
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘
I LOVE YOU READERS😙💕
🥀MHKOT🥀
Siang Harinya
Setelah membantu Dewi memasakan makan siang, Mita memutuskan untuk ke kamarnya melanjutkan kegiatan melukisnya sembari menunggu Raefal dan kedua orang tuanya sampai. Itu membuat Mita badmood dan mengembalikan moodnya dengan melukis. Baru menuangkan cet air ke palet, dia mendapatkan pesan dari Alina. Rupanya Alina mengirimkan foto Kenzie yang tertidur lelap.
"Tampannya... Kelak pasti akan disukai banyak orang." Ucap Mita. Dia pun mengirimkan pesan. Setelahnya, Mita pun kembali melukis.
"Sayang, mereka udah dateng." Ucap Dewi sembari menatap Mita yang fokus menggambar.
"Ibu aja dulu, aku mau selesain ini." Jawab Mita.
"Baiklah... Ibu keluar dulu ya nak... Nanti ibu panggil lagi buat makan siang." Ucap Dewi dan direspon anggukan oleh Mita. Setelah Dewi pergi, Mita pun melanjutkan kegiatannya.
Bukankah sejak dulu Raefal tidak pernah mau jika diajak ke rumah ku, alasannya pasti karena malas... Dan sekarang, selama ini sepertinya hanya aku yang menganggap tali persahabatan itu ada. Batin Mita.
Setelah menyelsaikan sebuah lukisannya, Mita pun sedikit memundurkan tubuhnya guna mengecek apakah ada kesalahan atau tidak. Dirasa sempurna, Mita menyinggung senyumannya.
"Cantik, lo hebat juga gambarnya Caca." Ucap seseorang yang tak lain Raefal. Seketika senyuman Mita memudar. Dia bahkan enggan menatap Raefal. Mita mengemasi peralatan lukisnya dan keluar meninggalkan Raefal.
Baru kali ini gua liat Caca dingin kek gini, biasanya semarah apapun dia pasti tetep nyapa... Apa semarah itu ya sama gua?? Batin Raefal.
Dia menghela napas panjang dan menyusul Mita. Tadinya dia hendak memanggilnya untuk makan siang, namun sepertinya Mita tau tujuan Raefal dan meninggalkannya.
"Caca!!" Panggil Zira sembari merentangkan kedua tangannya.
"Tante!!" Jawab Mita kemudian memeluk Zira. Beginilah mereka yang sejak lama dekat.
"Apa kabar sayang?? Duh, makin cantik aja." Ucap Zira.
"Tante bisa aja... Kabar aku baik kok." Jawab Mita. Zira tersenyum dan menghusap puncak kepala Mita.
"Hendra, kamu makin tua yah." Ucap Leon meledek. Hendra adalah ayah Mita.
"Haha, kau juga Leon." Ucap Hendra. Keduanya tertawa kecil sebelum akhirnya berpelukan.
"Sudah, sudah... Mari makan." Ajak Dewi. Mereka pun menikmati makan siang bersama. Ada rasa kejanggalan diantara Mita dan Raefal. Namun, Dewi tidak membicarakannya karena mengira itu urusan mereka.
Setelah makan siang, Dewi dan Zira berbincang di taman samping rumah sedangkan untuk Leon dan Hendra mereka diteras ditemani secangkir kopi.
"Ciky, kamu gak sama Caca tuh... Dia lagi main sama si Chu dan Cha." Ucap Hendra saat melihat Raefal akan duduk disamping Leon. Tampak Raefal menatap Mita yang sedangkan memberikan makan pada kelinci berwarna putih bersih dan satunya berwarna coklat muda.
__ADS_1
"Iya om, ini mau nyusul." Ucap Raefal agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Hen, mereka berdua cocok sekali... Gimana kalau kita nikahin mereka?? Toh temen temen Ciky udah nikah semua, malah si Kenzo udah jadi ayah dia." Ucap Leon membuat Hendra menatap anak tunggalnya.
"Soal itu, kita serahkan saja pada mereka yang mau menjalankannya." Jawab Hendra.
"Bicarakan hal ini pada Caca, aku ingin menggendong cucu." Ucap Leon.
"Kau pikir aku tidak??" Tanya Hendra dan keduanya tertawa kecil.
"Sepertinya bulumu mulai kusam Chu, apa kamu bermain di lumpur??" Ucap Mita sembari mengelus kepala kelincinya itu.
Dan Raefal mendengarnya sedangkan Mita masih tidak sadar jika Raefal ada dibelakangnya. Sampai Raefal duduk disamping Mita dan menggendong Cha. Mita tidak bisa pergi karena dia tau juga Hendra dan Leon sedang memperhatikan mereka. Suasana hening membuat Raefal merasa asing. Karena biasanya Mita akan cerewet saat didekatnya.
"Ca, gua minta maaf." Ucap Raefal memecahkan keheningan.
"Dengan kamu minta maaf, apa bisa mengembalikan harga diri ku?? (Raefal menegang.) Tidak kan?? Jadi gak usah minta maaf." Jawab Mita dingin dengan mata menahan tangis.
"Ca gua terpaksa ngelakuin itu, gua— Caca!!" Belum Raefal menyelsaikan ucapannya, Mita lebih dulu pergi. Tentu dengan cepat Raefal mengejarnya.
"Tuh kan Dew, kayaknya mereka ada masalah deh... Semoga aja rencana kita berhasil." Ucap Zira.
"Amin, semoga saja." Jawab Dewi.
"Ca!! Caca!!! Dengerin penjelasan gua!!" Ucap Raefal dan akhirnya menggapai tangan Mita. Tanpa aba aba Raefal memeluk Mita erat.
"Aku benci sama kamu!!! Kenapa sejak dulu hanya aku yang menganggap mu sedangkan kamu tidak... Kenapa?!! Kenapa?!!" Ucap Mita sembari menangis dan memukuli dada Raefal.
"Tapi sejak dulu, aku terima kamu dingin dan mengabaikan ku... Kenapa sekarang tidak??" Jawab Mita. Raefal terdiam. Jawaban Mita memang ada benarnya. Mita pun hendak pergi namun kembali diceghat oleh Raefal.
"Apa lag—Humpphh!!" Ucap Mita terjeda saat Raefal menarik tangannya dan langsung mencium bibirnya.
Mita terus memberontak namun Raefal justru menahan tengkuk Mita membuat Mita tak bisa lagi memberontak. Karena kesal, Mita menggigit bibir Raefal dan seketika Raefal melepaskannya.
"Dasar Br*ngs*k!!" Ucap Mita kemudian pergi sembari menghusap bibirnya kasar.
Br*ngs*k?? Batin Raefal tersenyum nanar. Dia pun menyeka darah yang keluar dari bibirnya.
Bammm!!!
Mita membanting pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam. Dia menangis sembari perlahan terduduk dengan punggung bersandar pada pintu.
"Kamu br*ngs*k Ciky!!! Aku benci kamu!!!" Ucap Mita sembari menangis.
Trrriiiinnnggg!!!
Ponsel milik Mita berbunyi. Mita pun menghapus air matanya dan mengambil ponselnya yang berada diatas nakas. Rupanya dia mendapatkan video call dari Alina. Mita pun membereskan dirinya dan mengangkat video callnya.
__ADS_1
📞
“Hallo Mita, kamu habis menangis??”
“Tidak, hanya kemasukan debu tadi... Oh iya, dimana baby Ken?? Aku ingin melihatnya.” Ucap Mita mengalihkan pembicaraan. Tampak Alina mengalihkan kameranya mengarah pada Kenzie yang terlelap dengan Kenzo memeluknya.
“Imutnya, dia tampan.” Puji Mita.
“Iya, mommy bilang dia mirip Ken... Semoga sifatnya tidak.”
“Haha, gen Kenzo sepertinya menurun pada putramu... Lihat cara mereka tidur.” ucap Mita.
“Yah Kenzo kelelahan tadi... Sepertinya Enzi mengerjai ayahnya.” Alina mengalihkan kembali kameranya.
“Mengerjai bagaimana??” Tanya Mita.
“Iya saat Ken membarut dia... Enzi justru pipis... Saat Kenzo mengganti kainnya dan menggendongnya, dia kembali pipis.”
“Haha, sepertinya Enzi membalaskan dendammu... Ku tutup telefonnya, kamu istirahatlah agar cepat pulih.” Ucap Mita.
“Baiklah, sampai bertemu nanti Mita.”
Tut.
Mita mematikan sambungan telefonnya. Dia pun meletakan ponselnya dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelahnya dia pun tidur siang guna menghilangkan rasa sedihnya.
Di Vila Kenzo
Alina meletakan ponselnya diatas nakas begitu mengakhiri telefonnya dengan Mita. Alina tersenyum menatap Kenzo yang terlelap bersama putranya. Saat ini Kenzie berada diatas ranjang bersama dengan kedua orang tuanya. Alina memberikan ciuman pada kening Kenzie.
"Sayang, aku gak dicium?" Ucap Kenzo masih memejamkan matanya.
"Mas, kapan kamu bangun???" Tanya Alina terkejut. Tampak Kenzo tersenyum dan membuka matanya, menatap wajah sang istri.
"Sejak kamu telefonan sama Lala, Nia dan Mita... Aku denger semuanya loh sayang, mereka ketawain aku kan gara gara Enzi??" Jawab Kenzo membuat Alina menegang.
"Umm, itu... Iya...—"
"Kau tau sayang, aku ingin sekali menerkammu sekarang!" Ancam Kenzo.
Gleg.
Alina menelan ludahnya kasar. Dia pun menarik selimut dan memeluk putranya yang terlelap. Melihat hal itu membuat Kenzo terkekeh. Dia pun bangkit dari duduknya dan menuju ke kamar mandi guna membersihkan diri.
"Setelah kenyang, kamu tidur lelap sekali sayang... Kamu tau, kamu sangat menggemaskan." Ucap Alina sembari menoel pipi Kenzie. Alina tampak menatap dalam putranya.
"Jika dilihat lebih lama, sepertinya kamu lebih mirip dengan ayahmu... Hanya bibirmu yang mirip denganku... Kelak kau pasti sangat tampan." Ucap Alina. Lama berbicara sendiri, Alina tertidur. Saat itu, Kenzo keluar dari dalam kamar mandi dan melihat hal tersebut. Dia pun mengambil ponselnya dan mengambil gambar guna menjadi kenang kenangan.
__ADS_1
"Ya Tuhan aku beruntung sekali... Istri yang cantik dan anak yang tampan." Ucap Kenzo. Dia pun meletakan ponselnya dan menggendong Kenzie memindahkannya kedalam box.
Tak lupa, Kenzo memberikan ciuman pada kening dan pipi putranya. Setelahnya dia pun beralih pada Alina dan mencium kening juga bibirnya. Jika dulu hal paling penting bagi Kenzo adalah masalah dan club. Sekarang hal yang paling penting adalah kebahagian istri dan anaknya. Dan itu membuat Kenzo semakin dewasa.