My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
Season 2 Episode 37


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MHKOT2🥀 ...


Liasya menahan suara tangisannya saat Alveno mendekat pada nya. Saat jarak mereka menipis, Alveno mengangkat tangannya dan menghapus air mata Liasya dengan kedua tangannya.


"Jangan menangis lagi... Ya, hatiku sakit melihatmu begini." Ucap Alveno kemudian memeluk tubuh mungil Liasya.


"Kakak jangan diemin Lili... Lili sedih kalo kakak diemin Lili." Ucap Liasya sembari meneteskan air matanya.


"Maka terima lamaranku Lili... Menikahlah denganku." Jawab Alveno.


"Ka... Kasih Lili waktu buat jawab... Ng... Nggak apa apakan??" Ucap Liasya sembari menatap manik Alveno dalam.


"Baiklah, tapi ingat ini Lili... Aku paling benci penolakan." Ucap Alveno dan diangguki mengerti oleh Liasya.


"Mana es krim ku??" Tanya Alveno.


"Tuh udah cair... Kakak sih pake ngambek kan es krimnya ikut ngambek." Jawab Liasya yang mana membuat Alveno gemas dan mencubit pipi Liasya.


"Kalau begitu, ambilkan yang baru." Ucap Alveno sembari mencium pipi Liasya kemudian pergi.


Ish. Kak Veno main cium aja. Kesal Liasya kemudian pergi mengambil es krim yang baru. Setelahnya, Liasya pun memberikannya pada Alveno.


Di Kediaman Faresta


Elina menatap Revan yang tampak sangat tampan dengan kacamata bertengger dimatanya. Terlebih wajah serius Revan yang tengah mengerjakan skripsi. Dan Elina merasa bosan karena Revan fokus dengan kegiatannya. Dia pun naik keatas ranjang dan duduk disamping Revan yang sedang memangku laptopnya.


"Sayang... Eli bosen, kita main yuk." Ucap Elina.


"Bentar, masih banyak ini." Jawab Revan tanpa mengalihkan pandangannya.


Elina mengucurutkan bibirnya kesal dan mengambil bantal guling disampingnya. Dia menyandarkan kepalanya pada guling dan tak henti menatap Revan. Hingga rasa kantuk menghampiri yang mana membuat Elina terlelap.


"Nah selesai juga! Eli katanya— Lah malah udah tidur." Ucap Revan sembari menatap Elina yang terlelap.


Dia meletakan leptopnya diatas nakas dan juga kacamatanya. Revan sedikit membenarkan posisi Elina namun, Elina justru memeluk lengannya kuat.


"Jangan tinggalin Eli." Lirih Elina mengigau. Yang mana membuat Revan terdiam sesaat.


"Sayang makan si—"

__ADS_1


"Sssttt... Eli udah tidur ma." Ucap Revan berbisik.


"Loh waktunya makan siang kok tidur... Suruh Eli bangun dulu ya, nanti dilanjut tidurnya sehabis makan... Eli nggak makan gara gara nungguin kamu pulang." Ucap Mita dan diangguki mengerti oleh Revan.


"Eli... Eli bangun, makan siang dulu." Ucap Revan berbisik pada Elina.


"Emhh... Eli ngantuk, mau bobo." Ucap Elina enggan melepaskan pelukannya pada Revan.


"Bangun Eli, makan dulu... Biar nggak sakit perut." Ucap Revan.


"Tapi suapin."


"Iya, ya suapin... Makanya bangun." Ucap Revan. Elina pun membuka matanya dan bangkit dari posisinya.


"Gendong koala." Ucap Elina dengan nada manja.


"Udah turun, kalo nggak mau gua tinggal." Ucap Revan sembari pergi mendahului.


"Iya, tungguin Eli." Ucap Elina kemudian membuntuti Revan.


Setelah makan siang, Elina mengajak Revan untuk duduk berdua di taman. Beruntung cuaca tidak terlalu panas jadi Revan menyetujui permintaan Elina.


"Sayang... Kamu kok ganteng banget??" Lagi lagi pertanyaan itu yang Elina lontarkan.


"Terus kenapa kamu mau nikah sama Eli?? Eli kan jelek." Ucap Elina sembari menatap mata Revan.


Sumpah demi apa nih cewek pengen gua gigit pipinya. Batin Revan sembari menggertakan giginya karena saking gemasnya.


"Sayang ih! Eli kan lagi nanya." Ucap Elina membuat Revan tersadar.


"Ya... Ya karena lo mau, gua juga mau." Jawab Revan.


Gua gak boleh bawa bawa ayahnya... Dia punya trauma dengan itu. Batin Revan. Revan membelakan matanya kala Elina memeluknya sangat erat.


"Eli makin cinta deh ke kakak... Karena kakak mau terima Eli apa adanya." Ucap Elina.


"Ci... Cinta??" Ucap Revan terkejut. Elina mendongakan kepalanya dan menganggukan kepalanya.


"Eli udah lama cinta sama kakak." Ucap Elina kemudian mencium singkat bibir Revan kemudian pergi dengan tersipu malu.


Kenapa lo gampang cinta ke gua Eli?? Sedangkan gua masih cinta sama orang lain. Sorry kalo suatu saat gua nyakitin lo Eli. Batin Revan sembari menatap Elina pergi.


Sedangkan dengan Rasya


Dia malu saat teman temannya menggodanya karena Kenzie mengantarnya sampai kedepan gerbang. Bahkan sampai mencium kening Rasya. Tentu membuat teman temannya langsung iri dan menggodanya. Rasya pun duduk ditaman begitu bebas dari teman temannya.

__ADS_1


"Halo Rasya." Sapa Rayhan sembari duduk disamping Rasya.


"Halo kak, bagaimana liburanmu di Singapura??" Tanya Rasya.


"Biasa saja, kamu tadi diantar Kenzie kan?? Primadona kampus sebelah." Ucap Rayhan.


"Kakak tau juga ya?? Kayaknya kak Enzi terkenal." Ucap Rasya.


"Ya begitulah, oh iya Rasya... Aku membawakanmu oleh oleh... Kudengar kamu suka buah pear, jadi aku membelikanmu buah pear darisana." Ucap Rayhan sembari memberikan paper bag berisi sekotak pear yang sudah dipotong potong dan sekotak macron.


"Wah, terima kasih yah kak." Ucap Rasya sembari tersenyum dan langsung memakan buah pear tersebut.


Meskipun gua benci sama calon suami lo, bukan berarti gua juga benci ke lo Rasya. Batin Rayhan menatap wajah cantik Rasya yang tengah menikmati buah pearnya.


"Aduh, Rasya harus masuk kelas... Sekali lagi terima kasih ya kak." Ucap Rasya kemudian pergi sembari melambaikan tangannya.


...🥀🥀...


Mapel terakhir pun selesai. Rasya bersiap untuk pulang, namun sebelum itu dia mendapatkan pesan dari Kenzie. Rasya tersenyum saat membaca pesan tersebut.


(Kak Enzi)💬


Kak Enzi: Gua udah jemput lo didepan, cepatlah! Banyak cewek yang gangguin gua


^^^Iya kak, Rasya keluar sekarang. ^^^


"Agak canggung karena kakak jadi lebih perhatian." Lirih Rasya sembari tersenyum.


"Cie... Rasya senyum senyum... Pasti dapet pesan dari Kenzie."


"Cieeee....."


"Kalian salah paham." Ucap Rasya sembari tersipu malu. Dia pun keluar dan menghampiri Kenzie yang sedang berfoto banyak wanita.


"Rasya! Sini tolongin gua, lo mah." Kesal Kenzie. Rasya hanya menahan tawa dan hendak mendekati Kenzie. Namun, terceghat saat Rayhan menarik tangannya.


"Mau ku antar pulang, Rasya??" Tawar Rayhan.


"Ng... Nggak kak—"


"Jangan sentuh.... (Menarik Rasya kepelukannya.) PACAR GUA!" Ucap Kenzie menatap Rayhan penuh kebencian.


"Kita pulang sekarang!" Ucap Kenzie kemudian mengajak Rasya pergi. Rasya dengan patuh naik di jok dan dia terkejut saat Kenzie menarik kedua tangannya agar Rasya memeluknya.


"Kak, jangan kenceng kenceng... Rasya takut!!" Ucap Rasya sembari mengeratkan pelukannya. Namun tanpa Rasya sadari, Kenzie tersenyum saat Rasya mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2