
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Roni bahkan lebih parah dari Kenzo. Dulu dia sampai menarik Alexa agar pergi dari rumahnya. Namun, karena bujukan sang ayah membuat Roni menerima dan pada akhirnya dia sangat mencintai Alexa.
Alexa, apa putri kita akan mengalami apa yang pernah kita lalui?? Batin Roni.
Dicko menatap Roni tidak enak karena Roni terdiam. Dicko menarik tangan Kenzo untuk pergi dari sana, sedangkan Lina mendekat ke arah Alina.
"Kakak ipar tidak apa apa kan??" Tanya Celani cemas.
"Tidak apa apa." Jawab Alina sembari tersenyum.
"Sayang kamu nggak apa apa kan?? Maafin Kenzo ya." Ucap Lina dengan wajah menyesalnya.
"Tidak apa apa mom... Kenzo hanya emosi." Jawab Alina sambari tersenyum. Hal itu membuat Lina lega dan menghusap pipi Alina lembut.
Sedangkan dengan Kenzo. Dia menatap sang ayah tajam. Dalam pikirannya, dia dijodohkan dengan wanita setidaknya sesuai salah satu kriterianya. Dan Kenzo sangat tidak menyukai wanita cupu.
"Apa seperti ini sikapmu Ken?? Apa daddy pernah mengajarimu hal seperti itu?!!" Ucap Dicko dengan nada tinggi.
"Dad, aku mau dijodohkan dengan siapa pun asal jangan wanita cupu itu. Dia sangat jelek." Ucap Kenzo. Tampak Dicko mengatur napasnya. Terlebih dia harus memikirikan penyakit jantung yang dideritanya.
"Kau sendiri yang mengiyakannya... Dia sangat cantik Ken, kau yang tidak pernah melihat saat dia melepaskan kacamatanya... Coba kau lihat baik baik nanti... Jika kau menolak, tidak mengapa... Tapi daddy akan menyalahkanmu jika sesuatu terjadi pada oma." Ucap Dicko kemudian pergi.
Kartu as yang dia miliki hanyalah Madira. Dicko tau Kenzo sangat mematuhi Madira lebih dari mematuhi Lina dan dirinya. Dan Dicko berharap bisa membuat Kenzo berubah pikiran.
Ah sial!!!! Gua lupa kalau ada oma, kenapa nasib gua gini banget sih... Kalau gerbangnya gak tinggi mending kabur ke bar. Batin Kenzo.
__ADS_1
Kenzo pun menghela napas panjang. Bagaimana pun dia tidak bisa bertindak kecuali mengikuti kemauan kedua orang tuanya. Jika dia bertindak, keselamatan nenek tersayangnya menjadi terancam.
Kenzo mengintip dan melihat Madira tengah tertawa kecil bercerita dengan Alina. Begitu pula Celani Lina Dicko dan Roni. Rasanya sangat sulit untuk membuat senyuman mereka hilang. Sadar Kenzo datang, Madira melambai untuk datang mendekat.
"Kenken kemarilah." Ucap Madira membuat senyuman Alina menghilang.
Dia menundukan pandangannya saat Kenzo duduk disebelah kiri Madira sedangkan dirinya berada disebelah kanan. Alina semakin terkejut saat Madira meraih tangannya dan tangan Kenzo supaya saling menggenggam.
"Cinta memang tidak selalu datang dengan saling mencintai, tapi juga dari perjodohan... Oleh karena itu, kalian berdua bisa kan saling melengkapi satu sama lain??" Ucap Madira. Tampak Lina dan lainnya saling tatap sembari tersenyum. Alina hanya meresponnya dengan anggukan kepala.
Tangan nih cewek dingin banget... Dia takut kah?? Batin Kenzo.
"Kenken?" Ucap Madira membuat Kenzo tersentak kaget.
"Iya oma, akan Ken usahakan." Ucap Kenzo.
"Jadi Ken, nanti setelah makan siang... Seperti yang mommy bilang pilih gaun dan jas untuk pesta nanti malam." Ucap Lina.
"Iya mom." Jawab Kenzo. Saat itu tampak Celani bangkit dari duduknya.
"Mom, nanti aku keluar dulu, mau keluar bareng temen temen." Ucap Celani.
"Sepagi ini??" Ucap Kenzo sembari mengerutkan keningnya.
"Sama siapa?? Farrel??" Tanya Kenzo tak suka.
"Kepo." Ucap Celani meledek membuat Kenzo melotot.
"Sudah, sudah... Boleh tapi pulang sebelum maghrib yah." Ucap Lina. Tentu membuat Celani memeluknya.
"Mommy yang terbaik." Ucap Celani. Sedangkan Kenzo tampak tidak senang jika Celani dekat dengan Farrel.
Gak tau kenapa, gua ngerasa Farrel cuman manfaatin Ela... Beda sama Ashel. Batin Kenzo.
Kenapa harus dia?? Jika bukan demi bunda, aku mungkin membatalkannya... Pantas reaksinya seperti tadi, pria mana yang mau nenikah dengan gadis culun sepertiku. Batin Alina masih menundukan pandangannya. Melihat Alina menunduk, membuat Roni merasa bersalah. Dan hal itu disadari oleh Lina.
Alexa, jangan khawatir... Selama ada aku... Aku berjanji akan membuat mereka berdua bersatu.
Mereka berbincang bincang dengan wajah girangnya. Berbeda dengan Alina yang tersenyum paksa, sedangkan Kenzo memamerkan wajah malasnya.
__ADS_1
Di Kediaman Saputra
Selesai makan siang, Nia dengan cekatan membersihkan meja makan dan mencuci piring piring yang kotor. Hal itu membuat Gavin yang berpura pura memainkan ponselnya itu tersenyum kagum. Para pelayan lain juga kagum dengan kegesitan Nia.
Padahal Nia hanya gadis muda yang seharusnya berfoya foya seperti kebanyakan. Namun, dia justru bekerja demi menjamin keselamatan ibunya. Hal satu satunya yang sangat berharga dalam hidupnya. Nia sangat bersemangat terlebih tadi Saras mengatakan jika ibunya sudah bisa berjalan.
"Udah selesai kan?? Cepet lo siap siap kita pilih gaun." Ucap Gavin membuat Nia terkejut.
"Baik." Jawab Nia singkat kemudian menuju ke kamarnya. Sedangkan Gavin dengan santai menunggu di sofa. Beberapa saat menunggu, tampak Saras datang.
"Gavin sayang jangan lupa—"
"Iya mama... Lagi nungguin Nia siap siap." Ucap Gavin.
"Oh good my son... Mama pergi arisan dulu." Ucap Saras sembari mencium pipi putranya.
"Iya mom, hati hati." Jawab Gavin. Saras menganggukan kepalanya kemudian meninggalkan putra bungsunya. Saat itu tampak Nia menghampiri Gavin.
"Kita berangkat sekarang tuan?" Tanya Nia tepat di belakang Gavin.
"Iya kita ber—" Ucap Gavin terjeda melihat Nia mengurai rambutnya. Gavin sangat kagum, meskipun sejujurnya dia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Melihat Gavin terdiam membuat Nia salah sangka.
"Emm ada ap—" Ucap Nia terpotong begitu Gavin menggandeng tangannya keluar. Dan entah mengapa hal itu membuat detak jantung Nia tak beraturan.
Ada apa dengan detak jantung ku... Kenapa berpicu sangat cepat. Batin Nia.
Mereka berdua tampak memasuki mobil sport berwarna merah dan milik Gavin tentunya. Gavin memandang Nia yang tampak kesusahan memasang seat beltnya. Hal itu membuat Gavin mendekat hendak membantu. Namun, Nia menapis tangan Gavin.
"Saya bisa sendiri." Ucap Nia. Hal itu membuat Gavin menghela napas kesal.
"Udah diem sini gua bantu." Ucap Gavin memaksa.
"Tuan janga—" Ucap Nia terpotong lantaran Gavin lebih dulu mendekat kearahnya dan memasangkan seat beltnya.
“Klekk!!”
Terpasang sempurna! Namun, Nia mengerutkan keningnya saat Gavin tidak kunjung menjauh darinya.
"Tuan." Lirih Nia. Sedangkan Gavin tampak menikmati harum mawar dari tubuh Nia.
__ADS_1
Wangi banget sih... Bikin gua candu. Batin Gavin.
"Tuan! (Dengan nada agak tinggi.) Bisa kita berangkat sekarang??" Ucap Nia membuat Gavin menjauh. Dia pun menyalakan mesin mobilnya dan langsung menjalankannya menjauhi area rumahnya.