
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
👩💻I Love You Readers❤❤❤❤❤
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
"Jadi itu yang terjadi, apa bunda mengatakan sesuatu pada Ashel??"
"Sepertinya begitu, bunda tidak mau kesini??" Tanya Alzero menatap pria paruh baya yang tak lain ayahnya.
"Tidak... Bagaimana penyelidikanmu??" Jawabnya dan kembali bertanya.
"Rio, berikan hasilnya." Titah Alzero. Tampak Rio memberikan sebuah map.
"Bunda sudah membacanya, tapi dia masih meragukannya... Ashel adalah Aaron yang ayah dan bunda kira meninggal." Ucap Alzero.
"Al... Jelaskan pada ayah." Ucapnya.
"Irvan Mahesa yang akan menjelaskannya padamu ayah... Dia akan menjelaskannya padamu dan bunda." Ucap Alzero.
"Akan ayah tunggu... Ngomong ngomong apa dia Lala?? Calon menantu ayah yang membuatmu tergila gila??" Tanyanya sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Ayah..." Rengek Alzero.
"Lala kenalkan ini ayahku." Ucap Alzero memperkenalkan.
"Ayo panggil aku ayah... Cepat atau lambat kau akan jadi menantuku." Ucapnya dengan wajah berbinar.
"Ro, apa ayahmu menikah saat umur 15 tahun??" Tanya Lala berbisik.
"Apa maksudmu??" Ucap Alzero dengan mengerutkan keningnya.
"Dia seperti baru dua puluhan... Apa dia kakakmu??" Tanya Lala membuat Alzero kesal.
"Kenapa kalian berbisik, panggil aku ayah Lala." Ucapnya dengan wajah berharap.
"Ayah, jangan membuatnya terkejut." Ketus Alzero.
"Baiklah, baiklah... Ayah sarankan kalian cepat cepat menikah... Diumur ayah yang ke 44 tahun ini ayah sangat menginginkan cucu." Ucapnya sembari menyandarkan punggungnya disofa.
"44 tahun?? Anda terlihat seperti baru 25 tahun." Ucap Lala membuat pria paruh baya tertawa kecil.
"Hahaha, kenapa semua orang mengiraku begitu... Bahkan calon menantuku." Ucapnya membuat Lala tersenyum kikuk.
"Al, ayah pulang dulu... Ayah titip Ashel... Tidak, maksudku Aaron... Kabari ayah jika ada apa apa." Ucapnya.
"Aku mengerti ayah, ayah hati hati dijalan." Jawab Alzero. Setelah berpamitan, dia pun pergi didampingi oleh Rio.
"Ayahmu sangat tampan, bahkan aku kira dia kakakmu Ro." Ucap Lala.
Brukh!!!
Alzero mengukung tubuh Lala. Tampak Lala menatapnya bingung.
"Bahkan lebih dariku??" Tanya Alzero dengan nada tak suka.
"It... Itu—Hummpph!!" Ucap Lala terpotong lantaran Alzero menc*um bibirnya dalam. Tentu membuat Lala terkejut dengan serangan Alzero yang tiba tiba. Lala hendak mendorong dada Alzero, namun Alzero menceghatnya membuat Lala pasrah dan hanyut dalam c*umannya.
"Ro... Jangan lakukan itu." Ucap Lala begitu Alzero melepaskan ciumannya.
"Katakan, siapa yang tampan?? Aku atau ayahku??" Tanya Alzero.
__ADS_1
"Ro apa kamu cemburu??—"
"Sangat cemburu." Jawab Alzero memotong.
Kenapa dia harus cemburu pada ayahnya sendiri?? Batin Lala.
"Jawab Lala, siapa yang tampan?? Aku—"
Cup.
"Kamu yang paling tampan Ro." Ucap Lala dengan wajah merona.
"Benarkah??" Tanya Alzero dan direspon anggukan oleh Lala. Alzero pun mendekatkan wajahnya hingga kedua hidung mereka bersentuhan. Dan bibir mereka hanya berjarak selembar kertas.
"Kak Al, (Alzero langsung menjauh.) Aku membelikan.... Apa udara disini panas?? Wajah kalian memerah." Ucap Calvin yang baru membelikan Alzero dan Lala sarapan.
"Emm... Tidak, terima kasih." Ucap Lala mengalihkan pembicaraan.
"Sama sama, aku pulang dulu... Aku akan menjelaskan pada guru BK mengenai musibah yang ditimpa Ashel." Ucap Calvin sembari menatap Ashel yang masih terbaring.
"Terima kasih atas kepedulianmu, tapi Rio sudah membuatkan surat keterangan untuk Ashel diliburkan sampai benar benar pulih." Ucap Alzero.
"Baiklah kalau begitu, aku pamit kak." Ucap Calvin sembari hendak pergi.
"Tunggu, Cal jangan beritau soal ini—"
"Aku mengerti kak, tapi aku akan memberitau pada Rena... Kakak tenang saja dia tidak akan membocorkan pada siapapun." Ucap Calvin.
"Terserah padamu." Jawab Alzero. Calvin tersenyum kemudian pergi.
"Lala makanlah, jangan sampai kamu kelaparan dan sakit." Ucap Alzero.
"Kau juga—"
"Suapi aku." Ucap Alzero manja.
"Kenapa kamu tiba tiba manja begini." Ucap Lala.
"Hahaha... Kau sangat menggemaskan." Ucap Lala sembari tertawa kecil. Hal itu membuat Alzero tersenyum.
Adzan subuh berkumandang. Tampak Alina menggeliat hendak bangun. Namun, tangan Kenzo masih melingkar erat dipinggangnya. Hal itu membuat Alina enggan bangun. Terlebih dia sangat nyaman berada dipelukan suaminya. Wangi maskulin yang sangat Alina sukai sejak dia menikah. Saat tangah menikmati wangi tubuh suaminya, tiba tiba dia dikejutkan oleh tangan suaminya yang merabanya.
"Argh!! Ken!!" Pekik Alina membuat Kenzo membuka matanya dan tersenyum.
"Iya cupu?? Baru sadar lo??" Ucap Kenzo membuat Alina bangkit dari posisinya dan menyilangkan kedua didepan dada.
"Aku mau sholat, kamu tidurlah— Argh!!" Belum Alina menyelsaikan ucapannya, Kenzo mengukung tubuh Alina dan langsung menc*um bibir istrinya.
"Hummpph!!"
Alina berusaha mendorong tubuh Kenzo. Namun sayang, tenaganya kalah telak dengan suaminya itu. Kini Kenzo beralih menc*umi leher jenjang istrinya yang bahkan bekas semalam masih belum hilang.
"Ke... Ken!! Ja... Jangan disini." Ucap Alina berharap Kenzo melepaskannya.
"Hmmm?? (Menatap Alina.) Dirumah, tapi 4 ronde?? Gimana??" Tanya Kenzo dengan mata berbinar.
Ronde?? Apa maksudnya?? Batin Alina polos.
"Iy... Iya, tapi nanti sepulang kampus." Jawab Alina membuat Kenzo terdiam. Hari ini mereka ada jadwal siang, mungkin akan pulang sekitar pukul 3 atau 4 sore.
"It's okey, sepulang kampus 4 ronde... Udah jam 5 lo cuci muka terus pulang sama Gavin dan Mita... Gua sama Raefal mau jaga biar Al bisa istirahat." Ucap Kenzo.
"Aku mengerti." Jawab Alina kemudian langsung kabur ke kamar mandi. Hal itu membuat Kenzo terkekeh.
Setelah mencuci mukanya, Alina pun pulang sedangkan Kenzo ke rumah sakit. Alina dan Mita diantar oleh Gavin, meskipun tadi perlu membujuk Mita dengan sepenuh hati.
"Fal, lo sama Mita aja noh... Daripada jomblo karatan." Ucap Kenzo.
"Gak, dia cuman gua anggep sahabat doang gak lebih." Jawab Raefal tegas.
"Widih, bisa tegas lo ya bungsu... Kayaknya lo udah dewasa nih." Ucap Kenzo mengejek.
__ADS_1
"Ken... (Kenzo menatap Raefal.) Semisal Aurel dateng hari ini... Lo tetep ngelakuin sesuai rencana lo??" Tanya Raefal.
"Iya... Gua yakinin Aurel buat nunggu gua... Begitu si cupu hamil, anaknya lahir dan perusahaan daddy gua ambil alih.... Gua ceraiin dia, tiap bulan bakalan gua kasih nafkah kok...—"
"Ken! Lo nggak mikirin gimana perasaannya Alina?? Lo—"
"Gua heran kenapa lo tiba tiba nanya gitu Fal, lo tau gua kan?? Gua selalu ngelakuin sesuai rencana yang gua susun jadi lo jangan ikut campur." Ucap Kenzo kemudian berjalan pergi.
Kasihan Alina, tapi yang Ken omongin bener... Gak seharusnya gua ikut campur. Sial! Umpat Raefal dalam hati.
Because I believe in something more....
Ponsel milik Raefal berbunyi. Raefal yang kesal langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelfonnya.
📞
“Hallo??” Ucap Raefal tampak kesal.
“Fal jangan kesel kesel... Bentar lagi juga kita ketemu.”
“Lo... Apa maksud—”
“Gua udah bilang sebelum gua pindah ke Bandung... Waktu lo cuman sampe gua datang ke kota A... Kalo lo masih gak nerima gua, jangan salahin gua buat hancurin rumah tangga Kenzo dan istrinya.”
“Rel, jangan pernah lo balik kesini... Gua udah bilang berkali kali kalau gua gak suka sama lo, kenapa lo maksa?!!” Ucap Raefal menahan emosi.
"*Terus pas lo nolongin gua saat kemah, bantuin perusahaan ayah gua, dan c*uman lo ke gua pas di Indor*—"
“Cukup Rel, itu dulu pas SMP... Gak usah ngungkit ngungkit lagi!” Kesal Raefal dan mematikan telefonnya.
Tut.
Gak, kalau sampe Aurel dateng... Gua harus ceghat dia, ini sama aja Aurel manfaatin Kenzo supaya gua nerima dia... Gak gua harus ngelakuin sesuatu. Batin Raefal. Dia pun memasukan ponselnya kedalam saku celananya kemudian pergi menyusul Kenzo.
Di Kediaman Saputra
Gavin membaringkan tubuhnya diatas sofa. Sungguh dia tidak pernah bangun sepagi ini apalagi langsung menyetir. Gavin bahkan belum mandi yang mana membuatnya merasa tidak nyaman.
Males banget gua mandi, tapi badan lengket... Ntaran ajalah masih tetep ganteng kok gua. Batin Gavin.
"Nia!!! Nia!!!" Panggil Gavin. Tampak Nia menghampiri Gavin.
"Gua minta susu lo— maksud gua bikinin gua susu sana." Titah Gavin.
"Baik tuan." Jawab Nia kemudian hendak pergi.
"Ehh satu lagi... (Nia berhenti.) Mama sama papa gua mana??" Tanya Gavin.
"Mereka berdua pergi ke Kediaman Kalisra." Jawab Nia. Melihat Gavin terdiam membuat Nia langsung pergi ke dapur.
"Nia lo... Lah udah pergi... Kayaknya perlu gua kasih pelajaran nih." Ucap Gavin sembari tersenyum miring.
Sepertinya dia lelah karena pesta, atau ada yang terjadi... Aku akan menanyakannya pada Alina atau Lala. Batin Nia sembari mengaduk susu coklat kesukaan Gavin.
"Tuan!" Pekik Nia saat Gavin tiba tiba memeluknya dari belakang.
"Hmm??" Ucap Gavin.
"Lepaskan!! Bagaimana jika ada yang melihat!!" Omel Nia sembari berusaha melepaskan pelukan Gavin.
"Tenang, Bik Gita sama pak Gaga bakalan jaga rahasia kok... Mereka tau hubungan kita." Ucap Gavin.
"Tidak, lepaskan!!" Tolak Nia.
"Kami pulang."
Alhamdulilah lumayan vit setelah seharian istirahat, insyallah besok crazy up jadi pantengin terus yah😉 I Love You Readers😘😍❤❤❤❤
Mita Permata Dewi
__ADS_1