My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
BAB 27


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Jangan lupa follow IG author di @Arsydian2112😘❤


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Di Rumah Alina


Alina dan Lala memasuki rumah dengan membawa beberapa cemilan. Hari ini Alina dan Lala izin tidak bekerja karena suatu hal. Saat mereka menata cemilannya di dapur, tampak Roni mendekat.


"Ayah, apa ayah ingin sesuatu??" Tanya Alina.


"Tidak sayang, ayah hanya ingin melihat kalian berdua." Jawab Roni sembari duduk dikursi.


"Om ada ada saja, bukankah setiap hari melihat kita??" Ucap Lala sembari tersenyum.


"Iya, ya kau benar Lala." Ucap Roni sembari tertawa kecil.


"Alina, besok malam kamu ikut ke pesta bersama calon mu... Apa kau mau nak??" Tanya Roni. Tampak Lala menatap Alina. Dia tidak ingin berpisah dengan Alina lebih lama.


"Tentu saja ayah... Demi menepati janji pada bunda." Jawab Alina sembari tersenyum. Tampak Alina menatap Lala.


"Tapi ayah, apa Lala bisa ikut juga??" Tanya Alina membuat Lala terkejut.


"Nana itu tidak perlu, jika aku ikut siapa yang akan menjaga om disini??" Ucap Lala membuat Roni tersentuh.


"Tapi—"


"Tidak apa apa, Nana... Mungkin itu waktu untukmu semakin dekat dengan calon suamimu." Jawab Lala. Alina pun tersenyum dan memeluknya. Melihat keakraban mereka membuat Roni tersenyum bahagia.


"Ekhem... Kalian melupakan ayah??" Ucap Roni. Keduanya tersenyum dan memeluk Roni. Roni mencium kening mereka secara bergantian.


"Sudah, sudah... Lebih baik kalian mandi dan bersiap untuk makan siang... Dan Lala, mulai sekarang jangan panggil om lagi ya... Panggil Ayah, sama seperti Alina memanggilku." Ucap Roni.


"Apa boleh??" Tanya Lala.


"Tentu saja, ayahku ayahmu juga Lala." Jawab Alina. Lala pun menganggukan kepala dan tersenyum.


"Ayah kami ke kamar dulu ya." Ucap Alina dan direspon anggukan oleh Roni. Roni tersenyum saat menatap punggung Alina dan Lala menjauh.


Alexa, sekarang aku tidak khawatir akan masadepan putri kita... Kau lihat, dia dengan bahagia menerima perjodohannya. Batin Roni.


"Lala bantu aku membuka resletingnya." Ucap Alina.


Lala pun mendekat dan membukakan resletingnya. Setelahnya, Alina lebih dulu mandi dan baru Lala. Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah rapi dengan pakaian santai mereka.


"Ayah ingin aku masakan sesuatu??" Tanya Alina.


"Ayah akan makan masakan apapun yang kalian masak." Jawab Roni membuat Alina dan Lala tersenyum.


"Baiklah, ayah menonton televisi saja biar kami yang memasak untuk ayah." Ucap Alina. Roni pun pergi membiarkan keduanya berkutat didapur.


"Emm... Lala." Panggil Alina. Lala yang tengah mencuci sayuran itu pun menoleh ke arah Alina sekilas.


"Bagaimana pendapatmu tentang menikah muda??" Tanya Alina.


"Bagiku, menikah saat muda atau tidak itu tidak penting... Asalkan sang pria bertanggung jawab dan berjanji membahagiakan mu, apa salahnya meresmikan hubungannya dengan menikah." Jelas Lala sembari memotong sayuran yang sudah dia cuci.


"Kamu benar La, tapi... Kami belum pernah saling kenal dan bertemu tiba tiba harus bertemu... Aku takut kalau suamiku nanti kasar atau bahkan—"


"Stt... Jangan berpikir seperti itu Nana, berpikir positive saja bahwa dia menerima perjodohan ini itu berarti dia akan mencoba menerimamu... Jika seorang pria kasar pada kita, kita luluhkan saja dengan bersifat lembut padanya." Jelas Lala sembari tersenyum. Hal itu membuat Alina merasa lega.


"Kau benar Lala... Aku merasa beruntung memiliki sahabat sebaik dirimu." Ucap Alina dan direspon senyuman manis dari Lala.


"Sekarang buang jauh jauh pikiran negative kamu yah." Ucap Lala dan Alina mengangguk mengerti.


“Tok, Tok, Tok.”


"Iya sebentar." Ucap Roni.


"Eh tumben ada yang dateng... Apa itu paman Dicko sama tante Lin?" Ucap Alina.


"Mungkin saja, besok kan kamu ke sana." Jawab Lala. Mereka pun kembali fokus memasak. Saat Lala menyajikannya di meja makan tampak Roni mendekat.


"Ayah siapa yang datang??" Tanya Lala.


"Seorang pria muda ingin bertemu denganmu... Dia bilang sahabatmu." Jawab Roni.


"Lala kau punya sahabat pria??" Tanya Nana.


"Emm tidak... Memang seperti apa dia??" Jawab Lala kembali bertanya.


"Seperti ini." Ucap seorang pria tepat dibelakang Lala. Perlahan Lala membalikan tubuhnya dan matanya terbelak kagum melihat salah satu Ciptaan—Nya yang sangat indah.


"Alzero??" Lirih Alina.


"Kamu... Kamu ngapain kesini?" Tanya Lala sembari menjauhkan dirinya.


"Paman, Alina... Aku izin bicara berdua dengan Lala terima kasih." Jawab Alzero dan menarik tangan Lala untuk pergi bersamanya.


"Tunggu—"


"Ayah dia pria yang baik kok." Ucap Alina menceghat Roni saat akan mengejar Lala.


"Darimana kamu tau nak??"


"Dia satu sekolah dengan ku ayah... Dia itu pria yang baik karena aku sering lihat dia menolong orang orang yang dibully... Ayah jangan khawatir, mereka hanya bicara diluar kok." Jelas Alina membuat Roni mengangguk.

__ADS_1


Sedangkan di halaman belakang rumah. Alzero melepaskan genggamannya dan berbalik menatap Lala.


"Ada apa kamu kemari??" Tanya Lala saat Alzero melepaskan genggamannya.


"Aku hanya merindukanmu." Jawab Alzero membuat Lala memalingkan wajahnya.


"Jika hanya itu, aku akan kembali masuk." Ucap Lala hendak pergi. Namun Alzero menggendong Lala dan mendudukannya di kursi tepat dibawah pohon mangga.


"Apa yang—"


"Sttttt.... (Menaruh jari telunjuknya pada bibir Lala.) Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Ucap Alzero. Sejenak Lala menatap mata tajam Alzero dalam. Namun dia memalingkan wajahnya.


"Apa yang ingin kamu katakan??" Tanya Lala.


"Kamu masih berhutang jasa padaku... Dan aku ingin menagihnya." Jawab Alzero. Lala masih menatap Alzero.


"Sebagai gantinya besok malam kau ikut bersamaku ke pesta... Apa kau mau Lala??" Timpal Alzero.


Sebenarnya Alzero bukan tipe orang yang suka mengungkit kebaikannya dan orang yang dia tolong. Namun, pengecualian untuk kali ini. Dia ingin Lala menerima tawarannya.


"Tapi aku—"


"Soal gaun dan lainnya aku sudah memilihkannya untukmu... Besok sore aku akan kesini dan menjemputmu untuk bersiap... Kamu mau kan??" Tanya Alzero.


Jika ini bisa dianggap membayar jasanya, maka akan aku lakukan... Lagi pula hanya ke pesta. Batin Lala.


"Aku.... (Menghela napas panjang.) Aku mau." Jawab Lala.


“Cup”


Alzero sekali lagi mencium kening Lala membuat Lala terdiam di tempat.


"Gadis baik." Ucap Alzero. Alzero kemudian pergi dan Lala masih terdiam. Setelah Alzero benar benar pergi, Lala pun masuk kedalam rumah.


"Bagaimana tuan??" Tanya Rio.


"Tentu aja berhasil, dia calon istriku tentu saja dia menerima nya... Besok sore kita ke sini dan menjemputnya." Jawab Alzero.


"Baik tuan." Ucap Rio.


Di Taman Hiburan Visteria


Celani dan Farrel tengah menikmati es krimnya setelah lama bermain. Saat Celani hendak memakannya, dengan jahil Farrel menggoyangkan tangan Celani membuat es krimnya belepotan di bibirnya.


"Lo jail banget sih, kan jadi belepotan." Ucap Celani sembari memukul kecil lengan Farrel.


"Hehe... Iya ya gua minta maaf, sini biar gua bersihin." Ucap Farrel sembari mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap bibir Celani. Tampak Celani menatap wajah Farrel yang jaraknya sangat dekat dengannya.


“Deg, deg, deg.”


Duh nih jantung main marathon aja. Batin Celani.


"Nah kan udah cantik lagi." Goda Farrel.


"Ish gombal." Ucap Celani dan mereka berdua pun tertawa kecil.


"Ada apa tuan??"


"Rio, apa dia Celani... Adik perempuan Kenzo??" Tanya Alzero.


"Iya tuan... Apa ada sesuatu." Jawab Rio membuat Alzero terdiam.


•Sebelumnya saat di Vila•


Alzero melepaskan rangkulan Ashel dan menatap Ashel.


"Oh iya Ashel, bukankah kau menemui Celani?? Kenapa malah bertemu dengan Lala??" Tanya Alzero.


"Iya, kak Ken dikurung dirumah, Celani juga ikut dikurung... Aku ingin menjemputnya tapi nanti jika paman Dicko marah, Celani akan dimarahi." Jawab Ashel.


"Jadi kau menunggunya lama namun dia tidak bisa datang??" Ucap Alzero sembari menepuk keningnya sendiri.


"Hehehe, hanya 2 jam menunggu kok kak... Lagian aku juga sambil makan... Tapi aku seneng kak akhir nya bertemu dengan calon kakak ipar, tidak kusangka dia sekarang sangat cantik." Puji Ashel membuat Alzero menatapnya tajam.


"Awas jika kau berani menyukainya." Ancam Alzero. Namun Ashel menjulurkan lidahnya dan pergi berlari menuju ke kamarnya.


•Setelahnya•


Ashel memang terlalu polos dan mudah percaya... Jujur sebagai kakaknya aku tidak terima melihat adikku sendiri dimanfaatkan kelebihannya oleh wanita yang dia sukai... Sialan. Batin Alzero mengepalkan tangannya erat.


"Jalankan mobilnya." Titah Alzero.


"Baik tuan muda." Jawab Rio.


Rio pun menjalankan mobilnya menjauhi area tersebut.


Di Kediaman Saputra


Sesuai perintah Saras, Nia membawakan beberapa pasang jas untuk Gavin kenakan besok malam. Sebenarnya Nia sangat malas berurusan dengan Gavin, terlebih menurutnya Gavin orang yang sembarang bicara. Dengan ragu ragu Nia mengetuk pintu kamar Gavin.


“Tok, Tok, Tok.”


"Masuk." Jawab Gavin dari dalam.


“Cklekkk!!”


Perlahan Nia membuka pintu kamar Gavin. Mata Nia terbelak sekaligus kaget melihat Gavin hanya menggunakan lilitan handuk dipinggangnya, memamerkan tubuh six pack dan kekarnya.


“Bamm!!!”


Nia kembali menutup pintu cukup keras.


"Hey kenapa lo??" Tanya Gavin dari dalam.


"Pakai baju anda tuan." Jawab Nia tanpa sadar Saras mendengarkan hal itu.


"Pakai baju?? Apa mereka... Ya Tuhan apakah anakku bertindak sangat cepat, tidak tidak... Aku lebih baik kembali ke kamar... Hihi, Cucu on the way... On the way." Lirih Saras kemudian kembali ke kamar.

__ADS_1


"Iya bawel amat dah... Udah sini masuk, kebanyakan drama lo." Ucap Gavin dari dalam.


“Cklekkk!!”


Nia kembali membuka pintu dan melihat Gavin memakai celana selutut dan kaos oblong berwarna putih. Nia meletakan beberapa pasang jas yang dia bawa diatas ranjang. Dan saat itu Gavin menutup pintu kamarnya kemudian menguncinya.


"Nyonya bilang pilih salah satu yang anda suka tuan." Ucap Nia.


"Hemm... (Melihatnya satu per satu.) Gua coba satu satu terus lo nilai mana yang oke buat gua gimana?" Ucap Gavin.


"Kenapa harus say—"


"Sutt... sttt... Kalo lo nolak, nggak takut gua apa apain lo disini?? Secara kan dikamar ini cuman ada kita berdua. Pintu udah gua kunci pake sidik jari gua... Lo nggak bakalan bisa kemana mana." Ucap Gavin tepat di daun telinga Nia. Wajah Nia merona dan mendorong tubuh Gavin untuk menjauh.


"Baik... Baiklah." Jawab Nia membuat Gavin tersenyum puas.


"Lo duduk aja disini gua pake ini dulu... Atau lo mau ikut gua masuk??" Ucap Gavin mengedipkan sebelah matanya. Seketika Nia langsung memalingkan wajahnya dan membuat Gavin terkekeh.


Apa dia biasa melakukan hal seperti ini pada wanita lain?? Dia terlalu sembarangan dalam bicara. Batin Nia.


Beberapa saat kemudian Gavin keluar dengan jas berwarna merah. Terlihat terlalu mencolok bagi Nia.


"Gimana??" Tanya Gavin.


"Terlalu mencolok... (Bangkit dari duduknya.) Coba anda pakai yang ini, ku rasa warna biru lebih cocok untuk anda tuan." Ucap Nia membuat Gavin tersenyum miring.


"Gua rasa lo lebih cocok jadi pacar gua, daripada jadi pelayan gua." Ucap Gavin saat menerima jasnya.


"Apa yang anda katakan?" Jawab Nia memalingkan wajahnya. Gavin melempar jas yang diberikan Nia tepat ke sofa dan dia mendekatkan dirinya pada pembantu mudanya itu.


"Gua ngomong lo lebih cocok jadi pacar gua daripada jadi pelayan gua." Ucap Gavin berbisik. Nia yang jengah hendak mendorong tubuh Gavin menjauh darinya.


“Brukh!!!”


Namun kaki Nia tersandung kaki Gavin membuatnya jatuh diatas ranjang. Nia terkejut saat dia berada diatas tubuh Gavin. Keduanya saling bersitatap karena mereka masih dalam mode syok. Namun mata Gavin tertuju pada bibir merah alami milik Nia.


Bibir yang indah dan menggoda... Gua pastiin, gua orang pertama yang menikmati itu... Pertama dan selamanya. Batin Gavin.


"Sampe kapan lo diatas gua... Suka ya liat cowok seganteng gua sampe meluk meluk gua." Goda Gavin. Seketika Nia bangkit dari posisinya. Dia menyelipkan rambutnya dan memalingkan wajahnya. Sedangkan Gavin duduk diatas ranjang.


"Lah bangun beneran... Padahal gua sih oke oke aja, lagian lumayan empuk buat gadis kayak lo." Ucap Gavin sembari terkekeh. Sedangkan Nia menatap Gavin melotot.


"Gavin apa Nia didalam??" Ucap Saras dari luar.


B*ngs*t, gangguin aja si ma... Untung mama gua kalau nggak. Batin Gavin. Dengan malas Gavin bangkit dari duduknya dan membuka pintu kamarnya.


"Pake dikunci segala jangan jangan kamu apa apain Nia... Nia kamu nggak diapa apain kan sama Gavin??" Ucap Saras.


"Tidak nyonya." Jawab Nia.


"Baguslah padahal tadi aku berharap kalian... Eh lupakan saja, Gavin ada Dita di bawah... Samperin sana, dan Nia bikinkan jus melon buat Dita sama ibunya ya." Ucap Saras.


"Baik nyonya, saya permisi." Ucap Nia kemudian pergi.


"Gavin males ketemu dia ma, Gavin Mau bobok aja." Jawab Gavin.


"Enggak pokoknya temuin dia... Ayo." Ucap Saras menyeret Gavin.


Sedangkan di ruang tamu. Seorang gadis berumur 20 tengah duduk bersama sang ibu. Dia tidak lain Dita Kalisra dan sang ibu Jiny Kalisra.


"Mih, kalo dia jelek kayak di foto... Aku nggak mau kesini lagi." Ucap Dita dengan nada angkuh.


"Iya sayang... Pokoknya kamu nggak nyesel kok, mamih yakin." Jawab Jiny.


"Eh jeng... Maaf ya bikin nunggu... Gavin dia Dita, Dita ini putra tante Gavin." Ucap Saras memperkenalkan. Seketika mata malas Dita berubah menjadi berbinar. Dia kagum dengan pria yang berjulukan raja playboy itu.


Cih, cewek sok cantik... Mama bilang sebaya sama gua kok kayak tante tante? Mending sama Nia aja... Udah cantik, sexy, dan polos lagi. Batin Gavin menatap Dita enggan.


G*la, g*la... Ganteng banget sih, beda banget sama di foto waktu itu... Udah ganteng, cool, kaya lagi siapa sih yang nggak mau. Batin Dita.


"Ayo kenalan dong jangan malu malu... Nanti juga sering ketemu." Ucap Jiny.


"Hai aku Dita." Ucap Dita sok lembut.


"Tau kok mama yang kasih tau barusan." Jawab Gavin santai membuat Dita membeku.


"Ah, ayo duduk dulu kita bicarakan baik baik." Ajak Saras. Mereka pun duduk saling berhadapan dengan meja sebagai pembatas.


"Gavin kapan kamu lulusnya?" Tanya Jiny basa basi.


"Lusa depan tante." Jawab Gavin singkat.


"Wah sama dong kayak Dita... Iya nggak sayang?" Ucap Jiny dan Dita mengangguk.


"Oh iya Gavin besok temenin Dita pilih gaun ya... Buat acara besok malam." Ucap Saras. Tampak Gavin hanya menganggukan kepala malas. Saat itu tampak Nia datang membawa baki berisi dua gelas jus melon.


"Maaf menyela... Silahkan diminum." Ucap Nia ramah. Dan saat itulah Gavin tampak bersemangat menatap Nia yang tengah menaruh gelas di meja.


"Eh jeng dia pelayan kamu???" Tanya Jiny.


"Iya, namanya Nia... Dia baru bekerja disini." Jawab Saras sembari tersenyum.


"Malang banget sih, percuma muka oke tapi jadi pelayan... Awas aja kalau berani rayu Gavin gua bakalan habisin lo." Lirih Dita dan terdengar jelas oleh telinga Nia. Hal itu membuat Nia merasakan sesak didadanya.


"Sa... Saya permisi." Pamit Nia kemudian pergi. Melihat wajah Nia, membuat Gavin menatapnya diam.


Mereka pun berbincang bincang. Namun Gavin hanya menjawab singkat setiap ditanya. Dia masih memikirkan kenapa Nia pergi dengan wajah sedih.


Visual tambahan


Lenia Safari {Nia}



Dita Kalisra{Dita}


__ADS_1


__ADS_2