
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
👩💻I Love You Readers❤❤❤❤❤
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Seketika suasana hening. Hingga seperkian detik, Dicko dan Lina bersorak bahagia. Sedangkan Kenzo, masih tidak percaya dengan yang dia dengar barusan.
Cupu... Dia hamil?? Anak gua?? Batin Kenzo masih tak percaya.
"Kadungannya masih sangat muda dan rentan... Masih sekitar 7 minggu... Jangan biarkan dia melakukan pekerjaan berat dan stress karena itu bisa berpengaruh pada janinnya." Ucap Morgan sembari menyiapkan vitamin untuk Alina.
"Huwaaa!!! Suami ku kita akan mendapatkan cucu, Roni harus tau kabar ini!" Ucap Lina sembari memeluk suaminya saking bahagianya.
"Iya sayang, iya." Ucap Dicko sembari menc*um kening istrinya.
"Masa iya aku dipanggil aunty??" Lirih Celani tak suka. Semuanya tengah bahagia, berbeda dengan Kenzo yang tengah bimbang.
Bentar lagi tujuan gua tercapai, kenapa tiba tiba gua bimbang?? Apa karena gua... Suka ke cupu?? Batin Kenzo menatap Alina yang masih belum sadarkan diri. Tangannya terangkat menghusap kening istrinya.
*Ayah berharap hal itu tidak terjadi padamu dan Alina.*
Tiba tiba ucapan Roni melintas dipikirannya membuat Kenzo semakin yakin dengan keputusannya. Bertepatan dengan itu, Alina tampak membuka matanya perlahan.
"Lo udah sadar... Biar gua bantu." Ucap Kenzo membantu Alina untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Menantuku tersayang, bagaimana keadaanmu?? Kamu masih pusing nak??" Tanya Lina.
"Tidak mom, hanya sedikit mual... Kenapa aku ada disini??" Ucap Alina sembari menatap sekelilingnya. Karena seingatnya dia dan Kenzo hendak makan malam.
"Tadi lo pinsan, jadi gua bawa lo ke kamar... Gua pikir lo sakit, ternyata nggak." Ucap Kenzo sembari menghusap puncak kepala Alina. Hal itu membuat Alina semakin bingung. Tampak Kenzo mendekat dan membisikan sesuatu pada Alina.
"Bentar lagi lo bakalan jadi mama." Ucap Kenzo sembari memberikan c*uman dipipi kanan istrinya.
"Maksud kamu Ken?? Aku—"
"Lo hamil cupu." Ucap Kenzo membuat Alina menatapnya tak percaya. Seperkian detik kemudian, Kenzo memeluk Alina dengan wajah bahagianya. Begitu juga Alina yang membalas pelukan Kenzo dengan wajah bahagia pula.
"Thanks cupu... Terima kasih lo udah mau jadi ibu buat anak anak gua." Ucap Kenzo dan hanya direspon anggukan.
"Mom kamu kalah taruhan, seperti janjimu... 8 ronde." Ucap Dicko berbisik pada Lina.
"Gak usah dibahas." Ucap Lina mengelak.
__ADS_1
Dicko dan Lina bertaruh siapa yang menang maka yang kalah menepati apa yang diminta sang pemenang. Lina bertaruh jika Kenzo akan mencintai Alina dalam waktu 2 bulan. Sedangkan Dicko 5 bulan. Dan jika sampai waktu taruhan tidak ada perubahan antara Kenzo dan Alina maka taruhan batal.
"Kau sudah mendapatkan cucu, lalu kapan dengan ku??" Ucap Morgan.
"Makanya jangan biarin William kuliah luar negeri, langsung aja paksa nikah." Jawab Dicko membuat Morgan kesal.
"Sudahlah, aku pergi dulu... Semoga jika cucumu laki laki tidak menyusahkan Kenzo... Sama seperti kamu disusahkan oleh Kenzo." Ucap Morgan kemudian pergi.
"Morgan kenapa mas??" Tanya Lina.
"Biasa dia ingin seorang cucu... Tapi yah, kau tau kan William... Dia tidak mau dijodohkan atau menikah sebelum lulus kuliah... Padahal sudah 24 tahun." Jawab Dicko.
"Kasihan... (Menatap Alina dan Kenzo.) Sayang kamu makan habis itu diminum obatnya agar rasa mualmu berkurang." Ucap Lina. Alina hanya menganggukan kepalanya pelan sebagai respon.
"Mommy sama daddy makan dibawah aja... Biar Ken nemenin cupu disini." Ucap Kenzo.
"Lah aku nggak disuruh kak??" Tanya Celani.
"Kamu jadi satpam aja." Jawab Kenzo membuat Celani kesal.
"Kalau aja bukan karena calon keponakan udah aku jewer kamu kak." Ucap Celani kemudian pergi dengan wajah kesal.
"Ya udah kalau begitu, Maya bawa makan malam untuk Alina... Jangan lupa buah buahan dan susu agar calon cucuku sehat sampai lahir." Ucap Lina pada kepala pelayannya.
"Baik Nyonya." Jawab Maya kemudian pergi. Disusul oleh Dicko dan Lina. Kini hanya ada Kenzo dan Alina di dalam kamar.
"Ken, kenapa kau gelisah?? Kau tidak bahagia karena kehamilanku??" Tanya Alina.
"Enggak cupu... Gua bahagia kok, bahagia banget malah karena sebentar lagi gua kan mau jadi daddy." Jawab Kenzo.
Di Sweet Cafe
Raefal dengan wajah terpaksa tengah menikmati makan malam bersama Aurel. Sesekali para pengunjung memujinya karena Raefal menyuapi Aurel dengan mesranya. Setelah makan mereka habis, tampak Aurel menatap wajah terpaksa dari Raefal.
"Lo kenapa??" Tanya Aurel.
"Gak apa apa." Jawab Raefal ketus.
"Lo udah beda ya Fal... 3 tahun nggak ketemu, lo udah berubah." Ucap Aurel membuat kening Raefal berkerut.
"Dulu lo perhatian, ceria, dan suka bercanda... Tapi sekarang, lo dingin ketus dan ngabain gua... Salah gua dimana?? Yang suka ke gua kan Kenzo, bukan gua... Tapi kenapa sikap lo bikin seolah olah gua yang salah." Lanjut Aurel. Raefal menatapnya dan dilihatnya mata Aurel berkaca kaca.
"Rel gua cuman—"
"Gak apa apa, gua pulang dulu." Ucap Aurel kemudian pergi sembari membawa tas tangannya.
"Aurel!! Aurel!!" Panggil Raefal. Sampai didepan Cafe, Raefal meraih tangan Aurel.
"Salah gua apa Fal??? Apa??!! Apa gua salah suka sama lo?? Apa gua gak boleh pilih kebahagiaan gua sendiri??" Ucap Aurel sembari menangis. Tanpa diduga, Raefal memeluknya erat. Aurel membenamkan wajahnya pada dada bidang Raefal dengan mata terus mengeluarkan air mata.
"Lo gak salah Rel, gua yang salah... Maaf... Gua masih kesel sama lo karena hampir bikin rumah tangga Kenzo hancur." Ucap Raefal sembari menghusap puncak kepala Aurel guna menenangkan. Aurel melepaskan pelukannya perlahan.
"Gak apa apa... Lo gak salah." Ucap Aurel hendak pergi.
__ADS_1
Bertepatan dengan itu, Mita dan ayahnya baru keluar dari cafe seberang. Tampak Mita menatap ke arah Raefal dan Aurel. Cafe yang Raefal dan Mita kunjungi hanya berbatas jalan raya. Jadi bisa dengan jelas Mita melihatnya. Apalagi suasana jalan tengah sepi.
Itu Ciky, dia dengan siapa?? Batin Mita. Dia saat ini tengah menunggu ayahnya yang mengangkat telefon. Jadi, dia tidak bisa menyusul Raefal.
Tangan Raefal menceghatnya dan langsung menc*um bibir Aurel. Tentu Aurel dengan bahagia membalasnya dan merangkulkan kedua tangannya di tengkuk Raefal. Melihat hal itu membuat Mita memalingkan wajahnya. Dan entah mengapa dadanya terasa sesak.
Aku kenapa?? Kenapa aku merasa sesak?? Batin Mita.
"Caca, ayo pulang... Kok ngelamun." Ucap Ayah Mita.
Oh iya, Caca adalah nama panggilan Mita sejak kecil. Begitu juga Ciky nama panggilan Raefal sejak dia kecil. Mengingat mereka berdua selalu bersama sejak kecil membuat Zira memberikan nama panggilan tersebut.
"Nggak apa apa, ayo pulang." Jawab Mita sembari tersenyum. Mereka pun pulang dengan menaiki taxi.
"Sorry, gua gak sengaja." Ucap Raefal sembari memalingkan wajahnya.
"Gak usah malu, toh itu bukan c*uman pertama kita kan??" Jawab Aurel sembari tersenyum. Raefal hanya menghela napas panjang membuat Aurel gemas dan mencubit pipi Raefal.
"Aurel jangan seperti ini." Ucap Raefal dengan rona diwajahnya.
"Tuh kan merona... Malu ya, malu." Ejek Aurel membuat Raefal kesal dan mengacak acak puncak kepala Aurel.
Sorry Ken gua egois, tapi buat kali ini aja gua egois. Batin Raefal.
Akhirnya lo balik kayak dulu Fal... Tapi gua bakalan tetep ganggu rumah tangga Ken, seenggaknya bikin Kenzo menderita. Gara gara keluarga Azura, papa jadi meninggal. Batin Aurel penuh dendam.
Kembali pada Kenzo
Saat ini dia tengah tiduran manja di pangkuan istrinya. Tampak Alina memainkan rambut Kenzo dan tanpa penolakan. Sedangkan Kenzo sendiri sedang bermain game diponselnya.
"Apa yang kamu mainkan??" Tanya Alina ingin tau.
"Game lah sayang." Jawab Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya.
"Game apa??" Tanya Alina lagi.
"Cooking Mama." Jawab Kenzo membuat Alina terkejut. Pasalnya, dia mengira pria seperti Kenzo bermain game online seperti lainnya. Nyatanya dia justru bermain game masak masakan seperti anak kecil.
"Oh iya... (Mematikan ponselnya dan menatap Alina.) Kita bikin kesepakatan yuk." Ucap Kenzo.
"Kesepakatan apa??" Tanya Alina. Kenzo bangkit dari posisinya dan meletakan ponselnya diatas nakas. Setelahnya, dia pun duduk disamping istrinya.
"Kalo anak kita cewek, namanya terserah lo... Tapi kalo cowok namanya terserah gua... Gimana??" Jawab Kenzo kembali bertanya.
"Memang jika cowok, nama apa yang kamu siapkan??" Tanya Alina. Tampak Kenzo menidurkan Alina pada dada bidangnya dan tangan kanannya menghusap pelan perut rata Alina.
"Pokoknya huruf depannya K... Mungkin Kenzie, Keanu, atau Kevin... Kalo cewek lo nyiapin nama apa??" Jawab Kenzo kembali bertanya.
"Hmm... Entahlah, terserah padamu saja." Ucap Alina membuat Kenzo gemas dan menc*um bibir Alina sekilas.
"Istri berbakti... Oh iya, mommy tadi bilang kalo lo bakalan diliburin kuliah sampe anak ini lahir... (Alina menganggukan kepalanya.) Tapi, kenapa bayinya gak nendang?? Katanya ada janin disini??" Tanya Kenzo yang memang penasaran dengan tendangan dari calon anak pertamanya itu.
"Bukan begitu Ken, umur kandunganku baru 7 minggu sedangkan janin mulai bergerak aktif pada bulan ke 4 atau 5... Jadi perlu menunggu lagi." Jelas Alina.
__ADS_1
"Oh gitu ya... Gua pikir langsung nendang, ternyata ada prosesnya." Ucap Kenzo tampak kecewa.