My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
BAB 41


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Beberapa saat kemudian


Mereka sudah sampai di kantor urusan agama yang tidak lain KUA. Kenzo dan Alina pun keluar dari dalam mobilnya. Seketika kening Kenzo berkerut begitu tau jika mereka di KUA. Dan yang membuat Kenzo terkejut adalah saat Celani tampak membawa seperangkat alat sholat dan sekotak cincin.


"Mom, kok ke KUA?? Emang siapa yang mo nikah??" Tanya Kenzo bingung.


"Kamu sama Alina lah." Jawab Lina membuat Kenzo dan Alina sama sama terkejut.


"Apa?? Kok mommy gak bilang bilang sih?!! Di kira nikah permainan catur apa?? Kenzo belum siap nikah sekarang, mending aku pergi—" Ucap Kenzo terjeda saat melihat Madira keluar dari dalam mobilnya.


"Mau pergi kemana cucu oma??" Tanya Madira begitu keluar dari mobil.


"Oma... Oma tau hal ini kok nggak kasih tau aku??!!" Jawab Kenzo sembari memegang kedua bahu Madira. Madira tersenyum dan menggeggam kedua tangan Kenzo yang kini sedang terselumbung emosi.


"Masuklah dan sahkan Alina sebagai istri kamu... Nanti oma jelaskan alasannya." Ucap Madira.


"Gak oma... Tau gitu aku tadi kabur." Jawab Kenzo.


"Jadi kalau pernikahannya bukan sekarang kamu berniat kabur??" Tanya Dicko membuat Kenzo menoleh.


"Iya Dad, itu rencana aku sejak awal... Ogah banget aku nikah sama cewek cupu kek dia." Ucap Kenzo sembari menujuk ke arah Alina penuh amarah, yang bahkan Alina sendiri tidak tau apa apa. Kenzo melepaskan genggaman tangan Madira dan hendak pergi.


"Kenzo berhenti!!" Ceghat Dicko namun tidak dipedulikan oleh Kenzo.


Cukup... Cukup... Aku memang tidak pantas menikah dengan siapa pun... Aku hanya wanita jelek yang seharusnya dicaci dan dibully. Batin Alina sembari menunduk sedih.


"Nana... Jangan sedih, Kenzo hanya sedang emosi jangan ambil hati ucapannya tadi." Ucap Lala sembari tersenyum.


"Terima kasih Lala." Jawab Alina tersenyum paksa.


"Biarkan Kenzo pergi... Mungkin dengan ini aku juga bisa pergi dengan tenang." Ucap Madira seketika membuat Kenzo berhenti. Hal itu membuat Lina Dicko dan lainnya tersenyum karena rencana mereka berhasil. Kenzo mengepalkan tangannya erat dan memejamkan matanya. Tanpa basa basi Kenzo menarik tangan Alina kasar dan membawanya masuk ke KUA.


"Kenzo apa yang kau lakukan??" Tanya Lina.


"Katanya aku harus menikah... Maka ayo lakukan." Jawab Kenzo. Mereka pun masuk dan membawa Kenzo bersama Alina ke hadapan penghulu.


"Saya terima nikahnya Alina Putri Alexasari dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Ucap Kenzo lantang.


"Bagaimana para saksi sah??"


"Sah!!!" Jawab Dicko dan Roni selaku menjadi saksi pernikahan disana.


"Alhamdulilahirobilallamin." Ucap sang penghulu.


Kenzo menyematkan cincin pada jari manis Alina begitu pula sebaliknya. Dan Kenzo bisa merasakan tangan Alina yang sangat dingin menandakan jika dia ketakutan. Dan dalam hitungan detik mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri.


Alexa kau lihat itu... Aku yakin mereka akan tetap bersama, bahkan sampai maut menjemput. Batin Lina sembari tersenyum. Mereka pun masuk kedalam mobil dan bersiap untuk pulang.


"Langsung pulang kan mom?" Tanya Kenzo ketus.


"Jangan ketus gitu dong sayang... Kalian di vila beberapa hari dulu, toh mumpung libur panjang... Udah mommy siapin khusus buat kalian berdua ok." Jawab Lina sembari mengacungkan jempolnya pada Kenzo. Dan Kenzo hanya menatapnya jengah.


Ngapain harus di vila segala, lagian gua gak bakalan tertarik sama cewek cupu kek dia. Batin Kenzo.


Sesampainya di Vila


Tampak Maya membawa dua koper yang tidak lain berisi pakaian Kenzo dan Alina. Kenzo menghela napas panjang tidak menyangka jika dia sudah menanggung beban sebagai seorang suami.

__ADS_1


"Kenzo, ayah titip Alina... Jaga dia baik baik." Ucap Roni tampak memohon.


"Iya ayah." Jawab Kenzo singkat.


"Nana, kami pulang dulu ya... Baik baiklah dengan suamimu." Ucap Lala. Tampak Alina memeluk Lala.


"Aku titip ayah ya... Aku akan sangat merindukan mu Lala." Ucap Alina. Roni mencium kening putrinya sebelum akhirnya mereka pergi.


"Kak." Panggil Celani membuat Kenzo menoleh.


"Apa??" Tanya Kenzo. Tampak Celani berbisik di telinga sang kakak.


"Kakak semangat ya buat ntar malam... Bikin keponakan yang banyak oke?" Ucap Celani membuat Kenzo menyentil kening adiknya.


"Ngeres banget jadi orang... Siapa yang ngajarin?" Ucap Kenzo.


"Kakak lah... Siapa lagi??" Jawab Celani membuat Kenzo membeku.


"Sayang yang happy ya disini... Dan Kenzo kalau kamu pergi sendiri nanti saptam disana bakalan lapor langsung ke Oma jadi hati hati ya." Ucap Lina. Dan hanya diangguki malas oleh Kenzo.


"Sayang, kalau Kenzo kasar sama kamu lapor in aja ke saptam ya... (Alina menganggukan kepalanya.) Anak pintar, mommy pergi dulu Assalamualaikum." Pamit Lina.


"Walaikumsalam, hati hati mom... Daddy." Jawab Kenzo dan Alina. Mereka pun menatap mobil yang Lina naiki sampai benar benar pergi.


"Cupu ayo masuk, gak tau apa orang lagi capek." Ucap Kenzo kemudian masuk mendahului sembari membawa kopernya. Alina hanya menghela napas panjang kemudian membuntuti Kenzo.


Keduanya sama sama terdiam. Tidak ada pembicaraan apapun. Alina tidak berani protes mengingat ucapan Kenzo yang kasar saat meresponnya membuatnya takut walau hanya sekedar bertanya.


Cklekkk!!!


Perlahan pintu terbuka. Tampak Kenzo terbelak dengan dekorasi kamarnya. Mawar merah bertebaran dimana mana terlebih di atas ranjang berukuran king size itu.



(Visual kamar pengantinnya ya.)


Glek!


"Sono masuk, sekalian tata baju baju gua... Gua mo mandi dulu." Ucap Kenzo ketus dan hanya di jawab anggukan kepala olehnya.


Kenzo mengambil handuk dari tasnya dan masuk ke kamar mandi. Kamar mandinya hanya dibatasi kaca buram membuat Alina bisa melihat siulet Kenzo yang terguyur air shower. Dia pun membuka lemari dan mulai menata baju bajunya.



(Visual kamar mandinya ya.)


Biasanya aku tidur berdua dengan Lala... Ku rasa aku tidak akan terbiasa tidur berdua dengan Kenzo... Apa lebih baik aku tidur di sofa saja?? Tapi sofanya terlalu kecil. Batin Alina sembari menata pakaiannya.


Kreett!!


Kenzo keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk dipinggangnya. Dia melihat Alina yang sedang fokus menata bajunya. Kenzo memperhatikan Alina lebih dalam hingga bibirnya menyinggung senyuman.


Kalo diliat liat, lumayan juga si cupu... Cari kesenengan dulu lah, baru dibuang. Batin Kenzo sembari tersenyum jahat.


"Cupu ambilin handuk kecil di koper gua!" Titah Kenzo sembari duduk di kursi, depan meja rias.


Tampak Alina mengambil handuk kecil berwarna biru donker. Tadinya Alina berniat memberikan handuk itu. Namun, Kenzo merilang rambutnya seolah memberikan kode pada Alina untuk mengeringkan rambutnya. Ragu ragu Alina mengeringkan rambut Kenzo dengan handuk itu. Alina menatap Kenzo dari pantulan cermin.


"Peka juga lo jadi istri." Ucap Kenzo membuat Alina memalingkan wajahnya. Mendengar kata “Istri” membuat Alina teringat jika dia sudah menikah.


"Sepertinya sudah kering." Ucap Alina sembari menaruh handuk kecil itu. Kenzo bangkit dari duduknya dan melepas handuk di pinggangnya. Seketika Alina memalingkan wajahnya. Padahal Kenzo sudah memakai boxer dari dalam kamar mandi. Melihat reaksi Alina pun membuat Kenzo tertawa.


"Eh cupu ngapain lo malingin muka?? Biasa aja kali, (Membuka lemari bajunya.) Lagian kita juga udah married... Oh atau jangan jangan lo baru pertama ya liat tubuh bagus kayak gua?? Secara kan gua ganteng... (Menutup kembali pintu lemarinya.) Astaga masih kagak ngerti juga, cupu balik badan sekarang." Ucap Kenzo. Alina tak meresponnya dan hendak ke kamar mandi.


"Eh cupu... (Alina berhenti.) Nggak nurut kata suami dosa loh... Gua yakin ayah Roni pasti bilang gitu ke lo... Iya kan??" Ucap Kenzo. Dan Alina tidak merespon karena dia takut Kenzo akan bicara kasar padanya. Kenzo meletakan pakaiannya diatas ranjang dan menghampiri Alina.


"Cupu, lo dengerin gua kan??" Bisik Kenzo pada daun telinga Alina.


Hal itu membuat Alina memiringkan kepalanya merasa geli dengan hembusan napas Kenzo. Dan yang membuat Alina terkejut saat Kenzo menggigit kecil daun telinganya. Seketika Alina berbalik sembari memegangi telinganya. Hal itu membuat Kenzo tersenyum puas.


"Sakit, kenapa kamu menggigit ku??" Cicit Alina membuat Kenzo membeku.

__ADS_1


"Sakit??" Tanya Kenzo membuat Alina menganggukan kepalanya pelan. Kenzo pun menepuk keningnya sendiri.


Gua lupa dia polos... Astghafirullahalazim. Batin Kenzo.


"Ya udah mandi sono, ntar juga ilang sakitnya." Ucap Kenzo dan dengan patuh Alina masuk ke kamar mandi setelah mengambil handuk kimono.


Patuh juga, gampang deh dimanfaatin. Batin Kenzo sembari memakai pakaiannya.


Di SMA Trijaya 1


Celani tampak gugup setelah menyatakan visi dan misinya sebagai calon wakil ketua osis. Sedangkan para guru tengah berbisik bisik mengenai keputusannya. Sesekali Celani menatap Ashel yang memintanya untuk tidak gugup.


"Celani, kamu diterima sebagai calon wakil ketua osis... Pengambilan suara akan dihitung secara online lusa, mengingat ini hari libur panjang jadi kami melakukannya secara online... Dan untuk hasilnya, kami umumkan lusa depan... Paham??" Jelas guru bimbingan konseling(BK) bernama Amelia.


"Paham bu... Terima kasih sudah menerima saya... Saya akan berusaha semaksimal mungkin." Ucap Celani dan dibalas anggukan oleh bu Amelia.


"Ashel kamu benar benar berhenti mencalonkan diri lagi?? Kinerja kamu bagus loh... Pak Hamzah juga kasih nilai A+ ke kamu." Tanya Bu Amelia.


"Tahun saya berhenti bu, kasihan para siswa lain yang ingin mencalonkan diri... Mereka juga ingin mendapatkan pengalaman." Jelas Ashel dan direspon anggukan kepala oleh bu Amelia.


"Kalian semua boleh pulang, ingat manfaatkan waktu libur untuk hal hal yang positive paham??" Ucap bu Amelia.


"Paham bu." Jawab mereka serentak. Setelah bersalaman mereka pun keluar dari ruang osis.


"Yes!! Yes!! Yes!! Gua diterima jadi calon... Kalau nggak kepilih juga nggak apa apa kan bisa jadi anggota inti." Ucap Celani tampak senang. Hal itu membuat Ashel ikut senang.


"Selamat ya Ela... Semoga kamu terpilih jadi wakil." Ucap Ashel sembari tersenyum tulus.


"Amin... Thanks ya Shel udah bantuin gua." Ucap Celani sembari menatap Ashel. Tampak Ashel membalasnya dengan anggukan kepala. Saat itulah Renasya datang. Dia dipaksa mencalonkan diri sebagai anggota osis oleh Celani.


"Huwaaa Rena gua diterima jadi calon." Ucap Celani sembari memeluk erat sahabatnya.


"Iya... Ya Ela, lepasin gua kecekik." Jawab Renasya. Seketika Celani melepaskan pelukannya.


"Iya Rena maaf... Namanya juga lagi seneng... Kamu gimana?? Diterima jadi anggota??" Tanya Celani antusias.


"Diterima dong." Jawab Renasya.


"Ih sombong." Ucap Celani dan keduanya tertawa. Saat itu tampak Farrel berlari kecil mendekat.


"Rena, Celani kalian diterima nggak??" Tanya Farrel.


"Diterima." Jawab Renasya.


"Diterima, kalo lo gimana?? Lo jadi calon ketua nomor berapa??" Tanya Celani antusias.


"Gua.... Gua diterima, gua jadi nomor 2." Jawab Farrel.


"Kita sama dong." Ucap Celani dan tanpa ragu memeluk Farrel dengan wajah bahagianya. Begitu pula Farrel yang membalas pelukannya. Dan entah mengapa Ashel merasa sakit didadanya.


Mereka kelihatannya sangat dekat, tapi sejak kapan?? Kenapa dadaku terasa sakit?? Apa aku sakit?? Batin Ashel. Renasya menatap ke arah Ashel yang tersenyum paksa.


Nah kan, udah gua duga pasti hati selembut Ashel gampang jatuh cinta... Nih anak juga main peluk peluk aja, kan suasananya jadi canggung. Batin Renasya. Disaat Celani tengah berbahagia dengan Farrel, Renasya mendekati Ashel.


"Hai Ashel." Sapa Renasya membuat Ashel tersadar dari lamunannya.


"Hai juga Rena... Selamat ya kamu udah resmi jadi anggota osis." Ucap Ashel sembari tersenyum.


"Iya, thanks ya... Ngomong ngomong lo nyalon lagi jadi ketua??" Tanya Renasya.


"Hehe... Tahun ini aku libur dulu, gantian lah nanti pada bosen kalau aku jadi ketua mulu." Jawab Ashel.


Aku berhenti karena membantu Ela. Batin Ashel.


"Oh iya juga yah... Padahal kinerja kamu bagus loh, sayang banget." Ucap Renasya dan keduanya tertawa kecil.


"Ashel ayo pulang!" Panggil Farrel.


"Iya... Rena, Ela... Kami pulang dulu ya.... Assalamualaikum." Pamit Ashel.


"Walaikumsalam." Jawab Renasya dan Celani.

__ADS_1


"Farrel hati hati dijalan ya." Ucap Celani dan direspon acungan jempol oleh Farrel. Keduanya pun masuk kedalam mobil dan perlahan mobil itu menjauh.


__ADS_2