My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
Season 2 Episode 23


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MHKOT2🥀...


Sedangkan dengan Liasya, dia tampak kagum melihat dekorasi pesta yang sangat mewah dan indah itu. Terlebih tamu yang datang lebih dari 100 orang. Bertepatan dengan itu, Liasya menatap Dona yang tengah berbincang dengan Chika Yayan dan Messy.


Warna gaunnya sama seperti jas kak Veno. Batin Liasya yang akhirnya tau alasan kenapa Dona melarangnya memakai gaun berwarna biru.


"Loh sayang, kok melamun?? Ayo turun." Ucap Lala. Liasya pun menganggukan kepalanya dan ikut turun bersama dengan Lala.


"Nyonya dan Tuan Caesar datang!!" Ucap para tetamu dan seketika berhenti berbincang.


"Terima kasih untuk para tetamu yang hadir... Hari ini, Hari dimana paling bersejarah untuk Caesar Group karena putra tunggalku akan menjadi ahli waris dari Caesar Group!" Ucap Alzero dan para tetamu itu bersorak ria diiringi tepukan tangan saat Alveno datang.


Baik Dona maupun Liasya membelakan matanya saat Alveno memakai jas berwarna merah senada dengan warna gaun Liasya. Yang mana membuat Dona mengepalkan tangannya erat.


Pasti ulah anak kampungan itu! Umpat Dona. Dia pun mendekati Liasya dan berbisik.


"Ikut gua, gua mau ngomong sama lo." Bisik Dona. Dan Liasya yang polos itu mengikuti Dona pergi.


Sesampainya di tepi kolam dimana disana tidak ada banyak orang, Dona menarik lengan Liasya kasar. Yang mana membuat Liasya tersentak kaget.


"Lo kan?! Yang udah paksa Veno buat pake jas senada sama lo??!!" Ucap Dona dengan wajah penuh amarah.


"Lili nggak tau kak—"


"Halah dasar penipu! Lo itu harusnya sadar diri sama posisi.... Lo cuman anak pungut tante Lala, udah beruntung diurus jadi lo gak usah berharap lebih buat dapetin Veno... Paham lo!" Ucap Dona.


"Kakak kenapa benci banget sama Lili?? Salah Lili apa??" Tanya Liasya dengan mata berkaca kaca.


"Karena gara gara lo, Veno jadi jauh dari gua! Dasar anak kampungan!!" Ucap Dona dan mendorong Liasya. Dona terkejut dan baru sadar jika dibelakang Liasya ada kolam.


Byurrrr!!!!


Gawat! Gua harus kabur. Batin Dona kemudian pergi sebelum ada orang yang melihat.


Suara itu mampu membuat para tetamu teralihkan termasuk Alveno.


"Apa ada yang jatuh ke kolam??" Tanya Lala sembari menatap suaminya. Dan Alzero hanya menggelengkan kepalanya pelan pertanda jika dia tidak tau.


Samar samar Alveno melihat wajah Liasya yang keluar dari permukaan. Alveno pun berlari sembari melepaskan jasnya dan menyisahkan kemejanya saja.


Byurrr!!


Alveno langsung mencebur kedalam kolam. Sayangnya, Liasya tak sadarkan diri yang mana membuat Alveno langsung memberikan napas buatan. Sebuah hal langka, tentu para tetamu memotret kejadian tersebut. Tidak seperti Lala yang panik, Alzero justru tersenyum sembari menatap Alveno yang merebahkan tubuh Liasya dipinggir kolam.


Ternyata benar, gadis itu benar benar membuat Veno berubah... Entah dengan cara apa dia mampu membuat Veno mau memakan makanan manis setelah 15 tahun lamanya. Batin Alzero.


"Mas kok kamu senyum sih! Jangan jangan itu ulah kamu lagi!" Ucap Lala kesal.


"Sayang... Bukan begitu, apa kau pernah melihat Alveno peduli dengan wanita seumurannya?? Bahkan Dona saja tidak pernah bukan?" Jawab Alzero yang mana membuat Lala terdiam. Dia menatap Alveno yang menggendong Liasya ala bridal style.


"Maafkan atas kejadian yang tidak dinginkan ini." Ucap Alzero dan diangguki oleh para tetamu.


Nj*r, si cewek itu siapa??? Jangan jangan gebetannya Veno... Musti di wawancarai nih. Batin Daffin. Sesaat dia menatap Kenzie Rasya dan mantan pacarnya yang tengah berbincang.


Moga aja kagak jadi apa apa. Batin Daffin.


"Bee, please—"


"Kila, gua udah denger dan liat semuanya... Huh! Pantesan lo gak pernah balik ke Indo pas liburan." Ucap Kenzie memotong. Rasya merasa canggung dan ingin pergi sedari tadi. Namun, Kenzie tidak melepaskan genggamannya bahkan sampai tangannya berkeringat saking eratnya.

__ADS_1


"Iya gua ngaku salah... Please kasih gua kesempatan—"


"Sorry Kila... Rasya ayo pergi." Ucap Kenzie kemudian menarik Rasya pergi. Melihat hal itu pun membuat Syakila mengepalkan kedua tangannya erat.


Tega lo Enzi!!! Gua gak bakalan lepasin lo begitu aja. Batin Syakila sembari tersenyum miring.


"Kak kita mau—" Ucap Rasya terjeda saat Kenzie tiba tiba memojokannya di tembok dan langsung mencium bibir Rasya dengan sangat rakus.


"Kakak kenap— Humpph!" Baru satu tarikan Rasya mengambil napas, Kenzie kembali menciumnya.


Gua kesel anak jelek!! Gua kesel kenapa lo diem aja dan gak bilang kalo lo calon istri gua kek Kila?!!! Batin Kenzie.


"Abang dipang— Astghafirullah." Ucap Arka secepat kilat bersembunyi. Dia pun kembali mengintip sang kakak yang dengan ganas mencium bibir Rasya.


"G*la si abang... Ganas banget dah kek opa opa korea... Argh! Kan bikin iri... Sabar Arka tunggu halalin Fatimah baru deh bisa cipika cipiki dan cibibi." Ucap Arka dan wajah Fatimah terlintas dalam pikirannya. Dan Arka membelakan matanya saat Kenzie mer*mas bagian sensitive wanita.


Gawat!!! Bisa keblabasan nih abang. Batin Arka.


"Abang dipanggil mommy!!" Panggil Arka dengan sedikit berteriak yang mana membuat Rasya terkejut, dan menggigit bibir bawah Kenzie kemudian mendorongnya menjauh. Kenzie menyeka darah yang keluar dari bibirnya sedangkan Rasya membenarkan gaunnya yang sedikit melorot.


"Hah?!" Kesal Kenzie sembari menatap tajam Arka.


"Udah belom?? Arka buka mata yah." Ucap Arka sembari mengintip Kenzie dan Rasya dari sela sela jarinya sebelum akhirnya membuka matanya.


"Ngapain mommy panggil??" Tanya Kenzie masih menyeka darah yang keluar.


"Tanya aja sama mommy... Oh iya sama kak korea juga." Jawab Arka kemudian pergi mendahului.


"Kenapa diem?! Ayo pergi." Ucap Kenzie kemudian menarik tangan Rasya.


🥀🥀🥀


Alveno menatap Liasya yang tengah diperiksa dokter. Dia bahkan tidak memperdulikan tubuhnya yang basah. Dia menggenggam tangannya erat kesal dengan orang yang tega mendorong Liasya.


"Bagaimana keadaan Lili dok??" Tanya Alveno begitu dokter selesai memeriksa.


"Rio cek cctv yang mengarah di kolam." Titah Alzero.


"Baik tuan." Jawab Rio kemudian pergi.


Lala duduk dan membelai wajah Liasya yang tampak pucat karena kedinginan. Meskipun Liasya bukan anaknya, namun sejak kecil Lala mengurusnya bersama dengan almarhumah ibunya Liasya. Dan tentu Lala sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.


"Kalau begitu saya permisi." Pamit sang dokter dan direspon anggukan oleh Alzero. Begitu mendapatkan izin, sang dokter pun pergi.


"Ya Allah, tega sekali yang mendorong Lili." Lirih Zaina.


"Sayang kamu mengatakan sesuatu??" Tanya Araka pada sang istri. Zaina hanya menggelengkan kepalanya pelan dan menyandarkan kepalanya pada bahu kekar suaminya.


"Al lebih baik kamu disana untuk mengatur keadaan." Ucap Araka.


"Baik ayah... Sayang aku turun dulu ya." Ucap Alzero. Lala menganggukan kepalanya pelan dan Alzero pun pergi meninggalkan ruangan.


"Kenapa Lili belum sadar juga??" Tanya Lala dengan wajah khawatir.


Tadi sudah kuberi napas buatan, seharusnya Lili cepat sadar. Batin Alveno.


"Bunda turun saja bersama dengan ayah... Biar Veno yang jagain Lili." Ucap Alveno.


"Baiklah, jika Lili sudah sadar... Kabari bunda ya." Ucap Lala.


"Pasti bunda." Jawab Alveno.


Lala pun menghusap puncak kepala Alveno sebelum akhirnya pergi meninggalkan Alveno dan Liasya yang masih belum sadarkan diri. Alveno menutup pintu kamar dan duduk disamping Liasya yang masih terpejam. Baru Alveno mendudukan dirinya, tampak Liasya membuka matanya.


"Emh."

__ADS_1


"Lili kamu sudah sadar?? Bagaimana keadaanmu?? Tidak ada yang sakit kan??" Tanya Alveno.


"Tidak kak, Lili baik baik aja." Jawab Liasya sembari tersenyum.


"Aku panggil bund—"


"Jangan kak! Pasti ibu sama ayah lagi ngendaliin keadaan... Maafin Lili, gara gara Lili pesta kakak jadi—"


"Ini bukan salah kamu... Ini hanya pesta biasa, jangan khawatir." Ucap Alveno sembari menghusap puncak kepala Liasya yang masih basah.


"Baju kakak basah... Kakak bisa kena masuk angin, lebih baik kakak ganti pakaian." Ucap Liasya sembari memegang kemeja Alveno yang basah.


"Tidak perlu." Ucap Alveno karena dia biasa berenang malam saat dulu masih SMA.


"Tapi kakak bisa sakit... Kalau begitu kakak buka aja kemejanya dan pakai handuknya." Ucap Liasya sembari membuka kancing kemeja Alveno. Bukan berpikiran apa apa, Liasya khawatir jika Alveno akan terserang flu atau masuk angin.


"Tidak per—"


"Nanti kakak sakit."


"Lili—"


"Kakak!"


Alveno menghela napas kesal dan hendak bangkit dari duduknya. Namun, Liasya menarik kemeja Alveno yang mana membuat Alveno telanjang dada sekarang. Liasya menatap kagum dengan perut six pack layaknya opa opa korea. Namun, Liasya mengenyahkan pikirannya dan memakai kan handuk kimono pada Alveno.


"Maaf sedikit tidak sopan." Ucap Liasya.


"Tidak apa, aku senang kamu mencemaskan ku." Jawab Alveno.


"Jadi Lili, katakan siapa yang mendorongmu ke kolam??" Tanya Alveno yang mana membuat Liasya terdiam.


🥀🥀🥀


Alina, Kenzo, Lina, dan Dicko menatap bingung pada sepasang anak muda yang tampak canggung. Siapa lagi jika bukan Kenzie dan Rasya. Sedangkan Arka berpura pura sibuk dengan ponselnya. Dan Raka?? Jangan ditanya, anak itu tengah dalam masa PTG. Pendekatan Tapi Gengsi.


"Enzi, bibir kamu kenapa??" Tanya Alina saat sadar bibir Kenzie terluka.


"Kejedot pintu." Jawab Kenzie singkat.


Kejedot pintu apa kejedot bibir?? Batin Arka pandangan masih fokus pada ponselnya.


"Mommy kenapa tiba tiba manggil??" Tanya Kenzie.


"Tadi ada kejadian, makanya mommy panggil kamu." Jawab Alina dan diangguki malas oleh Kenzie. Hingga saat itu Lala datang dan Alina menghampirinya.


"Bagaimana keadaan Lili??" Tanya Alina.


"Dia hanya trauma dengan air, Veno menjaganya." Jawab Lala dan membuat lainnya ikut bernapas lega.


🥀🥀🥀



(Style sekaligus Visual Kenzie😘👆🏻.)



(Style sekaligus visual Daffindra😘👆🏻.)



(Style sekaligus visual Revan, cute banget kan wkwkwk 😂😘👆🏻.)


__ADS_1


(Style sekaligus visual Alveno😘👆🏻.)


__ADS_2