My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
Season 2 Episode 30


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MHKOT2🥀...


Fatimah tidak sengaja menjatuhkan gelasnya lantaran terkejut saat Kenzie datang dan menepuk punggung Rasya keras.


"Astghafirullah, jodohnya adek gua kenapa?? Kaget ya liat cogan??" Ucap Kenzie dengan penuh kepercayaan diri yang tinggi.


"Ma... Maaf kak, Fatimah nggak sengaja." Ucap Fatimah hendak membersihkan bekas pecahan gelasnya.


"Jangan, biar bibik aja yang bersihin." Ucap Rasya khawatir membuat Fatimah terkejut dan jarinya terkena pecahan gelas tersebut. Rasya pun menyuruh pelayan untuk membersihkan pecahan tersebut.


Sial! Kok gua dikacangin sih?! Kesal Kenzie dalam hati.


"Ada apa?? Apa terjadi sesuatu??" Tanya Lina tampak khawatir.


"Maaf oma, Fatimah nggak sengaja mecahin gelas." Jawab Fatimah sembari menunduk.


"Astghafirullah, kamu nggak apa apa kan nak?? Nggak ada yang luka??" Tanya Lina khawatir kemudian melihat tubuh Fatimah berharap tidak ada luka. Dan kesempatan untuk Kenzie membawa kabur Rasya.


"Oma Lin nggak marah karena—"


"Kenapa kamu mikir itu nak?? Biar Oma lihat tangan kamu." Ucap Lina sembari mengajak Fatimah duduk. Dia pun mengecek tangan Fatimah.


"Tangan kamu berdarah Fatimah—"


"Fatimah kenapa Oma?!" Teriaknya membuat Lina dan Fatimah menoleh.


"Kak Arka." Lirih Fatimah. Tadinya Arka berniat mampir ke rumah Fatimah seperti janjinya. Namun dia urungkan saat melihat kakaknya turun dari motor.


"Fatimah kenapa Oma??? Kamu kok bisa berdarah gini sih Hawa?!!" Ucap Arka kemudian memeriksa tangan Fatimah yang terluka.


"Bik, ambilin P3K." Ucap Lina pelan pada sang pelayan.


"Ini cuman luka kecil kak—"


"Luka kecil gimana?!! Kalau infeksi terus lukanya menjalar kemana mana baru luka besar ya." Ucap Arka menatap tajam Fatimah membuat gadis berjilbab itu menunduk.


Waduh, aku jadi nyamuk. Batin Lina tersenyum dan dia ikut pergi bersama sang pelayan.


"Sssh." Desis Fatimah saat Arka mulai mengobatinya.


"Perih ya?? Biar aku tiup." Ucap Arka dengan penuh kelembutan meniup luka Fatimah.


"Terima kasih kak." Ucap Fatimah saat Arka selesai mengobatinya.

__ADS_1


"Lain kali tuh jangan ceroboh, untung luka kecil kalau luka besar gimana??!" Ucap Arka sembari menyentil kecil kening Fatimah. Fatimah menatap pria yang sedari dulu tidak pernah luntur untuk mencintainya. Dilihatnya, mata Arka penuh kekhawatiran membuat Fatimah bersalah jika Arka tau mengenai kebohongannya.


"Kita ke teras rumah kamu aja, disini gak nyaman buat cerita." Ajak Arka sembari menggandeng tangan Fatimah.


Ya Allah, Fatimah tau bersentuhan dengan pria yang bukan makhrom itu dosa... Tapi, kenapa Fatimah nggak bisa nolak. Batin Fatimah menatap punggung Arka.


"Kakak kenapa bawa aku kesini??" Tanya Rasya bingung saat dia di bawa Kenzie ke ruang baca Kenzo dulu.


"Ekhem, gak apa apa... Gua cuman mau ngomong sesuatu sama lo." Ucap Kenzie.


Kok gua jadi gugup gini sih... Gak gua harus berani. Batin Kenzie kemudian menatap Rasya.


...🥀🥀🥀...


"Daah Mia... Jangan lupa besok di rumah Lisa ya." Ucap salah satu sahabat Mia saat mereka berpisah dipertigaan.


"Daah Kia." Ucap Mia kemudian pergi.


Jarak rumah Mia dengan rumah sahabatnya memang agak Jauh, namun Mia ingin jalan kaki sekalian jalan jalan karena dia memang sering berada di rumah dan keluar disaat tertentu. Sampai tanpa dia sadar, kini dia akan melewati tempat tongkrongan para laki laki seumurannya.


"Halo Cantik."


"Ish jutek amat sih."


"Sini main, kita cerita bareng."


Begitulah sekomplotan b*j*ng*n yang berani menggoda Mia. Belum tau kalo ketauan si Daffin, pasti udah ditendang ke benua Antartika. Kita tidak memperdulikannya, dia terus berjalan lurus namun didepannya sudah ada salah satu pria yang menggodanya. Saat berbalik Mia baru sadar jika dirinya sudah dikepung.


"Huuuu, takut.... Hahaha, lo liat baik baik disini gak ada satu pun rumah... Mau lo teriak sekenceng apapun gak ada yang denger." Ucapnya. Mia menegang, dia baru menyadari hal itu.


"Yuklah, kita main sebentar... Keknya lo masih seger nih." Ucapnya sembari mencengkram kuat tangan Mia.


"Jangan sentuh aku!!! Tolong!!!" Teriak Mia penuh ketakutan.


"Gak ada yang denger sayang." Ucapnya dan direspon tawa keras oleh teman temannya.


"Tapi gua denger." Ucap Raka yang memang sedang berkeliling dengan geng motornya. Raka memelototkan matanya dan menggegam tangannya erat.


"Dia cewek gua, lo bawa dia pulang... Dan lo lo pada bantuin gua patahin tangan tuh cowok." Ucap Raka pada anggotanya.


"Wih, itu ceweknya si bos... Kita harus jaga dia nih." Bisik para anggota gang Raka.


"Wih... Lo Raka dari SMA Diamond Bangsa kan... Ketua Gang Motor CS.s... Wah lama gak pemanasan nih." Ucapnya kemudian melepaskan cengkraman Mia. Salah satu teman Raka yang dia perintahkan untuk mengajak Mia pergi pun menarik tangan Mia.


"Kak Raka.... Kakak kenapa—"


"Sssstttt... Mending kamu pulang, makan habis itu mandi terus istirahat... Besok kamu ujian kan?? Yudha, antar cewek gua ya." Ucap Raka.


"Gampang." Ucap Yudha kemudian mengajak Mia pergi.

__ADS_1


"Tapi..."


Nanti kak Raka kenapa kenapa gimana?? Batin Mia sembari menatap Raka yang mengedipkan sebelah matanya. Setelah cukup jauh, Mia meminta Yudha untuk menurunkannya di pertigaan.


"Heh kok disini?? Ntar lo luka, gua kena bacok sama si Raka." Ucap Yudha.


"Itu rumah aku." Ucap Mia dingin kemudian meninggalkan Yudha.


Cewek dingin kek es batu bikin seorang Raka suka?? Yang bener aja. Batin Yudha kemudian meninggalkan tempat tersebut.


"Assalamualaikum." Ucap Mia saat memasuki Vila.


"Walaikumsalam non." Ucap pelayan yang sadar dengan kedatangan Mia.


"Mama sama papa kemana bik?" Tanya Mia.


"Oh nyonya sama tuan lagi keluar, bibik nggak tau pergi kemana." Jawabnya.


"Gitu ya bi, Mia ke kamar dulu ya." Ucap Mia kemudian masuk kedalam kamarnya.


Dia pun membersihkan dirinya dan menatap kesal pada pergelangan tangannya yang memerah.


Nanti kalau kakak liat, bakalan marah. Batin Mia. Mia pun duduk dibibir ranjang dan pikirannya tertuju pada Raka.


"Semoga aja kak Raka nggak kenapa napa." Lirih Mia. Dia ingin menelefon kakaknya dan meminta nomor Raka. Namun, dia tau jika kakaknya menyadap ponselnya. Bisa bisa Daffin akan mendengar semua pembicaraannya dengan Raka.


Atau nanti kalau kakak pulang, aku pinjam HPnya saja. Batin Mia.


Dia tau Raka menyukainya, namun itu dia dengar dari sahabat maupun kakaknya. Dan dia sedikit tidak percaya. Raka tampan, pintar, walaupun sering membolos. Raka juga memiliki banyak penggemar baik adik kelas sampai kakak kelas yang mengagguminya. Lantas, wanita kutu buku seperti Mia pantas untuk disukai Raka?? Begitulah pikir Mia saat ini.


Di Vila


Daffin menahan tawanya kala melihat Nala yang tampak cemas. Dia terlihat sangat menggemaskan dan Daffin ingin sekali menggigitnya. Daffin menakut nakuti Nala jika sudah berciuman maka Nala sudah hamil. Dan Nala yang polos itu mudah ditipu oleh Daffin.


"Tu.. Tuan, bagaimana kalau kita ke rumah sakit?? Kalau besok perut ku membesar bagaimana?? Tuan, kenapa diam saja??" Tanya Nala dengan wajah paniknya.


"Nggak bakalan membesar kok... Tenang aja oke??" Jawab Daffin pura pura cool padahal dalam hatinya dia tertawa keras.


"Begitu ya." Lirih Nala.


"Udah, jangan dipikirin... Yok kita jalan jalan." Ucap Daffin sembari menggandeng tangan Nala.


"Kemana tuan??" Tanya Nala.


"Terserah lo." Jawab Daffin.


"Ke taman kota." Ucap Nala antusias.


"Deket sama rumah sakit... Tapi okelah, yok ke taman kota." Ucap Daffin membuat Nala tersenyum girang.

__ADS_1


Gua seneng liat lo tersenyum, Nala. Batin Daffin.


__ADS_2