
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA๐ ๐๐
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA๐๐
I LOVE YOU READERS๐๐
...๐ฅMHKOT2๐ฅ...
Raka serasa sulit bernapas saat Daffin duduk bersama dengannya dan Mia. Bukan tanpa alasan, pria yang sering memanggilnya Zaiman itu akan mencekiknya jika salah bicara dengan Mia.
"Kenapa pas aku dateng diem??" Tanya Daffin dengan santainya.
"Memang kalau kakak datang harus berteriak." Jawab Mia dengan wajah datarnya. Yang mana membuat Daffin kesal dengan sikap adiknya. Namun, berbeda untuk Raka mendengar suara Mia saja sudah membuat detak jantungnya berpicu sangat cepat.
Ya Allah, jangan cabut nyawa gua lah... Gua belum punya baby sama my future wife... Dipending dulu ya. Batin Raka menetralkan detak jantungnya.
"Heh Zaiman! Kenapa kamu??" Tanya Daffin sembari memukul kecil bahu Raka.
"Pengen nikah... Eh... Ma... Maksudnya, gak apa apa kok... Hehe." Jawab Raka sembari menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.
"Abang! Yok pulang, besok kan school." Ucap Arka. Raka menganggukan kepalanya dan bangkit dari duduknya.
"Kak, Mia... Raka pamit dulu ya... Sampai jumpa." Pamit Raka.
"Sampai jumpa." Jawab Mia sembari menatap Raka.
"Di pelaminan." Ucap Raka sembari mengedipkan salah satu matanya yang mana membuat Mia memalingkan wajahnya.
"Berani godain adek gua??!"
"Bercanda kak... Daah!" Ucap Raka secepat kilat pergi bersama sang adik.
"Halo son, gimana kencannya??" Goda Alina pada sang anak.
"Kencan apaan?! Orang kak Daffin ngawasin Raka, sesek napas rasanya mom." Jawab Raka kesal. Tadinya dia senang saat Mia mengucapkan terima kasih dan mau menjawab pertanyaan Raka walaupun singkat. Namun, begitu Daffin datang Mia menjadi diam dan mengabaikan Raka.
"Cie yang kesel... Abang suka kan sama Mia?? Hayo ngaku!" Ucap Arka.
"Bukan gua, tapi Mia yang cinta ke gua." Elak Raka memutar balikan fakta.
"Masa sih?? Tadi siapa yang bilang... Ekhem... Sampai jumpa, di pelaminan." Ejek Arka.
"Kau dengar itu mas, sepertinya kita harus siapkan pesta pernikahan double sama Enzi nanti." Ucap Alina.
"Mommy...." Rengek Raka.
"Udah diem! Yok kita go home." Ucap Kenzie sembari merangkul leher kedua adiknya menariknya kedalam mobil.
"Abang lepasin! Sakit tau!!" Kesal keduanya dan direspon tawa oleh Kenzie.
"Rasya." Panggil Lina membuat Rasya menoleh.
"Ah, iya Oma??" Tanya Rasya.
"Kamu kenapa?? Enzi bully kamu lagiโ"
"Nggak kok Oma, Rasya cuman inget inget skripsi kok." Elak Rasya sembari tersenyum.
"Begitu?? Ayo masuk mobil, nanti bisa cek tugas kamu." Ucap Lina sembari merangkul Rasya membawanya masuk kedalam mobil.
Rasya... Lo udah ngerebut Enzi dan perhatian keluarga Azura... Tunggu pembalasan gua anak pungut. Batin Syakila dengan wajah penuh amarah. Dia kesal saat diabaikan oleh Alina dan Kenzo. Tidak seperti dulu saat Syakila masih kecil.
Sial!! Kenapa benda itu masih kerasa ditangan gua?!! Umpat Kenzie sembari memejamkan matanya berusaha menghilangkan pikiran negativenya. Dia masih mengingat dimana tangan kanannya itu mer*mas bagian sensitive Rasya dan rasanya masih terasa ditangannya.
Tapi enak juga, lumayan lah ukurannya. Batin Kenzie dengan pikiran kotornya itu.
__ADS_1
Kenapa kak Enzi tiba tiba begitu?? Batin Rasya.
๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Alveno mengepalkan tangannya erat saat tau bahwa sahabatnya sendiri yang mendorong Liasya. Dia juga kesal pada Liasya yang berbohong dengan mengatakan jika dia terpeleset hingga jatuh ke kolam. Padahal Liasya jatuh karena Dona mendorongnya.
"Kenapa Dona tega melakukannya, apa terjadi sesuatu sebelumnya nak??" Tanya Lala pada Liasya. Liasya hanya terdiam, dia takut jika itu akan memperpanjang masalah.
"Jawab saja Lili... Jangan takut." Pinta Alzero.
"Kak Dona marah karena jas kak Veno senada dengan gaun yang Lili pake." Jawab Liasya lirih.
"Hanya masalah itu?!! Seharusnya kamu membela diri Lili!!! Kenapa kamu bisa diam saja saat didorong ha?!!!" Ucap Alveno yang mana membuat Liasya menundukan pandangannya.
Sial! Dona harus ku beri peringatan. Batin Alveno.
"Veno jangan berteriak begitu... Kamu istirahat ya, sudah malam... Jika butuh sesuatu panggil pelayan hmm?" Ucap Lala dan dengan patuh Liasya menganggukan kepalanya pelan.
"Berhenti memarahinya, kamu istirahat... Besok hari pertamamu ke kantor." Ucap Lala dan dengan wajah kesal Alveno pergi dari kamarnya.
"Veno marah karena dia khawatir padamu Lili." Ucap Alzero sembari menghusap puncak kepala Liasya kemudian pergi.
Khawatir?? Tapi kenapa kakak marah marah?? Batin Liasya masih tak paham dengan sikap Alveno.
Brakkk!!
Alveno menendang sofa di kamarnya dengan sangat keras. Beruntung kamarnya kedap suara jadi tidak ada yang mendengar dentuman itu dari luar.
"Kenapa diam saja?!!! Kenapa hanya diam saat itu?!! Kau Memiliki trauma dengan air, jika aku tidak bergegas kau akan mati Lili!!! Arghhh!" Kesal Alveno kemudian merebahkan tubuh diatas ranjang berukuran king size itu.
Kenapa aku merasa sekesal dan sekhawatir seperti sekarang?! Sial! Umpat Alveno.
Keesokan Harinya
"Daddy mana mom??" Tanya Kenzie sembari menarik kursi untuknya duduk.
"Udah berangkat, katanya ada meeting mendadak jadi berangkat pagi." Jawab Alina.
Kenzie hanya menganggukan kepalanya sebagai respon.
"Dan Enzi, mommy sama daddy udah mikirin soal pernikahan kamu sama Rasya." Ucap Alina membuat Kenzie terdiam sesaat dan kembali memakan makanannya.
"Gimana kalau akhir bulan... Kan pas kamu libur akhir semester." Timpal Alina lagi.
"Jadi bentar lagi kita bakalan jadi uncle dong?? Horeeee!!!" Ucap Arka dengan wajah bahagia. Berbeda dengan Raka yang hanya memasang wajah biasa.
"Uncle p*lalu, prosesnya panjang bro." Ucap Kenzie sembari menyentil kening Arka.
"Iya kah?? Berapa jam mommy sama daddy bikin Arka??" Tanya Arka dengan polosnya. Alina hanya berdehem.
"Tidak sopan mengatakan hal itu... Sarapan yang benar." Jawab Alina membuat Arka mengecurutkan bibirnya kesal.
Seusai sarapan, Alina mengantar ketiga anaknya sampai diteras seperti biasanya.
"Mom, kapan Raka sama Arka beli motor?? Kan malu dianter jemput mulu." Ucap Raka.
"Lah kamu bukannya udah minta sama Daddy??" Tanya Alina dengan kening berkerut.
"Udah, tapi kata daddy gak ada duit." Jawab Raka.
Pasti karena mas khawatir si kembar ngebut... Makanya dia bilang gitu. Batin Alina.
"Nanti mommy yang bilang ke daddy... Sana berangkat, belajar yang rajin dan jangan nakal nakal!" Ucap Alina. Si kembar menganggukan kepalanya pelan dan mencium punggung tangan Alina. Raka mencium pipi kiri Alina sedangkan Arka pipi kanan Alina.
"Sayang mommy, kami berangkat dulu... Assalamualaikum." Pamit keduanya.
__ADS_1
"Walaikumsalam, hati hati sayang." Jawab Alina sembari melambaikan tangannya. Saat itu Kenzie tampak mengenakan sarung tangannya dan mencium pipi kanan Alina.
"Enzi berangkat mom... Assalamualaikum." Pamit Kenzie.
"Walaikumsalam, hati hati jangan ngebut!" Jawab Alina. Kenzie yang sudah menganggukan helm itu hanya menganggukan kepalanya kemudian pergi.
Rasanya baru kemarin aku menikah... Dan sebentar lagi aku akan melihat anak ku menikah... Ternyata waktu berlalu sangat cepat. Batin Alina sembari menatap Kenzie yang perlahan menjauh.
๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Pagi ini Lala membantu pelayan menyiapkan sarapan khusus untuk Alveno. Karena hari ini dia mulai ke kantor bersama sang ayah. Di saat Lala menyiapkan sarapan, Alveno tengah bersiap siap dan saat ini memilih dasi.
Ting!
"Masuk!" Ucap Alveno masih fokus memilih dasi.
"Pagi kak." Sapa Liasya. Dia takut Alveno masih marah jadi dia berniat menyapa dan membantu Alveno.
"Kenapa bangun?? Istirahat saja." Ucap Alveno sembari menatap Liasya. Gadis berusia 19 tahun itu hanya tersenyum dan mengambil dasi berwarna hitam. Tanpa basa basi, Liasya mengalungkan dasinya pada leher Alveno.
"Kakak masih marah??" Tanya Liasya dengan tangan membuatkan dasi di leher Alveno. Alveno membungkukan badannya saat Liasya berjinjit. Maklum, tinggi Liasya hanya 160 sedangkan Alveno 183.
"Maka jangan membuat ku marah." Jawab Alveno.
"Hehe... Maaf kak, Lili nggak ulangi lagi... Bungkuk sedikit lagi." Ucap Liasya.
"Kau terlalu pendek." Ucap Alveno sembari membungkukan badannya lagi.
"Memang apa salahnya pendek?? Bukannya mungil." Ucap Liasya sembari mengecurutkan bibirnya kesal.
"Sering seringlah minum susu." Ucap Alveno sembari berdiri tegak saat Liasya selesai memasangkan dasi.
"Sudah, tapi memang aku pendek... Mamaku juga pendek... Jadi tidak heran jika aku pendek." Ucap Liasya. Alveno hanya menganggukan kepalanya pelan sebagai respon.
"Ibu juga pendek tapi kenapa kakak tinggi?? Ayah juga tidak terlalu tinggi... Atau jangan jangan, kakak lahir dari jerapah?? Dia kan tinggi." Ucap Liasya dengan polosnya. Yang mana membuat Alveno tersenyum dan menyentil kening Liasya.
"Aduhโ"
"Pikiranmu terlalu jauh... Itu karena aku sering berolahraga dan minum susu." Ucap Alveno.
"Lili kan bercanda, tidak perlu menyentil kening Lili juga." Kesal Liasya sembari mengecurutkan bibirnya. Demi apapun, Liasya terlihat sangat menggemaskan.
"Berhenti kesal... Ayo turun." Ucap Alveno sembari merangkul Liasya pergi.
"Wah sayang... Kalian sudah bersiap, anak bunda memang yang paling tampan." Ucap Lala sembari mencium pipi kanan Alveno.
"Bunda..." Rengek Alveno malu karena ada Liasya disampingnya.
"Kau lihat itu Lili... Masih saja malu, ayo sarapan... Bunda sudah membuat sarapan kesukaan kamu." Ucap Lala. Mereka pun menikmati sarapan pagi dengan penuh kehangatan.
๐ฅ๐ฅ๐ฅ
(Style Liasya saat pesta๐๐๐ป.)
(Style Rasya saat pesta๐๐๐ป.)
(Style Mia saat pesta๐๐๐ป.)
Masih ada crazy upnya??? Masihlah masa nggak๐ Makanya pantengin terus yah๐๐คโค
__ADS_1