My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
BAB 54


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


👩‍💻I Love You Readers❤❤❤❤❤


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


"Hahaha..." Tawa Fanya dan lainnya ikut pecah. Tampak Renasya membuang muka saat dia ditatap Calvin.


Gua harus kabur nih, alamat singa ngamuk... Batin Renasya bersiap untuk kabur. Namun tangannya lebih dulu dicekal Calvin.


Byurrr!!


Keduanya terjebur dan menikmati hamparan ombak. Tampak Renasya menatap Calvin kesal. Sedangkan Calvin tersenyum kemenangan.


"Calvin!!!" Teriak Renasya mengejar Calvin.


"Singa ngamuk lari!!!" Ejek Calvin sembari menghindar dari Renasya.


Ashel yang kini tengah duduk didepan tenda hanya tersenyum melihat teman temannya bahagia. Itu mengingatkannya pada sang kakak. Meskipun baru kemarin Ashel tidur sendiri, tapi dia merindukan sang kakak. Semuanya dia rindukan. Bahkan saat sarapan tadi Ashel tak sengaja memanggil nama kakaknya karena itu kebiasaannya saat sarapan.


"Shel yok ikut!!" Ajak Renasya.


"Kita ke hutan kecil itu, disana tidak ada hewan buas kok." Timpal Calvin.


"Baiklah." Jawab Ashel dan menghampiri mereka. Kini mereka berniat mengambil foto kenang kenangan di dalam hutan kecil yang sudah dipastikan keamanannya.


"Wih indah juga yak, cowok kecebong coba lo naik pohon kelapa itu... Pasti mirip kembaran lo yang hobi banget makan pisang." Ucap Fanya mengejek.


"Heh, maksud lo nyamain gua sama monyet gitu??!!" Tanya Alfa dengan nada kesal.


"Lah ngaku sendiri." Jawab Fanya sembari tertawa kecil.


"Dasar cewek bombai!!" Geram Alfa.


"Bro jangan benci benci, ntar lo bucin lagi." Ucap Calvin sembari merangkul leher sahabatnya.


"Bucin bucin... Micin yang ada." Jawab Alfa kesal dan menghempaskan tangan Calvin.


"Cieee kesel." Ejek Calvin sembari tertawa bahagia.


Trrriiiinnnngggg!!!


Ponsel milik Celani berbunyi. Ternyata sang ibu menelfonnya.


Duh, kenapa harus telefon sekarang sih mom?? Kesal Celani dalam hati. Tanpa berpamitan pada sahabatnya, Celani pergi untuk mengangkat telefon.


📞


“Hallo mom??” Ucap Celani memulai.


“Sayang kamu pulang jam berapa??” Tanya Lina di seberang sana.


“Gak tau mom, kayaknya sekitar jam 8 malam ntar... Kenapa emangnya??” Jawab Celani kembali bertanya.


“Nggak apa apa, mommy lagi di vila kakak kamu... Jadi kalau kamu pulang belum ada mommy di rumah, susul aja ya.” Ucap Lina di seberang sana.


“Iya mom, aku tutup telefonnya ya.... Bay mommy, much.” Ucap Celani kemudian menutup telefonnya.


Tut.


"Nah mati juga, gua kira penting... Mana awan tiba tiba mendung lagi, pasti mau ujan." Ucap Celani. Saat akan pergi tiba tiba dia tergelincir dan...

__ADS_1


"Aaaa!!" Teriak Celani saat dia terguling ke jurang yang agak rendah.


Bukhh!!


Keningnya berdarah akibat terbentur batu. Celani merasakan pusing dan perlahan kesadarannya hilang.


Gldukkkk Jederrrrrrr!!!


Suara petir membuat para pemuda dan pemudi itu terkejut.


"Astghafirullah, kayaknya mau turun hujan." Ucap Fanya.


"Ya iya hujan lah bombai, masa ada gledek turunnya duit??!" Sewot Alfa.


"Ih sewot mulu lo, jangan jangan lo naksir ya sama gua??" Ucap Fanya percaya diri.


"Udah udah... Mending kita beres beres pindah ke vila, biasanya ombak naik kalau hujan." Ucap Renasya.


"Sebentar, dimana Ela??" Tanya Ashel. Sontak membuat lainnya tersadar.


"Eh iya, Celani!!!! Cel!!!" Panggil Fanya. Tidak ada sahutan membuat lainnya cemas.


"Farrel dimana Celani?? Kan daritadi sama lo??" Tanya Renasya agak meninggi.


"Ya mana gua tau?? Tadi gua kira disamping gua!" Jawab Farrel dengan nada tinggi juga.


"Eh gak usah ngegas dong!" Sahut Fanya.


"Kalian diam, sekarang bukan saatnya menyalahkan... Kita bagi tugas, Rena Fanya dan Marsya beres beres tenda... Sisanya cari Ela." Titah Ashel dan diangguki setuju oleh semuanya. Para wanita mengemasi barang barang sedangkan pria menyusuri hutan mencari keberadaan Celani.


"Celani!!! Woy!!!" Panggil Alfa sembari menyusuri hutan.


"Celani!!!" Kini Calvin juga memanggil.


"Celani lo dimana??!!!" Panggil Devan dan Farrel.


"Ela!!!! Celani!!!" Panggil Ashel.


Diambang kesadarannya, Celani mendengar namanya dipanggil. Dia ingin menjawab tapi tubuhnya terasa tidak bisa digerakan.


Cel, lo mana sih?? Gua bisa babak belur kalau kakak lo tau hal ini?? Batin Farrel cemas.


Ela dimana kamu?? Semoga kamu baik baik saja. Batin Ashel cemas. Hujan turun membuat lainnya kesusahan mencari Celani.


"Lo nemuin Celani??" Tanya Alfa.


"Gak, Cal... Devan... Ashel kalian ketemu??" Jawab Farrel kembali bertanya.


"Tidak." Ucap Ashel mewakili.


"Gini nih ya... Hujan turun deres banget, apalagi hari gelap susah nyari Celani... Kita—" Ucap Calvin terpotong.


"Kita cari Celani!" Potong Ashel dan Farrel.


"Ya gua ngertiin perasaan lo Rel, tapi kita juga harus ngertiin keadaan... Gini aja kita ambil mantel sama senter buat mempermudah nyari." Ucap Calvin. Tampak Ashel dan Farrel menganggukan kepalanya pelan.


"Gua harus tetep cari Celani!" Ucap Farrel.


"Farrel!!" Panggil Ashel dan tidak direspon.


"Astaga anak orang, gini nih kalau udah bucin!" Ucap Alfa.


"Aku juga akan mencari Celani." Ucap Ashel.


"Loh... Loh astghafirullah, mereka ini!! Devan lo nyusul Farrel, gua nyusul Ashel... Terus Alfa, lo samperin para cewek buat ambil senter." Titah Calvin. Devan dan Alfa pun menganggukan kepalanya mengerti.


"Celani lo man— Aaaa!! Aw!!!" Teriak Farrel saat dia terjatuh. Beruntung hanya terbentur akar jadi tidak terlalu parah.


"Ya Allah Farrel!!" Teriak Devan. Dia pun menghampiri Farrel.


"Kening lo berdarah, bisa bangun gak??" Tanya Devan membantu Farrel berdiri.

__ADS_1


"Sial!!" Umpat Farrel.


"Kita ke vila dulu, semoga Ashel sama Calvin nemuin Celani.... Lo doain aja." Jawab Devan. Farrel yang pusing dan kedinginan itu hanya menurut.


Devan dan Farrel pun menuju ke vila. Di tengah jalan mereka dihampiri oleh Alfa. Alfa pun membantu memapah Farrel. Sesampainya di vila, baik Farrel Devan dan Alfa terbelak melihat Celani yang sudah terbaring diatas sofa tanpa ada seorang pun. Farrel pun menghampiri Celani.


"Cel lo nggak apa apa?? Cel???" Ucap Farrel menepuk pipi Celani pelan.


"Lo ngapain diem aja?? Panggil para ciwi buat obatin Celani." Titah Devan.


"Iy... Iya." Jawab Alfa kemudian mencari keberadaan para wanita.


Cklekkk!!!


"Hey si Cel-----" Ucap Alfa menggantung saat melihat Renasya Fanya dan Marsya hanya memakai handuk kimono.


"Aaaaaaaaa!!!! M*sum!!!!!" Teriak ketiganya dan melempari Alfa dengan kosmetik bahkan Fanya dengan sadis melempar Alfa dengan sepatunya.


Bukhh!!!


Bamm!!!!


Fanya membanting pintunya.


"Jangan masuk!!" Teriak Fanya dari dalam kamar. Tampak Alfa memegangi keningnya yang terasa pening akibat lemparan sepatu dari Fanya.


Kayaknya dia itu bukan cewek deh, tapi wonder woman. Umpat Alfa. Beberapa saat menunggu akhirnya para wanita itu keluar.


Alfa pun menjelaskan semuanya dan mereka berempat turun menghampiri Celani. Tak lupa membawa peralatan P3K. Dilihatnya Celani sudah sadar dengan tangan menggenggam tangan Farrel.


"Weee ada yang jadian!" Teriak Devan membuat lainnya mendekat.


"Siapa?? Jangan bilang kalau...." Tanya Fanya menggantung saat melihat Farrel dan Celani tersenyum bahagia. Meskipun keadaan mereka terluka.


"Nah udah gua duga, lo sama Celani kan?? Anj*r sekarang tinggal gua yang jomblo." Ucap Alfa memelas.


"Hahaha, nasib lo tuh." Ucap Devan yang tengah dilap oleh pacarnya. Siapa lagi jika bukan Marsya.


"Wee Celani jangan lupa pajak jadiannya ya... Gua mau cemilan, jangan pelit Rel!" Ucap Renasya membuat Farrel tertawa kecil.


"Iya... Ya ntar santai aja." Ucap Farrel.


"Mending Devan sama lo Farrel ganti baju... Basah kuyup gitu... Gua obatin Celani habis itu bantu dia ganti baju." Ucap Renasya.


"Oke, gua titip pacar gua ya... Sayang gua mandi dulu ya, jangan rindu." Pamit Farrel membuat Celani merona.


"Ekhem!!! Gua jomblo dan gua bangga." Ucap Alfa.


"Iri aja lo, makanya cari pacar hahaha!!!" Ejek Farrel membuat Alfa kesal. Farrel dan Devan pun ke kamarnya guna membersihkan diri.


"Shel kaki lo parah banget, kayaknya harus ke rumah sakit deh... Liat diperban berkali kali tembus darahnya." Ucap Calvin cemas.


"Sssshhh, sepertinya begitu... Kamu cek keadaan Celani saja, aku akan mengobati kaki ku sendiri." Ucap Ashel meringis kesakitan. Kaki Ashel tepatnya bagian betis tertusuk ranting, sedangkan lengannya tergores bebatuan tajam.


"Disaat begini lo mikirin dia?? Yang bener aja Shel... Kalo lo minta gua liat keadaan Celani, sorry gua gak bisa... Sahabat gua lebih butuh gua daripada cewek itu." Ucap Calvin sembari membarut luka lengan Ashel. Tampak Ashel tersenyum merasa tersentuh dengan ucapan Calvin.


"Gua udah taru barang barang lo dibagasi, gua bakalan antar lo ke rumah sakit habis itu antar lo pulang ke vila." Ucap Calvin sembari meletakan kotak P3K.


"Terima kasih Cal." Ucap Ashel.


"Gak ada kata terima kasih dalam persahabatan Ashel... Kita saling melengkapi satu sama lain." Jawab Calvin dan direspon anggukan kepala oleh Ashel.


Cklekk!!


Tampak Alfa tiba tiba membuka pintu kamar membuat Calvin dan Ashel terkejut.


"Eh dibawah lagi happy, kalian malah berduaan di kamar... Jangan jangan kalian gay lagi." Ucap Alfa.


"Gua masih normal bod*h! Lo gak liat apa Ashel luka, gua obatin dia tadi... Emang happy apaan sih??" Tanya Calvin kesal.


"Ntu si Farrel sama si Celani jadian... Gua gak nyangka mereka secepet itu... Bikin gua Iri aja." Jawab Alfa membuat Calvin dan Ashel terdiam.

__ADS_1


"Ela dan Farrel berpacaran??" Tanya Ashel lagi.


"Hooh, Devan noh jadi saksinya... Katanya pas mau sadar Celani bilang kalau dia cinta ke Farrel... Ya udah tau gitu, Farrel langsung nembak lah." Jawab Alfa menjelaskan.


__ADS_2