cewek... Lah abang, ndeketin cewek ditolak semua." Ejek Gavin membuat Ravin kesal.
"Diem kamu!! Bikin kesel aja, kakak kesini disuruh sama papa buat ngajarin kamu ngelola perusahaan." Ucap Ravin sembari duduk dibibir ranjang.
"Ah, males kak... Ntar ajalah." Ucap Gavin membuat Ravin memutar bola matanya bosan. Dia mengambil laptop Gavin hendak mengecek skripsi yang Gavin kerjakan.
"Kak." Panggil Gavin tanpa menatap kakaknya.
"Hmmm."
"Kakak kenapa gak nikah sama Arina aja??"
Usul Gavin.
"Sembarangan kamu!! Dia masih bocah Gavin, Astaga.... Masih seumuran Celani." Tegas Ravin.
"Tapi papa sama mama setuju aja tuh... Secara kan kakak lebih banyak luangin waktu buat Arina daripada sama aku... Kakak gak keliatan tua kok, umur doang yang tua... Si Arina palingan 17 tahun kan?? Kakak udah 28 tahun... Nah cuman lewat 11 tahun doang kak, lumayan dapet daun muda." Goda Gavin pada kakaknya.
__ADS_1
"Stress kamu, nih ada yang salah benerin!!" Ucap Ravin kemudian pergi. Padahal dia benar benar berniat mengajarkan pada Gavin untuk mengelola perusahaan.
Kalau aja gak ada Nia... Gua juga mau sama Arina, daun muda mana ada yang nolak. Batin Gavin.
Malam Harinya
Kenzo membuka matanya perlahan. Dilihatnya Alina tertidur dengan lengannya sebagai bantalan. Hal itu membuat Kenzo tersenyum mengingat beberapa jam lalu. Dimana Alina mendesah memanggil nama Kenzo berkali kali. Kenzo meraih ponselnya dan dilihatnya Aurel mengirimkan pesan jika dia sudah di Cafe.
Astaga, gua lupa... Gua harus siap siap. Batin Kenzo. Dia pun menarik tangannya perlahan dan menuju ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian Kenzo keluar dengan pakaian rapi. Saat itu Alina bangun dan menatap Kenzo yang sedang menyisir rambutnya.
"Kamu mau kemana Ken??" Tanya Alina sembari duduk bersandar dan memegangi selimutnya yang menutupi tubuhnya.
"Pergi, lo gak usah kepo." Jawab Kenzo.
"Tapi... Ini sudah malam Ken—"
"Gak usah sok perhatian lo... Gua pergi, lo tidur aja gak usah mandi pasti lo susah jalannya." Ucap Kenzo kemudian pergi.
Kenapa Ken tiba tiba berubah?? Batin Alina sembari menundukan pandangannya.
"Jihan, oma mana??" Tanya Kenzo sembari menatap Jihan.
"Nyonya besar sudah tidur tuan." Jawab Jihan.
"Oh oke... Gua mau ketemu temen temen, paling jam 2 sudah balik." Ucap Kenzo kemudian pergi.
Mau kemana tuan muda malam malam begini?? Batin Jihan.
Brukh!!
Alina yang berniat ke kamar mandi itu terjatuh. Dia merasa seluruh tubuhnya sakit dan hancur tak berbentuk.
"Ssshhh! Ini sakit." Rintih Alina. Dengan kekuatan penuh, Alina berusaha ke kamar mandi. Meskipun berjalan terseret seret.
Kenzo kemana malam malam begini?? Semoga dia baik baik saja. Batin Alina kemudian menyalakan kran air hangat. Dia pun berendam di bath up guna menghilangkan rasa lelah.
Di Sweet Cafe
Kenzo menghampiri Aurel yang tengah duduk sembari memainkan ponselnya. Hingga sadari Kenzo menatapnya, Aurel melambaikan tangannya. Kenzo berjalan mendekat dan memeluk Aurel erat.
"Lo kemana aja Rel?? Gua kangen banget sama lo." Ucap Kenzo. Tampak Aurel melepaskan pelukannya perlahan.
"Gak kemana mana kok... Ini udah balik." Jawab Aurel dan keduanya tertawa kecil. Kini keduanya duduk berhadapan sembari menunggu menu mereka datang.
"Soal waktu itu, gua minta—"
"Gak usah, gua tau kok lo masih belum nerima gua... It's okey, tapi kali ini lo jangan halangin gua buat ngejar lo." Ucap Kenzo memotong.
"Gua masih suka sama lo Rel, lo tau?? Gua seneng banget pas lo minta gua ketemu... Lo mau kan nerima gua??" Timpal Kenzo sembari menatap Aurel.
"Gua gak mau jadi perusak rumah tangga orang." Tegas Aurel membuat Kenzo terdiam.
"Gua bakalan cerain dia kalau dia udah hamil." Ucap Kenzo.
"Jadi maksud lo?? Kalo istri lo hamil terus lo dapet alih perusahaan langsung cerain dia?? Dan nikahin gua, gitu??" Tanya Aurel.
"Iya... Dari awal itu emang tujuan gua." Jawab Kenzo.
Plakkk!
__ADS_1
Tamparan keras menderat pada pipi Kenzo. Bukan Aurel yang menampar, tetapi....