
...🥀MHKOT2🥀...
Beberapa Hari Kemudian
Liasya mengecurutkan bibirnya kesal saat sang suami tak kunjung pulang padahal sudah satu minggu. Dan iya, ternyata masalah yang dialami Alveno cukup sulit sehingga membuatnya sedikit lama di Inggris.
"Mau beli cupcake ajalah, awas aja kalo nanti malam gak pulang." Lirih Liasya. Dia pun keluar dari kamarnya kemudian menuju ke ruang tengah.
"Ibu, ayah Lili keluar sebentar ya." Pamit Liasya.
"Mau kemana sayang?? Kalo butuh sesuatu—"
"Beli cupcake bu, Lili bosen dirumah terus." Jawab Liasya.
"Kalau begitu hati hati, supir akan mengantarmu." Ucap Alzero.
"Baik ayah, Assalamualaikum." Pamit Liasya kemudian pergi.
"Walaikumsalam... Hati hati sayang." Ucap Lala. Dia menatap punggung Liasya yang perlahan menjauh.
"Mas, kok perasaan aku gak enak ya... Lili akan baik baik aja kan??" Tanya Lala tampak khawatir.
"Lili akan baik baik saja, jangan khawatir." Jawab Alzero sembari mencium bibir Lala singkat.
Sesampainya di sebuah toko kue, Liasya pun memesan beberapa cupcake. Saat hendak ke parkiran, Liasya merasa beberapa orang membuntutinya. Namun, Liasya tak ingin berpikiran negative jadi dia mengira orang itu hanya sejalur dengannya. Liasya membalikan badannya dan kedua orang itu membungkamnya.
"Humpphhh!!! Humpphhh!!!"
"Sudah pinsan, bawa kedalam mobil!" Ucap salah satunya kemudian menggendong Liasya membawanya kedalam mobil.
...🥀🥀...
Mereka membawa Liasya ke sebuah gudang besar yang ada dipertengahan hutan yang lumayan jauh dari pemungkiman. Liasya dimasukan kedalam sel, seperti sel penjara. Dan sepertinya si penculik sudah menyiapkan semua itu dari lama.
"Bagus... Sudah menangkap dua bocah ingusan itu??" Tanya wanita paruh baya.
"Mereka pasti menangkapnya nyonya, jangan khawatir." Jawabnya.
"Lalu Lala dan Alzero??" Tanya wanita itu lagi.
"Mereka pasti akan ditangkap." Jawabnya.
"Bagus... Oh astaga, Alina kau sudah sadar rupanya." Ucapnya sembari tersenyum dan mendekati sel.
"Au... Aurel?? Kau—"
"Ya! Aku Aurelia, bagaimana kabarmu dengan suamimu?? Dia tidak menjadikanmu bahan taruhannya lagi kan??"
"Aurel! Keluarkan kami dari sini!!! Atau kau akan menyesal!" Ucap Nia.
"Tenang Nia, lihatlah putrimu yang diikat disana." Ucap Aurel sembari menujuk ke arah Mia yang diikat ditembok.
"Mia!!! Aurel jika kamu membenciku, jangan sakiti anakku... Sakiti saja aku!" Ucap Nia.
"Bukan aku yang membenci anakmu, tapi calon menantuku Syakila." Ucap Aurel. Yang mana membuat Nia semakin khawatir.
"Alveno berada di Inggris... Daffin, Revan dan putramu Ken! Sudah ku tahan bahkan ku rantai mereka!! Gara gara kau dan Alzero, suamiku Julian mati! Oleh karena itu... (Menjambak rambut Alina.) Akan aku buat kamu menderita dengan melihat istrimu menderita!" Ucap Aurel kemudian menampar Alina.
"Aurel!!! Jangan sakiti istriku!!! Julian mati itu karena memang takdirnya!!" Ucap Kenzo.
"Ow! Benarkah, jadi jika istrimu mati... Memang sudah takdirnya ya??" Ucap Aurel kemudian mendorong Alina kembali kedalam sel.
__ADS_1
"Ray, kenapa kau menggunakan taktik sampah sejak dulu... Jika kau langsung menangkap mereka satu per satu semua urusan kita akan selesai!" Ucap Aurel. Hingga dua orang datang sembari membawa Alzero dan Lala.
"Oh Lala... Hai! Sejak kau keguguran ternyata semakin kurus saja." Ucap Aurel.
"Kamu!!! Kamu yang—"
"Iya aku!! DENGAR KALIAN PARA EMPAT KELUARGA BESAR!!! SEMUA PERKARA YANG MENEROR KALIAN ITU AKU YANG MELAKUKANNYA! HAHAHA!!!!" Ucap Aurel tertawa layaknya orang gila.
"Tante, biarkan aku membunuh Revan!" Ucap seorang wanita dengan pistol ditangannya. Wanita itu tak lain mantan Revan bernama Sierra.
"Sierra apa maksudmu??" Tanya Revan tak percaya.
"Maksudku, keluarga Faresta akan aku hancurkan... Jika aku mati pun, selamanya aku tidak akan menyesal!!" Jawab Sierra kemudian mengarahkan pistolnya.
"Selamat tinggal Revan!"
...DORRRR!!!!...
"REVAN!!!!!" Teriak mereka. Namun, mereka terkejut lantaran bukan Revan yang tertembak. Tetapi, Elina.
"Wanita sialan!! Arghh!!! Kenapa pelurunya hanya sekali pakai, kalian awasi mereka jangan sampai kabur." Ucap Sierra kemudian pergi.
"Eli!! Kenapa kau bodoh?!!" Ucap Revan. Elina hanya tersenyum menahan sakit.
"Eli... Juga bingung... Sejak... Sejak Eli cinta kamu... Eli... Eli jadi bodoh!" Ucap Elina dan tak sadarkan diri.
"Elina bangun!!! Eli!!! Elina!!!" Ucap Revan sembari menangis.
Veno, gua harap lo dateng... Lo harapan gua satu satunya... Dateng Veno, istri lo dan keluarga lo dalam bahaya. Batin Daffin.
Veno, please dateng... Nyawa Eli terancam. Batin Revan sembari menangisi Elina yang tak sadarkan diri.
Veno... Dateng, kita disini butuh lo... Gua pengen lepas dari nih rantai dan tampar nenek tua itu yang berani nampar mommy... Dan Kila, gua bakalan bikin perhitungan sama lo kalo Rasya kenapa napa. Batin Kenzie. Mungkin saja jika mereka tidak disiksa beberapa saat lalu, ada harapan untuk memberontak.
"Oi mau apain adek gua ha?!!! Darren!!!" Teriak Daffin. Dengan tersenyum, Darren menoleh.
"Mau cicipin adek lo." Jawab Darren. Mia yang dibungkam mulutnya serta diikat tidak bisa memberontak saat Darren hendak membuka kancing kemejanya. Dan Mia hanya memejamkan matanya dengan air mata menetes.
"Kita liat, apa Raka masih cinta ke lo setelah gua pake??" Ucap Darren tersenyum simark.
...Brummm!!!! Brummmm!!!! Brummm!!!...
"Suara motor?? Pasti Alveno datang!!! Alveno datang bersama dengan pengawalnya!!" Ucap Kenzie tampak girang.
...Brakkkk!!!!...
Sebuah motor menerobos masuk pada pintu yang terkunci.
"DARREN!!!!!!" Teriaknya membuat orang lain menoleh. Bukan Alveno dan para pengawalnya. Melainkan Raka Arka dan para anggota CS.s
"Zaiman??" Ucap Daffin.
Apa ini geng motor yang Veno ceritakan?? Batin Alzero.
"Kenapa kalian diam! Habisi saja bocah ingusan itu." Ucap Aurel. Yang benar saja 13 orang melawan 100 anggota CS.s apakah bisa??
"Oi om santai ae, udah tua mikir mau dikuburin dimana." Ucap Amal.
"Yoi Mal, ayo tawuran!!!" Ucap Arka kemudian mereka menyerbu anak buah Aurel. Saat itu, Daffin menatap Kenzie yang tak percaya dengan sisi lain adiknya.
"Enzi... Perlu lo tau, kalo si kembar... Dan geng motornya itu yang paling ditakuti disekitaran sini... Dan ketua geng yang gua ceritain itu, gak lain Zaiman." Ucap Daffin.
__ADS_1
"Jadi lo udah lama tau?? Kenapa gak kasih tau gua??" Tanya Kenzie.
"Gua sayang sama Zaiman kayak adek gua sendiri... Impian dia buat bikin geng sendiri gak mudah, dan gua gak mungkin hancurin semua kerja kerasnya." Jawab Darren. Kenzie pun menatap Arka dan Raka bergantian.
Apa ini sisi iblis si kembar?? Batin Kenzie.
"Kak Eli!!! (Kay membuka pintu sel.) Yudha! Lo bebasin sebelah sana... Kak Eli!!!" Ucap Kay sembari melepaskan tali pengikat Revan Kenzie dan Daffin.
"Tante... Kalian gak apa apa??" Tanya Yudha sembari melepaskan ikatan tali Alina.
"Kami nggak apa apa... Terima kasih Yudha." Jawab Alina.
"DARREN!!!!!" Teriak Raka membuat lainnya menatap Raka yang tengah berjalan mendekati Darren.
Lalu bagaimana dengan Rayhan Syakila dan Aurel?? Mereka tentu saja sudah disekap. Darren berjalan mundur saat Raka hampir mendekat.
"DARREN!!!!!!" Teriak Raka lagi membuat Darren terdiam.
...PLAKK!!!! BUGHH!!!!...
Raka menampar pipi kiri Darren dan memukul pipi kanannya.
"Raka berhenti!!!" Teriak Alina tak ingin Raka terluka. Namun mata Raka sudah dipenuhi amarah dan tentu untuk pertama kalinya mereka baru melihat amarah dari Raka. Raka menarik kerah baju Darren.
"Gua bilang... JANGAN SENTUH MIA!!!!"
...BUGHHHH!!!! BUGHHH!!! BUGHHH!!!...
Pukulan bertubi tubi mengenai wajah Darren. Darah Darren sudah keluar dari sudut bibir hingga dari hidungnya.
"Raka cukup nak!!!" Teriak Alina lagi dengan mata berkaca kaca.
"Lo tuli?!!! Berapa kali gua bilang.... JANGAN SENTUH MIA!!!!"
...BUGHHH!!!! BRAKKHHHH!!!...
Raka memojokan Darren ke tembok dan kembali memukulinya.
"Arka ceghat Raka... Jika anak itu mati, Raka bisa masuk penjara." Ucap Alina.
"Oke mom." Jawab Arka kemudian mendekati Raka di ikuti Amal dan Yudha.
"Abang!! Abang cukup bang... Dia udah pinsan... Jangan buat dia mati atau abang masuk penjara." Ucap Arka menenangkan. Raka memejamkan matanya, kemudian menendang wajah Darren.
"Yudha, bawa 80 orang pergi dari sini... Gua yakin polisi suruhan Amal bakalan dateng." Ucap Raka dengan suara netralnya.
"Oke! DEVISI 1 2 3 IKUT GUA, DEVISI 4 TETAP DISINI!!!" Teriak Yudha. Dia pun pergi bersama ke 80 anggota CS.s sedangkan 20 orang termasuk si kembar Amal dan Kay ada disana. Raka menghampiri Rayhan yang sudah terikat.
...PLAKKK!!!...
"Denger baik baik... Berani lo usik keluarga Azura... Lo harus tau siapa lawan lo... Lo tau, anak dari Kenzo Azura... Gak selemah yang lo kira, PAHAM LO!!!" Ucap Raka dengan mata tajamnya. Dia pun berlari menghampiri Alina, Kenzo, Kenzie, dan Rasya.
"Mom... Dad, kalian gak apa apa kan?? Abang sama kakak ipar juga gak apa apa kan??" Tanya Raka. Bukannya menjawab, Alina justru memeluk kedua putranya.
"Jangan berkelahi lagi nak... Mommy mencemaskanmu... Mencemaskan tangan bersih mu menjadi kotor." Ucap Alina sembari menangis. Para polisi pun datang bersama dengan Alveno. Mereka langsung menangkap Rayhan, Aurel, Darren, dan Syakila.
"Daffin, selamatkan anak kita." Lirih Nala lemah karena sedari tadi ketakutan. Nala pun jatuh pinsan membuat Daffin khawatir.
"Nala... Nala sayang, bangun... Nala." Ucap Daffin.
"Bawa Nala ke rumah sakit, dia pasti syok." Ucap Nia. Mereka pun bergegas ke rumah sakit.
__ADS_1
Sedangkan untuk Elina, dia tengah ditangani oleh dokter. Ditemani Kay dan Revan di ruang tunggu.
"Kakak liat kan?!! Kak Eli bertaruh nyawa cuman nolongin kakak, tapi... Apa balesan kakak?? Cuman gegara mantan dateng, kakak batalin acara tunangan yang jelas jelas kak Eli nanti... Kakak punya perasaan gak sih ha?!!" Ucap Kay.