My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
BAB 71


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


👩‍💻I Love You Readers❤❤❤❤❤


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Tentu dengan pertanyaan Ashel membuat Alzero Araka dan Zaina terkejut. Begitu juga dengan Rio.


"Ashel, Kau lupa ingatan??" Ucap Alzero masih tak percaya. Namun tanpa diduga Ashel tersenyum dan tertawa kecil.


"Hahaha... Kakak aku hanya bercanda... Aku—" Belum menyelsaikan ucapannya Alzero lebih dulu memeluk Ashel. Dimana membuat Ashel menepuk punggung kakaknya.


"Lain kali jangan bercanda, atau kakak hukum kamu Ashel!" Ucap Alzero perlahan melepaskan pelukannya.


"Ayolah kak, aku baru sadar dan mendapatkan hukumanmu??" Ucap Ashel. Senyumannya pudar saat melihat Zaina dan Araka. Dimana membuat Ashel menundukan pandangannya. Namun tanpa diduga, Zaina memeluknya erat membuat Ashel bingung.


"Kau Aaron... Kau putraku Ashel." Ucap Zaina membuat mata Ashel berkaca kaca.


"Bunda." Panggil Ashel sembari meneteskan air matanya. Untuk pertama kalinya akhirnya Zaina mau mengakuinya. Zaina memberikan c*uman di kening dan kedua pipi Ashel.


"Maafkan semua ucapan bunda... Maaf—"


"Bunda tidak melakukan kesalahan, jadi untuk apa minta maaf?? Aku sangat bahagia karena bunda mau menerimaku." Ucap Ashel memotong.


Zaina hanya menganggukan kepalanya pelan. Tampak Ashel menghapus air mata Zaina dengan kedua jempolnya. Setelahnya tampak Araka memeluk Ashel. Kini lengkap sudah keluarga besar Caesar.


"Tuan muda, lain kali jika bercanda jangan berlebihan... Aku hampir pinsan saat anda berpura pura lupa ingatan tadi." Ucap Rio membuat lainnya tertawa kecil.


"Maafkan aku Rio... Aku hanya bercanda, ayolah." Ucap Ashel. Saat itu tampak dokter datang dan memeriksa keadaan Ashel.


"Apa adik ku bisa pulang sekarang dokter??" Tanya Alzero.


"Bisa tuan, hanya saja kaki tuan muda masih lemas mengingat cukup lama dia koma... Jadi sementara waktu tuan muda harus terbaring di ranjang." Jelas sang dokter.


"Sampai kapan??" Tanya Alzero lagi.


"Kemungkinan satu pekan tuan." Jawab sang dokter. Tampak Alzero menganggukan kepalanya mengerti dan menyuruh dokter tersebut pergi. Baru dokter keluar, tampak Calvin dan Renasya datang.


"Ashel!" Panggil keduanya. Renasya meletakan buah yang dia bawa dimeja dan langsung menghampiri Ashel.


"Ashel... (Memeluk Ashel.) Alhamdulilah sadar juga lo... Jadi gua bisa hadapin ujian minta kisi kisi dari lo." Ucap Calvin membuat Alzero menariknya.


"Jadi karena itu??" Tanya Alzero membuat Calvin cengengesan.


"Ayolah kak Al, aku hanya bercanda... Lihat, Ashel bangun kan karena aku akan membuatmu bangkrut." Jawab Calvin. Alzero menggelengkan kepalanya pelan dan mengacak acak rambut Calvin.


"Dasar anak nakal." Ucap Alzero.


"Bagaimana keadaanmu Ashel?? Ada yang sakit??" Tanya Renasya.


"Keadaanku baik baik saja, terima kasih sudah menjengukku." Jawab Ashel.


"Tidak perlu, kita sahabat." Ucap Renasya membuat Ashel tersenyum.


"Tuan besar, sekarang saatnya metting." Ucap Rio. Araka menganggukan kepalanya pelan dan hendak pergi. Namun, Zaina menceghatnya.


"Putra kita baru sadar dan kau mau pergi hmm??" Ucap Zaina menatap tajam suaminya.

__ADS_1


"Sayang, kau tidak bisa makan jika aku tidak bekerja." Jawab Araka memohon.


"Pilih saja, jika kamu pergi kelak jangan berniat mendapatkan jatah dariku." Ancam Zaina kemudian melepaskan genggamannya.


"Ah Rio, tolong kamu ambil alih semuanya... Cakra akan membantumu." Ucap Araka.


Sepertinya nyonya mengancam tuan besar... Haduh! Batin Rio. Dia pun pamit untuk mengganti posisinya. Tampak Alzero mengacungkan jempolnya pada sang ibu. Tentu Zaina meresponnya dengan acungan jempol juga.


Bunda memang bisa diandalkan. Batin Alzero.


Kini mereka pun berbincang bincang dan tanpa sadar seseorang tengah mengaggumi diam diam.


Di Kediaman Azura


Lina langsung mengajak Alina masuk begitu dia keluar dari dalam mobilnya. Kenzo yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya pelan. Saat hendak masuk dia lebih dulu membaca pesan dari Alzero.


(Daddy Al)💬


Daddy Al: Ashel sudah sadar


Me: Alhamdulilah kalo gitu, gua lagi di rumah nyokap jadi titip salam aja ya ke Ashel


Daddy Al: Iya


Syukurlah akhirnya Ashel sadar... Semoga dia cepet sembuh. Batin Kenzo kemudian masuk kedalam rumahnya.


"Sayang kamu udah makan??" Tanya Lina pada menantunya.


"Udah mom, tadi di rumah ayah." Jawab Alina membuat Lina menganggukan kepalanya pelan.


"Mom, dad... Ashel baru saja sadar." Ucap Kenzo sembari duduk disamping ayahnya.


"Benarkah, mas ayo jenguk dia—"


"Gak... Palingan kamu mau ketemu Araka kan?" Ucap Dicko membuat Lina cemberut.


"Kau dengar itu sayang, kelak kamu harus lebih bersabar saat Kenzo mudah cemburu seperti daddy." Bisik Lina membuat Alina tersenyum.


"Hey siapa yang bicara aneh aneh... Mommy hanya bertanya apa kamu membuatnya begadang... Dia bilang kamu membuatnya terjaga 7 jam lebih." Jawab Lina asal asalan dimana membuat Alina merona. Tampak Kenzo menatap Alina dan Alina menggelengkan kepalanya pertanda bahwa dia tidak mengatakan hal itu.


Pengennya sih 24 jam, kalo aja si cupu kuat pasti gua mau mau aja. Batin Kenzo.


"Aku pulang, kakak ipar!" Ucap Celani dan hendak memeluk Alina. Namun, dia menghentikan langkahnya saat Kenzo menceghatnya.


"Baru pulang sekolah... Mandi, ganti baju dulu... Inget corona." Ucap Kenzo membuat Celani kesal dan menjewer kakaknya.


"Huh! Corona apaan, dia cari target juga pilih pilih... Orang baik dan cantik kek kakak ipar gak bakalan kena corona... Paling kakak tuh." Ucap Celani. Dia pun melepaskan jewerannya dan pergi ke kamarnya dengan wajah kesal.


"Duh sakit banget sih, adek durhaka emang." Gerutu Kenzo.


"Udah sayang abaikan suamimu itu... Bunda bilang kalian akan menginap disini jadi... Mommy sudah siapkan baju untukmu... Ayo ke kamar mommy." Ajak Lina. Belum Alina menjawab, Lina lebih dulu menarik tangannya untuk ikut dengannya.


"Haish, mommy pasti berulah." Ucap Kenzo sembari kembali duduk.


"Jadi Ken, apa sudah ada kabar untuk cucu daddy??" Tanya Dicko.


"Lagi otw." Jawab Kenzo membuat Dicko tertawa kecil.


"Sering seringlah membuatnya... Daddy ingin pensiun dan memberikan perusahaan padamu." Ucap Dicko.


"Sering kok dad, sehari 8 jam." Jawab Kenzo santai membuat Dicko tercengang.


"Semoga saja anakmu kelak laki laki dan memiliki 100% sifatmu." Ucap Dicko.


"Dad, kamu mendoakan ku??" Kesal Kenzo. Tampak Dicko hanya mengangkat kedua bahunya.


"Jika kamu menyakiti Alina... Maka ayah akan mendoakanmu begitu." Ucap Dicko santai. Membuat Kenzo kesal dan enggan merespon. Sedangkan dengan Alina dia tengah di minta mencoba berbagai jenis lingerie yang Lina siapkan untuknya.

__ADS_1


"Mom, aku rasa tidak perlu—"


"Ini perlu sayang... Agar cucu mommy bisa cepet cepet on the way." Ucap Lina memotong.


"Oh iya, mommy udah kasih peredam suara di kamar Ken... Jadi kamu tenang aja oke?" Timpal Lina.


"Oke." Ucap Alina kikuk.


Di Kediaman Saputra


Gavin tengah sibuk memainkan game online sembari rebahan di sofa. Sedangkan dengan Nia, dia baru saja menyelsaikan skripsi dan sedang bersih bersih. Dibantu oleh bik Gita dan beberapa pembantu lainnya.


"Ravin!! Ravin!! Ya Allah mana tuh anak." Ucap Saras membuat Gavin terganggu.


"Gak usah teriak teriak ma, si Abang kan lagi di halaman belakang... Kan mama yang suruh." Kesal Gavin sembari memosisikan dirinya duduk. Tampak Saras menepuk keningnya sendiri.


"Iya mama lupa... Umur banyak emang meresahkan." Ucap Saras kemudian hendak pergi.


"Mama tumben nyari Abang, emang ada apaan??" Tanya Gavin.


"Itu si Arina lagi ditinggal orang tuanya keluar kota, jadi mama mau minta Ravin jemput dia pulang les." Jawab Saras.


"Oh, biar aku aja ma yang jempu—"


"Tidak bisa! Kamu udah punya Nia, jangan berpaling... Inget Arina masih kecil gak usah digodain." Ucap Saras mengancam.


"Iya ma, pas hari anniversary juga mau ku lamar." Ucap Gavin dengan nada lirih dibagian akhir.


"Apa?? Apa??" Tanya Saras penasaran.


"Gak apa apa ma... Udah sana, katanya nyuruh Abang keluar." Jawab Gavin kemudian kembali merebahkan tubuhnya di sofa.


"Keluar mana ma??" Tanya Ravin begitu datang.


"Jemput Arina sana, bawa dia kesini... Dia menginap disini beberapa waktu." Jawab Saras.


"Ma kenapa nggak suruh Gavin aja, kan aku—"


"Gak bisa nolak!! Mau mama kutuk jadi malin kundang kamu??" Ucap Saras membuat Ravin menghela napas panjang. Dia pun menjabat tangan Saras kemudian mencium punggung tangannya.


"Aku pergi dulu, Assalamualaikum." Pamit Ravin.


"Walaikumsalam hati hati." Ucap Saras.


"Mau titip sesuatu vin??" Tanya Ravin pada sang adik.


"Iya, aku pesen janda satu yang glowing." Jawab Gavin membuat Saras mendelik.


"Apa maksud kamu Gavin?!!"


"Gavin bercanda ma... Udah sana pergi." Ucap Gavin mengusir kakaknya. Ravin hanya mendengus kesal dan pergi.


"Ma."


"Hmm??"


"Kenapa Abang nggak dijodohin sama si Arina?? Kan dari Arina bayi sampe gede diperhatiin tuh sama si Abang." Ucap Gavin.


"Arina masih kecil Gavin... Lah si Ravin udah bapak bapak." Jawab Saras.


"Cuman lewat 11 tahun doang ma... Gak apa apalah daripada Abang nyari gak dapet dapet." Ucap Gavin.


"Hmm... Ntar mama pikirin... Lusa kamu harus tampil oke, biar rekan bisnis papa kagum sama kegantengan kamu." Ucap Saras sembari menghusap puncak kepala putranya.


"Gampang oh iya ma... Mama mau gak bantuin Gavin??" Tanya Gavin.


"Bantuin apa??" Jawab Saras bingung. Tampak Gavin membisikan sesuatu pada ibunya.

__ADS_1


"Beneran kamu nak?? Wah mama setuju banget... Tenang, mama bakalan bantu kamu." Ucap Saras. Seketika Gavin memeluk ibunya.


"Thanks ma, mama is the best." Ucap Gavin dan direspon anggukan oleh Saras.


__ADS_2