
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA๐ ๐๐
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA๐๐
I LOVE YOU READERS๐๐
๐ฅMHKOT๐ฅ
4 Bulan Kemudian.
Didepan ruang persalinan. Kenzo mondar mandir dengan perasaan tak karuan. Terlebih dia mendengar sang istri yang berteriak kesakitan. Bukan hanya Kenzo, Lala dan keluarganya juga tampak cemas.
Hingga saat terdengar suara tangis bayi membuat Kenzo bernapas lega dan berkali kali mengucapkan rasa syukur. Begitu juga lainnya yang tampak senang dengan suara tangisan tersebut. Tampak sang dokter keluar membuat Kenzo langsung mendekat.
"Bagaimana dok??? Keadaan istri dan anakku??" Tanya Kenzo tak sabar.
"Alhamdulilah keduanya sehat, dan selamat anak anda laki laki." Jawab sang dokter membuat Kenzo membeku.
"Laki laki??" Lirih Kenzo kecewa. Sungguh dia sangat mengharapkan seorang anak perempuan.
"Bayi sudah dibersihkan, silahkan masuk untuk melihat pasien." Ucap dokter lagi. Buru buru Kenzo masuk dan menghampiri sang istri.
Kenzo tersenyum saat melihat Alina tengah menimang putra pertama mereka. Kenzo pun mendekat dan memberikan ciuman di kening Alina.
"Terima kasih sayang." Ucap Kenzo dengan meneteskan air matanya. Dia sangat takut jika Alina kenapa kenapa.
"Sama sama, itu sudah menjadi tugasku." Jawab Alina.
"Huwaaa mas cucu kita, sayang boleh mommy menggendongnya??" Tanya Lina. Alina menganggukan kepalanya pertanda jika dia setuju. Dengan semangat Lina menggendong cucu pertamanya.
"Mas lihat, ganteng banget kan?? Mirip kayak Ken waktu bayi." Ucap Lina.
"Dia kan anakku ma, ya pasti harus mirip lah." Jawab Kenzo bangga.
"Hemm kamu bener juga... Ken, adzankan cucu ganteng mommy... Biar gak bandel kayak kamu." Ucap Lina.
"Sayang, dulu Ken aku adzanin... Tapi tetep aja gitu emang udah dari sononya." Ucap Dicko merasa tersinggung dengan ucapan istrinya.
"Halah emang Ken nurunin sifat kamu kan mas!" Ucap Lina membuat Dicko terdiam. Kenzo pun mengadzankan putranya dengan sangat lembut.
Dari luar, tampak Lala tersenyum melihatnya. Sadar ditatap Lala, Alina menoleh. Lala mengacungkan jempolnya membuat Alina tersenyum.
"Sayang, kau iri bukan?? Bagaimana kalau kita lebih sering lagi melakukannya??" Goda Alzero pada istrinya.
"Mas! Ini dirumah sakit." Ucap Lala dengan rona diwajahnya saat Alzero mencium pipinya.
"Berarti kalau dirumah boleh dong??" Goda Alzero membuat Lala melotot. Alzero hanya terkekeh melihat sifat malu malu istrinya.
"Baby, aku iri pada Ken... Gimana kalau sehari 5 kali??" Ucap Gavin dan mendapatkan pukulan kecil dari Nia.
"Jaga omongan kamu, ini di rumah sakit." Peringat Nia membuat Gavin gemas dan mencubit hidung Nia.
Dan untuk Raefal, dia terdiam melihat ketiga sahabatnya bahagia dengan istrinya masing masing. Itu membuat Raefal mengingat permintaan Zira agar cepat cepat menikah dengan anak dari rekan bisnis Leon.
Caca. Batin Raefal sembari menatap Kenzo yang menciumi pipi putra kecilnya.
"Oh iya kakak ipar, udah siapin nama belom buat keponakan aku??" Tanya Celani. Tampak Kenzo menatap Alina.
"Terserah sama kamu mas." Ucap Alina sembari menatap Kenzo.
"Kok kakak sih, ntar di kasih nama aneh lagi." Ucap Celani sembari menatap tajam kakaknya.
"Heh terserah kakak lah, anak aku... Aku yang bikin kok kamu sewot??" Ucap Kenzo meledek. Celani mengecurutkan bibirnya kesal sedangkan Lina Dicko dan Roni tertawa kecil melihatnya.
"Aku pikir dia perempuan ternyata laki laki.... Tapi tenang malaikat kecil, daddy udah siapin nama buat kamu... Kenzie Azura Zaryana... Gimana menurut kamu sayang??" Tanya Kenzo.
"Kenzie, nama yang bagus." Ucap Roni.
__ADS_1
"Bagus mas, aku setuju aja." Jawab Alina. Kenzo tersenyum menatap putra kecilnya dan berbisik padanya.
"Welcome, Kenzie." Bisik Kenzo. Dan bayi mungil itu meresponnya dengan senyuman seolah setuju nama itu diberikan untuknya.
(Baby Kenzie.)
Setelah itu, keluarga Azura pun kembali ke kediamannya dengan membawa pewaris cilik Azura group nantinya. Alasan kenapa Kenzo meminta agar Alina beristirahat di Vila, dia ingin Madira melihat cicit yang dinantinya itu. Mengingat usia Madira yang sudah tua, membuatnya tidak bisa ikut di rumah sakit menemani Alina.
Dan benar saja, Madira meneteskan air mata kebahagiannya melihat cicitnya lahir dengan selamat dan sehat. Kini semua orang tengah berkumpul di kamar Kenzo. Termasuk ketiga sahabat Kenzo yang ikut bercengkrama dengan Dicko dan Roni.
"Mas, kok kamu liatin Kenzie gitu??" Tanya Alina saat sadar sang suami menatap putranya lama.
(Anggap aja seperti ini yah Kenzo menatap baby Kenzie๐)
"Sayang, kok matanya gak mau kebuka ya?? Kapan dia panggil aku daddy?? Kenapa dia begitu mungil?? Gimana dia makan kalo gak ada gigi?? Terus kenapa dia ganteng banget?? Kan aku ntar tersaingi." Begitulah pertanyaan yang Kenzo lontarkan pada istrinya. Alina tersenyum menatap Kenzo yang tidak berpaling menatap putranya.
"Ntar juga ada waktunya mas... Kita tunggu aja." Ucap Alina. Belum Kenzo menjawab, Kenzie nangis tiba tiba membuat Kenzo khawatir.
"Sayang aku gak apa apain, sumpah! Kok dia nangis??" Ucap Kenzo sembari menujukan kedua jarinya.
"Hahaha!!! Ken, Ken... Gimana sih lo jadi bapak, bisa aja kan si Kenzie itu nangis karena laper." Ucap Gavin.
"Ya kan, dia tiba tiba nangis." Jawab Kenzo. Alina hanya menggeleng kepalanya pelan melihat tingkah suaminya.
"Namanya juga bayi Ken, Ken." Ucap Raefal.
"Diem lo bungsu, nikah aja belom lo tau apa soal bayi." Ejek Kenzo.
"Heh Ken, gua udah gede!! Gak usah manggil bungsu napa, bikin malu aja." Ucap Raefal.
"Cie, yang ngambek nih yeee." Goda Gavin sembari merangkul leher Raefal.
"Beratan juga dosa lo." Ucap Gavin membuat Raefal membeku.
"Udah, udah... Kalian ini udah besar masih aja kayak anak SMA." Ucap Dicko.
"Kita ini kan dewasa diluar SMA didalam om iya gak bungsu??" Jawab Gavin dan membuat lainnya tertawa kecil.
"Jangan panggil gua bungsu!!" Ancam Raefal. Gavin hanya tertawa kecil melihat sikap Raefal yang tidak berubah. Saat itu Raefal mendapatkan chat dari ibunya untuk pulang sebentar.
"Ken, mama minta gua balik... Gua cabut dulu ya, Assalamualaikum." Pamit Raefal kemudian pergi.
"Walaikumsalam."
"Gua juga Ken, sekalian siapin hadiah buat si Kenzie, Assalamualaikum." Ucap Gavin kemudian pergi bersama istrinya Nia.
"Walaikumsalam."
Lalu dimana Alzero?? Jangan ditanya, saat ini dia pasti kabur dan tengah menghabiskan waktu bersama istrinya. Terlebih, Alzero sangat iri melihat Kenzo yang sudah memiliki anak.
Lina Dicko dan Roni memutuskan untuk berbincang di luar keluarga bersama dengan Madira. Mereka memberikan waktu berdua pada Kenzo dan Alina.
"Gemes banget sih." Ucap Kenzo sembari menoel pipi Kenzie yang tengah meny*sui.
"Jangan mas ih! Biarin dia tidur." Ucap Alina.
"Iya sayang iya... Pasti kalau udah gede, Enzi bakalan disukai banyak cewek kayak aku... Iya gak sayang??" Ucap Kenzo dengan wajah percaya dirinya.
"Gak, ntar playboy juga kayak kamu." Jawab Alina.
"Tapi aku setia kan sama kamu?? Kalo gak ada aku, Enzi gak bakalan jadi loh sayang." Goda Kenzo.
"Mulai nih mas." Ucap Alina membuat Kenzo terkekeh. Setelah Kenzie kenyang, dia tertidur pulas. Kenzo pun menidurkannya di box bayi yang sudah dia siapkan sebelumnya.
__ADS_1
"Sayang, perlu kita cari babysister buat Enzi??" Tanya Kenzo sembari duduk disamping Alina.
"Gak perlu mas, aku mau besarin Enzi pake tangan aku sendiri." Jawab Alina.
"Tapi kayaknya nanti perlu deh sayang... Soalnya kan kita mau bikin adek buat Enzi." Ucap Kenzo.
"Mas jangan mulai deh." Ucap Alina membuat Kenzo terkekeh dan memeluk istrinya.
"Mending kita bobok, jangan marah terus dong sayang... Entar cantiknya ilang aku bakalan cari janda." Ucap Kenzo.
"Ya udah sana cari janda!"
"Bercanda sayang."
"Mas ih! Aku baru ngelahirin loh."
"Aku kan cuman pengen meluk kamu sayang."
"Mas!"
Di Kediaman Faresta
Raefal memarkirkan motornya di garasi rumahnya. Dia pun melepaskan helm dan sarung tangannya sebelum akhirnya dia masuk kedalam rumah. Dan apa yang Raefal lihat?? Dia melihat ibunya tengah bermesraan dengan sang ayah. Membuat Raefal berdehem dan menghancurkan moment tersebut.
"Sayang, pulang juga kamu... Gimana?? Anak Ken beneran perempuan??" Tanya Zira.
"Dia laki laki ma, alhamdulilah Alina sama bayinya sehat." Jawab Raefal.
"Nanti kita jenguk yuk mas." Ucap Zira sembari menatap suaminya.
"Iya sayang iya." Jawab Leon.
"Itu baru suami aku... Oh iya sayang, kamu ikut nggak?? Besok kita ke Bandung." Ucap Zira.
"Nggak ma, mama sama papa aja yang pergi." Jawab Raefal.
"Oh ya sudah... Padahal tante Dewi katanya pengen ketemu sama kamu loh, dia kan baru sembuh dari sakitnya." Ucap Zira membuat Raefal yang hendak ke kamarnya mengurungkan niatnya.
"Tante Dewi?? Ibunya Caca??" Tanya Raefal.
"Ya iyalah... Siapa lagi coba?? Mau ikut nggak??" Jawab Zira kembali bertanya.
"Mau dong ma... Kita nginep disana??" Tanya Raefal.
"Nginep gak mas??" Tanya Zira pada suaminya.
"Katanya disuruh nginep 3 hari... Gimana??" Jawab Leon kembali bertanya pada istri dan anaknya.
"Okelah... Kamu setuju kan sayang?? Siapa tau disana kamu dapet jodoh, atau siapa tau Caca belum pacaran." Ucap Zira menggoda putranya.
"Mama udah punya papa, tapi kenapa mikirin jodoh mulu sih??! Dahlah, aku mau mandi dulu." Ucap Raefal kemudian menuju ke kamarnya.
Di kamarnya, Raefal merebahkan tubuhnya di sofa dengan posisi terlentang. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Mita, meskipun dia tau jika Mita sudah memblokir nomornya.
(Caca)๐ฌ
Caca: Caca, gua bakalan nemuin lo... Gua minta maaf yah๐
Centang satu. Setelahnya, Raefal meletakan ponselnya diatas meja dan mengambil handuknya. Dia pun membersihkan dirinya sebelum akhirnya tidur siang.
(Tambahan, Seperti ini pesta pernikahan megah Alzero yang di gelar di Inggris tepatnya di kota London. Keluarga Caesar sebenarnya adalah bangsawan dari Inggris yang mana dibawa oleh Araka yang menikah dengan Zaina di Indonesia. Kemudian melahirkan kedua putranya. Araka meminta setidaknya menggelar pernikahan Alzero di Inggris agar mendiang kakek neneknya bisa bahagia dialam sana๐๐ป.)
(Suasana dan pelaminan pernikahan Gavin dan Nia.๐๐ป)
__ADS_1