
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YAπ ππ
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUAππ
I LOVE YOU READERSππ
...π₯MHKOT2π₯ ...
Di Rumah Sakit
Raka dengan setia menunggu Mia sadar. Dia tidak peduli mengenai waktu atau apapun. Dia hanya ingin gadisnya sadar dan kembali sehat. Raka bahkan membantah Kenzie yang mengajaknya pulang. Melihat Raka yang kelelahan membuat Gavin tidak tega.
"Raka... Pulanglah dulu, mommymu pasti mencemaskanmu." Ucap Gavin sembari menepuk bahu Raka.
"Nggak om... Raka pengen tetep disini sampe Mia sadar." Ucap Raka masih dalam pendiriannya. Hal itu mengingatkan Gavin pada Kenzo yang keras kepala dan gengsi.
Tak ku sangka ternyata sifat Kenzo melekat pada ketiga anaknya. Batin Daffin.
"Om tau itu... Begini saja kamu pulang dulu, besok kesini lagi... Nanti om restuin kamu sama anak om." Ucap Gavin sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Beneran om?? Ok om, Raka pulang dulu ya... Assalamualaikum calon mertua." Ucap Raka kemudian pergi. Namun sebelum itu dia menatap Mia yang belum sadarkan diri.
"Walaikumsalam... Mungkin dengan begini... Kita bisa menjadi besan Ken." Lirih Gavin. Dia pun masuk kedalam ruangan menemani istrinya yang tak berhenti menangis.
"Sayang... Berhentilah menangis, dokter bilang Mia selamat... Ya, jangan menangis lagi." Ucap Gavin mencoba menenangkan Nia.
"Hiks... Hiks... Kenapa mereka tega melakukan ini... Jika membenci ku kenapa tidak membunuh ku jangan anak anakku." Ucap Nia membuat Gavin dengan sigap memeluknya.
__ADS_1
"Kita akan memberikan pelajaran pada mereka... Kita tidak sendiri sayang, ketiga sahabatku ada bersama kita." Ucap Daffin. Nia hanya meneteskan air matanya menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya.
...π₯π₯π₯...
Setelah mendapatkan hasil rekaman cctv yang hanya diketahui Daffin dan ayahanya, Daffin kembali ke kamarnya. Dilihatnya Nala sudah tidur menyamping membelakangi dirinya. Dengan pelan Daffin menutup pintu kamarnya dan menguncinya otomatis. Dia pun duduk berselonjor disamping istrinya dan memangku laptopnya. Namun niat Daffin terurungkan saat dia mendengar suara isakan tangis dan suara itu tak lain dari istrinya.
"Nala kamu menangis." Ucap Daffin sembari menyentuh bahunya. Nala menghindar dan lebih ke tepi ranjang. Dia tidak bisa tidur dan terus menangis karena perlakuan Daffin barusan mengingatkannya dengan luka lama. Dimana Nala selalu disalahkan dalam segala hal saat dipanti.
"Sayang kamu mau kemana??" Tanya Daffin saat melihat istrinya pergi membawa bantal. Ternyata dia tidur di sofa. Apakah semarah itu padanya?? Begitulah pikir Daffin saat ini.
Daffin menghela napas panjang dan memilih melihat rekaman cctvnya. Dan alangkah terkejutnya ternyata yang memasukan sesuatu kedalam pudding buatan Nala adalah... Bik Gita.
Gak!! Ini pasti gak bener!!! Bik Gita nggak mungkin berniat membunuh Mia... Iya, pasti ada yang mengancamnya gua akan menyelidikinya. Batin Daffin.
Dia meletakan laptopnya diatas nakas dan berkali kali menghela napas. Daffin menatap Nala yang sepertinya sudah terlelap selama dia menonton rekaman cctvnya. Daffin mendekat pada sang istri dan menggendongnya ala bridal style. Menidurkannya diatas ranjang dengan sangat lembut kemudian menyelimutinya.
Kecupan mesra mendarat pada kening dan bibir Nala secara bergantian. Dia membelai wajah Nala yang terlihat sembab.
Maafin aku ya sayang... Harusnya aku mendengarkan penjelasanmu dan tidak bertindak semena mena. Batin Daffin. Dia pun memeluk erat sang istri dan ikut tidur.
Keesokan Harinya
Setelah kejadian semalam, Rasya menjadi sedikit tidak bersemangat saat menjalani hari harinya. Dia takut terjadi apa apa jika pergi keluar sendiri. Melihat wajah tunangannya tampak lesu membuat Kenzie duduk disampingnya.
"Kenapa hmm?? Masih kepikiran soal semalam??" Tanya Kenzie. Rasya tak menjawab, dia menyandarkan kepalanya pada bahu Kenzie.
"Kenapa kak Kila benci sama Rasya??" Ucap Rasya membuat Kenzie berdehem.
__ADS_1
"Itu salahku, maaf." Ucap Kenzie. Rasya menggelengkan kepalanya.
"Tidak, toh ini sudah terjadi... Kita hadapin ini semua bersama." Ucap Rasya. Kenzie menggenggam tangan Rasya dan menciumi punggung tangannya.
"Baiklah... Kita akan hadapi semua ini bersama." Jawab Kenzie sembari mencium kening Rasya. Dan dari kejauhan, Lina bersama sang suami ikut merasakan kebahagiaan cucu mereka.
"Mas mereka romantis, keinget pas dulu kamu gengsi ke aku." Ucap Lina.
"Sayang berhenti mengatakan hal itu... Itu mengingatkankan ku dengan kebodohanku." Ucap Dicko tampak kesal.
"Masih saja begitu." Ejek Lina kemudian masuk kedalam kamarnya.
"Kak."
"Hmm??"
"Kenapa saat Kak Veno denger kalo Mia keracunan pudding dia kayak reaksi begitu maksudku, apa dia memiliki trauma??" Tanya Rasya.
"Oh itu... Kasusnya hampir sama hanya saja, dulu tante Lala keguguran karena pancake buatan Veno bukan pudding... Itu yang membuatnya trauma tidak memakan makanan manis, padahal itu bukan salahnya." Jelas Kenzie. Motifnya berbeda, Lala diberi racun agar keguguran sedangkan Mia diberi racun agar meninggal. Tentu dari kesimpulan itu, pelakunya pasti berbeda.
"Kak bagaimana kalau kita selidiki kasus tante Lala??" Ucap Rasya.
"Hah??"
...π₯π₯π₯...
Maaf pendek, entar dilanjut 2 bab okπ
__ADS_1