
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
"Dimana Al??" Tanya wanita paruh baya yang kini berdiri dihadapan Ashel.
"Kakak sedang pergi, nanti dia akan segera pulang... Bunda masuklah dan istirahat." Jawab Ashel membiarkannya masuk.
"Satu hal lagi, sudah ku katakan jangan memanggilku “bunda”... Harusnya kau ingat hal itu." Ucapnya kemudian masuk kedalam salah satu kamar utama. Tampak Ashel hanya tersenyum. Ya, itu yang sering Ashel lakukan. Melihat hal itu, Rio pun menepuk bahu Ashel.
"Tuan, jangan bersedih nyonya—" Ucap Rio terpotong saat Ashel menatapnya dengan tersenyum.
"Aku mengerti Rio... Terima kasih, aku ke kamar dulu jika bun— maksudku nyonya Caesar membutuhkan sesuatu turuti saja." Ucap Ashel kemudian pergi.
Tuan... Masih dia tersenyum?? Dan tidak marah pada nyonya?? Batin Rio terkejut.
Rio tidak melihat adanya kebencian di mata Ashel. Justru sebaliknya, Ashel tampak sangat menyayangi wanita paruh baya itu yang tidak lain Zaina Caesar. Ibu dari Ashel dan Alzero. Namun ada sebuah kecurigaan membuat Zaina beranggapan jika Ashel bukan anaknya.
Ashel tampak memasuki kamarnya dengan wajah lesunya. Bukan dia tidak bahagia karena kehadiran Zaina. Namun, Ashel merasa sedih karena Zaina masih mengabaikan dan membencinya. Zaina bahkan menyalahkan Ashel yang telah membuat Alzero memilih tinggal bersama dengannya selama 6 tahun lamanya. Ashel pun duduk dibibir ranjang dan menatap fotonya bersama sang kakak diatas nakas.
Apa memang aku bukan anaknya?? Kenapa hanya kakak yang menganggap dan menyayangi ku. Apa kelahiranku didunia adalah kesalahan?? Batin Ashel.
Namun dia mengenyahkan pikirannya saat mengingat ajakan Celani tadi pagi. Pukul 4 pagi, Celani akhirnya menelefon dirinya setelah lama tidak berkomunikasi. Meskipun hanya lewat chat tapi Ashel sangat merindukan Celani yang sudah menjadi bagian dalam hatinya.
•Flashback on
Ashel merasa terganggu oleh suara telefon. Dilihatnya baru pukul 4 pagi. Dengan malas Ashel melangkah mendekati meja dan mengambil ponselnya. Ashel terlalu asik bermain PS sampai sampai tertidur di sofa ruang keluarga. Mata Ashel terbuka lebar saat telefon itu dari Celani. Tentu dengan semangat Celani mengangkatnya.
📞
“Hallo, Ashel apa kau sudah bangun??” Ucap Celani memulai
__ADS_1
“Iya, tumben kau menelfonku?? Pagi pagi pula.” Jawab Ashel sembari duduk disofa.
“Hehe, aku merindukanmu... Bisa nanti siang bertemu?? Aku janji akan datang.” Ucap Celani penuh kesungguhan
“Baiklah... Dimana kita bertemu??” Jawab Ashel dengan wajah bahagia.
“Bagaimana di Cafe JOY?? Aku akan mengajak Farrel dan Rena juga.” Usul Celani.
“Baiklah, pukul 12 aku akan menjemputmu.” Jawab Ashel.
“Baiklah aku akan menunggumu... Aku tutup telefonnya, sampai nanti Ashel.” Ucap Celani.
“Sampai jumpa Ela.” Jawab Ashel. Ashel pun tersenyum dan meletakan ponselnya.
•Flashback Off
Ashel menatap jam dinding dan masih menujukan pukul 8 pagi. Yang mana membuat Ashel menjadi tidak sabar untuk cepat bertemu dengan Celani. Dan Ashel sangat berharap bisa bertemu dengan Celani dan tanpa kendala.
Nanti aku sekalian makan siang di sana saja... Jika aku makan bersama pasti kakak akan bertengkar. Batin Ashel.
Di Rumah Roni
"Kenapa tidak masuk??" Tanya Alzero.
"Ah tidak apa apa Ro, aku pulang dulu... Terima kasih untuk semalam." Jawab Lala. Alzero tersenyum dan menghusap puncak kepala Lala.
"Tidak masalah... Kau masuklah jika ada apa apa hubungi saja aku." Ucap Alzero.
"Menghubungimu?? Bagaimana??" Tanya Lala.
"Tentu saja dengan ponselmu, ini kartu namaku... (Lala menerimanya.) Ada nomor telefonku." Jawab Alzero. Tampak Lala menatap sejenak.
"Ponsel?" Lirih Lala dan tentu didengar oleh Alzero. Jangankan memiliki ponsel, bisa hidup saja Lala sudah sangat bersyukur.
"Kau tidak memiliki ponsel??" Tanya Alzero. Tampak Lala menggeleng kepala pelan kemudian menatap Alzero.
"Tidak, aku bahkan tidak tau cara menggunakannya." Jawab Lala membuat Alzero tersenyum.
"Baiklah aku masuk dulu... Hati hati dijalan Ro." Ucap Lala kemudian pergi setelah mendapat anggukan kepala dari Alzero.
Kau benar benar sederhana... Saat menjadi istriku nanti, aku akan membahagiakanmu... Bahkan tidak akan aku biarkan kau menangis setetes pun, Lala. Batin Alzero. Alzero menatap Lala yang mencium punggung tangan Roni kemudian masuk kedalam rumah. Melihat hal itu pun, Alzero masuk ke dalam mobilnya dan menuju pulang.
__ADS_1
Di Kediaman Saputra
Nia tampak memasang wajah datar saat mencuci piring. Terlebih beberapa pelayan membicarakan Nia. Meskipun berbisik tapi Nia mendengarnya dengan jelas. Saat itu tampak Saras datang menghampiri Nia.
"Nia." Panggil Saras.
"Iya, nyonya." Jawab Nia sembari menatap ke arah Saras.
"Ada kabar baik buat kamu... Ibu kamu sudah sadar." Ucap Saras membuat Nia tersenyum.
"Benarkah nyonya??? (Bersimpuh karena saking bahagianya.) Terima kasih nyonya, terima kasih sudah membiayai rumah sakit ibu saya." Ucap Nia sembari menangis. Hal itu membuat Saras membangkitkan tubuh Nia.
"Jangan lakukan itu lagi oke? Kau sudah menolong nyawaku tentu aku membalas jasamu... Sekarang kamu boleh menjenguk ibumu, Gavin yang akan mengantarmu." Ucap Saras.
"Tapi nyonya—"
"Gavin tidak akan membantahku.... GAVIN!!!" Panggil Saras. Tampak Gavin menghampiri Saras.
"Apaan sih ma, lagi ngegame juga." Ucap Gavin.
"Ngegame mulu... Antar Nia ke rumah sakit tante Lina." Titah Saras.
"Hah?? Gavin ma, kan ada pak Jojo." Keluh Gavin.
"Pak Jojo kan sama papa sayang... Udah sana anterin... Biar dapat pahala." Ucap Saras. Tampak Gavin menatap Nia dan Nia memalingkan wajahnya.
"Ya udah Gavin anter... Tapi, duit." Ucap Gavin sembari tersenyum.
"Duit mulu, nanti mama kasih... Antar Nia dulu baru duit... Nia kamu siap siap dulu ya." Ucap Saras sembari tersenyum menatap Nia.
"Baik nyonya, saya permisi." Jawab Nia kemudian pergi.
Ya elah nih cewek masih aja ngambek... Emang ya cewek kalau udah ngambek susah bujukinnya. Batin Gavin.
Beberapa saat kemudian, Nia tampak menghampiri Gavin yang sudah menunggu di garasi mobilnya. Tanpa banyak bicara, Nia masuk kedalam mobil membuat Gavin langsung menjalankannya tanpa banyak bicara seperti biasanya.
Assalamualaikum,
Maaf yah kakak kalau lama update, Aku lagi sibuk sama test jadi bakalan jarang up😢 Tapi buat yang udah mampir mksh ya, nanti aku bakalan mampir balik kalau udah ada waktu ya😉 Dan buat para pembaca pantengin terus yah, aku kasih bocoran nih🤭 Eh tapi gak jadilah🤔 Nanti gak greget dong😆 Oke itu aja ya salam hangat dari Arsy ^_^
Wassalamualaikum warohmatullahi Wabarokatuh
__ADS_1