
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
•Flashback On
Saat Ashel sibuk bermain psnya terdengar suara mobil memasuki halaman Vila. Ashel yang tak berani keluar pun melihatnya dari jendela balkon. Dan sesuai dugaan Alzero baru kembali setelah mengantar Lala. Ashel tersenyum nanar saat melihat Zaina yang memperlakukan Alzero dengan sangat baik dan perhatian. Ashel sangat ingin merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu yang sebenarnya. Karena sejak dulu, hanya Alzero lah yang menyayangi dan perhatian padanya.
Kapan aku dipeluk dan disayangi oleh nyonya?? Aku sangat berharap hal itu. Batin Ashel sembari menunduk sedih.
Ashel pun duduk di karpet bulu tempat dia biasa bermain ps. Saat akan mengambil stick psnya, terdengar suara Alzero dari luar kamarnya. Ashel pun bangkit dan mendekati pintu.
"Bunda bawain kamu oleh oleh sayang... Lihatlah kamu pasti suka." Ucap Zaina dari luar sana.
"Nanti bund, aku mau cek Ashel—"
"Halah dia palingan tidur... Buat apa sih kamu peduliin anak pemalas kayak dia." Ucap Zaina.
"Bunda! Jika bunda datang hanya menyakiti Ashel lebih baik bunda pulang." Jawab Alzero hendak mengetuk pintu Ashel.
"Al! Berani kamu sama bunda, mau jadi anak durhaka??" Kesal Zaina membuat Alzero terdiam. Dia pun menghela napas panjang.
Semoga kamu sedang tidur Ashel, tutup telingamu dan jangan dengarkan yang bunda katakan. Batin Alzero.
"Baiklah." Jawab Alzero malas. Jika berhadapan dengan orang tuanya, Alzero sangat tidak berani membantah. Terlebih julukan anak durhaka sangat menyakiti hatinya.
__ADS_1
"Gitu baru anak bunda." Ucap Zaina merangkul Alzero pergi.
Cklekk!
Perlahan Ashel mengintipnya. Ashel menatap sendu berharap kapan dia mendapatkan kasih sayang seperti itu. Ashel kembali menutup pintunya dan bermain ps guna menghilangkan kesedihannya. Tidak ada teman untuk bersandar membuat Ashel terbiasa menelan kesedihannya sendiri dan menampilkan wajah ceria pada yang lainnya.
Tak terasa sudah siang. Ashel pun bersiap siap untuk menjemput Celani. Dengan memakai hoodie dan celana jans terlihat Ashel sangat tampan dan cool. Saat menuruni tangga tampak dia melihat Alzero dan Zaina di meja makan.
"Rio panggil Ashel—"
"Kakak, (Mendekat ke arah Ashel.) Aku pergi dulu ya." Ucap Ashel.
"Makan siang dulu." Jawab Alzero.
"Aku makan siang diluar saja kak... Aku pergi dulu Assalamualaikum." Pamit Ashel sembari mencium punggung tangan Alzero. Dia hendak menjabat tangan Zaina tapi Zaina enggan menerima uluran tangan Ashel.
"Walaikumsalam, sekalian gak usah pulang." Ucap Zaina membuat Alzero geram.
"Bund—" Ucap Alzero terpotong lantaran Ashel meresponnya dengan tersenyum. Setelah itu tampak Ashel pergi.
Pergi juga tuh anak haram. Batin Zaina.
•Flashback Off
Iya, lebih baik aku tidak hadir diacara wisuda kakak besok... Pasti aku hanya akan membuat kekacauan. Batin Ashel fokus menyetir. Sedangkan Celani fokus dengan ponselnya membalas chat dari Renasya.
💬
~Rena: Gua kan udah bilang nggak mau ikut, Napa dijemput sih—_—
Me: Udah terlanjur, pokoknya lo harus siap siap😗
~Rena: Iya, ya bawel
Me: Eh rencana gua berhasil Ren^_^
__ADS_1
~Rena: Yang mana??
Me: Masa lupa, itu loh yang gua manfaatin si Ashel
~Rena: Lo udah jujur ke Ashel?? Terus reaksinya gimana
Me: Ya nggak lah, gua besok tinggal daftar jadi anggota inti... Dan Ashel bilang gua bakalan diterima, gak sia sia deh
~Rena: Lo nggak kasihan sama si Ashel?? Gimana kalo dia suka sama lo??
Me: Ya tinggal tolak baik baik lah... Udah sana siap siap
Celani pun mematikan ponselnya dan memasukannya kedalam tas. Dia menatap Ashel yang sedang fokus menyetir. Wajah Ashel yang damai dan hangat saat dipandang membuat siapa pun luluh. Setelah menjemput Rena mereka pun menuju ke cafe JOY.
Di Kediaman Azura
Lina memberikan ciuman di kening Alina sebelum dia pergi. Sungguh, Lina seolah melihat wajah sahabatnya dalam diri Alina. Mungkin karena Alina memang mewarisi kecantikan sang ibundanya.
"Jangan lupa gaun yang mommy kasih dipake besok." Ucap Lina.
"Iya mom, pasti." Jawab Alina.
"Harus dandan yang cantik ya, biar calon suami kamu tau seberapa cantiknya kamu." Timpal Madira.
"Oma...." Rengek Kenzo membuat lainnya tertawa kecil. Sedangkan Alina hanya menundukan pandangannya.
"Bunda, Lina Dicko... Kenzo Kami pamit dulu ya, Assalamualaikum." Pamit Roni.
"Walaikumsalam." Jawab ketiganya.
"Gimana?? Cantik kan calon istri kamu??" Goda Lina pada Kenzo.
"Gak tuh... B aja, dahlah aku mau mandi." Jawab Kenzo kemudian pergi. Saat itu tampak Lim, supir pribadi sekaligus orang kepercayaan Dicko mendekat dan membisikan sesuatu pada Dicko.
"Baguslah kalau begitu." Jawab Dicko. Hal itu pun membuat Lina mendekati suaminya.
__ADS_1
"Gimana??" Tanya Lina.
"Sesuai rencana... Kenzo dan Alina sudah terdaftar di pernikahan, besok kita tinggal membawa mereka ke KUA." Jawab Dicko sembari tersenyum.