My Husband, King Of Trouble

My Husband, King Of Trouble
BAB 81


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


🥀MHKOT🥀


Tok. Tok. Tok.


"Caca, boleh mama masuk nak??" Ucap ibu Mita dari luar kamar.


"Ibu??... Iya bentar bu." Jawab Mita sembari menghusap air matanya dan membuka pintu.


Cklekk!


"Ibu kenapa belum tidur??" Tanya Mita menatap Dewi yang berdiri dengan dua tongkat disisi kanan dan kirinya.


"Ibu kepikiran sama kamu sayang, kamu baik baik aja kan??" Jawab Dewi kembali bertanya pada putrinya.


"Caca baik baik aja kok bu." Ucap Mita.


"Boleh ibu masuk nak??" Tanya Dewi. Mita pun membantu ibunya masuk dan mendudukannya dibibir ranjang. Mita pun duduk disamping ibunya.


"Ibu beneran udah sembuh?? Kok pake tongkat bu jalannya??" Tanya Mita. Tampak Dewi tersenyum.


"Udah sayang, cuman kata dokter ibu harus sering terapi pagi biar kakinya cepet sembuh." Jawab Dewi membuat Mita menganggukan kepalanya pelan.


"Oh iya sayang, kamu tetep disini sama nenek atau ikut ibu pulang ke bandung?? Atau gak sama tante Zira, ntar berangkatnya bareng sama Ci—"


"Caca ikut ibu sama ayah aja... Caca kangen temen temen di bandung." Ucap Mita memotong.


"Eh, tumben... Katanya kangen sama Cik—"


"Kan udah ketemu bu... Boleh ya ikut??" Ucap Mita memotong dan memohon.


"Iya sayang... Ntar papa yang urus surat pindahnya." Jawab Dewi. Mita pun memeluk ibunya erat.


"Caca sayang ibu." Ucap Mita. Dewi pun menghusap punggung Mita.


Caca kenapa tiba tiba aneh gini?? Sepertinya ada masalah di kampus. Batin Dewi.


"Bu, malam ini tidur sama Caca yah... Caca kangen pelukan ibu." Ucap Mita.


"Haha, iya sayang." Jawab Dewi. Mita pun tersenyum dan meletakan tongkat Dewi disudut ruangan. Dia pun memeluk ibunya erat dan terlelap dalam tidurnya. Dewi mencium kening putrinya dan ikut tidur.


Keesokan Harinya


Alina membuka matanya saat mendengar alarm berbunyi. Alina tidak bisa bergerak lantaran Kenzo memeluknya sangat erat. Alina pun menepuk pipi Kenzo pelan membuat Kenzo menggeliat.


"Kenapa sayang?? Tidur lagi aja." Ucap Kenzo enggan membuka matanya.


"Ken, aku mau sholat dulu... Lepasin pelukannya." Jawab Alina.


"Gak mau." Ucap Kenzo lebih mengeratkan pelukannya.


"Ken..." Rengek Alina. Kenzo membuka matanya dan mencium bibir istrinya sekilas.


"Oke... Oke... Gimana kalo kita mandi bareng??" Goda Kenzo. Alina mendorong tubuh Kenzo dan mematikan alarm. Dia mengucir kuda rambutnya. Hingga dia menatap tubuhnya dan sadar jika dia sudah berganti pakaian.

__ADS_1


"Ken kamu yang mengganti pakainku??" Tanya Alina.


"Iyalah sayang... Siapa lagi coba??" Jawab Kenzo santai.


"Dasar m*sum!" Kesal Alina membuat Kenzo terkekeh. Dia menatap Alina yang masuk ke kamar mandi. Setelah menunaikan sholat subuh, Alina menatap suaminya yang sibuk dengan ponselnya.


Apa aku menanyakan hal itu pada Ken sekarang?? Tapi, kenapa tiba tiba aku khawatir. Batin Alina.


"Kenapa bengong?? Mau gua cium??" Tanya Kenzo sembari memeluk Alina dari belakang.


"Tidak apa apa." Jawab Alina sembari tersenyum. Jujur dia kaget dengan perubahan Kenzo yang sangat cepat seperti kilat. Dan itu membuatnya ingin menanyakan hal itu.


"Ya udah gua mandi dulu, oke." Ucap Kenzo. Dia pun masuk kedalam kamar mandi.


"Aduh!" Rintih Alina sembari memegangi kepalanya.


Seharusnya aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Batin Alina. Dia pun duduk dibibir ranjang dan mengambil ponselnya. Tampak dia mendapatkan pesan dari Aurel.


(Aurel)💬


Aurel: Kayaknya lo belum tanya sama Ken, jadi gua kasih rekaman ini biar lo tau tujuan Kenzo sebenernya.


Rekaman apa?? Apa maksud Aurel sebenarnya?? Batin Alina. Karena penasaran dia pun memutar rekaman dari Aurel.


Rekaman On.


“Haha, gua gak nyangka kalo lo bakalan beneran jadi bapak... Lo nyentuh dia kapan?? Kok gua gak tau.” Ucap Gavin.


“Rahasia lah, lo tau gak... Gua udah jadi pemimpin perusahan daddy sekarang.” Ucap Kenzo dan keduanya tertawa.


“Gila, hebat lo... Pantesan lo perhatian ke bini lo.” Ucap Gavin.


Rekaman Off.


Pluk!!


Alina menjatuhkan ponselnya. Rekaman berdurasi 5 detik itu mampu membuat Alina terkejut. Bertepatan dengan itu, Kenzo keluar dari kamar mandi dan menatap Alina yang terdiam.


Tidak, itu pasti hanya cara Aurel agar aku berpisah dengan Ken... Enggak, Ken nggak mungkin ngomong gitu. Batin Alina.


"Sayang—" Saat Kenzo hendak memegang bahu Alina. Alina menapisnya.


"Tega kamu Ken!" Ucap Alina dengan mata berkaca kaca membuat Kenzo bingung.


"Sayang kamu kena—"


"Jangan sentuh aku Ken!!!!" Teriak Alina membuat Kenzo terkejut.


"Sayang kamu kenapa sih??!" Tanya Kenzo.


Alina memungut ponselnya dan memutar rekaman yang Aurel berikan. Hal itu membuat Kenzo terkejut.


"Jawab aku Ken, apa benar tujuanmu menyentuh ku hanya itu?? Tanpa mencintai ku??" Tanya Alina.


"Gini aku jelasin... Iya... Iya itu tujuan aku nikahin kamu Alina... (Alina terkejut.) Tapi itu dulu... Sekarang aku—"


"Sekarang tujuan kamu udah tercapai kan?? Berarti kamu tinggal menceraikanku dan menikmati gelarmu sebagai Presdir." Ucap Alina dengan air mata menetes.


"Alina dengerin penjelasan aku—"

__ADS_1


"Alina!!! Alina!!" Panggil Kenzo saat Alina pergi meninggalkannya.


"Alina!!! Alina!!! (Memeluk Alina dari belakang.) Sayang jangan pergi, dengerin penjelasan aku—"


"Lepasin Ken!!! Hiks, hiks... Kamu tega!! Lepasin Ken!!" Ucap Alina meronta.


"Gak, dengerin penjelasan aku dulu—"


"Ken lepasin... Ken..." Ucap Alina melemah dan jatuh pinsan.


"Alina!! Alina sayang sadarlah.... Alina!!" Ucap Kenzo sembari menangis.


"Kenken, ada apa ini??" Tanya Madira yang baru bangun.


"Alina pinsan oma, panggil Morgan kemari." Jawab Kenzo sembari menggendong Alina ala bridal style.


"Iya... Iya, Jihan hubungi morgan... Ya Allah ada apa lagi ini??" Ucap Madira. Dia pun menyusul Kenzo yang menggendong Alina ke kamarnya.


"Alina..." Lirih Kenzo sembari membelai kening Alina. Hal yang paling dia takutkan akhirnya terjadi. Saat itu tampak Morgan datang.


"Awas Ken, biar saya periksa." Ucap Morgan. Dia pun memeriksa Alina.


"Ada apa ini kenken?? Kalian bertengkar??" Tanya Madira dan tidak direspon oleh Kenzo.


"Paman gimana keadaan istriku??" Tanya Kenzo begitu Morgan selesai memeriksa.


"Jangan buat dia stress atau banyak pikiran Ken... Janinnya bisa dalam bahaya... Tapi tenang saja saat ini Alina dan bayinya baik baik saja." Jawab Morgan.


"Kenken, jawab oma!" Ucap Madira.


"Hanya salah paham oma." Jawab Kenzo. Madira memicingkan matanya tak percaya dengan yang Kenzo katakan. Saat itu tampak Alina sadar. Dengan dibantu Morgan dia duduk bersandar.


"Sayang kamu baik baik aja kan??" Tanya Madira.


"Aku ingin pergi oma." Jawab Alina tanpa menatap Madira maupun Kenzo.


"Enggak sayang, ini rumah kamu... Rumah kita—"


"Biarkan aku pergi atau aku gugurkan anak ini." Ucap Alina.


"Alina bicara baik baik nak, jangan katakan hal itu." Ucap Madira.


"Maka dari itu biarkan aku pergi oma." Jawab Alina. Membuat Madira terdiam sesaat. Alina pun berdiri dan mengambil koper kemudian mengemasi pakaiannya.


"Sayang jangan pergi, dengerin penjelasan dariku—"


"Jangan sentuh wanita cupu sepertiku!" Ucap Alina menolak saat Kenzo hendak menggapai tangannya.


"Alina..." Ucap Kenzo.


"Jika kamu mendekat, jangan salahkan aku menyakiti anak ini." Ancam Alina membuat Kenzo terdiam. Setelah memasukan semua pakaiannya, Alina pun menarik kopernya hendak pergi. Kenzo menceghatnya dengan berlutut dan menggegam tangan Alina. Tak hentinya Kenzo menangis.


"Jangan pergi.... Please... Dengerin penjelasan aku Alina, aku— (Alina melepaskan genggaman tangan Kenzo.) Alina!!! Alina!!!!" Panggil Alina namun tak dihiraukan oleh Alina. Alina masuk kedalam mobil pribadinya yang Madira siapkan untuknya.


"Jalan pak!" Ucap Alina.


"Baik nona." Jawab sang supir kemudian mobil pun pergi.


"Alina!!! Alina jangan pergi!!! Gua cinta sama lo!!! Alina!!! ARGHHHHH!!!!" Teriak Kenzo.

__ADS_1


Ya Allah, baru beberapa hari aku bahagia dengan kehadiran cicitku... Dan sekarang, apalagi cobaan yang Engkau berikan?? Batin Madira.


__ADS_2