
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Bukankah ini?? Celani, adik perempuan Kenzo?? Batin Alzero.
Buru buru Alzero menuju ke kamar Ashel. Sesampainya didepan kamar, pintunya sedikit terbuka membuat Alzero pelan pelan masuk ke kamarnya. Niat Alzero untuk bertanya dia urungkan melihat adik kesayangannya tertidur pulas tanpa memakai selimut.
Alzero meletakan ponselnya diatas nakas dan menyelimuti Ashel sampai batas lehernya. Tampak Ashel membelakangi memeluk bantal gulingnya. Alzero mencium kening adiknya kemudian mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.
"Semoga mimpi indah." Lirih Alzero.
Perlahan Alzero menutup pintunya dan menuju ke kamarnya. Alzero pun ikut beristirahat dan menyambut hari esok.
Keesokan harinya
Ashel membuka matanya begitu mendapat sapaan dari sinar mentari pagi. Dia pun meregangkan otot tubuhnya dan mengumpulkan kesadarannya. Sampai dia menatap ponselnya yang berada diatas nakas.
Sudah jam 6 pagi, kakak pasti sudah pergi. Batin Ashel.
Dia pun menuju ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Beberapa saat kemudian, Ashel keluar dengan memakai switer berwarna abu abu biru dan celana pendek selutut. Dia pun keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang bawah.
"Kakak, aku pikir kau sudah pergi." Ucap Ashel sembari menuruni tangga.
"Kakak hari ini tidak kemana mana." Ucap Alzero sembari menyajikan sarapan dimeja makan.
__ADS_1
"Memang kenapa kak?? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Ashel sembari menarik kursi untuknya duduk.
"Kenzo tidak diizinkan pergi oleh ibunya, jadi kami memutuskan untuk tidak kemana mana." Jawab Alzero. Tampak Ashel mengangguk mengerti dan mulai memakan sarapannya.
Apa kau mulai menyembunyikan sesuatu dari kakakmu ini, Ashel?? Batin Alzero sembari menatap Ashel yang sibuk dengan kegiatannya.
Di kediaman Saputra
Sama halnya Ashel dan Alzero, keluarga Saputra juga tengah menikmati sarapan paginya. Tak lupa si Gavin yang selalu membuat suasana menjadi terasa hangat.
"Haha, Gavin berhenti menggoda kakakmu... Sarapan yang benar." Ucap Saras tak lain ibu Gavin.
"Iya ma, Gavin cuman bercanda kok." Ucap Gavin sembari melirik kakaknya Ravin. Tampak Ravin mengacungkan jari tengahnya.
"F*ck." Lirih Ravin dan direspon sama oleh Gavin.
"Ma, mana sup ayamnya... Katanya mama bikin." Ucap Gavin sembari melihat sekeliling isi meja makan.
"Eh iya, Nia... Bawakan sup ayamnya kesini." Ucap Saras.
Lenia Safari atau biasa dipanggil Nia. Gadis berumur 19 tahun, memiliki paras cantik dan menawan. Dia bekerja sebagai salah satu pelayan di kediaman Saputra. Saat Nia meletakan mangkuknya, tampak Gavin tak berkedip menatap Nia. Setelahnya, Nia langsung pergi ke dapur untuk menyelsaikan pekerjaannya.
"Ekhem." Dehem Bima ayah dari Gavin dan Ravin. Tampak Gavin berhenti menatap Nia.
"Ma, dia pelayan disini?? Kok Gavin baru tau." Ucap Gavin.
"Darimana mau tau, orang kamu nggak pernah pulang... Kerjanya di Club mulu." Ejek Ravin.
"Kakak kau—"
"Sudah, sudah... Dia Nia, pelayan baru disini... Dia nolongin mama pas mama hampir ketabrak." Ucap Saras.
"Jadi mama suruh dia jadi pelayan disini??" Tanya Gavin.
"Enggak, dia yang minta ke mama... Dia bilang ingin mengobati ibunya yang sakit keras, mama udah bayarin dan menuruti kemauannya. Papa juga jamin dia buat kuliah, iya nggak pa??" Ucap Saras. Tampak Bima menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Oh gitu ya ma." Ucap Gavin sembari memakan sarapannya.
Kalau Dita nggak setuju dijodohin sama Gavin, nggak apa apa ada Nia... Asal cucu on the way dan Gavin seneng nggak apa apalah. Tapi Gavin kan... Ah soal umur belakangan, lagian si Lina sama Dicko juga nikah pas SMA. Batin Saras sembari tersenyum.
Selesai sarapan, Ravin dan Bima pamit berangkat ke kantor. Saras kembali ke kamarnya sedangkan Gavin merebahkan tubuhnya di sofa sembari menonton televisi.
"Gabut banget sih, lagian tante Lina juga pake acara ngurung Kenzo segala.... Kan jadi males kalo main cuman bertiga... Nggak ada yang bikin onar.... Tapi, cewek tadi oke juga... Cantik cantik jadi pelayannya Gavin yang ganteng... Coba panggil ah... Nia!!!" Gunggam Gavin sampai akhirnya memanggil pelayan barunya itu. Tampak Nia menghampiri Gavin.
"Iya tuan?" Ucap Nia sembari menatap Gavin. Tampak Gavin meliriknya sekilas.
"Bikinin kopi sana, tapi jangan terlalu manis." Jawab Gavin.
"Baik tuan, ada lagi??" Tanya Nia.
"Ada... Apa kau masih perawan??" Ucap Gavin membuat Nia merona.
"Saya permisi." Pamit Nia kemudian pergi. Setelah Nia benar benar pergi, Gavin tampak tertawa terbahak bahak.
"Hahahaha, lucu juga... Bisa jadi hiburan gua nih kalau gabut." Ucap Gavin.
Gavin menggeleng kepala pelan kemudian kembali duduk di sofa sembari menonton televisi. Beberapa saat kemudian, tampak Nia membawakan secangkir kopi yang Gavin minta. Dia pun meletakannya di meja.
"Eestt... Tunggu, mau kemana lo?" Ucap Gavin saat Nia akan pergi.
"Ke dapur tuan, apa anda memerlukan sesuatu?" Jawab Nia.
"Bersihkan meja ini, dan sebelah situ juga masih kotor." Ucap Gavin.
"Tapi tuan mejanya—"
"Gak usah bantah, lakuin aja apa yang gua suruh." Ucap Gavin.
Sabar Nia, dia tuan mu... Layani saja. Batin Nia sembari menghela napas panjang.
"Baik tuan." Jawab Nia. Nia pun pergi untuk mengambil lap untuk mengelap meja.
__ADS_1