
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘
I LOVE YOU READERS😙💕
🥀MHKOT🥀
Di Lain Sisi
Mita tampak mengunjungi sebuah kost kecil yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya. Tak lupa, Mita membawa buah tangan untuk seseorang yang dia kunjungi. Dia pun mengetuk pintu pelan.
Tok. Tok. Tok.
"Assalamualaikum." Ucap Mita. Terdengar seseorang membalas salamnya dan membuka pintunya.
Cklekk!!
Pintu terbuka. Mita tersenyum menatap wanita berbadan dua itu. Wanita itu tak lain Alina yang kini tengah mengandung besar.
"Mita, seharusnya kamu tidak perlu membawakan ini... Masuklah." Ucap Alina. Tampak Mita masuk dan duduk di kursi kayu diruang tamu.
"Ya kemarin aku lihat susumu sudah habis... Jadi, sekalian ku belikan... Bagaimana kandunganmu??" Tanya Mita. Alina menghusap perutnya yang membuncit.
"Sangat baik... Dia sering menendang akhir akhir ini." Jawab Alina.
"Wah benarkah?? Bagaimana kita pergi ke rumah sakit untuk—"
"Tidak Mita, rumah sakit disini kebanyakan punya mommy." Ucap Alina memotong.
"Aku lupa... Tapi Alina... Dengarkan penjelasan dari Kenzo, ingat sebentar lagi kamu akan melahirkan... Apa kamu tega anakmu lahir tanpa didampingi sang ayah??" Ucap Mita.
"Jangan mengatakan nama itu lagi... Aku muak mendengarnya." Ucap Alina sembari memeriksa isi kantong kresek yang Mita bawa.
"Jika dia ingin menjelaskan, seharusnya mencari ku... Tapi... Sudah 5 bulan aku pergi apa dia mencari ku?? Tidak kan." Ucap Alina sembari membawa kresek itu ke dapur.
"Sabar Caca, wanita hamil memang sensitive... Maklumi saja oke?? Okelah." Ucap Mita lirih.
"Mita, bantu aku menyusun ini." Ucap Alina dari arah dapur.
"Baiklah, sebentar." Jawab Mita kemudian menyusul Alina.
Di SMA Trijaya 1
Ashel keluar dari ruang osis bersama dengan Renasya. Dia baru selesai membahas mengenai acara kelulusan, ulang tahun sekolah dan bazar nantinya. Tidak seperti sebelumnya, kinerja osis tahun ini naik derastis. Dari angka 49% menjadi 97%. Tentu karena ketekunan Ashel dan ketegasannya dalam memimpin anggotanya.
"Shel gua laper, ke kantin yuk." Ajak Renasya.
"Ayo." Jawab Ashel. Keduanya pun menuju ke kantin guna mengisi perutnya yang keroncongan.
"Ashel!" Panggil Devan yang tengah bermain gitar. Ashel dan Renasya pun mendekat.
"Dah selesai rapatnya??" Tanya Alfa yang tengah bermesraan dengan Fanya.
"Sudah." Jawab Ashel.
"Gua mo beli ramen instan dulu—"
"Ren gua nitip dong." Ucap Fanya.
"Lah deket Fanya, manja banget jadi orang." Kesal Renasya.
"Kita sekalian pesenin dong Ren, katanya lo baik... Iya gak Dev?? Shel??" Tanya Alfa.
"Iya iya gua pesenin... Tapi bayar sendiri, awas aja kalo ngutang." Ancam Renasya kemudian pergi.
"Galak amat jadi orang... Eh ngomong ngomong, si Calvin udah beberapa pekan loh gak nongkrong bareng kita... Ada masalah ya sama Rena??" Tanya Devan.
__ADS_1
"Kata Rena, si Calvin ngejauh dari dia gegara Valdo ngancem... Bokapnya Valdo kan atasannya bokapnya Calvin... Jadi Calvin takut kalo bokapnya di pecat." Jelas Fanya.
Jadi begitu, kasihan Calvin... Nanti aku akan minta kakak agar membantu om Aghanta. Batin Ashel. Keluarga Calvin memang keluarga pas pasan. Berbeda dengan Alfa Devan Farrel dan Ashel yang dari keluarga berkecukupan.
"Eh Shel lo tau gak... Si Celani baru putus ntu sama si Farrel." Ucap Fanya.
"Apa?? Kenapa?? Bukankah mereka sudah lama berpacaran??" Tanya Ashel bingung.
"Ya, entah gua juga gak tau... Coba lo tanya Ela, dia di kelas sendirian." Jawab Fanya dan tanpa mengatakan apapun, Ashel langsung pergi.
"Si Ashel masih aja bucin sama Celani... Udah tau berkali kali disakitin masih aja gitu." Ucap Alfa.
Sedangkan dengan Ashel, untuk pertama kalinya sejak Celani berpacaran dengan Farrel akhirnya Ashel memiliki keberanian untuk bertemu dengan Celani. Dan benar saja, Celani tengah duduk melamun dibangkunya sendirian. Dia bahkan tidak sadar jika Ashel duduk disampingnya.
"Ela..." Panggil Ashel lembut membuat Celani menoleh.
"Kamu tidak apa ap—" Ucap Ashel terpotong saat Celani tiba tiba memeluknya. Dia bahkan menangis di pelukan Ashel.
"Hiks... Hiks... Fa.... Farrel manfaatin gua Shel... Dia cuman manfaatin gua." Ucap Celani membuat Ashel tersentak kaget. Perlahan tangan Ashel terangkat untuk menghusap puncak kepala Celani.
Padahal aku berharap kamu bahagia Ela, meskipun kamu dulu memanfaatkanku. Batin Ashel menatap Celani kasihan. Terlebih konflik keluarganya akibat Alina yang pergi entah kemana. Pasti membuat Celani semakin sedih.
"Jangan sedih... Ada aku, bagaimana kalau kita ke kantin?? Ada Rena dan Fanya juga disana??" Ajak Ashel. Celani menghapus air matanya dan menganggukan kepalanya. Ashel pun mengajak Celani ke kantin dan bergabung dengan lainnya.
Di Vila Kenzo
Kenzo sudah memutuskan untuk menyusul Alina di Bandung. Dia sudah menyiapkan diri untuk menjelaskan. Hanya saja, badannya terasa tidak vit. Dilihat dari wajah Kenzo yang pucat. Setelah bersiap, dia pun bergegas pergi.
"Oma, Ken pergi dulu... Doain semoga Ken bisa bawa pulang Alina." Ucap Kenzo.
"Tunggu Kenken, kamu pucat sekali... Gak istirahat dulu nak??—"
"Nggak ada waktu Oma... Ken berangkat, Assalamualaikum." Pamit Kenzo tak lupa memberikan ciuman pada pipi kriput Madira.
Di halaman, tampak Alzero sudah menunggu.
"Ken kamu baik baik saja??" Tanya Alzero.
"Lo ikut La??" Tanya Kenzo.
"Iya... Kamu akan membutuhkan bantuan ku untuk membujuk Nana." Jawab Lala.
"Thanks La."
"Sama sama." Jawab Lala. Mereka pun berangkat menuju ke Bandung.
Sial! Kepala gua sakit banget. Batin Kenzo sembari memijit pelan keningnya.
"Ro, sepertinya Ken tidak sehat." Bisik Lala.
"Akhir akhir ini dia jarang makan dan istirahat... Dia terlalu memikirkan Alina." Jelas Alzero. Tampak Lala menganggukan kepalanya pelan.
"Tapi, kenapa kamu peduli?? Kamu pikir aku tidak cemburu, hmm??" Tanya Alzero hendak mencium bibir Lala.
"Ro jangan disini." Ucap Lala dengan rona diwajahnya. Dia menahan dada Alzero yang hendak mendekat.
"Ayolah sayang, beberapa pekan lagi kita menikah... Bagaimana bisa kamu masih malu malu begini??" Goda Alzero. Tanpa mereka sadari, Kenzo mengintipnya dari kaca spion.
Kalo aja dari dulu gua kayak Al... Pasti sekarang gua lagi nanti anak gua yang mau lahir... Sial! Umpat Kenzo.
Ya Allah, dulu aku melihat nyonya dan tuan besar bermesraan... Sekarang tuan muda dan nona Lala. Batin Rio.
Sepulang Sekolah
Renasya tampak menunggu jemputan. Tadinya dia diajak Ashel, hanya saja dia ingin memberikan waktu berdua pada Celani. Sesekali Renasya menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Udah jam segini kok belum dijemput. Batin Renasya.
__ADS_1
"Rena!" Panggil seseorang yang tak lain Calvin.
"Calvin... Lo kok disini??" Tanya Renasya sembari menghampiri Calvin.
"Um... Tadi gua balikin... Buku prasejarah ke Alfa." Jawab Calvin. Padahal sebetulnya dia hanya ingin bertemu dengan Renasya.
"Kok lo belum pulang??" Tanya Calvin.
"Jemputan gua belum njemput nih... Lama banget." Jawab Renasya.
"Mau gua anter??" Tawar Calvin.
"Gak, motor lo tinggi banget... Ntar gua jatuh gimana??" Jawab Renasya.
"Oh ya udah... Gua tinggal nih ya, entar lo diculik sama preman terus—"
"Iya, ya gua ikut." Ucap Renasya.
"Nah gitu dong." Jawab Calvin sembari tersenyum. Renasya pun naik dan sedikit menjaga jarak pada Calvin.
"Rena... Lo bisa jatuh kalo gak pegangan Rena." Ucap Calvin.
"Hih, kan gua udah bilang kalo—" Ucap Renasya terjeda saat tiba tiba Calvin menjalankan motornya dan mengerem tiba tiba membuat Renasya memeluk Calvin. Calvin tersenyum, dan menjalankan motornya.
"Lo modus kan, Calvin!!" Ucap Renasya saat Calvin sedikit melaju kencang.
"Hah?? Apa?? Lo sayang sama gua, iya gua juga tau." Ucap Calvin pura pura tidak mendengar. Renasya pun memukul pelan kepala Calvin yang memakai helm.
"Apaan sih lo, jangan kenceng kenceng... Gua takut." Ucap Renasya dengan wajah merona.
"Oke, oke... Jangan digetok juga kali kepala gua." Jawab Calvin.
"Oh iya, kok lo gak diapartemen??" Tanya Calvin.
"Nggak, soalnya ayah lagi keluar kota... Jadi nemenin nyokap." Jawab Renasya.
"Oh iya Ren, lo tau gak kalo papa gua udah jadi menejer di salah satu perusahaan Caesar Group." Ucap Calvin. Dia lupa jika Caesar adalah marga keluarga Ashel.
"Alhamdulilah kalo gitu, jadi Valdo gak ngancem lo lagi." Jawab Renasya.
"Lo meluknya jangan kenceng kenceng dong, ntar gua khilaf gimana??" Goda Calvin.
"Hih apaan sih lo?!! Ngeres banget jadi orang." Kesal Renasya dengan wajah memerah.
"Hahaha, gua tebak lo merona... Iya kan?? Ngaku lo." Tebak Calvin.
"Sok tau!" Sewot Renasya membuat Calvin terkekeh. Sepanjang perjalanan dua orang berlain jenis itu tampak saling bertukar cerita.
Sedangkan dengan Ashel. Dia sudah sampai masuk kedalam halaman kediaman Azura. Celani keluar dari dalam mobil dan menatap Ashel yang hendak pergi.
"Shel... Ntar malem ada pameran, gimana kalo kita pergi??" Tawar Celani.
"Baiklah, nanti malam aku akan menjemputmu." Jawab Ashel.
"Oke, gua tunggu... Gak masuk dulu Shel??" Tanya Celani.
"Tidak, mungkin lain waktu... Aku pergi dulu, sampai bertemu lagi nanti." Jawab Ashel. Celani menganggukan kepalanya dan melambaikan tangannya saat mobil Ashel menjauh.
Gua nyesel pernah manfaatin lo Shel.... Gua minta maaf. Batin Celani.
Malam Harinya
Alina tengah menikmati cemilan sembari menonton televisi. Sesekali dia tersenyum sembari menghusap perutnya. Dilihatnya sudah pukul 8 malam. Saat hendak mengambil air minum, terdengar suara ketukan pintu.
"Sebentar, pasti Mita." Ucap Alina. Alina meletakan gelasnya di meja dan mendekati ke arah pintu.
Cklekk!
__ADS_1
Pintu terbuka perlahan. Dilihatnya pria yang selama ini dia hindari berada dihadapannya dengan pakaian basah dan wajah pucat. Pria itu tak lain Kenzo.
"Alina...."