My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
BAB 44


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


👩‍💻I Love You Readers❤❤❤❤❤


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Ini semua gara gara si Gavin, awas aja kalo ketemu gua bejek bejek dia. Batin Kenzo sembari memasukan sesuap nasi dan lauknya. Mata Kenzo terbelak saat merasakan masakan istrinya.


Nih cewek lumayan juga, kemarin masak lumayan enak... Gak, gua gak boleh suka sama cewek cupu kek dia. Batin Kenzo.


Seusai sarapan, Celani Dicko dan Lina tengah duduk bersama di ruang keluarga sembari menonton televisi. Sedangkan Kenzo pergi ke kamarnya berniat mengambil ponsel.


Cklekk!


Pintu kamar terbuka perlahan. Dan lagi lagi Kenzo dikejutkan oleh Alina yang baru keluar dari kamar mandi. Yang membuat Kenzo terkejut adalah Alina keluar hanya memakai balutan handuk dan membuat Kenzo menelan ludahnya kasar.


Bamm!


Kenzo menutup pintu membuat Alina menatapnya heran. Tampak Kenzo menghampiri sang istri. Dia pun memojokan Alina ke tembok dengan tangan kanan mengurungnya.


"Ada apa??" Tanya Alina lirih dan hati hati.


"Lain kali kalo mandi, di kunci pintu kamarnya... Untung gua yang dateng, suami lo... Kalo yang lain gimana?!" Jawab Kenzo sedikit meninggi.


"Maaf." Cicit Alina sembari menunduk. Dan Kenzo memejamkan matanya saat menatap bagian leher Alina yang masih ada jejak k*ssmark.


"Ken, (Kenzo menatapnya.) Memang apa yang kau perbuat pada ku semalam??" Dengan berani, Alina menanyakan hal itu.


Brukh!


Kenzo mengurung Alina dengan kedua tangannya. Tampak dia mendekatkan wajahnya pada telinga sang istri.


"Lo beneran pengen tau??" Tanya Kenzo tersenyum penuh arti. Alina yang tidak tau maksud dari senyuman Kenzo pun menganggukan kepalanya pelan.


Cup.


Tanpa ragu Kenzo menc*um bibir Alina yang sekarang menjadi candu untuknya. Alina terkejut dan hendak mendorong tubuh Kenzo. Namun, Kenzo menceghatnya dengan mengurung kedua tangan Alina menggunakan tangan kanannya. Tepatnya diatas kepala Alina dan dipojokan ditembok. Setelah puas menc*umi bibir sang istri, kini Kenzo beralih pada leher Alina. Bekas yang Kenzo buat semalam masih belum hilang dan Kenzo membuatnya lagi.


"Ken.... Kenzo, apa yang kau lakukan???" Rintih Alina merasa geli dan merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya untuk pertama kalinya. Namun, Kenzo tak membalas rintihan dari Alina.


Di luar kamar, Celani tengah berdiri didepan kamar sang kakak. Dia berniat memanggil Kenzo dan Alina untuk turun berkumpul bersama. Saat akan mengetuk pintu, Celani mendengar rintihan dari Alina membuat Celani mengurungkan niatnya.


Kakak ipar kenapa?? Apa jangan jangan?? Batin Celani. Karena penasaran, Celani pun mengintipnya. Matanya terbelak saat melihat sesuatu yang tidak seharusnya.


"Ken, ada Celani." Ucap Alina membuat Kenzo berhenti menc*um lehernya. Celani menutup pintu dan membalikan badannya.


"Astghafirullahalazim... Mataku udah gak suci... Eh, tapi kalau ngintip lagi gak apa apa lah... Kan lumayan." Ucap Celani sembari tertawa kecil tanpa menyadari Kenzo berdiri dibelakangnya.

__ADS_1


Saat Celani berbalik, seketika dia membeku. Dia tersenyum canggung menatap sang kakak yang tengah menatapnya sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


"Hehehe, kak Ken... Aku gak liat apa apa kok, beneran." Ucap Celani sembari mempersiapkan diri untuk kabur.


"Aku pergi dulu yah kak." Ucap Celani sembari tersenyum dan hendak pergi.


"Gak usah kabur kamu... (Celani membeku.) Kebiasaan kalau masuk gak ketuk pintu dulu, untung lagi pemanasan kalau lagi olahraga gimana??" Ucap Kenzo membuat Celani menatapnya.


"Aha, kakak udah bucin kan ke kakak ipar?? Ngaku hayo!!" Ucap Celani membuat Kenzo kesal.


"Siapa yang bucin?!! Dia yang tergila gila sama kakak, dia yang bucin bukan aku." Elak Kenzo.


"Halah ngaku aja kak... Mommy kak Ken udah bucin." Ucap Celani sembari berlari pergi.


"Eh Ela!! Dia yang bucin ke kakak bukan aku!!" Teriak Kenzo sembari mengejar adiknya.


Di Vila Alzero


Ashel tampak mengemasi pakaiannya dan memasukannya kedalam koper. Begitu pula dengan buku mapel yang penting untuknya. Dia sudah memutuskan untuk pergi ke apartemen dan hidup mandiri. Begitu alasan yang dia berikan pada sang kakak. Padahal sebenarnya, dia ingin rehat dari makian Zaina dan tidak ingin Alzero terus bertengkar karenanya.


"Ashel, pikirkan lagi... Kamu mau meninggalkan kakak??" Ucap Alzero yang duduk dibibir ranjang.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kakak... Aku hanya ingin berlatih mandiri kak." Jawab Ashel sembari tersenyum.


"Bukan karena ucapan bunda?? Sekali ini saja Ashel, berbagi beban dengan kakakmu... Jangan kamu telan sendiri kesedihanmu." Ucap Alzero sembari menatap sang adik.


"Kakak sudah menanggung beban berat, lagi pula memang beban apa yang aku pikul??" Jawab Ashel sembari tersenyum.


"Lihat, aku selalu tersenyum bukan?? Itu artinya aku bahagia kakak, aku bahagia karena kakak menyayangiku dan memperhatikanku." Timpal Ashel. Ashel berdiri dan menyeret kopernya.


"Aku hanya pergi sebentar kak, setelah lulus nanti aku janji akan pulang dan menjadi anak yang mandiri." Ucap Ashel. Tampak Alzero memeluk adiknya penuh kasih sayang.


"Aku juga kak." Jawab Ashel sembari melepaskan pelukan sang kakak.


"Kakak akan menangis?" Tanya Ashel.


"Kakak tidak cengeng." Elak Alzero. Mereka berdua pun keluar dari kamar Ashel dan menuju ke halaman Vila. Tanpa Alzero sadari, Zaina tersenyum penuh kemenangan sembari menatap Ashel. Dan Ashel yang sadar hal itu hanya tersenyum nanar. Ashel memasukan koper dan barang barangnya dibagasi mobil.


"Kakak akan sering menjengukmu." Ucap Alzero.


"Tentu kakak... Aku pergi dulu kak, nyonya... Assalamualaikum." Pamit Ashel.


Tak lupa dia mencium punggung tangan sang kakak. Dan saat mengulurkan tangannya pada Zaina, tampak Zaina tak menerima uluran tangan dari Ashel membuat Ashel tersenyum nanar. Dia pun masuk kedalam mobilnya dan perlahan mobil yang Ashel kendarai menjauhi area Vila.


Akhirnya pergi juga. Ucap Zaina tersenyum dan masuk kedalam Vila.


Maafkan kakak Ashel, kakakmu ini memang tidak berguna... Tapi kamu tenang saja, kakak akan terus mengumpulkan bukti kalau kamu adalah adik kandungku. Batin Alzero sembari mengepalkan tangannya erat. Saat itu tampak Rio mendekat.


"Maaf mengganggu tuan, ini ponsel yang anda inginkan untuk nona Lala." Ucap Rio membuat Alzero menatapnya.


"Semuanya sudah diatur?? Termasuk nomor pribadi ku dan lain lainnya??" Tanya Alzero.


"Sesuai keinginan anda tuan." Jawab Rio. Alzero menganggukan kepalanya pelan.


"Siapkan mobil, kita ke rumah Lala sekarang." Titah Alzero.


"Baik tuan muda." Jawab Rio.

__ADS_1


Mungkin dengan menatap wajah Lala, bisa membuatku bahagia. Batin Alzero. Setelah mobil siap, mereka pun pergi ke rumah Lala.


Di Perjalanan


Ashel tengah fokus menyetir dengan mata terus meneteskan air mata. Padahal dia sudah sekuat tenaga menahannya sedari tadi, namun tetap saja lolos. Sejujurnya Ashel ingin terus bersama sang kakak tapi, dia tidak ingin sang kakak terus bertengkar dengan Zaina. Jadi dengan berat hati, Ashel harus pergi agar Alzero bahagia.


We're are you unity...


Ponsel milik Ashel berdering. Rupanya itu telefon dari Farrel. Ashel pun menggunakan eraphonenya dan mengangkat telefon dari Farrel.


📞


“Hallo Ashel.” Ucap Farrel di seberang sana.


“Iya, ada apa Farrel??” Tanya Ashel.


“Lo mau ikut gak, besok kita kemping bareng mau nggak?? Sekalian bantuin pdktan gua sama Celani.” Jawab Farrel di seberang sana. Sejenak Ashel terdiam.


“Tentu, memang siapa saja yang ikut??” Tanya Ashel.


“Celani, Rena, Fanya, dan Devan sama pacarnya.” Jawab Farrel di seberang sana.


“Baiklah aku akan ikut, kita bertemu dimana?? Dan kapan??” Tanya Ashel.


“Kita ketemu di Cafe Joy, jam 9 pagi... Soalnya kita kemping di pantai... Aku juga udah nyewa Vila disana... Oh iya jangan lupa bawa baju renang, kita renang disana oke?” Jelas Farrel.


“Baiklah... Aku tutup telefonnya.” Jawab Ashel.


"Oke, bay Ashel." Ucap Farrel di seberang sana.


Tut.


Ashel memutuskan jaringan telefonnya kemudian meletakan eraphonenya. Setelahnya dia pun kembali fokus menyetir.


Sesampainya didepan Vila, Ashel turun dari mobilnya setelah memakirkannya di halaman Vila. Ashel mengeluarkan koper dan barang barangnya dari bagasi mobilnya.


Kakak bilang apartemen, kenapa Vila disini?? Batin Ashel bertanya tanya.


Tanpa pikir panjang, Ashel masuk kedalam Vila. Vila yang mini, sepi dan tidak ada siapa pun selain Ashel. Hal itu membuat Ashel merasa kesepian. Dia pun masuk ke kamarnya dan menata pakaian beserta barang barangnya. Beberapa saat kemudian, semuanya tertata rapi.


"Akhirnya selesai, setelah mandi aku harus pergi belanja untuk makan siang." Lirih Ashel. Sejenak dia terdiam dan mengingat ajakan Farrel.


Ini baru pertama kalinya Farrel mau memperjuangkan wanita, pasti Farrel berusaha keras... Apa aku membantunya, atau aku harus egois?? Batin Ashel bingung.


Kali ini aku harus egois, maafkan aku Farrel. Batin Ashel.


Di rumah Roni


Lala tengah menyirami bunga di halaman depan. Saat itu dia melihat, mobil milik Alzero berhenti didepan rumah Roni. Alzero keluar dari mobilnya dan menghampiri Lala.


"Lala—"


Byurr!!


Lala yang fokus menyirami bunga itu tidak sadar dengan kedatangan Alzero pun tak sengaja menyiramnya. Seketika Lala menjatuhkan gayung yang dia pegang.


"Ro, maaf... Maaf aku tidak sengaja." Ucap Lala khawatir.

__ADS_1


Tampak Lala masuk kedalam rumah dan keluar dengan membawa handuk. Hal itu membuat Alzero tersenyum. Lala mengajak Alzero duduk diteras rumah. Lala pun mengelap wajah Alzero dengan handuk yang dia bawa.


"Maaf... Tadi aku benar benar tidak sengaja." Ucap Lala tampak menyesal. Alzero tersenyum melihat wajah Lala sungguh membuat mood Alzero naik.


__ADS_2