My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
Season 2 Episode 17


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MHKOT2🥀...


Kehilangan seseorang yang dia sayangi, Veno trauma karena aku... Jadi, apa secara tidak langsung... Veno menganggap Lili bagian penting dalam hidupnya?? Batin Lala. Dia tersenyum jika memang itu benar.


"Ibu bagaimana keadaan kak Veno??" Tanya Liasya saat Lala duduk disampingnya.


"Veno baik baik saja, setelah sadar dia bisa pulang." Jawab Lala membuat Liasya berhenti menangis dan bernapas lega.


"Alhamdulilah kalau begitu, Al tante pergi dulu ya... Sekarang saatnya Rasya istirahat." Ucap Lina.


"Iya tante... (Mencubit lembut dagu Rasya.) Cepat sembuh cantik." Ucap Lala.


"Terima kasih tante." Jawab Rasya. Lina dan Rasya pun pergi. Setelah mereka pergi, tampak Lala Alzero dan Liasya masuk kedalam ruangan.


"Oma, aku kira tante tadi kakak dari kak Veno... Ternyata ibunya, dia sangat cantik." Ucap Rasya memuji. Meskipun dimakan usia, kecantikan seorang Ranadiacella tidak pernah pudar.


"Iya begitulah... Setelah minum obat kamu istirahat ya, dokter bilang nanti malam infus kamu dilepas dan besok boleh pulang." Ucap Lina.


"Syukurlah... Maafin Rasya karena buat Oma repot." Ucap Rasya sembari menundukan pandangannya.


"Sayang... Jangan begitu, bagi Oma kesehatan kamu yang lebih penting." Jawab Lina. Rasya pun memeluk wanita paruh baya didepannya.


"Terima kasih Oma, sudah sayang dan rawat Rasya." Ucap Rasya. Lina tersenyum dan menghusap puncak kepala Rasya.


"Sama sama... Ayo minum obatnya, habis itu istirahat." Ucap Lina. Rasya pun menganggukan kepalanya dan meminum obatnya sebelum akhirnya tertidur.


Sedangkan dengan Alveno. Dia merasa pusing saat ibunya berceramah 6 bahasa. Meskipun sudah pernah hilang ingatan, tapi kecerewetan Lala masih ada.


"Kenapa diem aja?? Paham kan bunda bilang apa??!" Omel Lala.


"Veno paham bunda." Jawabnya kemudian turun dari atas ranjang.


"Kakak mau kemana??" Tanya Liasya dengan sigap memapah Alveno. Yang mana membuat Alveno menatap tangan Liasya yang dengan erat memapahnya.


"Bukankah aku boleh pulang?? Kita pulang sekarang... Lagi pula aku tidak patah tulang." Ucap Alveno.


"Alzero!!! Urus saja anakmu itu, humph!" Kesal Lala kemudian pergi lebih dulu.


"Sayang!! Lili bawa Veno ke mobil." Ucap Alzero sembari menyusul istrinya setelah membayar biaya rumah sakit.


"Lili minta maaf kak." Ucap Liasya sembari menundukan pandangannya. Yang mana membuat Alveno mengerutkan keningnya.


"Kau tidak salah... Tenanglah, ini hanya luka kecil." Jawab Alveno.


"Kalau begitu, terima kasih kak." Ucap Liasya dan direspon anggukan oleh Alveno.


"Kakak suka ice cream??" Tanya Liasya.


"Kenapa memangnya??" Bukannya menjawab, Alveno justru kembali bertanya.


"Aku bisa membuatnya... Kakak ingin coba?? Anggap saja sebagai permintaan maaf dariku." Ucap Liasya sembari tersenyum.


Yang mana membuat Alveno terdiam. Selama 16 tahun lamanya, apapun yang berasa manis tidak pernah Alveno makan. Jika dia memakannya, itu mengingatkannya pada kejadian dimana dia kehilangan calon adiknya dimasa lalu.


"Emm... Kalau kakak tidak mau, tidak apa—"

__ADS_1


"Bawakan itu setelah makan malam... Dibalkon." Ucap Alveno memotong.


"Baiklah." Jawab Liasya. Mereka berdua pun masuk kedalam mobil.


Di Taman Kota


Kenzie tengah duduk sembari menikmati soda kalengnya. Dia melihat sekitar yang mana banyak sepasang kekasih tengah menikmati suasana sore menjelang malam itu. Taman Kota memang tempatnya para sepasang kekasih untuk berjalan jalan santai. Mengingat pemandangannya yang sangat indah.


Namun, tidak untuk putra pertama bermarga Azura itu. Dia duduk sendirian dengan pikirannya entah dimana. Disatu sisi, dia sudah tidak tahan dengan sikap Syakila yang lebih mementingkan karir. Karena bagaimana pun, Kenzie adalah seorang pria yang ingin dimanja oleh pasangannya. Dan disisi lain, entah mengapa Kenzie merasa kesal saat Rasya menggigit bibir bawahnya. Jujur saja, Kenzie sudah hanyut dalam ciumannya dan hampir menginginkan lebih.


Keputusan gua udah bulat, besok gua bilang baik baik ke Kila. Batin Kenzie. Saat hendak meneguk soda kalengnya, ponselnya berdering. Ternyata itu telefon dari Lina.


📞


“Hallo Oma??”


“Enzi, kamu jagain Rasya sebentar yah di rumah sakit... Dia lagi istirahat, mommy mu sedang nggak bisa diganggu.”


“Emang Oma mau kemana??” Tanya Kenzie.


“Oma sama Opa ada acara sebentar... Nanti Oma kasih uang jajan... Oh iya, Rasya belum makan malam... Nanti kamu sekalian beliin makan malam buatnya.”


“Tapi Enzi—”


Tut.


"Ya Allah, dimatiin lagi... Dahlah, gua ke sana aja... Lumayan dapet uang tambahan." Ucap Kenzie kemudian menaiki motornya dan pergi meninggalkan Taman Kota.


Sesampainya di Rumah Sakit.


Kenzie memakirkan motornya dan langsung menuju ke ruangan dimana Rasya dirawat. Dan benar saja, Rasya sendirian diruangan. Sepertinya Lina sudah pergi beberapa saat lalu. Kenzie meletakan kunci motornya diatas meja dan duduk disofa sembari menatap Rasya yang terlelap.


Baguslah, gua juga bisa istirahat sekarang. Batin Kenzie. Dia pun merebahkan tubuhnya diatas sofa dan perlahan tertidur.


Sepertinya ada bulan purnama... Aku akan keluar sebentar. Batin Rasya menatap langit malam dari kaca jendela.


Dia pun pergi dengan langkah perlahan agar tidak mengganggu Kenzie yang terlelap. Sesampainya di taman, Rasya duduk dikursi panjang itu. Dia menatap langit yang bertaburan bintang dan ditemani bulan yang bercahaya cerah.


Oma bilang, kalau rindu ayah dan ibu... Rasya tinggal natap bulan... Apa ayah dan ibu bisa liat Rasya dari alam sana?? Batin Rasya sembari menatap bulan.


Ditinggal sejak umur 3 tahun oleh kedua orang tuanya, disusul oleh kematian sang kakek saat dia berumur 9 tahun. Beruntung Lina dan Dicko mau membesarkannya dengan penuh kasih sayang.


"Anak jelek!!!" Teriak seseorang yang sangat familiar. Siapa lagi jika bukan Kenzie. Yang mana membuat Rasya terpenjat kaget melihat Kenzie tampak marah.


"Lo ngapain sih diluar ha?!! Mau daftar jadi korban penculikan?!! Kalo lo di culik gimana bege! Lain kali kalo mau pergi bilang, kalo lo ilang gua juga yang repot!" Omel Kenzie yang mana membuat Rasya menundukan pandangannya.


"Rasya minta maaf kak, Rasya cuman—"


"Cuman apa?!!!" Bentak Kenzie membuat Rasya tak berani membantah. Kenzie menghela napas panjang sebelum akhirnya menggendong Rasya ala bridal style.


"Kak! Rasya bisa—"


"Udah diem! Dasar kerdil." Ucap Kenzie. Yang mana membuat Rasya menghela napas panjang. Begitu banyak panggilan aneh yang Kenzie berikan padanya.


"Loh sayang, kok Rasya digendong??" Tanya Alina.


"Cie... Cie abang... Jangan jangan kayak di drakor nih, abang habis nembak kak korea terus bahagia terus terus digendong deh." Ucap Arka tiba tiba membuat Kenzo dan Alina terkejut.


"Drakor mulu!! Otak kalian error yang ada." Ucap Kenzie kemudian membawa masuk Rasya kedalam ruangan. Disusul oleh Alina Kenzo dan si kembar.


"Rasya sayang... Tante bawain sop ayam kesukaan kamu, kata Oma kalian berdua belum makan kan?? Nih makan berdua." Ucap Alina sembari mengeluarkan kotak makannya.

__ADS_1


"Enzi dah makan... Anak jelek aja." Ucap Kenzie sembari duduk disamping Arka.


"Ish abang gimana sih... Kak Rasya cantik banget kek artis korea dibilang in jelek... Yang ada abang noh yang jelek." Kesal Raka tak terima.


"Serah lo bambang." Ucap Kenzie kemudian memainkan ponselnya.


"Abang main apaan??" Tanya Arka sembari mengintip.


"ML." Jawab Kenzie.


"Mobile Legend??" Tanya Arka.


"Bukan."


"Terus??" Tanya Arka lagi.


"Cooking mama." Jawab Kenzie. Yang mana membuat Arka mengecurutkan bibirnya kesal. Kenzie tersenyum dan merangkul adik bungsunya itu kemudian memainkan game cooking mama itu.


"Bang kok Raka gak dipeyuk sih?!!" Kesal Raka dan tidak direspon oleh Kenzie.


"Bleee!" Ejek Arka melihat saudara kembarnya itu kesal.


"Daddy..." Rengek Raka.


"Sini son, nanti kita beli album." Ucap Kenzo.


"Tenang Arka... Ntar abang beliin lilinstik." Ucap Kenzie tak mau kalah.


"Light stick abang." Ucap Arka.


"Nah itu maksudnya." Ucap Kenzie. Dia tersenyum melihat Raka yang kesal. Kenzie tidak pilih kasih, dia hanya ingin melihat Raka kesal mengingat dia hobi menjaili Arka.


"Fatimah juga mainin game ini bang." Ucap Arka sembari melihat Kenzie bermain.


"Benarkah?? Bagus dong." Jawab Kenzie.


"Tante, Rasya boleh nggak pulang sekarang??" Tanya Rasya begitu selesai makan malam.


"Gak!! Kalo besok ya besok... Keras kepala!" Kesal Kenzie.


"Enzi.... Lebih baik besok aja ya... Tenang, tante om sama Kenzie temenin kamu kok." Ucap Alina.


"Aku juga mau nginep disini." Ucap si kembar bersamaan.


"Nggak! Besok kalian ada mapel tambahan buat ujian." Ucap Alina membuat si kembar terdiam.


Kenzo mengantar si kembar terlebih dahulu ke rumah Lina. Setelahnya dia kembali ke rumah sakit. Beruntung di ruangan Rasya tersedia satu ranjang besar yang memang disediakan disana. Alina dan Kenzo tidur diatas ranjang sedangkan Kenzie berjaga sembari duduk disofa.


Di Kediaman Caesar


Alveno tampak menunggu dibalkon paling atas Vila. Tempat favorite Alveno saat membaca buku karena memang tidak diganggu oleh banyak orang. Saat itu Liasya datang dengan semangkuk ice cream buatannya. Dia pun duduk disamping Alveno beralaskan karpet bulu.



(Visual balkon😘👆🏻.)


"Wah disini sangat indah... Oh iya, kakak suka rasa coklat??" Tanya Liasya.


"Terserah padamu." Jawab Alveno. Liasya yang senang itu pun menyuapi Alveno yang mana membuat Alveno terdiam.


"Ayo kak buka mulut kakak... Aaaa." Ucap Liasya. Sedikit ragu, Alveno membuka mulutnya dan menerima suapan ice cream dari Liasya.

__ADS_1


"Bagaimana?? Enak kan??" Tanya Liasya sembari tersenyum. Namun senyumannya pudar saat melihat raut wajah Alveno.


__ADS_2