My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
Season 2 Episode 27


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MHKOT2🥀...


"Kak Ven—"


"Istirahat saja, maaf mengganggumu tidur." Ucap Alveno sembari menceghat Liasya yang hendak bangun.


"Tidak kak, bagaimana hari pertama kakak di kantor?? Menyenangkan??" Tanya Liasya antusias.


"Biasa biasa saja." Jawab Alveno membuat Liasya cemberut.


"Sekali kali coba kakak tersenyum... Mungkin kakak terlihat sangat tampan dan tidak seperti vampire." Ucap Liasya. Yang mana membuat kening Alveno berkerut.


"Vampire?? Apa hubungannya dengan itu??" Tanya Alveno.


"Emm... Apa ya?? Lili lupa hehe." Jawab Liasya sembari cengengesan. Yang mana membuat Alveno menggelengkan kepalanya pelan dan mengacak acak rambut Liasya.


"Oh iya kak, Lili udah buatin kakak ice cream rasa coklat... Ada di kulkas kakak." Ucap Liasya.


"Kau membuatnya??? Disaat sakit begini??" Tanya Alveno.


"Kemarin aku membuatnya... Kakak mau kan??" Jawab Liasya kemudian kembali bertanya.


"Akan aku makan, kamu istirahatlah... Jangan sampai kelelahan." Ucap Alveno. Liasya mengangguk patuh dan menatap Alveno yang perlahan pergi.


Sesampainya di kamar, Alveno langsung membuka lemari es yang ada di kamarnya. Dan benar saja, semangkuk ice cream rasa coklat ada disana. Alveno pun mengambil semangkuk ice cream tersebut. Perlahan bibirnya menyinggung senyuman.


Apakah boleh aku menganggapmu lebih dari seorang adik?? Lili. Batin Alveno.


🥀🥀🥀


Di kediaman Saputra


Suasana menjadi panas kala Daffin membantah Gavin yang memaksanya untuk meneruskan perusahaan. Bukan Daffin menolak untuk meneruskan perusahaan sang ayah, melainkan syarat yang Gavin berikan membuat Daffin membantah.


"Terserah! Daffin capek pa kalau papa terus terusan ngatur Daffin." Ucap Daffin mengakhiri perdebatannya kemudian mengambil kunci mobilnya.


"Daffin!! Daffin—"


"Mas udah, biarin... Daffin pasti mau nenangin diri." Ceghat Nia. Tampak Gavin menghela napas panjang dan mencium kening istrinya.


"Maaf, aku emosi tadi." Ucap Gavin.

__ADS_1


Kapan papa nggak neken kakak... Kakak pasti pengen bebas kayak temen temennya. Batin Mia yang selalu diam diam melihat dan mendengarkan perdebatan Gavin dan Daffin.


Sial banget sih gua! Masa tiba tiba gua diteken buat nikah?!! Si Enzi juga, kenapa harus setuju sih... Jadi gini kan! Umpat Daffin.


Dia memakirkan mobilnya diparkiran. Kini dia masuk kedalam vila pribadinya. Entah apa yang membawanya kemari, yang pasti Daffin ingin menghilangkan beban dan tekanan dari Gavin. Daffin mengecek ponselnya. Dan sesuai dugaan, Nia menelefonnya berkali kali.


Ting!!


Pintu salah satu kamarnya terbuka saat Daffin memasukan kata sandinya. Dia kembali menutup pintunya dan melepaskan jaketnya. Dan dilihatnya Nala datang menghampiri Daffin.


"Tuan— Humphhh!!"


Ucapan Nala terceghat saat Daffin tiba tiba mencium bibirnya dengan sangat rakus. Dan seperti biasa Nala hanya menuruti kemauan Daffin karena dia tidak ingin kembali ke tempat dimana dia bekerja.


Brukhhhh!


Daffin mendudukan Nala ke sofa dan kembali menciumi bibirnya.


"Buka baju lo!" Titah Daffin.


"Tapi tuan—"


"Buka!!!" Bentak Daffin yang mana membuat Nala menundukan pandangannya. Perlahan dia membuka kancing bajunya. Tentu dengan sigap, Daffin langsung menciumi leher Nala dengan sangat ganas. Tidak hanya itu, tangannya juga bergelirya menyentuh salah satu bagian sensitive Nala.


"Kumohon jangan tuan... Jangan lakukan itu." Ucap Nala memohon. Namun Daffin seolah tidak peduli, dia bahkan memberikan jejak kissmark dileher dan perut Nala.


"Benerin pakaian lo... Gua mo mandi!" Ucap Daffin kemudian meninggalkan Nala yang tengah membenarkan kembali bajunya. Nala menghapus air matanya dan menatap Daffin.


Sepertinya tuan sedang marah, apa ada masalah di keluarganya?? Aku buatkan masakan kesukaan tuan saja... Mungkin dia lapar mengingat sudah jam makan siang. Batin Nala.


Bughh!!


Daffin memukul tembok kamar mandi dengan tubuh diguyur air shower.


"Kok gua bisa kasar sih sama Nala??! Kan gua udah janji gak bakalan nyentuh dia." Ucap Daffin kemudian menghusap wajahnya kasar.


Yup, Daffin berbohong pada Kenzie dan Revan. Dia bahkan tidak tau jika Nala masih perawan atau tidak. Mengingat dia hanya mencium bibir Nala. Tidak lebih. Namun kali ini Daffin lebih dari mencium bibir Nala, itu karena dia terbawa emosi dan melampiaskannya pada Nala.


Seusai mandi, Daffin memakai kaos oblong dan celana selutut. Saat hendak menuruni tangga, dia melihat Nala tengah menata makan siang membuatnya bertumpu pada penyangga agar tidak jatuh.



(Visual bagian dalam Vila.👆🏻)


Padahal tadi gua hampir ngotori dia, tapi dia tetep perhatian ke gua?? Gua gak bisa lepasin lo begitu aja Nala. Batin Daffin kemudian menuruni tangga menghampiri Nala yang baru siap menyajikan makan siang. Dan Daffin terkejut saat Nala memasakannya sop buntut dan oseng tempe. Makanan favoritenya.


"Tuan makan dulu... Sekarang sudah jam makan siang." Ucap Nala.

__ADS_1


"Lo tau kalo makanan ini favorite gua dari mana??" Tanya Daffin sembari menarik kursi untuknya duduk.


"Adik anda tuan... Saat di pesta aku bertanya padanya." Jawab Nala. Daffin menganggukan kepalanya mengerti dan hendak memakan makanannya. Namun dia urungkan saat melihat Nala tetap berdiri.


"Kenapa tidak makan tuan?? Apa anda—"


"Lo yang kenapa berdiri aja... Duduk, lo pasti belum makan siang juga kan??" Ucap Daffin memotong.


"Tapi tuan—"


"Jangan bantah!" Lagi lagi Daffin memotong ucapan Nala. Mendengar suara Daffin yang meninggi, membuat Nala menundukan pandangannya dan duduk.


Nurut juga, gemes deh. Batin Daffin saat melihat Nala yang tampak memakan makanannya.


"Gua udah kasih fasilitas ke anak anak panti." Ucap Daffin begitu selesai makan siang. Nala tampak terdiam dan terlihat ingin mendengar ucapan Daffin selanjutnya.


"Tenang cuman sedikit kok." Timpal Daffin sembari meminum segelas air.


"Berapa tuan?? Saya ingin tau." Ucap Nala sembari menatap Daffin. Daffin meletakan gelasnya dimeja dan membalas tatapan Nala.


"Beneran?? (Nala menganggukan kepalanya.) Cuman dikit kok... 10 Milyar." Jawab Daffin tentu membuat Nala membelakan matanya tak percaya.


10 Milyar. Bahkan Nala tidak bisa membayar itu semua jika menjual seluruh organ tubuhnya. Dan mungkin dia akan bekerja selama 40 tahun baru bisa membayar Daffin.


"10 Milyar tuan?? Tapi... Untuk apa??" Tanya Nala sedikit syok. 300 juta saja Nala belum membayarnya apalagi ditambah 10 Milyar. Kapan dia bisa bebas dari Daffin jika seperti ini.


"Renovasi panti asuhan, biaya sekolah, sama kebutuhan sehari hari." Jawab Daffin santai.


Daffin melirik Nala yang tampak mencemaskan sesuatu.


"Lo gak usah mikirin gimana lo bayar itu semua... Cukup lo nikah sama gua dan kasih gua anak... Bukan cuman 10 Milyar, tapi gua bakalan kasih jatah perbulan buat panti asuhan itu... Gimana?? Lo mau kan??" Tanya Daffin membuat Nala bimbang.


"Memang Nala bisa hamil tuan?? Nala baru 19 tahun." Tanya Nala dengan polosnya. Maklum, dia hanya lulusan SMP dan itu pun dia berhenti saat kenaikan kelas 3.


Nj*r polos banget sih... Pengen bikin dia ngedes*h nyebut nama gua. Batin Daffin.


"Bisa kok... Lo tenang aja, soal itu gua bisa atur... Gimana?? Lo mau kan??" Jawab Daffin kemudian kembali bertanya.


"Nala mau tuan." Ucap Nala membuat Daffin tersenyum miring.


"Kalo gitu... Besok tunggu gua, dan pelayan gua bakalan dateng buat dandanin lo... Jadi lo siap siap aja, oke?" Ucap Daffin.


"Be... Besok tuan??" Tanya Nala. Tampak Daffin mendekat ke arahnya.


"Iya, maka bersiaplah untuk besok malam." Jawab Daffin sembari menggigit kecil telinganya.


"Ba... Baik tuan." Ucap Nala sembari menundukan pandangannya. Daffin yang tidak tahan dengan keimutan Nala pun mencium pipi gadis tersebut. Nala benar benar mood boster Daffin.

__ADS_1


"Gua pergi, jangan kemana mana... Ntar malem gua kesini lagi." Ucap Daffin kemudian pergi.


__ADS_2